Eliminasi Urine dalam Ilmu Keperawatan

Gangguan eliminasi urine adalah kondisi ketika individu yang mengalami atau berisiko mengalami disfungsi eliminasi urine. Gangguan Eliminasi Urine mungkin merupakan diagnosis yang terlalu luas untuk digunakan secara efektif di klinik. Oleh karena itu, perawat sebaiknya menggunakan diagnosis yang lebih spesifik, seperti Inkontinensia Stres, jika memungkinkan, jika faktor penyebab atau faktor penunjang inkontinensia belum teridentifikasi, untuk sementara perawat dapat menuliskan diagnosis Gangguan Eliminasi Urine yang berhubungan dengan etiologi yang tidak diketahui, yang ditandai dengan inkontinensia.

Perawat melakukan pengkajian fokus untuk menentukan apakah inkontinensia bersifat sementara, yakni dalam merespons kondisi akut (mis., infeksi, efek samping obat), atau ditetapkan dalam merespons berbagai kondisi persarafan atau genitourinaria kronis (Miller, 1999). Selain itu, perawat harus membedakan jenis-jenis inkontinensia: fungsional, stres, urgensi, atau total. Diagnosis Inkontinensia Total tidak boleh digunakan kecuali seluruh jenis inkontinensia lain telah disingkirkan.

Kesalahan Dalam Pernyataan Diagnostik
Gangguan Eliminasi Urine yang berhubungan denngan diversi pembedahan
Diagnosis ini mewakili label baru untuk urostomi, dan tidak berfokus pada akontabilitas keperawatan. Pada klien urostomi perlu dilakukan pengkajian tentang pengaruh urostomi terhadap pola fungsional dan fungsi fisiologis. Bagi klien tersebut, masalah kolaborasi Komplikasi Potensial: Obstruksi stoma dan Komplikasi Potensial: Kebocoran urine internal, dan diagnosis keperawatan seperti Risiko Gangguan Citra Tubuh dan Risiko Gangguan Pemeliharnan Kesehatan, dapat diterapkan.

Gangguan Eliminasi Urine yang berhubungan den, gagal ginjal.
Diagnosis ini merupakan nama pengganti untuk gagal ginjal dan tidak sesuai untuk dijadikan diagnosis keperawatan. Dengan demikian, diagnosis Kelebihan Volume Cairan yang berhubungan dengan gagal ginjal akut juga tidak tepat. Gagal ginjal menyebabkan munculnya berbagai diagnosis keperawatan, baik aktual maupun potensial, seperti Risiko lnfeksi dan Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi, serta masalah kolaborasi, seperti Komplikasi Potensial: Ketidakseimbangan cairan elektrolit dan Komplikasi Potensial: Asidosis metabolik.

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Eliminasi
Ada beberapa faktor yang memengaruhi eliminasi feses dan urine. Faktor tersebut antara lain:

a. Usia
Usia bukan hanya berpengaruh pada eliminasi feses dan urine saja, tetapi juga berpengaruh terhadap kontrol eliminasi itu sendiri. Anak-anak masih belum mampu untuk mengontrol buang air besar maupun buang air kecil karena sistem neuromuskulernya belum berkembang dengan baik. Manusia usia lanjut juga akan mengalami perubahan dalam eliminasi tersebut. Biasanya terjadi penurunan torus otot, sehingga peristaltik menjadi lambat. Hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam pengontrolan eliminasi feses, sehingga pada manusia usia Ian jut berisiko mengalami konstipasi. Begitu pula pada eliminasi urine, terjadi penurunan kontrol otot sphincter sehingga terjadi inkontinensia.

b. Diet
Makanan merupakan faktor utama yang berpengaruh pada eliminasi fekal dan urine. Makanan berserat sangatlah diperlukan untuk pembentukan feses. Makanan yang rendah serat menyebabkan pergerakan sisa digestif menjadi lambat mencapai rektum, sehingga meningkatkan penyerapan air. Hal ini berakibat terjadinya konstipasi. Makan yang teratur sangat berpengaruh pada keteraturan defekasi.

Di samping itu, pemilihan makanan yang kurang memerhatikan unsur manfaatnya, misalnya jengkol, dapat menghambat proses miksi. Jengkol dapat menghambat miksi karena kandungan pada jengkol, yaitu asam jengkolat, dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan terbentuknya kristal asam jengkolat yang akan menyumbat saluran kemih sehingga pengeluaran urine menjadi terganggu. Selain itu, urine juga dapat menjadi bau jengkol.

