Ganja (Kanabis) atasi aterosklerosis? (Penelitian)

Penelitian terbaru menyebutkan bahwa ganja dapat mengatasi aterosklerosis, diplublikasikan dalam journal Atherosclerosis oleh National Institute of Health edisi Maret 2014, dimana ditemukan reseptor cannabinoidsuatu senyawa kimia yang secara alami ditemukan dalam ganja atau kanabis – berpotensi sebagai pilihan dalam mengatasi aterosklerosis.

Sebagaimana kita ketahui, aterosklerosis merupakan penyakit vaskular yang timbul akibat substansi lemak atau kolesterol yang menumpuk pada dinding pembuluh darah sehingga terjadi pembentukan plak. Dalam jangka waktu yang lama, proses ini akan menghambat aliran darah dalam arteri dan menyebabkan masalah kesehatan yang berat pada seluruh tubuh kita.

Menurut penelitian ini, ECS (endocannabinoid system) aktif berada dalam makrofag manusia dan macrophage-derived foam cells. Aktivasi selektif CB2R (suatu reseptor cannabinoid tipe 2) menurunkan akumulasi CD36-dependent oxidized low-density lipoproteins oxDL dan memodulasi sitokin inflamasi, yang nantinya berpotensi sebagai terapi yang strategis dalam melawan aterosklerosis.

Penelitian terbaru ini juga merupakan penelitian pertama yang menjabarkan secara lebih rinci bagaimana aktivasi reseptor cannabinoid memberikan pilihan pengobatan yang efektif dalam mengatasi aterosklerosis.

Reseptor Cannabinoid yang diaktivasi dari murine macrophages bertujuan untuk memberikan paparan terhadap oxLDL dan juga reseptor cannabinoid tipe 1 (CB1R), yang merupakan faktor risiko aterosklerosis dan juga sesuatu yang menyebabkan akumulasi kolesterol dan penghasil mediator inflamasi.

Kesimpulannya, akumulasi yang terjadi akan diatasi oleh peran reseptor cannabinoid tipe 2. Dari sini, para peneliti berusaha untuk memastikan unsur-unsur yang berbeda dari endocannabinoid system yang diaktifkan dalam lipid-laden macrophages manusia, dan apakah CB2R memainkan satu peran dalam aterogenesis dan peradangan sel-sel ini.

Apa itu Cannabinoid?

Terdapat lebih dari 480 komponen alami yang ditemukan dalam tanaman Cannabis sativa alias ganja, yang mana terdapat 66 jenis telah diklasifikasikan sebagai cannabinoid, suatu bahan kimia yang unik untuk tanaman. Yang paling terkenal dan diteliti adalah senyawa delta-9-tetrahydrocannabinol (Δ-THC), adalah substansi utama yang bertanggung jawab terhadap efek psikoaktif ganja.

Seperti halnya opiat (zat yang berasal dari tanaman opium seperti heroin), cannabinoid mempengaruhi pemakainya dengan berinteraksi dengan reseptor spesifik yang terletak di sistem saraf pusat. Dua jenis reseptor cannabinoid telah ditemukan sampai saat ini yaitu CB1R dan CB2R.

Interaksi Cannabinoid cenderung terjadi pada sistem limbik kita (bagian dari otak yang mempengaruhi memori, kognisi dan kinerja psikomotor) dan jalur mesolimbic (aktivitas ini dikaitkan dengan perasaan reward) dan juga berpengaruh di bidang persepsi nyeri.

Bagaimanapun banyak penelitian telah difokuskan pada berbagai keperluan medis akan potensi cannabinoid buatan manusia, yang disebut sintetis analog.


 Share

Aterosklerosis – Definisi, Patogenesis dan Penyebab Arteriosklerosis

Definisi Aterosklerosis

Apa itu Aterosklerosis?

Aterosklerosis (atherosclerosisath·er·o·scle·ro·sis) diketahui juga dengan nama arteriosclerotic vascular disease – ASVD, suatu kondisi penyakit vaskular, sering digunakan bergantian dengan istilah yaitu arteriosklerosis. Aterosklerosis adalah suatu proses penebalan dan pengerasan dinding pembuluh darah arteri berukuran sedang dan besar yang berlangsung secara progresif sebagai akibat dari timbunan lemak (plak) pada lapisan dalam pembuluh darah, yang dapat membatasi atau menghambat aliran darah.

Aterosklerosis merupakan suatu keadaan yang dapat dicegah dan juga memungkinkan untuk dilakukan penanganan terhadapnya.

