Halusinasi – Pengertian, Diagnosis, & Prevalensi

Halusinasi adalah gangguan persepsi dimana sensasi yang nyata oleh Anda diciptakan dari pikiran Anda sendiri. Pengertian halusinasi menurut DSM-IV-TR, halusinasi adalah suatu persepsi sensorik yang memaksa sensasi nyata dari persepsi yang sebenarnya, tetapi terjadi tanpa rangsangan eksternal (nyata) dari organ sensorik yang relevan. Halusinasi dapat mempengaruhi kelima panca indera Anda.

Jenis Halusinasi

Jenis halusinasi yang paling sering terjadi seperti:

  • Mendengar suara yang mana orang lain di sekitar Anda tidak bisa mendengar apa yang Anda dengar seperti suara musik, jejak, jendela atau pintu yang dibenturkan. Atau mungkin suara yang memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.
  • Melihat lampu, makhluk, pola atau benda yang tidak ada
  • Mencium bau busuk atau menyenangkan

Dalam beberapa kasus, ada pula halusinasi yang mungkin kita dapat anggap normal. Misalnya, mendengar suara, atau melihat sekejap orang yang dicintai baru saja meninggal, karena itu dapat menjadi bagian dari proses berduka yang amat dalam.

Secara umum jenis-jenis halusinasi ada beberapa yaitu:

  • Halusinasi visual (penglihatan).
  • Halusinasi auditory (pendengaran)
  • Halusinasi olfactory (penciuman).
  • Halusinasi haptic dan gustatory (disentuh atau dicekik, merasa ada serangga yang merayap di bawah kulit atau perasaan rangsangan seksual).
  • Out-of-body experiences (keluar dari tubuh sendiri).
  • Halusinasi hypnagogic dan hypnopompic (halusinasi yang terjadi antara tidur dan terjaga).

Gejala, Sebab, Diagnosis Halusinasi

Adapun gejala halusinasi ini dapat disebabkan oleh penyakit mental, efek samping dari obat-obatan, atau penyakit fisik seperti epilepsi atau alkoholisme. Karena banyak faktor penyebab yang dapat memicu halusinasi, hal terbaik untuk dilakukan adalah untuk menghubungi seorang psikiater, ahli jiwa, atau dokter umum segera jika Anda menduga bahwa persepsi Anda tidak nyata. Dokter akan bertanya tentang gejala dan melakukan pemeriksaan fisik. Tes tambahan mungkin termasuk tes darah atau urine dan mungkin scan otak. Penanganannya lainnya mungkin termasuk minum obat yang diresepkan untuk menyembuhkan penyakit fisik atau mental atau mengubah kebiasaan seperti minum lebih sedikit alkohol dan tidur lebih banyak.

Jika Anda mengenal seseorang yang berhalusinasi, jangan meninggalkan mereka sendirian. Ketakutan dan paranoid yang dipicu oleh halusinasi dapat menyebabkan tindakan atau perilaku berbahaya bagi orang yang mengalaminya. Dampingi mereka setiap saat dan menemani ke dokter sebagai bentuk dukungan emosional. Dengan begitu Anda juga mungkin dapat membantu dalam menjawab pertanyaan yang diajukan tentang gejala-gejala yang dialami dan seberapa sering halusinasi itu terjadi.

Prevalensi Halusinasi

Menurut buku A Dictionary of Hallucinations hal-95-96 yang ditulis oleh Jan Dirk Blom, halusinasi pada anak sekitar umur 4 tahun, prevalensi sekitar 13%-25% dan 45% pada anak berumur antara 5 sampai 12 tahun. Mereka biasanya berhalusinasi seperti mendengar dan melihat suatu makhluk, anak-anak, mainan atau gambar karakter dari televisi. Sedangkan pada anak dan remaja yang lebih dewasa, 11-21 tahun, 9% halusinasi kebanyakan berupa halusinasi pendengaran (auditory), 6% halusinasi melihat dan 7% berhalusinasi melihat dan mendengar sesuatu. Itu semua adalah prevalensi untuk populasi non-klinis, yang tidak ada hubungannya dengan suatu penyakit yang diderita.

