DEMAM : Arti & patofisiologi demam (tubuh panas menggigil)

Pengertian Demam
Definisi demam adalah salah satu dari tanda-tanda klinis yang paling umum dan ditandai dengan peningkatan suhu tubuh di atas normal yang memicu peningkatan tonus otot serta menggigil. Rata-rata suhu tubuh normal yang diukur secara oral adalah 36,7°C sampai 37°C.

Arti demam juga dikenal dengan istilah pireksia, merupakan tanda bahwa sesuatu yang luar biasa sedang terjadi dalam tubuh Anda, bagi orang dewasa, demam mungkin tidak nyaman, tetapi demam biasanya tidak berbahaya kecuali mencapai 39,4°C atau lebih tinggi. Untuk demam pada anak-anak yang sangat muda dan bayi, suhu sedikit lebih tinggi dapat mengindikasikan adanya suatu infeksi serius.

Tingkat demam tidak selalu menunjukkan keseriusan kondisi yang mendasarinya. Suatu penyakit ringan dapat menyebabkan demam tinggi, dan penyakit yang lebih serius dapat menyebabkan demam rendah. Sejumlah obat demam tersedia, yang berfungsi untuk menurunkan demam dan biasanya demam akan hilang dalam beberapa hari. Walaupun demam sering dikonotasikan negatif, demam tampaknya memainkan peran kunci dalam membantu tubuh Anda melawan sejumlah infeksi, inilah yang juga disebut dengan homeostasis. Homeostasis adalah kemampuan dari tubuh kita dalam mengatur dan menjaga keseimbangan lingkungan internal (di dalam) yang ideal dan stabil ketika berhadapan dengan perubahan eksternal (di luar). Temperatur homeostasis dikendalikan di hipotalamus, tepatnya di bagian anterior, yang mana ia akan menjadi pusat pengatur suhu tubuh sesuai target.

Patofisologi Demam
Mekanisme demam terjadi ketika pembuluh darah disekitar hipotalamus terkena pirogen eksogen tertentu (seperti bakteri) atau pirogen endogen (Interleukin-1, interleukin-6, tumor necrosis factor) sebagai penyebab demam, maka metabolit asam arakidonat dilepaskan dari endotel sel jaringan pembuluh darah. Metabolit seperti prostaglandin E2, akan melintasi barrier darah-otak dan menyebar ke dalam pusat pengaturan suhu di hipotalamus, yang kemudian memberikan respon dengan meningkatkan suhu. Dengan titik suhu yang telah ditentukan, hipotalamus akan mengirimkan sinyal simpatis ke pembuluh darah perifer. Pembuluh darah perifer akan berespon dengan melakukan vasokonstriksi yang menyebabkan penurunan heat loss melalui kulit.

Peningkatan aktivitas simpatis juga akan menimbulkan piloerection. Jika penyesuaian ini tidak cukup menyelamatkan panas dengan mencocokkan titik suhu yang baru, maka akan timbul menggigil yang dipicu melalui spinal dan supraspinal motor system, yang bertujuan agar tubuh mencapai titik suhu yang baru.

Ketika demam terjadi, banyak rekasi fisiologis berlangsung, termasuk konsumsi oksigen meningkat sebagai respon terhadap metabolisme sel meningkat, peningkatan denyut jantung, peningkatan cardiac output, jumlah leukosit meningkat, dan peningkatan level C-reactive protein. Konsumsi oksigen meningkat sebesar 13% untuk setiap kenaikan 1°C suhu tubuh, asalkan menggigil tidak terjadi. Jika menggigil ada, konsumsi oksigen dapat meningkat 100% sampai 200%. Beberapa sitokin dilepaskan selama keadaan demam yang akan menginduksi fisiologis stres (tegang). Sitokin ini dapat memicu percepatan katabolisme otot dengan menyebabkan penurunan berat badan, kehilangan kekuatan, dan keseimbangan negatif nitrogen negatif. Fisiologis stres diwujudkan dengan ketajaman mental menurun, delirium, dan kejang demam, yang lebih sering terjadi pada anak-anak.

Pada tahap akhir jika demam turun, penurunan suhu badan sampai ke suhu normal, maka akan ditandai dengan kemerahan, diaforesis, dan tubuh akan merasa hangat.

Hasil penelitian dengan model berbagai hewan menunjukkan bahwa demam memiliki beberapa efek respons tubuh menguntungkan terhadap infeksi. Heat shock proteins (HSP) adalah salah satu penelitian fever-responsive proteins yang baru-baru dipelajari. Protein ini diproduksi selama keadaan demam dan sangat penting untuk kelangsungan hidup sel selama stres. Studi menunjukkan bahwa protein ini mungkin memiliki efek anti-inflamasi dengan menurunkan kadar sitokin pro inflamasi. Demam juga memicu efek menguntungkan lainnya, termasuk peningkatan aktivitas fagositik dan bacteriocidal neutrofil serta meningkatkan efek sitotoksik limfosit. Beberapa bakteri menjadi kurang ganas dan tumbuh lebih lambat pada suhu lebih tinggi yang berhubungan dengan demam. Peningkatan kadar C-reactive protein mendorong fagosit lebih patuh untuk menyerang organisme, memodulasi radang, dan mendorong perbaikan jaringan.

Itulah sekilas gambaran tentang arti atau pengertian demam dan bagaimana patofisiologi demam yang terjadi pada tubuh dengan tanda panas dan menggigil. Dengan mengetahui mekanisme demam dan penyebab yang mendasarinya, Anda tentu tidak perlu berpikiran buruk terhadap demam, karena itulah salah satu tanda kompensasi tubuh untuk mengatasi dan melindungi agar kesehatan Anda tetap stabil.

Referensi

  • MayoClinic
  • American Association of Critical-Care Nurses

Ikuti artikel JEVUSKA di Google+Facebook

comments