Penyebab Aterosklerosis

Banyak faktor yang secara langsung berkontribusi terhadap disfungsi endotel dan menilai risiko penyakit vaskular melalui tes darah. Berikut ini adalah faktor-faktor aterogenik, yang berperan pada kejadian aterosklerosis, meliputi:

  • Kolesterol LDL tinggi.
  • Kolesterol HDL rendah.
  • Peningkatan trigliserida.
  • Oxidized LDL.
  • Hipertensi.
  • Peningkatan Protein C-reactive.
  • Peningkatan Lp-PLA2 (marker inflamasi).
  • Peningkatan rasio omega-6:omega-3.
  • Peningkatan glukosa.
  • Kelebihan insulin.
  • Peningkatan homosistein.
  • Peningkatan fibrinogen.
  • Insufisiensi Vitamin D.
  • Insufisiensi Vitamin K.
  • Testosteron rendah dan kelebihan estrogen (pada pria).
  • Kurangnya Coenzyme Q10 (CoQ10).
  • Defisit nitrat oksida.

Ketika usia bertambah diperkirakan arteri secara alami mulai mengeras, sempit dan elastisitas berkurang. Namun, ada beberapa penyebab yang mempercepat proses ini, yaitu:

Diet Tinggi Lemak & Kolesterol

Kolesterol adalah jenis lemak yang penting untuk fungsi tubuh. Kolesterol membantu untuk memproduksi hormon, membuat membran sel (dinding yang melindungi sel-sel individu) dan melindungi ujung saraf.

Ada dua jenis kolesterol yang utama, yaitu:

  • Low-Density Lipoprotein (LDL) yang sebagian besar terdiri dari lemak, ditambah sejumlah kecil protein. Jenis kolesterol ini dapat memblokir arteri, sehingga sering disebut sebagai ‘kolesterol jahat’.
  • High-Density Lipoprotein (HDL) sebagian besar terdiri dari protein, ditambah sejumlah kecil lemak. Jenis kolesterol ini dapat membantu untuk mengurangi penyumbatan di arteri, sehingga sering disebut sebagai ‘kolesterol baik’.

Sebagian besar kolesterol yang dibutuhkan tubuh diproduksi oleh hati. Namun, jika Anda makan makanan tinggi lemak jenuh, lemak dipecah menjadi LDL. Makanan tinggi lemak jenuh seperti biskuit, kue, daging babi asap, sosis, daging olahan, mentega, dan es krim.

Kolesterol LDL menempel pada dinding arteri dalam bentuk deposit lemak yang dari waktu ke waktu secara bertahap menyumbat aliran darah. Deposit lemak juga dikenal sebagai plak atau ateroma.

Diet tinggi lemak, olahraga tidak teratur, obesitas dan minum alkohol secara berlebihan juga dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam tubuh. Istilah medis kolesterol tinggi adalah hiperlipidemia.

Tekanan darah tinggi

Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi), maka akan merusak arteri dalam cara yang sama seperti asap rokok. Arteri Anda dirancang untuk memompa darah pada tekanan tertentu. Jika tekanan berlebihan, dinding arteri akan rusak. Tekanan darah tinggi dapat disebabkan oleh kelebihan berat badan, minum alkohol secara berlebihan, tegangan, merokok, kurang olahraga.

Merokok

Merokok dapat merusak dinding arteri. Jika arteri rusak karena merokok maka sel-sel darah, yang dikenal sebagai trombosit, akan mengumpul di lokasi kerusakan. Hal ini dapat menyebabkan arteri menyempit. Merokok juga mengurangi kemampuan darah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh Anda, yang meningkatkan kemungkinan bekuan darah terjadi.

Diabetes

Jika Anda menderita diabetes tipe 1 atau tipe 2, glukosa berlebih dalam darah dapat merusak dinding arteri.

Alkohol

Minum alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan minangkatkan kadar kolesterol darah, meningkatkan risiko terkena aterosklerosis dan CVD (cardiovascular disease).

Obesitas

Kelebihan berat badan atau obesitas secara tidak langsung meningkatkan risiko terkena aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular (CVD). Secara khusus, orang-orang yang kelebihan berat badan atau obesitas:

  • Memiliki peningkatan risiko terkena tekanan darah tinggi
  • Cenderung memiliki kadar kolesterol tinggi akibat makan diet tinggi lemak
  • Berisiko berkembang menjadi diabetes tipe 2

Riwayat Keluarga

Jika Anda memiliki orang tua atau saudara kandung dengan aterosklerosis dan CVD, Anda dua kali lebih berisiko terkena masalah yang sama dibandingkan dengan populasi pada umumnya.

Etnis

Tingkat tekanan darah tinggi dan diabetes yang lebih tinggi di antara orang-orang Afrika, dan keturunan karibia. Ini berarti bahwa orang dalam kelompok ini juga memiliki peningkatan risiko atherosclerosis dan CVD .

Orang-orang keturunan Asia Selatan (orang-orang India, Bangladesh, Pakistan dan Sri Lanka) adalah lima kali lebih mungkin untuk terkena diabetes daripada populasi pada umumnya, dan ini meningkatkan risiko kelompok ini terkena atherosclerosis dan CVD.