Prevalensi halusinasi pada anak dan remaja jauh lebih besar untuk populasi klinis. Mereka biasanya mengidap suatu penyakit yang menyebabkan halusinasi, jenis-jenis penyakitnya seperti penyakit tiroid, paratiroid, porfiria, penyakit Wilson, encefalitis, meningitis, lepra, migrain, epilepsi, sindrom Tourette, dan velo-cardiofacial syndrome. Angka prevalensi tertinggi untuk anak-anak dan remaja adalah mereka yang didiagnosis dengan Skizoprenia, gangguan mood, dan gangguan cemas. Kebanyakan gangguan halusinasi pada anak-anak dan remaja ini hanya bersifat sementara dan menghilang secara alami, hanya sedikit yang berkembang menjadi gangguan psikosis. Halusinasi pada anak dan remaja juga dapat terjadi seiring dengan perkembangan mereka nantinya jika mereka mengalami gangguan depresi, gangguan stres post trauma, atau fobia sosial.

Dari penelitian yang berjudul Prevalence of hallucinations and their pathological associations in the general population yang diterbitkan di Jurnal Psychiatry edisi 27 Desemember 2000, melakukan survei melalui telepon mengenai gangguan mental dan halusinasi (visual, auditori, penciuman, halusinasi haptic dan gustatory, out-of-body experiences, halusinasi hypnagogic dan hypnopompic). Penelitian ini dilakukan di United Kingdom, Jerman dan Italia dengan orang yang berusia 15 tahun atau lebih dewasa dengan jumlah sampel sebesar 13.057 orang.

Secara keseluruhan angka prevalensi halusinasi adalah 38,7 % dari sampel melaporkan halusinasi (19,6 % kurang dari sekali dalam sebulan, 6,4 % setiap bulan, 2,7 % seminggu sekali, dan 2,4 % lebih dari sekali seminggu). Halusinasi ini terjadi pada onset tidur (halusinasi hypnagogic 24,8 %) dan / atau saat bangun (halusinasi hypnopompic 6,6 %), tanpa hubungan dengan penyakit tertentu lebih dari setengah kasus, halusinasi ketakutan lebih sering pada ekspresi tidur atau gangguan mental seperti narkolepsi, obstructive sleep apnea syndrome atau gangguan cemas. Selama siang hari yang dilaporkan oleh 27 % sampel berupa halusinasi visual (3,2 %) dan pendengaran (0,6 %). Halusinasi haptic dilaporkan sebesar 3,1 % karena penggunaan obat-obatan yang digunakan, yang juga merupakan faktor risiko tertinggi untuk terjadinya halusinasi seseorang.

Apakah Anda mengalami halusinasi bahwa hari ini Anda belum mengalami pergantian tahun? jika jawabnya “Ya”, hubungi dokter Anda segera!. Selamat tahun baru 2014, happy new year!

Mitos tentang retardasi mental / keterbelakangan mental

Untuk beberapa orang awam ada beberapa mitos tentang retardasi mental atau keterbelakangan mental, yang membuat hal-hal yang berkaitan dengan retardasi mental menjadi salah kaprah, baik itu dari segi pengertian sampai cara penanganan retardasi mental.

Penjelasan berikut ini merupakan 5 mitos tentang retardasi mental dan fakta sebenarnya dibalik mitos tentang retardasi mental.

Mitos Pertama
Retardasi mental atau keterbelakangan mental adalah sama dengan sakit mental.
Faktanya adalah retardasi mental berarti bahwa seseorang yang mengalami perkembangan mental di bawah rata-rata orang normal. Orang dengan retardasi mental mungkin memiliki kesulitan dalam belajar dan penyesuaian sosial. Tapi mereka bisa belajar, dengan intervensi dan pendidikan yang tepat, mereka dapat menjalani kehidupan yang memuaskan dan produktif di masyarakat.

