Lambang Hari AIDS Sedunia

HIV – AIDS : Perbedaan, gejala dan penyebab

Pengertian HIV/AIDS
AIDS (Acquired immune deficiency syndrome atau acquired immunodeficiency syndrome) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit ini mengubah sistem kekebalan tubuh sehingga membuat orang lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit. Dengan kerentanan ini akibatnya dapat memperburuk suatu penyakit yang diderita seseorang.

HIV ditemukan dalam cairan tubuh dari orang yang terinfeksi seperti di dalam sperma, cairan vagina, darah dan juga air susu ibu. Virus ini ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui darah ke darah serta adanya hubungan kontak seksual secara langsung. Wanita hamil yang terinfeksi HIV dapat pula menularkan virus ini kepada janin yang dikandungnya selama kehamilan, saat melahirkan bayi, atau melalui ASI. Cara lain dalam penularan HIV seperti oral seks, seks anal, transfusi darah, dan jarum suntik yang terkontaminasi virus.

Virus dan penyakit ini sering disebut bersama-sama sebagai HIV-AIDS, karena HIV kemudian akan berkembang menjadi AIDS. Perkembangan infeksi oportunistik ini akan membuat pasien AIDS bisa menyebabkan kematian.

Asal-usul HIV-AIDS
Tidak diketahui secara pasti waktu virus ini tiba-tiba muncul. Dari beberapa penelitian, asal-usul HIV timbul di akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 di Afrika tengah-barat. HIV-AIDS dan penyebabnya pertama kali diidentifikasi dan diakui pada awal tahun 1980.

Sampai saat ini tidak ada obat untuk HIV/AIDS dan para peneliti masih mencari bagaimana cara mengatasinya. Dengan perawatan yang efektif dapat memperlambat perjalanan penyakit dan beberapa pasien yang terinfeksi bisa hidup lebih lama dan relatif sehat.

Perbedaan HIV dan AIDS
HIV adalah virus yang menyerang sel T dalam sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS adalah kondisi medis berupa sindrom yang muncul dalam stadium lanjut infeksi HIV. Infeksi virus ini dapat menyebabkan AIDS dalam perkembangannya. Namun, ada kemungkinan orang yang terinfeksi HIV tidak terkena AIDS nantinya. Sebagian besar kasus, pasien yang terinfeksi dan tidak dilakukan penanganan akhirnya akan berkembang menjadi AIDS.

Dengan melakukan tes HIV, virus ini dapat diidentifikasi pada tahap awal. Dengan cara ini akan memungkinkan pasien menggunakan obat profilaksis (pencegahan) yang akan memperlambat virus bereplikasi atau menunda awal terjadinya AIDS. Pasien AIDS masih memiliki virus HIV sehingga seseorang dengan AIDS dapat menularkan virus kepada orang lain.

Tanda dan Gejala AIDS
Apa perbedaan antara tanda dan gejala? Tanda HIV AIDS adalah sesuatu yang dapat dideteksi oleh orang lain (selain dari pasien), seperti ruam, pembengkakan, atau perubahan warna kulit. Gejala HIV AIDS adalah sesuatu yang hanya pasien dapat rasakan dan gambarkan, seperti kelelahan, sakit kepala, atau pusing. Dalam sebagian besar kasus, gejala HIV adalah hasil dari infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan parasit. Kondisi ini umumnya tidak akan terjadi pada seseorang dengan imunitas tubuh yang baik.

Tahap awal infeksi HIV
Kebanyakan orang dengan HIV tidak memiliki gejala selama beberapa tahun, sedangkan beberapa mungkin mengalami gejala mirip flu, biasanya dua sampai enam minggu setelah terinfeksi virus. Gejala-gejala dapat bertahan hingga empat minggu.

Gejala infeksi awal mungkin seperti:

  • Demam menggigil
  • Nyeri sendi dan otot
  • Sakit tenggorokan
  • Berkeringat (terutama pada malam hari)
  • Pembesaran kelenjar
  • Ruam kemerahan
  • Kelelahan
  • Kelemahan
  • Penurunan berat badan

Infeksi HIV asimtomatik
Dalam banyak kasus, setelah gejala awal menghilang, tidak akan ada gejala lanjutan selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, virus akan berkembang dan merusak sistem kekebalan tubuh. Proses ini dapat memakan waktu hingga 10 tahun. Orang yang terinfeksi tidak merasa mengalami gejala, merasa baik dan tampak sehat.