Polusi Udara

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa polusi udara seperti polusi lalu lintas tertentu, dapat menyebabkan sedikit peningkatan dalam tingkat aterosklerosis. Para peneliti menemukan bahwa orang yang hidup dalam jarak 50 meter dari jalan utama memiliki kadar aterosklerosis.

Patogenesis Aterosklerosis

Patofisiologi Aterosklerosis
Patofisiologi Aterosklerosis

Proses patofisiologis aterosklerosis terjadi sangat kompleks dan agak kontroversial. Tetapi pada dasarnya mekanisme kerja terjadinya mencakup:

  1. Kerusakan sel endotel
  2. Deposisi lipoprotein
  3. Reaksi inflamasi
  4. Pembentukan sel otot polos

Kerusakan Sel Endotel

Hal ini mungkin faktor awal yang dimulai dengan proses pembentukan plak aterosklerosis. Sejak endotelium terus-menerus mengalami sirkulasi, setiap sesuatu yang melewati pembuluh darah ini dapat menyebabkan kerusakan, seperti yang terjadi selama penggunaan tembakau, diabetes dan dislipidemia.

Deposisi lipoprotein

Ketika endotelium terluka atau terganggu, molekul lipoprotein dimodifikasi oleh oksidasi (via radikal bebas atau oksidasi enzim) atau glikasi (pada penderita diabetes). Modified lipoprotein (LDL dimodifikasi) adalah mediator inflamasi dan dapat dicerna oleh makrofag yang menciptakan foam cells, kemudian terbentuk fatty streak di dinding arteri.

Reaksi inflamasi

Modified lipoprotein adalah antigenik dan menarik sel-sel inflamasi ke dalam dinding arteri. Juga, setelah cedera endotel, mediator inflamasi yang dilepaskan meningkat yang kemudian mengikat leukosit.

Pembentukan jaringan sel otot polos

Sel-sel otot halus bermigrasi ke permukaan plak menciptakan fibrous cap. Ketika fibrous cap ini menebal, plak menjadi stabil, namun plak aterosklerotik yang tipis, dianggap lebih rentan untuk pecah atau mengalami erosi dan menyebabkan trombosis.

Tanda dan Gejala Aterosklerosis

Sebagian besar kasus aterosklerosis tidak menunjukkan gejala. Namun, tanda-tanda dan gejala berikut mungkin terkait dengan terjadinya aterosklerosis jangka panjang, yaitu:

  • Nyeri (biasanya terjadi pada dada atau kaki).
  • Kelelahan.
  • Kelemahan tubuh menyeluruh atau malaise.
  • Kesulitan bernapas.

Apa yang terjadi jika terjadi sumbatan di arteri?

Jika terjadi sklerosis arteri koroner (arteri yang memasok darah ke jantung) maka terjadi kekurangan oksigen pada otot jantung dan nutrisi (yang diangkut oleh darah ke seluruh tubuh). Kondisi ini dapat menyebabkan iskemia miokard, yang berarti suplai darah berkurang. Jika arteri tersumbat dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan serangan jantung dan kematian. Semakin lama terjadi kekurangan oksigen di setiap bagian otot jantung, maka semakin besar kemungkinan jaringan mengalami kematian, yang disebut sebagai nekrosis. Nekrosis dari setiap jaringan jantung dapat menyebabkan cacat menetap.

Jika sumbatan di arteri yang berupa plak pecah makan dapat menyebabkan bekuan darah, disebut trombus. Trombus ini kemudian bisa saja terlepas dan masuk ke aliran darah, jika akhirnya trombus ini terhambat pada aliran darah di otak maka bisa menyebabkan stroke.

Jika bekuan bergerak ke arteri paru, dapat menyebabkan emboli paru yang nantinya bisa berdampak pada kematian mendadak. Jika suplai darah ke kaki atau lengan terhambat maka dapat menyebabkan masalah gerakan dan akhirnya terjadi gangren.

Diagnosis Aterosklerosis

Bagaimana diagnosa Aterosklerosis?

Pasien yang tidak memiliki gejala dapat melakukan tes skrining kolesterol dari usia 35 (untuk pria) dan dari 45 (untuk wanita). Untuk pasien yang mengalami gejala, maka akan dilakukan pemeriksaan fisik dengan auskultasi jantung dan paru. Aterosklerosis cenderung menimbulkan suara mendesing atau meniup lebih dari satu arteri yang telah terkena. Kemudian akan dilakukan tes diagnostik seperti:

  • Latihan Stress Test atau Chemical Stress Test
  • Echokardiogram (Echo)
  • Elektrokardiogram (EKG / EKG)
  • Event Monitor atau Holter monitor
  • Nuclear Heart Scan

Prosedur pengujian penyakit jantung yang lebih invasif seperti kateterisasi jantung atau angiografi koroner hanya dianjurkan pada pasien yang menunjukkan gejala dan hasil EKG atau stress test positif. Angiogram memungkinkan dokter untuk melihat bagian dalam arteri dengan memasukkan tabung panjang, yang disebut kateter, ke dalam pembuluh darah.