Mitos Kedua
Retardasi mental adalah penyakit menular.
Faktanya adalah retardasi mental bukanlah suatu jenis penyakit dan keterbelakangan mental tentunya tidak menular. Retardasi mental adalah suatu kondisi yang mempengaruhi suatu individu karena beberapa perubahan atau kerusakan terhadap perkembangan otak dan sistem saraf.

Mitos Ketiga
Orang dengan retardasi mental yang berat harus dikurung di suatu tempat demi keselamatan masyarakat.
Faktanya adalah dengan upaya pelatihan secara sistematis telah membuktikan bahwa kebanyakan orang dengan retardasi mental yang berat dapat belajar untuk setidaknya belajar dalam hal perawatan kebutuhan dasar mereka. Banyak orang dengan retardasi mental dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat dengan dukungan dan sebaliknya dapat beradaptasi dengan pola hidup normal. Telah terbukti bahwa lingkungan yang paling efektif untuk orang dengan keterbelakangan mental adalah mereka ada di lingkungan masyarakat untuk bisa terus berkembang dan lingkungan yang menawarkan suasana kekeluargaan seperti dalam hal perawatan dan pengasuhan.

Mitos Keempat
Pelatihan pendidikan dan kejuruan tidak akan membantu orang yang mengalami retardasi mental.
Faktanya adalah kebanyakan orang dengan retardasi mental dapat belajar, meskipun pada tingkat yang lebih lambat, dan mampu hidup dalam masyarakat dengan dukungan orang di sekitarnya. Semakin cepat seseorang didiagnosis memiliki keterbelakangan mental maka program yang tepat untuk membantu orang dengan keterbelakangan mental dapat dimulai dengan segera, sehingga mereka akan menjadi lebih produktif dan mampu untuk menjalani kehidupan yang bermakna di masyarakat. Program kejuruan menawarkan berbagai layanan untuk mempersiapkan individu untuk bekerja. Mereka dapat belajar perdagangan atau menerima pekerjaan di berbagai lingkungan kerja yang kompetitif.

Mitos Kelima
Kita tidak tahu apa yang menyebabkan keterbelakangan mental dan tidak dapat dicegah.
Faktanya adalah retardasi mental dapat disebabkan oleh kondisi yang mengganggu perkembangan otak sebelum atau selama kelahiran atau pada anak usia dini. Lebih dari 250 penyebab telah ditemukan, tetapi hanya sekitar seperempat dari penyebab keterbelakangan mental yang paling sering ditemukan. Yang paling terkenal adalah Rubella atau campak Jerman pada wanita hamil, meningitis, toksoplasmosis, faktor Rh, dan kelainan kromosom seperti Syndrome Down. Keterbelakangan mental dapat dicegah dalam beberapa kasus. Beberapa strategi pencegahan meliputi:

  • Adanya akses untuk pelayanan perawatan prenatal dan postnatal yang baik untuk ibu dan anak.
  • Peningkatan gizi pada ibu hamil dan bayi.
  • Menghindari penggunaan obat-obatan dan alkohol selama kehamilan.
  • Skrining bayi yang baru lahir untuk mendeteksi gangguan seperti hipotiroidisme dan PKU (phenylketonuria).
  • Skrining rutin dan imunisasi ibu untuk mencegah faktor darah Rh.
  • Penggunaan kursi anak dan sabuk pengaman untuk mencegah cedera kepala.
  • Skrining untuk keracunan timbal untuk semua anak di bawah usia 5 tahun.

Anak retardasi mental korban radiasi
Anak ini berumur 5 tahun dan lahir tidak dengan retardasi mental. Ia adalah korban radiasi dan kini mengalami retardasi mental.

Jadi, lupakanlah mitos tentang retardasi mental, ketahuilah fakta sebenarnya. Orang dengan retardasi mental memang tidak seperti orang normal, tapi mereka mungkin adalah orang yang pertama. Mereka mempunyai keinginan dan hasrat yang sama dengan setiap orang. Perlakukanlan mereka sebagai seseorang, kenali mereka dengan kemampuannya, bukan keterbatasannya.

