Kehamilan

Asma Bronkial Pada Kehamilan

Asma Bronkiale (AB) merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai sehari-hari dengan ditandai oleh adanya obstruksi bronkial yang difus namun reversible baik secara spontan ataupun melalui pengobatan. Di Amerika Serikat insiden asma bronkial pada kehamilan berkisar antara 0.5 sampai 1.0 % dari seluruh kehamilan. Angka abortus, partus dan prematurus maupun kematian pada ibu atau janin umumnya tidak mengalami peningkatan pada ibi-ibu yang mendapat control AB dengan baik, sementara ibu hamil dengan serangan AB yang berat merupakan suatu problema yang serius dengan angka abortus partus prematurus serta angka kematian ibu dan anak yang meningkat.

Pengaruh Kehamilan terhadap Asma Bronkiale

Pada seorang wanita hamil terdapat perubahan-perubahan fisiologis pada beberapa organ-organ tubuh wanita tersebut akibat kehamilannya. Perubahan-perubahan fisiologis yang diketahui berpengaruh terhadap perjalanan AB antara lain perubahan-perubahan berupa membesarnya uterus, elevasi diafragma, hormonal perubahan-perubahan pada mekanik paru-paru dan lain-lain.

Sejak implantasi blastokist pada endometrium uterus akan terus membesar sesuai umur kehamilan. Pada akhir bulan ke tiga uterus sudah cukup besar dan umumnya sudah sebagian tersembul ke luar rongga pelvis mengisi rongga perut untuk selanjutnya terus membesar perlahan-lahan mendesak usus ke atas dan kesamping sehingga pada trimester terakhir kehamilan uterus sudah mencapai daerah setinggi hati. Hal ini banyak berhubungan dengan meningkatnya tekanan intrabdominal.

Perubahan-perubahan hormonal yang terjadi saat kehamilan dan persalinan menyangkut banyak jenis hormon-hormon, tetapi yang diketahui ada kaitannya langsung atau tidak langsung terhadap perjalanan AB baru beberapa jenis.

Hormon Masa Kehamilan

Progesteron
Yang kadarnya meningkat pada masa kehamilan mempunyai efek langsung terhadap pusat pernapasan (respiratory center) mentebabkan peningkatan frekuensi pernapasan (respiratory rate), sehingga menyebabkan hiperventilasi. Progesteron juga bersifat smooth muscle relaxan terhadap otot-otot polos usus, genitourinarius, dan diduga pada otot-otot bronkus.

Estrogen
Kadarnya meningkat saat kehamilan, terutama trimester ketiga. Pecora dan kawan-kawan membuktikan estrogen mempunyai efek menurunkan diffusing capacity dari CO2 pada paru-paru dan diduga ini terjadi sebagai akibat meningkatnya asam mukopolisakarida perikapiler.

Kortisol
Kadarnya meningkat pada kehamilan, diduga sebagai akibat klirens kortisol yang menurun, bukan karena sekresinya yang meningkat. Sehngga waktu paruhnya akan memanjang. Dan pemberian preparat steroid pada masa kehamilan harus disesuaikan dengan keadaan ini.

Pengaruh Asma Bronkial Terhadap Kehamilan

Pada ibu-ibu hamil yang menderita AB, Bahna dan Bjerkedal mendapatkan bahwa insiden hiperemis, perdarahan, toksemia gravidarum, induksi persalinan dengan komplikasi dan kematian ibu secara bermakna lebih sering terjadi dibandingkan dengan ibu-ibu hamil tanpa penyakit AB. Hal ini dapat diduga erat hubungannya dengan obat-obat anti asma yang diberikan selama kehamilan ataupun akibat efek langsung daripada memberatnya asma.

Hal yang sangat penting diperhatikan didalam penatalaksanaan AB pada ibu-ibu hamil ialah disamping untuk keselamatan ibunya sendiri adalah juga untuk keselamatan janin. Oksigenasi pada janin hendaknya dipertahankan supaya adekuat, obat-obatan hendaknya dipilih yang bias menjamin keselamatan janin didalam kandungan.