Pengobatan & Pencegahan Aterosklerosis

Pada kasus aterosklerosis yang berat, beberapa tindakan medis tertentu mungkin diperlukan, seperti grafting bypass arteri koroner dan angioplasty. Untuk kasus yang lebih ringan, maka secara umum dibutuhkan perubahan pola hidup sebagai bentuk penanganan dan pencegahan aterosklerosis, contohnya:


 Share

Batuk – Definisi, Jenis dan Penyebab Batuk Kronis

Pengertian Batuk

Apa itu batuk?

Definisi Batuk adalah suatu bentuk tindakan reflex dari tubuh untuk membersihkan jalan napas dari sesuatu yang mengganggu jalannya pernapasan, seperti lendir, debu, asap atau sesuatu yang mengiritasi jalan napas.

Jenis Batuk

Pada dasarnya, ada 2 jenis batuk yaitu dapat berupa batuk kering atau batuk berdahak, dan pengobatan batuk tanpa penyebab yang serius biasanya tidak diperlukan. Adapun jika pengobatan di rumah yang bisa Anda gunakan biasanya adalah yang mengandung madu atau lemon untuk membantu meringankan batuk dalam jangka pendek.

Batuk berdahak ditandai oleh adanya mucus atau lendir di saluran napas. Oleh karena itu, berbeda dengan batuk kering, tindakan untuk jenis batuk berdahak ini bertujuan untuk mengeluarkan mucus (lendir) atau dahak yang mengganggu dari jalan napas. Batuk berdahak dibagi lagi menjadi batuk produktif dan non-produktif. Seseorang dengan batuk produktif akan melihat adanya mucus yang keluar dari jalan nafas saat batuk. Dalam kasus batuk non-produktif, mucus masih menetap di saluran napas meskipun terjadi batuk. Jika ada mucus atau dahak yang keluar berwarna hijau, kuning atau mengandung darah (batuk berdarah), maka penting untuk mengkonsultasikannya dan memeriksa keadaan Anda dengan dokter.

Dalam kondisi normal, atau disebut juga sebagai batuk efektif, berperan sebagai pelindung yang penting dalam saluran udara dan paru-paru, namun dalam beberapa kondisi seperti batuk produktif dan non-produktif, dapat mengganggu dan berpotensi membahayakan mukosa saluran napas.

Proses Terjadinya Batuk

Patofisiologi Batuk (Refleks Batuk)

Bagaimana orang bisa batuk? Batuk adalah bentuk refleks pertahanan tubuh yang sangat penting untuk meningkatkan pengeluaran sekresi mucus dan partikel dari jalan pernapasan dan melindungi terjadinya aspirasi terhadap masuknya benda asing, contohnya inhalasi partikel, patogen, akumulasi sekret, postnasal drip, dan mediator terkait dengan peradangan.

Setiap batuk terjadi melalui stimulasi refleks arkus yang kompleks. Hal ini diprakarsai oleh iritasi reseptor batuk yang berada pada trakea, carina, titik percabangan saluran udara besar, dan saluran udara yang lebih kecil di bagian distal, mereka juga ada dalam faring. Laring dan tracheobronchial reseptor berespon baik terhadap rangsangan mekanik dan kimia. Reseptor kimia peka terhadap asam, panas, dan senyawa capsaicin seperti memicu refleks batuk melalui reseptor aktivasi tipe 1 vanilloid (capsaicin). Selain itu, reseptor saluran napas yang lebih dalam ada di kanal eksternal auditori, gendang telinga, sinus paranasal, faring, diafragma, pleura, perikardium, dan perut. Ini mungkin bentuk reseptor mekanik saja, yang dapat dirangsang oleh pemicu seperti sentuhan atau perpindahan.

Impuls dari reseptor batuk dirangsang melintasi jalur aferen melalui saraf vagus ke ‘pusat batuk’ di medula, yang dengan sendirinya mungkin berada di bawah kendali pusat kortikal yang lebih tinggi. Pusat batuk menghasilkan sinyal eferen yang bergerak menuruni vagus, saraf frenikus, dan saraf motorik tulang belakang untuk otot-otot ekspirasi yang berguna menghasilkan batuk.

Mekanisme dasar lengkung refleks batuk dari:

  1. Jalur Aferen: serabut saraf sensorik (cabang saraf vagus) yang terletak di epitel bersilia saluran napas atas (paru, aurikularis, faring, laring superior, lambung) dan cabang jantung dan esofagus dari diafragma. Impuls aferen menuju ke medula difus.
  2. Jalur Tengah (pusat batuk): merupakan wilayah koordinasi pusat untuk batuk terletak di batang otak bagian atas dan pons.
  3. Jalur Eferen: Impuls dari pusat batuk melalui vagus, saraf frenikus, dan saraf motorik spinal ke diafragma, dinding perut dan otot. Inti retroambigualis, oleh frenikus dan saraf motorik lainnya tulang belakang, mengirimkan impuls ke otot inspirasi dan ekspirasi, dan inti ambiguus, oleh cabang laring dari vagus.

Mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

  1. Fase inspirasi: Inhalasi, yang menghasilkan volume yang diperlukan untuk batuk efektif.
  2. Fase kompresi: Penutupan laring dikombinasikan dengan kontraksi otot-otot dinding dada, diafragma, dan hasilnya dinding perut meningkat pesat akibat tekanan intratoraks.
  3. Fase ekspirasi: glotis akan terbuka, sehingga aliran udara ekspirasi yang tinggi dan mengeluarkan suara batuk. Kompresi jalan nafas yang besar terjadi. Arus yang tinggi mengeluarkan lendir dari saluran udara dan memungkinkan pengeluaran dari trakeobronkial.

Pola spesifik batuk tergantung pada lokasi dan jenis rangsangan. Hasil stimulasi laring berupa stimulasi mekanik ekspirasi langsung (kadang-kadang disebut refleks ekspirasi), mungkin untuk melindungi jalan napas dari aspirasi, stimulasi distal ke laring menyebabkan fase inspirasi lebih menonjol, mungkin untuk menghasilkan aliran udara yang diperlukan untuk menghilangkan stimulus.

Selama batuk kuat, tekanan intratoraks bisa mencapai 300 mm Hg dan kecepatan ekspirasi mendekati 800 kilometer per jam. Sementara tekanan dan kecepatan ini bertanggung jawab terhadap efek menguntungkan dari pembersihan mukus, mereka juga bertanggung jawab terhadap banyak komplikasi batuk, seperti kelelahan, kesadaran diri, insomnia, pusing, sakit kepala, nyeri muskuloskeletal, keringat yang berlebihan, suara serak, inkontinensia urin. Batuk akibat patah tulang rusuk adalah komplikasi yang menyakitkan dan berpotensi serius tejadinya batuk kronis. Fraktur sering melibatkan beberapa tulang rusuk khususnya iga 5 sampai 7. Wanita dengan kuangnya kepadatan tulang berada pada risiko terbesar terkena komplikasi ini, namun, patah tulang juga dapat terjadi pada pasien dengan kepadatan tulang yang normal.

Karena batuk adalah refleks defensif yang penting, yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan paru-paru, orang-orang yang tidak batuk efektif beresiko terkena atelektasis, pneumonia berulang, dan penyakit saluran napas kronis dari aspirasi dan retensi sekresi. Para lansia, bayi yang baru lahir, penerima transplantasi paru-paru, dan pasien dengan kelumpuhan atau gangguan neuromuskuler memiliki refleks batuk yang kurang berkembang, dan sangat rentan terhadap infeksi paru-paru dan aspirasi pneumonia. Pasien dengan kelumpuhan atau gangguan neuromuskuler (termasuk patah tulang rusuk atau fraktur) dan deformitas dinding dada mungkin tidak menghasilkan arus yang diperlukan untuk tejadinya batuk efektif akibat mekanisme untuk mengeluarkan seksresi mengalami kecacatan. Juga pasien dengan penurunan fungsi dinding otot perut sangat berisiko untuk batuk tidak efektif. Pasien dengan trakeo-bronchomalacia, atau penyakit paru obstruktif, sering tidak menghasilkan tingkat aliran tinggi yang diperlukan mengeluarkan sekresi. Seseorang dengan gangguan laring, termasuk mereka yang Tracheostomi, mungkin tidak mencapai penutupan laring yang cukup untuk meningkatkan tekanan intratoraks yang diperlukan untuk batuk efektif.

Batuk Kronik

Batuk kronis adalah batuk persisten yang perlangsungannya berbeda dengan batuk biasa dan gejala batuk ini timbul karena adanya kondisi kesehatan yang mendasarinya. Batuk kronik inilah yang menjadi masalah paling sering dan sebagai alasan bagi banyak orang untuk berobat ke dokter.