Definisi transgender, asal-usul dan perubahan gender

Bagaimana definisi transgender sebenarnya? tentunya Anda harus mengetahui lebih dulu asal usul transgender dan bagaimana perubahan gender itu terjadi.

Asal-usul gender
Seks biologis dan gender adalah dua hal yang berbeda. Gender tidak berdasarkan pada anatomi fisik, tetapi berdasar pada apakah seseorang mengidentifikasi dirinya menjadi laki-laki atau perempuan dan bagaimana mereka hidup atau ingin menjalani kehidupan mereka. Di sisi lain, seks biologis melibatkan kromosom, gonad, hormon seks, struktur reproduksi internal dan genital eksternal. Saat lahir, kita mengidentifikasi individu sebagai laki-laki atau perempuan didasarkan pada faktor-faktor ini.

Apakah anak-anak akan mengidentifikasikan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan dapat menjadi cerita yang lain. Pada anak-anak, mereka akan menyadari dan mengidentifikasi gendernya pada usia 18 bulan dan 3 tahun. Tentu saja, kebanyakan orang mengembangkan identitas gender sesuai dengan seks biologis mereka. Namun terkadang, gender seseorang tidak sesuai dengan seks biologis mereka. Kondisi inilah yang sekarang diyakini sebagai asal-usul gender terjadi sebelum kelahiran.

Kini ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pada anak-anak transgender, bagian dari otak dapat berkembang dengan jalur yang berbeda dari perkembangan seks fisik. Ketika ini terjadi, seorang anak mungkin lahir dengan ketidaksesuaian antara identitas gender dan penampilan seks. Meskipun begitu mungkin ada juga sejumlah faktor yang dapat berkontribusi untuk mengubah perkembangan awal dalam penetapan gender. Genetika, obat, faktor lingkungan, stres atau trauma pada ibu selama kehamilan, semuanya mungkin saja menjadi pemicu perubahan gender.

Perubahan Definisi Gender
Selama bertahun-tahun, Asosiasi Psikiatrik Amerika, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders atau DSM, telah menggunakan istilah Kelainan Identitas Gender (Gender Identity Disorder) untuk menggambarkan orang-orang yang transgender. Nah, tantangannya dengan menggunakan istilah ini adalah bahwa ini dapat mencirikan semua orang-orang yang transgender dimasukkan dalam sakit mental. Oleh sebab itu dalam definisi transgender terbaru oleh DSM menggantikan istilah ini dengan gender dysphoria, suatu kondisi medis di mana orang merasa tidak cocok antara jenis kelamin yang mereka miliki dengan yang dirasakan. Dengan ini, stigma negatif terhadap transgender dapat dihapus. Keadaan mental seseorang memang tidak selalu bisa diubah, tapi tubuh mereka bisa.

Skizofrenia: Subtipe Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan otak serius yang mengubah cara orang berpikir, bertindak, mengungkapkan emosi, merasakan realitas dan berhubungan dengan orang lain. Orang-orang dengan skizofrenia–yang paling kronis sering memiliki masalah dalam masyarakat, di tempat kerja, di sekolah, dan dalam hubungan sosial. Skizofrenia dapat meninggalkan penderita takut dan menarik diri. Skizofrenia adalah penyakit seumur hidup yang tidak dapat disembuhkan, tetapi biasanya dapat dikontrol dengan perawatan yang tepat.

Berlawanan dengan kepercayaan populer, skizofrenia bukanlah kepribadian ganda. Skizofrenia adalah psikosis, sejenis penyakit mental di mana seseorang tidak dapat mengatakan apa yang nyata dari apa yang dibayangkan. Kadang-kadang, orang-orang dengan gangguan psikotik kehilangan sentuhan dengan realitas. Dunia mungkin tampak berantakan dan membingungkan pikiran, gambar dan suara. Perilaku orang dengan skizofrenia mungkin sangat aneh dan bahkan mengejutkan. Tiba-tiba berubah dalam hal kepribadian dan perilaku yang terjadi ketika penderita skizofrenia kehilangan sentuhan dengan realitas, disebut episode psikotik.