Pengaruh Obat-obatan Anti Asma Terhadap Kehamilan

Bermacam-macam obat-obatan yang dipakai didalam penatalaksanaan AB. Sebagian diantaranya tidak mempunyai pengaruh yang merugikan terhadap kehamilan, namun sebagian lagi diantaranya dapat memberikan pengaruh yang sebaliknya sehingga pemakaiannya harus hati-hati dan hanya atas indikasi-indikasi tertentu saja.

Golongan Xanthin

Golongan yang luas dipakai adalah aminofilin dan teofilin. Cara kerja kedua jenis obat ini adalah sebagai bronkodilator yang langsung bekerja pada otot-otot bronkus dengan jalan menghambat kerja enzim fosfodisterase. Aminofilin dan teofilin merupakan obat yang cukup aman bagi ibu hamil dengan AB. Pada dosis terapeutik tidak terbukti bahwa obat-obat ini berbahaya pada ibu atau janin bahkan pada beberapa penelitian dapat ditunjukkan adanya penurunan yang bermakna daripada insidens respiratory distress syndrome pada bayi-bayi dari ibu yang mendapat aminoflin dibandingkan dengan yang tidak.

Golongan simptomatik

Obat-obatan dari golongan ini adalah adrenalin, efedrin, isoprenalin, terbutalin, salbutamol, orsiprenalin dan sebagainya. Obat-obat ini bekerja sebagai anti asma melalui perangsangan terhadap reseptor simpatis. Respetor simpatis ada 2 A dan B. Reseptor ini tersebar di seluruh tubuh, ada organ yang hanya memiliki 1 jenis reseptor, misalnya jantung, respetor B1, otot-otot bronkus reseptor B2, pembuluh darah respetor A, arteriol kulit, mukosa, dan otak, respetor A, dan adapula organ-organ yang memiliki lebih dari 1 repseptor.

Adrenalin

Selain merangsang reseptor B1 dan B2 juga merangsang reseptor A, sehingga selain merangsang bronkus, obat ini pula merangsang jantung, pembuluh darah dan lain-lain. Untuk mencegah efek samping, maka dianjurkan untuk mempergunakan dosis terkecil yang masih memberikan dilatasi bronkus yang optimal. Selain itu obat ini juga memberikan efek kontriksi pembuluh darah mukosa bronkus, sehingga mengurangi edema dan kongesti saluran nafas. Adrenalin juga menyebabkan penurunan sementara perfusi uterus yang menyebabkan fetal distress. Pemakaian pada umur kehamilan dibawah 4 bulan harus dihindari karena ditemukan kasus-kasus malformasi janin, tetapi belum diketahui secara pasti.

Efedrin

Farmakodinamik efedrin mirip adrenalin, namun mulai kurang dipakai karena efek bronkodilatornya kurang kuat. Pada dosis terapi sering memberikan efek samping yang jelas. Pada kasus-kasus dengan kehamilan, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat ini mengganggu kehamilan sehingga digolongkan aman untuk dipakai.

Obat-obat Beta Agonis

Seperti halnya terbutalin, orsiprenalin, heksoprenalin, salbutamol dan lain-lain mempunyai efek stimulasi terhadap adrenoseptor B2. Obat-obat golongan ini bekerja dengan meningkatkan siklik AMP melalui perangsangan reseptor B2 yang terdapat pada membran otot polos bronkus.

Dengan perangsangan ini maka aktifitas enzim adenisiklase meningkat sehingga perubahan-perubahan ATP menjadi siklik AMP bertambah. Belum diketahui efeknya terhadap janin, tetapi obat ini cukup aman dipakai pada kehamilan.

Akibat perangsangan pada reseptor B2 oleh obat ini, dapat menyebabkan relaksasi otot-otot uterus, sehingga menyulitkan jalannya persalinan, ataupun atonia uteri, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai pada hamil tua, saat inpartu ataupun masa nifas.

