Potensi Sumber daya Lahan Pertanian Pangan

Lahan PertanianLuas daratan di Indonesia mencapai 191 juta ha atau sebesar 24% dari total luas keseluruhan NKRI. Dan luas daratan yang 24% ini, sesuai dengan ketentuan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, 67 juta ha (35%) harus digunakan sebagai kawasan lindung (sesuai dengan fungsinya maka penggunaannya adalah untuk hutan) dan sisanya seluas 123 juta ha (65%) dapat digunakan untuk areal budidaya. Kawasan budidaya dapat digunakan untuk penggunaan non-hutan yaitu pertanian dan non pertanian.

Data statistik penggunaan lahan pertanian di Indonesia tahun 2003 menunjukkan bahwa potensi sumberdaya lahan pertanian di Indonesia adalah seluas 70,60 juta ha. Luas lahan yang digunakan untuk usaha pertanian mencapai 53,71 juta ha, sedangkan yang digunakan bukan untuk usaha pertanian mencapai 16,89 juta ha (belum termasuk Provinsi Maluku dan Papua). Bila dirinci menurut penggunaannya lahan yang paling luas digunakan adalah untuk perkebunan mencapai 18,33 juta ha (25,95%), penggunaan lahan tegal/kebun 15,59 juta ha (22,07%), lahan kayu-kayuan 10,37 juta ha (14,68%), sawah 7,46 ha (10,56%), bangunan dan halaman 5,69 juta Ha (8,05%), padang rumput 2,24 juta ha (3,17%), serta tambak, empang dan kolam 0,75 juta ha (1,07%). Berdasarkan data kondisi penggunaan lahan ini menunjukkan bahwa ketersediaan lahan potensial untuk perluasan areal tanaman pangan sudah tidak ada (potensi ektensifikasi negatif) karena sudah digunakan untuk tegalan, perkebunan dan sebagian lagi berupa lahan terlantar.

Dengan demikian apabila ada kebijakan pengembangan areal lahan tanaman pangan, maka pilihannya adalah pemanfaatan dari lahan terlantar tersebut, namun berdasarkan kondisi fisik tanahnya, pemanfaatan lahan terlantar tersebut akan lebih banyak yang sesuai untuk dikembangkan menjadi lahan tanaman pangan kering dan lahan perkebunan.

Sistem pertanian khususnya usaha pertanian tanaman pangan, sangat membutuhkan adanya ketersediaan lahan potensial. Karena dalam konsteks pertanian, ketersediaan lahan untuk usaha pertanian merupakan conditio sine-qua non dalam mewujudkan peran sektor pertanian secara berkelanjutan (sustainable agriculture). Lahan merupakan faktor produksi yang utama namun unik karena tidak dapat digantikan dalam usaha pertanian. Disamping itu secara filosofis lahan memiliki peran dan fungsi sentral bagi masyarakat Indonesia yang bercorak agraris, karena di samping memiliki nilai ekonomis lahan juga memiliki nilai sosial dan bahkan nilai religius. Oleh karena itu ketersediaan lahan yang cukup untuk usaha pertanian merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan peran sektor pertanian secara berkelanjutan, terutama dalam perannya mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan secara nasional.

Penyediaan Lahan Pertanian Pangan
Penyediaan lahan pertanian berkaitan dengan kapasitas produksi pangan, yang ditentukan oleh luas lahan produksi, produktivitas lahan, tingkat kebutuhan konsumsi pangan (ketergantungan pada beras), laju luasan konversi, dan jumlah penduduk. Berdasarkan proyeksi yang. dilakukan berdasarkan berbagai sumber data International Rice Research Institute (IRRI 2004 – 2005 dan BPS, serta beberapa asumsi Dr Bomer Pasaribu, Dr Drajat Martiarto, menunjukkan bahwa kebutuhan luas baku sawah sangat beragam. Pada tahun 2020 kebutuhan lahan baku sawah dengan asumsi jumlah penduduk sebesar 261,005 juta jiwa dengan kebutuhan konsumsi beras per kapita mengalami sedikit peningkatan serta produktivitas dan intensitas penanaman padi sama dengan kondisi tahun 2005 (skenario 2), maka dibutuhkan lahan sawah baku seluas 8.299 juta hektare. Hal ini berarti bahwa hingga tahun 2020 belum dibutuhkan penambahan luas baku lahan sawah, namun pada tahun 2030 dan tahun 2050 dibutuhkan luasan lahan baku sawah seluas 9,666 juta hektare dan 10,446 juta hektare. Artinya hingga tahun 2050 untuk mencukupi konsumsi pangan di Indonesia dengan laju konversi sawah sebesar 0,6 persen, dibutuhkan penambahan lahan sawah seluas 2 ,5 juta hektare. Namun kondisi ini sangat jauh berbeda, apabila diasumsikan adanya peningkatan produktivitas, serta adanya perubahan pola konsumsi makanan pokok yang tidak hanya dipenuhi dari beras, serta laju pertumbuhan penduduk yang semakin menurun persentasenya, mengakibatkan kebutuhan lahan baku sawah hingga tahun 2050 dapat dipenuhi dari lahan sawah baku yang ada sekarang, dengan asumsi konversi lahan sawah tidak terjadi.

Daftar Pustaka
Penyelamatan Tanah, Air, dan Lingkungan Oleh Sitanala Arsyad & Ernan Rustiadi (Editor)

Ikuti artikel JEVUSKA di Google+Facebook

comments