Skizofrenia bervariasi dalam tingkat keparahan dari orang ke orang. Beberapa orang memiliki hanya satu episode psikotik sementara orang lain memiliki banyak episode selama seumur hidup tapi dapat hidup relatif normal antara episode. Orang dengan kelainan ini mungkin mengalami penurunan fungsi dari waktu ke waktu. Gejala skizofrenia tampak memburuk dan meningkat dalam siklus yang dikenal sebagai relaps dan remisi.

Skizofrenia adalah istilah yang diberikan kepada sekelompok gangguan mental yang kompleks. Namun, jenis skizofrenia mungkin memiliki beberapa gejala yang sama. Ada beberapa subtipe skizofrenia berdasarkan gejala:

– Skizofrenia Paranoid : orang-orang dengan jenis ini sibuk dengan keyakinan palsu (delusi) tentang dianiaya atau dihukum oleh seseorang. Mereka berpikir, berbicara dan emosi, namun, tetap cukup normal.

– Disorganized schizophrenia: orang-orang dengan jenis ini sering bingung dan tidak koheren, dan berbicara campur aduk . Perilaku mereka mungkin emosi atau datar, bahkan konyol atau kekanak-kanakan. Sering mereka memiliki perilaku yang mungkin mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan normal sehari-hari seperti mandi atau menyiapkan makanan.

– Skizofrenia Katatonik: gejala paling mencolok dari jenis ini adalah bagian fisik. Orang dengan skizofrenia catatonic umumnya bergerak dan tidak responsif terhdap dunia di sekitar mereka. Mereka sering menjadi sangat kaku dan tidak mau pindah. Kadang-kadang, orang-orang ini memiliki gerakan yang aneh seperti meringis atau menganggap aneh suatu postur. Atau, mereka mungkin mengulangi kata atau frase yang hanya dituturkan oleh orang lain. Orang dengan skizofrenia catatonic terjadi peningkatan risiko kekurangan gizi, kelelahan, atau cedera yang diakibatkan diri sendiri.

– Undifferentiated schizophrenia: subtipe ini didiagnosis ketika seseorang menunjukkan gejala yang tidak jelas mewakili salah satu subtipe tiga lainnya.

– Skizofrenia Residual: Dalam jenis skizofrenia ini, gejala keparahan skizofrenia menurun. Halusinasi, delusi, atau gejala lain mungkin masih ada tapi lebih berkurang ketika awalnya didiagnosis skizofrenia.

Kenali gejala fisik Depresi

Kebanyakan dari kita tahu tentang gejala depresi emosional. Tapi anda mungkin tidak tahu bahwa depresi dapat dikaitkan dengan banya gejala fisik juga. Pada kenyataannya, banyak orang dengan depresi menderita nyeri kronis atau gejala fisik lainnya. Ini termasuk:

Gejala Fisik Akibat Depresi– Sakit kepala. Ini cukup umum pada orang dengan depresi. Jika Anda telah memiliki sakit kepala migren, mungkin ini akan tampak lebih buruk jika Anda depresi.
– Back Pain (Nyeri punggung). Jika Anda sudah menderita dengan nyeri punggung, mungkin lebih buruk jika Anda menjadi tertekan.
– Nyeri otot dan nyeri sendi. Depresi bisa membuat segala jenis nyeri kronis lebih buruk.
– Nyeri dada. Jelas, sangat penting bagi anda yang terkena nyeri dada diperiksa oleh seorang ahli dengan segera. Ini bisa menjadi pertanda gangguan jantung serius. Tapi depresi dapat berkontribusi pada ketidaknyamanan yang berhubungan dengan nyeri dada.
– Masalah Pencernaan. Anda mungkin merasa mual. Anda mungkin mengalami diare atau menjadi sembelit kronis.
– Cepat haus dan lelah. Tidak peduli seberapa banyak Anda tidur, Anda masih mungkin merasa lelah atau haus. Berdiri dari tempat tidur di pagi hari mungkin tampak sangat sulit, bahkan mustahil.
– Tidur bermasalah. Banyak orang dengan depresi tidak bisa tidur nyenyak lagi. Mereka bangun terlalu dini atau tidak bisa tertidur ketika mereka pergi ke tempat tidur.
– Perubahan nafsu makan dan berat badan. Beberapa orang dengan depresi kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun.
– Pusing atau sakit kepala ringan.