Sodium Kromoglikat

Cara kerja obat ini dengan menghambat pelepasan mediator humoral daripada sel mast, sehingga baik mencegah serangan asma. Obat ini tidak menyebabkan kelainan pada janin ataupun ibu, sehingga nampaknya tidaklah berbahaya. Namun demikian pemakaian pada ibu-ibu hamil datanya belum cukup banyak.

Kortikosteroid

Kortikosteroid bukan merupakan bronkodilator. Obat-obat ini umumnya digunakan pada AB yang berat. Kortikosteroid memiliki efek anti alergi dan anti inflamasi juga dapat meningkatkan otot polos bronkus yang refrakter terhadap stimulan adrenoseptor B2.

Pada kehamilan kadar kortisol lama ibu meningkat, dan hanya sebagian kecil saja yang melewati plasenta ke dalam sirkulasi janin dan segera perubahan menjadi bentuk inaktif. Prednisone dan prednisolon menembus plasenta dalam kadar yang sangat kecil kira-kira 1/10 kadar plasma ibu, dan hal ini konsisten dengan penemuan-penemuan bahwa sangatlah jarang terjadi supresi pertumbuhan kelenjar adrenal janin pada ibu-ibu hamil yang mendapat obat ini.

Antihistamine, Ekspektoran dan Antibiotika

Walaupun secara langsung bukan sebagai obat asma, namun sering digunakan pada penderita-penderita AB. Dipenhidramin, tripilinamin, feniramin, klorfeniramin, fenilefrin merupakan obat-obat yang dapat dipergunakan secara aman pada ibu-ibu hamil.

Ekspektoran terkecuali yang mengandung yodium juga aman dipakai. Diantara antibiotik, penisilin merupakan obat obat yang paling aman pada kehamilan. Eritromisin belum banyak diteliti, namun beberapa hasil penelitian yang ada ternyata juga aman dipakai, sedangkan tetrasiklin hendaknya jangan dipakai karena terbukti dapat menyebabkan kerusakan pada gigi, hati dan tulang dari janin.

Pengaruh obat-obat pertolongan persalinan terhadap asma bronkial

Beberapa jenis obat-obatan yang sering dipergunakan di dalam pertolongan persalinan secara farmakologis mempunyai potensi untuk mempengaruhi perjalanan AB.

Prostaglandin

Merupakan obat yang dapat dipergunakan untuk mengadakan induksi abortus pada kasus-kasus abortus terapiutis, induksi persalinan, induksi haid dan lain-lain sehubungan dengan khasiatnya dapat menyebabkan kontraksi dari otot-otot polos dari uterus. Prostaglandin F2alfa dan E2 juga mempunyai efek sebagai bronkokonstriktor sehingga berakibat meningkatkan pulmonary resistance, sehingga memperberat Asma, oleh karena itu pemakaian obat ini pada penderita AB akan berbahaya sehingga patut dihindari.

Obat-obat anestesi

Anestesia sering-sering diperlukan pada berbagai macam kasus ginekologik maupun obstetrik, Dietil eter mempunyai efek bronkodilatasi namun sangat iritatif terhadap mukosa bronkus sehingga dapat menyebabkan bronkokorea yang berlebihan,sedangkan sikopropan dapat menyebabkan bronkospasmus. Nitrous oksid dan halotan mempunyai efek bronkolitik sehingga dalam hal ini obat tersebut merupakan obat-obat pilihan. Disamping itu anestesi epidural, saddle block, pudendal bock ataupun anestesi lokal dapat digolongkan sebagai cara anestesi yang aman untuk penderita-penderita AB.

Penatalaksanaan Asma Bronkial pada kehamilan

Pada dasarnya penatalaksanaan Ab pada kehamilan tidaklah berbeda dengan penatalaksanaan AB pada umumnya, namun di dalam beberapa hal peru perhatian-perhatian khusus yang menyangkut keselamatan ibu dan janin, utamanya di dalam pemilihan obat-obat yang akan dipergunakan dan mencegah penyakitnya berlarut-larut untuk mencegah kemungkinan terjadinya hipoksia pada anak.

