Retardasi Mental – Pengertian, Klasifikasi, Sebab, Diagnosa & Penanganan

Pengertian retardasi mental

Retardasi mental (RM) atau keterbelakangan mental atau yang sekarang memakai istilah disabilitas intelektual (DI) adalah keadaan dengan tingkat kecerdasan yang di bawah rata-rata atau kurangnya kemampuan mental dan keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Orang-orang dengan disabilitas intelektual dapat belajar untuk keterampilan yang baru, akan tetapi mereka belajar mereka hanya lebih lambat. Keadaan disabilitas ini bukanlah merupakan suatu penyakit, meskipun terdapat proses patologis yang terjadi pada otak. Ada beberapa tingkat disabilitas intelektual, dari ringan sampai sangat berat.

Dua aspek fungsi retardasi mental

Orang dengan disabilitas mempunyai keterbatasan dalam dua aspek fungsi yaitu
Pertama, keterbatasan dalam fungsi intelektual yang dikenal juga dengan IQ (intelligence quotient). Fungsi ini mengacu pada kemampuan seseorang untuk belajar, membuat alasan, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. IQ dapat diukur dengan melakukan tes IQ. Rata-rata IQ adalah 100. Seseorang dianggap disabilitas intelektual jika ia memiliki IQ kurang dari 70 atau 75.

Yang kedua adalah fungsi perilaku adaptif. Fungsi ini terkait dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupannya sehari-hari, sebagai contoh berkomunikasi efektif, berinteraksi dengan orang, dan mengurus diri sendiri. Untuk menilai perilaku adaptif seorang anak, para ahli akan mengamati kemampuan anak tersebut dan membandingkannya dengan anak-anak lain seusianya. Adapun hal-hal yang dapat diamati seperti seberapa mampu anak dapat makan atau berpakaian sendiri, seberapa baik anak berkomunikasi dan memahami orang lain, dan bagaimana ia berinteraksi dengan keluarga, teman, dan anak-anak lain dengan usia yang sama.

Tingkat & klasifikasi retardasi mental (DSM-IV-TR)

RM dibagi menjadi empat tingkatan berdasarkan IQ dan tingkat adaptif, dan klasifikasi RM menurut DSM-IV-TR:

Retardasi Mental Ringan

Pada tingkat ini, seseorang memiliki jangkauan IQ dari 50-55 sampai 70, mungkin terkait kondisi, termasuk autisme, epilepsi, atau cacat fisik

Retardasi Mental Sedang

Pada tingkat ini, seseorang dapat mengambil bagian dalam kegiatan sosial yang sederhana, memiliki jangkauan IQ 35-40 sampai 50-55.

Retardasi Mental Berat

Pada tingkat ini, seseorang memiliki gangguan motorik, perkembangan abnormal dari sistem saraf pusat yang parah dan memiliki jangkauan IQ 20-25 sampai 35-40.

Retardasi Mental Berat Sekali

Pada tingkat ini, seseorang tidak dapat memahami atau mematuhi permintaan atau instruksi, membutuhkan bantuan konstan dan pengawasan dan memiliki IQ kurang dari 20 atau 25.

Prevalensi retardasi mental

Disabilitas diperkirakan mempengaruhi sekitar 1 % dari populasi. Dari yang mengalami disabilitas, 85% diantaranya adalah ringan. Hal ini artinya mereka hanya sedikit lebih lambat dari rata-rata dalam hal menerima informasi atau mempelajari keterampilan baru. Dengan dukungan yang tepat, sebagian besar akan mampu hidup mandiri sampai akhirnya ia menjadi dewasa.

Etiologi atau sebab retardasi mental

Menurut Psychology Today, hanya 25% dari kasus ini memiliki penyebab yang diketahui seperti:

  • trauma sebelum atau selama persalinan, kehilangan oksigen, paparan alkohol, atau infeksi.
  • kelainan genetik, seperti mewarisi gen abnormal, sindrom Down, sindrom X, dan PKU (fenilketonuria).
  • keracunan merkuri.
  • gizi buruk atau masalah diet lainnya.
  • penyakit anak usia dini, seperti batuk rejan, campak, atau meningitis.

Apa ciri atau tanda dan gejala seorang anak mengalami retardasi mental?