Karena gejala-gejala fisik depresi ini terjadi dengan berbagai kondisi, orang depresi banyak yang tidak pernah mendapatkan bantuan, karena mereka tidak tahu bahwa gejala fisik mereka mungkin disebabkan oleh depresi. Banyak pula dokter dalam mendiagnosis melewatkan gejala ini juga.

Khasiat Ginkgo Biloba mengurangi perasaan depresi

Gejala-gejala fisik tidak “semua di kepala Anda.” Depresi dapat menyebabkan perubahan nyata dalam tubuh Anda. Sebagai contoh, dapat memperlambat pencernaan Anda, yang dapat mengakibatkan masalah perut.

Depresi sepertinya berhubungan dengan ketidakseimbangan bahan kimia tertentu di otak Anda. Beberapa bahan kimia yang sama memainkan peran penting dalam bagaimana Anda merasakan sakit. Jadi banyak ahli berpikir depresi yang dapat membuat Anda merasa sakit berbeda dari orang lain.

Mengobati Gejala Fisik Depresi

Dalam beberapa kasus, mengobati depresi Anda – dengan terapi, obat atau keduanya – akan menyelesaikan gejala fisik Anda.

Tapi pastikan untuk memberitahu dokter anda mengenai gejala fisik tersebut. Jangan menganggap gejala-gejala tersebut akan pergi dengan sendirinya. Mereka mungkin memerlukan pengobatan tambahan. Sebagai contoh, dokter mungkin menyarankan obat anti ansietas jika Anda menderita insomnia. Obat tersebut membantu Anda bersantai dan memungkinkan Anda untuk tidur lebih baik.

Penanganan Depresi pada Pasien Nyeri

Karena rasa sakit dan depresi pergi bersama-sama, kadang-kadang mengurangi nyeri Anda yang dapat membantu mengurangi depresi Anda. Beberapa antidepresan dapat membantu untuk mengatasi nyeri kronis juga.

Pengobatan lainnya juga dapat membantu mengatasi gejala nyeri. Beberapa jenis terapi terfokus – seperti perilaku kognitif – dapat mengajar Anda, cara untuk mengatasi rasa sakit/nyeri dengan lebih baik.

Alzheimer diperkirakan akan meningkat tajam

Jumlah penderita penyakit Alzheimer tidak merangkak naik, tetapi naik dengan cepat, menurut laporan terbaru dari The 2009 World Alzheimer’s Report, yang dirilis hari ini.

Diperkirakan 35 juta orang di seluruh dunia hidup dengan Alzheimer dan bentuk lain dari demensia dengan gambaran 10% peningkatan dari tahun 2005.

“Jumlah orang yang terkena Alzheimer berkembang secara pesat, dan meningkatnya biaya individu akan memiliki dampak signifikan pada ekonomi dunia dan sistem perawatan kesehatan,” kata Harry Johns, Presiden dan CEO dari Alzheimer’s Association. “Kita harus membuat perang melawan Alzheimer dan menjadi prioritas di Amerika Serikat dan seluruh dunia,” katanya.

Laporan oleh nirlaba yang berbasis di London Alzheimer’s Disease International (ADI), sebuah federasi internasional Alzheimer dari 71 organisasi nasional (termasuk Alzheimer’s Association), menunjukkan bahwa jumlah penderita demensia diperkirakan akan tumbuh tajam ke 65.7 juta pada tahun 2030 dan 115.4 juta pada tahun 2050.

Di AS, setiap 70 detik, seseorang mengidap penyakit Alzheimer, dan sebanyak 5,3 juta orang hidup dengan penyakit yang menghancurkan memori, menurut Alzheimer’s Association. Demensia tiga kali lipat biaya perawatan kesehatannya bagi mereka yang berusia di atas 65.