Penderita Rawat Jalan

Penderita dengan serangan AB yang ringan dapat dirawat sebagai penderita rawat jalan. Hal yang paling penting pada penderita-penderita ini adalah mencegah supaya serangan AB jangan timbul dan jangan menjadi berat, sehingga di dalam hal ini sangat perlu mengidentifikasi serta mengeliminir faktor-faktor presipitasi seperti infeksi saluran nafas, inhalasi alergen, bahan-bahan iritatif, stress emosional dan sebagainya. Sodium kromoglikat dapat merupakan obat obat yang terpilih di dalam usaha pencegahan ini disamping eliminasi faktor-faktor presipitrasi.

Pada serangan AB yang ringan , teofilin peroral atau rektal dapat merupakan pilihan atau kalau perlu aminofilin intravenous 250 – 500 mg secara bolus pelan-pelan atau isopreterinol inhalasi atau nebulizer, atau adrenalin subkutan 0,2-0,5 ml yang dapat diulang dalam 15 sampai 30 menit kemudian.

Pada penderita steroid dependent asthma, prednisone, prednisolon merupakan obat yang terpilih. Beklometason dipropionat periinhalasi juga dapat diberikan untuk menggantikan prednisone atau untuk mengurangi kebutuhan terhadap prednisone.

Penderita Rawat Inap

Diperuntukkan penderita dengan Ab yang berat atau status asthmaticus. Diberikan aminofilin IV 250-500 mg secara bolus pelan-pelan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian aminoflin perinfus IV dengan dosis 0,9 mg/kg BB/hari. Hidrokortison sodium suksinat diberikan 100-200 mg IV/4-6 jam, oksigen melalui kateter hidung, cairan dan elektrolit yang cukup dan eliminasi faktor-faktor presipitasi.

Apabila perlu ditambahkan dengan obat-obat golongan beta agonis dalam hal ini yang telah banyak dipergunakan pada kasus dengan kehamilan adalah terbutalin peroral 2.5 – 5 mg/8 jam.

Pada penderita Ab yang inpartu perlu mendapat pengobatan dan pengawasan seksama, karena sangat sering AB yang semula ringan menjadi berat saat inpartu, atau pada saat kehamilan AB tidak pernah menyerang, saat inpartu AB menyerang.

Penatalaksanaan sesuai dengan berat ringannya AB, dengan pengawasan yang seksama terhadap perkembangan penyakit. Dalam keadaan ini perlu diingat bahwa obat-obat adrenalin dan beta agonis mempunyai efek yang tidak menguntungkan sehingga pemakaiannya harus dihindari.

Perhatian khusus perlu pula diberikan terhadap penderita-penderita dengan riwayat steroid dependent asthma yang inpartu. Diperlukan pemberian kortikosteroid eksogen yang adekuat, yang maksudnya memberikan konsentrasi yang cukup dari hormon ini untuk menghadapi stres pada saat partus, dan mencegah eksaserbasi AB inpartu. Untuk maksud ini, sejak dimulainya inpartu diberikan hidrokortison 100 mg intramuskuler setiap 8 jam selama 24 jam atau lebih sesuai keadaan.

Referensi+


 Bagikan
Buku Ibu Hamil

5 thoughts on “Asma Bronkial Pada Kehamilan”

  1. sy salah satu penderita asma sedari kecil. usia sy skrg 27 thn dan sedang menjalni kehamilan yang 1. saya cemas, krn kakak saya punya penyakit yg sm dgn sy, dan ketika hamil penyakit tsb selalu kambuh, shg mengharuskan dirawat di RS, begitu strsnya smpi anak kedua. tolong dong mbak/mas, kasih sy tips yang baik untuk asma pada kehamilan!(sy jg sdh mengantisipasi dgn byk cara)dan apa yang dimaksud dgn aminofilin dan teofilin? apakah itu satu jenis obt tertentu atau jenis kandungan yang harus ada di salah satu obt asma? bagaiman dengan obt asma meptin 0,025mg? amankah untuk ibu hamil? tolong di jawab ya sma pertanyaan saya, bt mjaga saya dan janin saya! makasih :oops:

  2. Pingback: ASMA BRONKIAL « Jurnal Kedokteran Indonesia

Tinggalkan Komentar