Batuk Kronis

Penyebab Batuk Kronis

Beberapa penyebab umum dari batuk kronik seperti asma, sinusitis, alergi, dan refluks esofagus dari isi perut. Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, batuk kronis ini mungkin timbul dari hasil menghirup suatu benda asing yang masuk ke dalam paru-paru, biasanya terjadi pada anak-anak. Oleh karena itu untuk kasus ini sangat penting untuk dilakukan pemeriksaan foto x-ray dada yang dilakukan oleh dokter. Penyebab batuk kronis secara umum karena beberapa kondisi dan gangguan kesehatan berikut ini:

  • Merokok adalah penyebab batuk kronis yang paling sering. Bahkan, adanya benda asing berupa asap rokok dari orang yang merokok, yang masuk ke jalan napas dapat mengakibatkan batuk.
  • Asma merupakan jenis penyakit dari paru-paru, yang menimbulkan kesulitan bernapas atau sesak yang disertai suara mengi. Beberapa penderita asma ada juga yang terkena gejala batuk kronis. Gejala asma dapat saja memburuk karena udara dingin, serbuk sari, asap, paparan polusi udara atau aroma parfum.
  • Gastroesophageal reflux disease (GERD) timbul karena adanya refluks asam lambung, atau aliran balik ke atas melalui esofagus. Jika asam lambung sampai masuk ke saluran napas maka akan menyebabkan refleks dan spasme sehingga penderita mengalami sesak napas dan batuk. Pada beberapa kasus, refluks asam ini dapat saja begitu parah sehingga setiap zat yang dapat dihirup ke dalam paru-paru, menyebabkan gejala seperti adanya gangguan paru-paru. Pada beberapa orang, tidak ditemukan sensasi mulas dan gejalanya mungkin saja hanya batuk itu sendiri.
  • Sinusitis dan postnasal drip juga dapat menyebabkan batuk kronis yang disertai dengan lendir. Kondisi ini terkadang sulit untuk dideteksi. Diperlukan pemeriksaan khusus seperti CT scan untuk mendiagnosa penyebab batuk kronis ini. Seseorang yang terkena batuk karena penyebab ini sering mengeluh bahwa tenggorokannya gatal dan ada sesuatu yang menggelitik.
  • Bronkitis atau pneumonia juga dapat menyebabkan batuk akut atau batuk kronis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, jamur atau virus. Pemberian antibiotik tidak akan berespon untuk kasus akibat virus. Pada pasien dengan asma, virus yang menginfeksi saluran pernapasan atas sering mengakibatkan batuk berkepanjangan, bahkan setelah infeksi ditangani sekalipun.
  • Mycoplasma yang merupakan strain dari bakteri pneumonia dapat menyebabkan batuk kronis dengan gejala kelemahan, kelelahan, sesak napas, dan adanya produksi sputum. Infeksi karena bakteri ini disebut sebagai walking pneumonia dan biasanya mempengaruhi orang-orang muda dan sehat.
  • Batuk rejan (pertusis) adalah penyakit pernafasan karena infeksi bakteri yang sangat menular. Perlangsungan penyakitnya akut yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Batuk jenis ini umumnya menyerang balita dan anak-anak, namun dengan dengan imunisasi dengan vaksin pertusis, penyakit ini dapat dicegah. Jika orang dewasa terkena batuk rejan, maka dapat menjadi penyebab batuk kronis.
  • Batuk kronis jarang terjadi pada anak-anak. Benda asing yang menghalangi saluran nafas, asma, dan alergi harus ditangani oleh dokter spesialis anak.
  • Obat-obat tertentu seperti golongan ACE inhibitor, yang digunakan untuk pengobatan hipertensi, dapat menyebabkan batuk kronis.
  • Penyebab batuk kronis yang jarang terjadi seperti alergi, tumor, gagal jantung kongestif, sarkoidosis, atau penyakit paru obstruktif (PPOK) atau emfisema.

Pengobatan

Penanganan batuk kronis penting untuk ditangani oleh dokter, dengan cara mengatasi sumber penyakit yang mendasari. Beberapa kemungkinan pertimbangan sebagai penyebab batuk adalah akibat penyakit asma, GERD, postnasal drip, penyakit paru interstitial, efek samping obat, atau adanya infeksi yang tidak lazim lainnya.


 Share

Perawatan Pencegahan Infark Miokard

Untuk melakukan perawatan pencegahan terjadinya infark miokard pada jantung Anda, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko serangan jantung akibat infark miokard:

  • Jika Anda perokok, disarankan untuk segera berhenti merokok.
  • Lakukan secara teratur latihan aerobik (seperti berjalan, bersepeda, atau berenang) selama minimal 30 menit 5 hari setiap minggu. Jika Anda dulunya jarang melakukannya, berjalan adalah cara yang bagus untuk memulainya. Jika Anda memiliki faktor risiko jantung, Anda harus mendapatkan pengontrolan dari penyedia layanan kesehatan Anda bahwa Anda cukup sehat untuk memulai program latihan.
  • Mengurangi stres dan belajar teknik menurunkan stres seperti bernapas dalam dan meditasi. Yoga dan Tai-chi adalah dua bentuk latihan yang menekankan peregangan, pernapasan, dan meditasi, juga dapat membantu Anda mengurangi tingkat stres Anda.
  • Makan makanan yang diet rendah lemak jenuh dan kaya buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.
  • Kurangi berat badan atau mempertahankan berat badan yang tepat.