Seluruh dunia, biaya ekonomi demensia telah diperkirakan sebesar $ 315 miliar per tahun. Menurut data terbaru, total biaya tahunan per orang dengan demensia diperkirakan:

• $ 1.521 di negara-negara berpenghasilan rendah.

• $ 4.588 di negara-negara berpenghasilan menengah.

• $ 17.964 di negara-negara berpenghasilan tinggi.

Laporan baru itu juga menguraikan 8 rekomendasi global, termasuk saran bahwa Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan demensia adalah prioritas kesehatan dunia, dan bahwa penelitian lebih lanjut perlu didanai untuk menyelidiki penyebab Alzheimer, pengobatan untuk penyakit, dampaknya, dan strategi pencegahan demensia.

Laporan lengkap artikel kedokteran ini, termasuk rekomendasi dan metodologi penyakit Alzheimer dapat ditemukan di www.alz.org.

Retardasi Mental: Pengertian, Klasifikasi, Sebab, Diagnosa & Penanganan

Pengertian retardasi mental

Retardasi mental (RM) atau keterbelakangan mental atau yang sekarang memakai istilah disabilitas intelektual (DI) adalah keadaan dengan tingkat kecerdasan yang di bawah rata-rata atau kurangnya kemampuan mental dan keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Orang-orang dengan disabilitas intelektual dapat belajar untuk keterampilan yang baru, akan tetapi mereka belajar mereka hanya lebih lambat. Keadaan disabilitas ini bukanlah merupakan suatu penyakit, meskipun terdapat proses patologis yang terjadi pada otak. Ada beberapa tingkat disabilitas intelektual, dari ringan sampai sangat berat.

Dua aspek fungsi retardasi mental

Orang dengan disabilitas mempunyai keterbatasan dalam dua aspek fungsi yaitu
Pertama, keterbatasan dalam fungsi intelektual yang dikenal juga dengan IQ (intelligence quotient). Fungsi ini mengacu pada kemampuan seseorang untuk belajar, membuat alasan, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. IQ dapat diukur dengan melakukan tes IQ. Rata-rata IQ adalah 100. Seseorang dianggap disabilitas intelektual jika ia memiliki IQ kurang dari 70 atau 75.

Yang kedua adalah fungsi perilaku adaptif. Fungsi ini terkait dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupannya sehari-hari, sebagai contoh berkomunikasi efektif, berinteraksi dengan orang, dan mengurus diri sendiri. Untuk menilai perilaku adaptif seorang anak, para ahli akan mengamati kemampuan anak tersebut dan membandingkannya dengan anak-anak lain seusianya. Adapun hal-hal yang dapat diamati seperti seberapa mampu anak dapat makan atau berpakaian sendiri, seberapa baik anak berkomunikasi dan memahami orang lain, dan bagaimana ia berinteraksi dengan keluarga, teman, dan anak-anak lain dengan usia yang sama.

Tingkat & klasifikasi retardasi mental (DSM-IV-TR)

RM dibagi menjadi empat tingkatan berdasarkan IQ dan tingkat adaptif, dan klasifikasi RM menurut DSM-IV-TR:

Retardasi Mental Ringan

Pada tingkat ini, seseorang memiliki jangkauan IQ dari 50-55 sampai 70, mungkin terkait kondisi, termasuk autisme, epilepsi, atau cacat fisik

Retardasi Mental Sedang

Pada tingkat ini, seseorang dapat mengambil bagian dalam kegiatan sosial yang sederhana, memiliki jangkauan IQ 35-40 sampai 50-55.

Retardasi Mental Berat

Pada tingkat ini, seseorang memiliki gangguan motorik, perkembangan abnormal dari sistem saraf pusat yang parah dan memiliki jangkauan IQ 20-25 sampai 35-40.

Retardasi Mental Berat Sekali

Pada tingkat ini, seseorang tidak dapat memahami atau mematuhi permintaan atau instruksi, membutuhkan bantuan konstan dan pengawasan dan memiliki IQ kurang dari 20 atau 25.