Malnutrisi menjadi dasar terjadinya penurunan tonus otot, sehingga mengurangi kemampuan seseorang untuk mengeluarkan feses maupun urine. Selain itu, yang paling penting akibat malnutrisi terhadap eliminasi fekal dan urine adalah menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi yang menyerang pada organ pencernaan maupun organ perkemihan.

c. Cairan
Intake cairan berpengaruh pada eliminasi fekal dan urine. Bila intake cairan tidak adekuat atau output cairan yang berlebihan, maka tubuh akan mengabsorbsi cairan dari usus besar dalam jumlah besar. Hal tersebut menyebabkan feses menjadi keras, kering, dan sulit melewati saluran pencernaan. Pada eliminasi urine, kurangnya intake cairan menyebabkan volume darah yang masuk ke ginjal untuk difiltrasi menjadi berkurang sehingga urine menjadi berkurang dan lebih pekat.

d. Latihan fisik
Latihan fisik membantu seseorang untuk mempertahankan tonus otot. Tonus otot yang baik dari otot-otot abdominal, otot pelvis, dan diafragma sangat penting bagi defekasi dan miksi. Latihan fisik juga merangsang terhadap timbulnya peristaltik.

e. Stres psikologis
Stres yang berlebihan akan memengaruhi eliminasi fekal dan urine. Ketika seseorang mengalami kecemasan atau ketakutan, terkadang ia akan mengalami diare ataupun beser. Namun, adapula yang menyebabkan sulit buang air besar.

f. Temperatur
Eliminasi dipengaruhi oleh temperatur tubuh. Seseorang yang demam akan mengalami peningkatan penguapan cairan tubuh karena meningkatnya aktivitas metabolik. Hal tersebut menyebabkan tubuh akan kekurangan cairan sehingga dampaknya berpotensi terjadi konstipasi dan pengeluaran urine menjadi sedikit. Selain itu, demam juga dapat memengaruhi terhadap nafsu makan yaitu terjadi anoreksia, kelemahan otot, dan penurunan intake cairan.

Poin-poin pengkajian berikut ini berhubungan dengan berbagai aspek eliminasi urine. Perawat memilih poin yang sesuai dengan teknik tertentu yang akan dilaksanakan. Kaji pola frekuensi berkemih klien yang biasa. Tanyakan berapa kali rata-rata klien berkenmih setiap harinya. Tentukan adanya perubahan baru-baru ini mengenai berkemih dengan Memperhatikan:

  • Keluarnya sejumlah besar urine
  • Keluarnya sejumlah kecil urine
  • Berkemih dengan interval waktu yang lebih sering
  • Mengalami kesulitan mencapai kamar mandi pada waktunya atau merasa terdesak (urgensi) untuk berkemih.
  • Berkemih disertai rasa nyeri
  • Mengalami kesulitan dalain memulai berkemih
  • Urine sering menetes atau kandung kemih terasa penuh terkait dengan keluarnya sejumlah kecil urine
  • Tekanan aliran kemih berkurang
  • Adanya rembesan urine ketika terjadi hal-hal berikut ini (misalnya jika batuk, tertawa, atau bersin, saat malam hari; ketika siang hari

Dapatkan riwayat medic mengenai masalah eliminasi, riwayat penyakit atau pembedahan saluran kemih, dan penyakit lainnya yang dapat memengaruhi masalah eliminasi urine, termasuk:

  • Infeksi ginjal, kandung kemih, atau uretra
  • Batu di saluran perkermihan
  • Pembedahan ginjal, pembedahan kandung kemih, pengangkatan prostat, atau prosedur pembedahan lain yang mengubah jalur perkemihan (mis, ureterostomi)
  • Penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi atau penyakit jantung
  • Penyakit kronis yang mengubah karakteristik perkemihan atau mengganggu fungsi perkemihan, seperti diabetes melitus, penyakit saraf/ neurologic (mis., sklerosis multipel dan kanker.

Kaji volume dan karakteristik urine klien:

  • Waktu berkemih klien yang terakhir dan jumlahnya (volume urine yang tidak perkiraan yaitu yang kurang dari 30 ml atau lebih dart 500 ml per jam harus segera dilaporkan).
  • Warna urine gelap, keruh, dan berubah.
  • Terdapat gumpalan lendir.
  • Bau menyengat.

Referensi
- Diagnosis Keperawatan Aplikasi pd praktik klinis ed9 Oleh Lynda Juall Carpenito
- Buku Ajar Praktik keperawatan Klinis Kozier Erb Oleh Audrey Berman, Shirlee J. Snyder, Barbara Kozier & Glenora Erb
- Teknik Prosedural Konsep & Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien Oleh Asmadi

Ikuti artikel JEVUSKA di Google+Facebook

comments