Asuhan Keperawatan Penyakit Malaria Berat

Langkah-langkah asuhan keperawatan dan penanganan penyakit malaria berat berikut ini harus diterapkan pada semua pasien dengan diagnosis klinis atau dicurigai malaria berat:

  • Membuat penilaian klinis cepat dengan perhatian khusus pada tingkat kesadaran, tekanan darah, laju-kedalaman pernapasan dan pucat.
  • Rujuk pasien ke unit perawatan intensif jika tersedia.
  • Jika konfirmasi parasitological malaria tidak tersedia, buatlah apusan darah dan memulai pengobatan berdasarkan presentasi klinis.
  • Berikan kemoterapi antimalaria via intravena. Jika infus intravena tidak memungkinkan, berikan obat yang tepat secara intramuskular. Formulasi suppositoria artemisinin dan turunannya yang tersedia harus diberikan jika pemberian secara parenteral tidak memungkinkan. Pengobatan oral harus diganti sesegera mungkin (sekalipun pasien bisa menelan obat tablet).
  • Penghitungan dosis sebagai mg/kg berat badan. Hal ini penting, khususnya untuk anak-anak.
  • Jangan bingung antara dosis salt dan base. Dosis quinine (kina) biasanya ditetapkan sebagai quinine salt (10 mg quinine dihydrochloride salt = 8,3 mg quinine base). Chloroquine (klorokuin) dan Quinidine (kuinidin) biasanya diresepkan sebagai quinine base.
  • Memberikan perawatan baik. Hal ini sangat vital, khususnya pasien yang kurang sadar.
  • Perhatikan dengan cermat keseimbangan cairan, jika cairan diberikan lewat infus, hindari terjadinya kelebihan dan kekurangan cairan.
  • Lakukan langkah awal untuk cek glukosa darah, dan memonitor sesering mungkin untuk hipoglikemia. Jika hal ini tidak dapat dilakukan, berikan glukosa.
  • Periksa optik fundus dengan ophthalmoscope. Hal ini dapat membantu dalam diagnosis diferensial (diagnosis banding).
  • Pastikan Anda mencari penyebab lain yang menyebabkan koma.
  • Cari dan kelola setiap komplikasi atau yang berkaitan dengan infeksi.
  • Cata urin output dan lihat kemungkinan terjadi haemoglobinuria atau Oliguria yang mungkin mengindikasikan terjadinya gagal ginjal akut.
  • Monitor suhu tubuh (sebaiknya suhu rektal), laju pernapasan-kedalaman, tekanan darah, tingkat kesadaran dan tanda vital lainnya secara teratur. Pengamatan ini penting dan memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi keterlambatan onset komplikasi seperti hipoglikemia, asidosis metabolik, edema paru dan shock.
  • Mengurangi suhu tubuh yang tinggi (> 39 ° C) dengan cara kompres hangat. Berikan parasetamol sebagai antipiretik jika diperlukan.
  • Jika pasien masuk ke keadaan syok, ambil kultur darah tetapi mulailah memberikan antibiotik tanpa harus menunggu hasil kultur darah.
  • Monitor respon terapi, baik klinis dan parasitologi.
  • Melakukan pemeriksaan rutin pada hematokrit, hemoglobin, glukosa, ureum-kreatinin, dan elektrolit.
  • Hindari obat yang meningkatkan risiko pendarahan gastrointestinal (aspirin, kortikosteroid).
  • Lepas kateter segera jika tidak lagi diperlukan atau jika pasien mengalami anuric (ketidakmampuan untuk buang air kecil).
  • Bersihkan daerah infus intravena paling tidak dua kali sehari dengan yodium dan alkohol.

Pemantauan yang lebih canggih (misalnya pH arteri, gas darah, tekanan vena sentral) dapat berguna jika komplikasi berkembang, dan juga tergantung pada ketersediaan peralatan, pengalaman dan keterampilan.

REFERENSI
Management of severe malaria: a practical handbook – World Health Organization

Baca juga kontroversi pemakaian Triclosan pada produk kesehatan serta Dutasteride sebagai obat atasi kanker prostat yang dibahas dalam artikel ilmu kedokteran dan kesehatan.

Ikuti artikel JEVUSKA di Google+Facebook

comments