Tahap akhir infeksi HIV
Jika tidak diobati, HIV akan melemahkan kemampuan untuk melawan infeksi. Orang menjadi rentan terhadap beberapa penyakit serius. Nah, pada tahap inilah dikenal sebagai AIDS.

Tanda dan gejala akhir-tahap infeksi HIV mungkin seperti:

  • Penglihatan kabur
  • Diare, yang biasanya persisten atau kronis
  • Batuk kering
  • Demam 37°C di atas (100°F) berlangsung selama berminggu-minggu
  • Berkeringat di malam hari
  • Kelelahan yang permanen
  • Sesak napas
  • Pembengkakan kelenjar yang berlangsung selama berminggu-minggu
  • Penurunan berat badan
  • Bintik putih di lidah atau mulut

Selama tahap akhir infeksi HIV, risiko berkembangnya penyakit yang mengancam jiwa jauh lebih besar. Contohnya adalah:

  • Esofagitis (radang pada lapisan ujung bawah kerongkongan)
  • Infeksi pada sistem saraf (meningitis aseptik akut, ensefalitis subakut, neuropati perifer)
  • Pneumonia
  • Beberapa jenis kanker, seperti sarkoma Kaposi, kanker serviks invasif, kanker paru-paru, karsinoma rektum, karsinoma hepatoseluler, kanker kepala dan leher, atau limfoma
  • Toksoplasmosis
  • TBC

Penyakit yang mengancam jiwa dapat dikontrol dan diobati dengan penanganan HIV yang tepat.

Penyebab HIV/AIDS
Jenis HIV merupakan retrovirus yang menginfeksi organ vital dari sistem kekebalan tubuh manusia. Perlangsungan penyakit tanpa adanya terapi antiretroviral. Tingkat perkembangan penyakit sangat bervariasi dan tergantung pada banyak faktor seperti usia, kemampuan tubuh untuk bertahan melawan HIV, akses ke pelayanan kesehatan, warisan genetik orang yang terinfeksi, resistensi terhadap jenis HIV tertentu.

Penularan HIV
HIV menular dengan berbagai cara seperti:
Transmisi seksual. Hal ini dapat terjadi ketika ada kontak dengan sekresi seksual yang terinfeksi, misalnya rektum, membran mukosa genital atau oral. Hal ini dapat terjadi saat berhubungan seks tanpa kondom.

Penularan perinatal. Sang ibu bisa menularkan infeksi tersebut kepada anaknya saat kehamilan, melahirkan dan juga melalui menyusui.

Transmisi darah. Risiko penularan HIV melalui transfusi darah saat ini sangat rendah di negara maju, berkat skrining dan tindakan pencegahan. Penggunaan kembali jarum suntik yang terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi HIV di kalangan pemakai narkoba sangat berbahaya.
Berkat prosedur perlindungan yang ketat, risiko infeksi terhadap petugas kesehatan sangat rendah. Seseorang yang memberi dan melakukan tato dan tindikan juga berisiko dan harus sangat berhati-hati.

Mitos seputar HIV/AIDS
Ada banyak kesalahpahaman tentang HIV dan AIDS. Virus ini tidak bisa ditularkan dari:

  • Berjabat tangan
  • Memeluk
  • Ciuman
  • Bersin
  • Menyentuh kulit yang tidak luka
  • Menggunakan toilet yang sama
  • Berbagi handuk
  • Berbagi sendok garpu
  • Resusitasi mulut ke mulut
  • Atau bentuk lain dari kontak biasa

Sekedar kita ketahui bahwa pada peringatan Hari AIDS Sedunia 2012 oleh UNICEF menyatakan bahwa terjadi penurunan sekitar 24 persen kasus infeksi HIV pada anak-anak, dari sekitar 430.000 di tahun 2009 menjadi 330.000 pada tahun 2011. Pada bulan Desember 2011, lebih dari 100.000 anak-anak menerima pengobatan antiretroviral dibandingkan tahun 2010.

Tinggalkan Komentar