Ada beberapa ciri atau tanda-tanda dari disabilitas pada anak-anak. Tandanya mungkin muncul selama masa kanak-kanak, atau mungkin tidak terlihat sampai anak mencapai usia sekolah. Hal ini sering tergantung pada tingkat keparahannya. Beberapa tanda yang paling sering adalah:

  • Keterlambatan dalam berguling, duduk, merangkak, atau berjalan.
  • Lambat atau mengalami masalah dengan berbicara/berbahasa.
  • Keterlambatan dalam menguasai hal-hal seperti toilet training, berpakaian, dan makan sendiri.
  • Kesulitan untuk mengingat sesuatu.
  • Ketidakmampuan untuk menghubungkan antara tindakan dan konsekuensinya.
  • Adanya masalah perilaku seperti mengamuk yang meledak-ledak.
  • Kesulitan dengan pemecahan masalah atau berpikir logis.
  • Kurangnya rasa ingin tahu

Pada anak-anak dengan keterbelakangan intelektual berat atau mendalam, mungkin ada masalah kesehatan lain juga. Masalah-masalah ini mungkin termasuk kejang, gangguan mental, cacat motorik, masalah penglihatan, atau masalah pendengaran.

Seseorang dengan keadaan seperti ini akan sering memiliki beberapa masalah perilaku seperti:

  • Sikapnya agresi.
  • Ketergantungan.
  • Penarikan dari kegiatan atau lingkungan sosial.
  • Perilaku mencari perhatian.
  • Depresi selama masa anak dan remaja.
  • Kurangnya kontrol impuls.
  • Pasif.
  • Kecenderungan melukai diri.
  • Sikap keras kepala.
  • Rendah diri.
  • Rendahnya toleransi terhadap frustasi.
  • Gangguan psikotik.
  • Kesulitan dalam perhatian.

Tanda-tanda fisik dapat berupa perawakan pendek dan gambaran wajah yang terbelakang. Namun, tanda-tanda fisik ini tidak selalu hadir ada.

Bagaimana diagnosa retardasi mental?

Diagnosa RM dapat diperkirakan karena berbagai alasan yang berbeda. Jika bayi memiliki kelainan fisik yang menunjukkan kelainan genetik atau metabolik, dapat dilakukan beberapa tes untuk mendiagnosanya seperti tes darah, tes urin, tes pencitraan untuk mencari masalah dalam otak, atau Electroencephalography (EEG) untuk mencari adanya kejang.

Pada anak-anak dengan keterlambatan perkembangan, dokter akan melakukan tes untuk menyingkirkan masalah lain, termasuk masalah pendengaran dan gangguan neurologis tertentu. Jika tidak ada penyebab lain, maka akan dilakukan pengujian formal.

Ada 3 faktor dalam mendiagnosa disabilitas intelektual yaitu wawancara dengan orang tua, observasi anak, serta pengujian kecerdasan dan perilaku adaptif. Seorang anak dianggap RM jika ia memiliki defisit pada IQ dan perilaku adaptif. Jika hanya salah satu yang ada maka anak tidak dianggap mengalami keterbelakangan mental.

Setelah tim ahli melakukan diagnosis, mereka akan menilai kekuatan dan kelemahan tertentu pada anak. Ini membantu untuk menentukan seberapa besar dan apa jenis dukungan anak yang dibutuhkan untuk bisa survive di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.

Apa penanganan & pencegahan yang tepat untuk disabilitas intelektual

Cara penanganan dan pencegahan yang mungkin adalah dengan terapi perilaku, terapi okupasi, konseling, dan dalam beberapa kasus adalah dengan pemberian obat-obatan. Pencegahan dilakukan agar keterbelakangan yang dialami tidak sampai parah dan mengganggu kualitas hidupnya nanti. Dalam rangka mengembangkan rencana penanganan yang tepat, penilaian perilaku adaptif yang sesuai dengan usia harus dibuat dengan menggunakan tes skrining perkembangan.

Adapun tujuannya untuk menentukan tahap perkembangan yang mana yang sudah terjawab. Tujuan utama dari penanganan adalah untuk mengembangkan potensi seseorang secara maksimal. Pendidikan dan pelatihan khusus dapat dimulai sedini mungkin di masa kanak-kanak. Perhatian diberikan kepada keterampilan sosial untuk membantu fungsi orang senormal mungkin.

Hal ini penting bagi seorang ahli dalam mengevaluasi seseorang untuk hidup dengan keadaan yang dialaminya, yang mungkin memerlukan penanganan lebih. Pendekatan secara perilaku penting dalam memahami dan bekerja dengan orang-orang yang mengalami disabilitas intelektual seperti ini.

Berikut ini adalah contoh makalah atau referat tentang Retardasi Mental:


 Share

Ikuti artikel JEVUSKA di Google+Facebook

comments