Jika Anda memiliki kolesterol tinggi, diabetes, atau tekanan darah tinggi, ikuti petunjuk dokter untuk tetap menjaga faktor-faktor risiko ini di bawah pengawasan. Anda mungkin perlu obat-obatan selain perubahan gaya hidup. Jika Anda belum terkena penyakit jantung, tidak mengalami serangan jantung meskipun ada faktor-faktor risiko pada diri Anda, maka kontrol yang teratur dapat membantu mencegah serangan jantung. Dan, jika Anda sudah memiliki penyakit jantung, mengontrol secara teratur terhadap faktor risiko ini dapat mencegah serangan jantung lebih lanjut atau masalah lain yang berkaitan dengan penyakit jantung.


 Share

Penyakit Jantung (Kardiovaskular): Pengertian, Jenis, Sebab, Faktor Risiko

Pengertian Penyakit Jantung/Kardiovaskular

Penggunaan istilah penyakit jantung dan kardiovaskular acap kali digunakan saling bergantian. Adapun penyakit jantung pada dasarnya mengacu pada kondisi jantung itu sendiri seperti infeksi dan kondisi yang berdampak pada otot, katup, dan irama denyut jantung. Sedangkan istilah kardiovaskular dipakai pada kondisi yang melibatkan penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang nantinya dapat menyebabkan serangan jantung (heart attack), nyeri dada (angina pectoris) ataupun stroke.

Jenis-jenis Penyakit Jantung/Kardiovaskular

Penyakit jantung tergolong sebagai penyakit tidak menular. Jenis-jenis penyakit jantung seperti:

  • Penyakit jantung koroner: penyakit pembuluh darah yang menyuplai otot jantung;
  • Penyakit serebrovaskular: penyakit pembuluh darah yang menyuplai otak;
  • Penyakit arteri perifer: penyakit pembuluh darah yang menyuplai tangan dan kaki;
  • Penyakit jantung rematik: gangguan pada otot jantung dan katup jantung akibat demam rematik, yang disebabkan oleh bakteri streptokokus;
  • Penyakit jantung bawaan: kelainan struktur jantung yang sudah ada saat lahir;
  • Deep vein thrombosis dan pulmonary embolism: bekuan darah di pembuluh darah kaki, yang dapat bergerak ke jantung dan paru-paru.

Sebab Penyakit Jantung/Kardiovaskular

Serangan jantung dan stroke biasanya terjadi akut dan terutama disebabkan oleh penyumbatan yang mencegah darah mengalir ke jantung atau otak. Alasan yang paling umum adalah terjadinya penumpukan deposit lemak pada dinding dalam pembuluh darah. Stroke dapat disebabkan oleh perdarahan dari pembuluh darah di otak atau oleh karena adanya bekuan darah.

Faktor Risiko Penyakit Jantung/Kardiovaskular

Faktor risiko perilaku yang paling penting dari penyakit jantung dan stroke adalah pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik (olahraga), penggunaan tembakau dan penggunaan alkohol. Faktor risiko perilaku bertanggung jawab sekitar 80 % dari penyakit jantung koroner dan penyakit serebrovaskular.

Efek dari diet yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik mungkin muncul pada seseorang sebagai akibatnya tekanan darah mengangkat, glukosa darah tinggi, lemak darah meningkat, dan obesitas atau kelebihan berat badan. Ini merupakan faktor risiko menengah dan dapat diukur melalui fasilitas perawatan primer yang akan menunjukkan peningkatan risiko berkembangnya serangan jantung, stroke, gagal jantung dan komplikasi lainnya.

Penghentian penggunaan tembakau, pengurangan garam dalam diet, mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran, aktivitas fisik secara teratur dan menghindari penggunaan alkohol telah terbukti mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Risiko kardiovaskular juga dapat dikurangi dengan mencegah atau mengobati hipertensi, diabetes dan kadar lemak darah yang tinggi (tinggi LDL kolesterol, rendah HDL klesterol).

Kebijakan yang menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membuat pilihan yang sehat sangat terjangkau dan sangat penting untuk memotivasi orang-orang untuk mengadopsi dan mempertahankan perilaku hidup sehat. Ada juga sejumlah faktor penentu yang mendasari atau sebagai penyebab meningkatnya penyakit jantung seperti perubahan sosial, ekonomi dan budaya – globalisasi, urbanisasi, dan bertambahnya populasi. Penentu lain termasuk kemiskinan, stres dan faktor keturunan.

Komplikasi Demam Tifoid

Komplikasi yang disebabkan oleh demam tifoid biasanya hanya terjadi pada orang yang belum diobati dengan antibiotik yang sesuai atau pengobatan tertunda. Dalam kasus tersebut, sekitar 1 dari 10 orang mengalami komplikasi, yang biasanya berkembang pada minggu ketiga infeksi.

Dua komplikasi yang paling sering terjadi pada penderita demam tifoid yang tidak diobati adalah:

  • Perdarahan internal dalam sistem pencernaan.
  • Perforasi dari bagian sistem pencernaan atau usus, yang menyebarkan infeksi ke jaringan di dekatnya.

Perdarahan Internal

Kebanyakan perdarahan internal yang terjadi pada demam tifoid tidak mengancam jiwa, tetapi dapat membuat Anda merasa sangat tidak nyaman.
Gejala perdarahan internal meliputi:

  • merasa lelah sepanjang waktu
  • sesak napas
  • kulit pucat
  • denyut jantung tidak teratur
  • muntah darah
  • buang air besar yang sangat gelap/hitam atau seperti tar.

Transfusi darah mungkin diperlukan untuk mengganti darah yang hilang, dan pembedahan dapat digunakan untuk memperbaiki lokasi perdarahan.

Perforasi

Perforasi berpotensi sebagai komplikasi yang sangat serius. Hal ini karena bakteri yang hidup dalam sistem pencernaan Anda dapat pindah ke perut Anda dan menginfeksi lapisan perut Anda (peritoneum). Hal ini dikenal sebagai peritonitis.

Peritonitis adalah keadaan darurat medis karena jaringan peritoneum biasanya steril dan bebas kuman. Tidak seperti bagian lain dari tubuh, seperti kulit, peritoneum tidak memiliki mekanisme pertahanan untuk memerangi infeksi.

Dalam kasus peritonitis, infeksi dengan cepat dapat menyebar ke dalam darah (sepsis) sebelum menyebar ke organ lain. Hal ini membawa risiko kegagalan organ multiple dan, jika tidak diobati secara agresif, hal itu dapat menyebabkan kematian. Gejala yang paling sering dari peritonitis adalah nyeri perut mendadak yang akan semakin buruk.

Peritonitis membutuhkan perawatan di rumah sakit di mana Anda akan diberikan suntikan antibiotik. Tindakan operasi diperlukan untuk menutup lubang/kebocoran di dinding usus Anda.

5 Penyebab umum dari PPOK

Kepanjangan dari PPOK adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau dalam istilah asingnya Chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Apabila Anda mengalami keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas dimana nafas Anda tidak sepenuhnya reversibel, dan berlangsung secara progresif, maka Anda kemungkinan terkena PPOK. PPOK biasanya disebabkan karena adanya proses inflamasi paru akibat terpapar oleh gas berbahaya sehingga timbulnya gangguan sistemik dalam tubuh Anda.

Ada 5 penyebab umum dari PPOK yaitu:

  1. Merokok. Tidak salah lagi bahwa merokok adalah adalah alasan paling sering orang terkena PPOK. Tentu saja asap yang dihirup mengandung zat-zat yang dapat menbahayakan bagi paru-paru. Ini dapat juga terdapat dalam produk-produk berkaitan dengan tembakau atau asap pipa.
  2. Asap rokok. Anda yang tidak merokok sekalipun dapat terkena PPOK jika Anda hidup atau dekat dengan orang yang sering merokok. Asap yang Anda hirup dari seseorang yang merokok menjadikan Anda sebagai perokok pasif.
  3. Polusi dan asap. PPOK juga bisa disebabkan dari polusi udara. Udara yang tercemar oleh uap kimia, debu, atau zat beracun di tempat kerja adalah sumber penyebab Anda terkena PPOK.
  4. Genetik. Sekitar 3 dari 100 orang dengan PPOK terdapat cacat dalam DNA mereka, suatu kode yang memberitahu tubuh Anda bagaimana untuk bekerja dengan baik. Cacat ini disebut juga dengan defisiensi alfa-1 antitrypsin atau kekurangan AAT. Paru-paru dalam tubuh Anda tidak cukup mengandung protein yang sangat dibutuhkan untuk melindungi mereka dari adanya kerusakan, tentu saja hal ini dapat menyebabkan PPOK berat. Jika Anda atau anggota keluarga Anda memiliki masalah paru-paru yang cukup serius – terutama pada usia muda – Anda kemungkinan kekurangan AAT.
  5. Asma. Meskipun jenis penyakit ini jarang menyebabkan PPOK, akan tetapi asma berpotensi dalam menimbulkan masalah lain terhadap paru Anda, seperti PPOK. Asma yang tidak pernah ditangani atau diobati dengan baik, dari waktu ke waktu Anda bisa mengakibatkan kerusakan dalam paru seumur hidup.

Diagnosis PPOK harus dipertimbangkan pada siapa saja yang memiliki gejala dyspnea, batuk kronis atau produksi sputum, dan / atau riwayat paparan faktor risiko seperti merokok. Tidak ada gejala atau tanda tunggal yang dapat menyingkirkan diagnosis PPOK, sekalipun PPOK jarang terkena pada orang di bawah usia 40 tahun.