Prevalensi retardasi mental

Disabilitas diperkirakan mempengaruhi sekitar 1 % dari populasi. Dari yang mengalami disabilitas, 85% diantaranya adalah ringan. Hal ini artinya mereka hanya sedikit lebih lambat dari rata-rata dalam hal menerima informasi atau mempelajari keterampilan baru. Dengan dukungan yang tepat, sebagian besar akan mampu hidup mandiri sampai akhirnya ia menjadi dewasa.

Etiologi atau sebab retardasi mental

Menurut Psychology Today, hanya 25% dari kasus ini memiliki penyebab yang diketahui seperti:

  • trauma sebelum atau selama persalinan, kehilangan oksigen, paparan alkohol, atau infeksi.
  • kelainan genetik, seperti mewarisi gen abnormal, sindrom Down, sindrom X, dan PKU (fenilketonuria).
  • keracunan merkuri.
  • gizi buruk atau masalah diet lainnya.
  • penyakit anak usia dini, seperti batuk rejan, campak, atau meningitis.

Apa ciri atau tanda dan gejala seorang anak mengalami retardasi mental?

Ada beberapa ciri atau tanda-tanda dari disabilitas pada anak-anak. Tandanya mungkin muncul selama masa kanak-kanak, atau mungkin tidak terlihat sampai anak mencapai usia sekolah. Hal ini sering tergantung pada tingkat keparahannya. Beberapa tanda yang paling sering adalah:

  • Keterlambatan dalam berguling, duduk, merangkak, atau berjalan.
  • Lambat atau mengalami masalah dengan berbicara/berbahasa.
  • Keterlambatan dalam menguasai hal-hal seperti toilet training, berpakaian, dan makan sendiri.
  • Kesulitan untuk mengingat sesuatu.
  • Ketidakmampuan untuk menghubungkan antara tindakan dan konsekuensinya.
  • Adanya masalah perilaku seperti mengamuk yang meledak-ledak.
  • Kesulitan dengan pemecahan masalah atau berpikir logis.
  • Kurangnya rasa ingin tahu

Pada anak-anak dengan keterbelakangan intelektual berat atau mendalam, mungkin ada masalah kesehatan lain juga. Masalah-masalah ini mungkin termasuk kejang, gangguan mental, cacat motorik, masalah penglihatan, atau masalah pendengaran.

Seseorang dengan keadaan seperti ini akan sering memiliki beberapa masalah perilaku seperti:

  • Sikapnya agresi.
  • Ketergantungan.
  • Penarikan dari kegiatan atau lingkungan sosial.
  • Perilaku mencari perhatian.
  • Depresi selama masa anak dan remaja.
  • Kurangnya kontrol impuls.
  • Pasif.
  • Kecenderungan melukai diri.
  • Sikap keras kepala.
  • Rendah diri.
  • Rendahnya toleransi terhadap frustasi.
  • Gangguan psikotik.
  • Kesulitan dalam perhatian.

Tanda-tanda fisik dapat berupa perawakan pendek dan gambaran wajah yang terbelakang. Namun, tanda-tanda fisik ini tidak selalu hadir ada.

Bagaimana diagnosa retardasi mental?

Diagnosa RM dapat diperkirakan karena berbagai alasan yang berbeda. Jika bayi memiliki kelainan fisik yang menunjukkan kelainan genetik atau metabolik, dapat dilakukan beberapa tes untuk mendiagnosanya seperti tes darah, tes urin, tes pencitraan untuk mencari masalah dalam otak, atau Electroencephalography (EEG) untuk mencari adanya kejang.

Pada anak-anak dengan keterlambatan perkembangan, dokter akan melakukan tes untuk menyingkirkan masalah lain, termasuk masalah pendengaran dan gangguan neurologis tertentu. Jika tidak ada penyebab lain, maka akan dilakukan pengujian formal.

Ada 3 faktor dalam mendiagnosa disabilitas intelektual yaitu wawancara dengan orang tua, observasi anak, serta pengujian kecerdasan dan perilaku adaptif. Seorang anak dianggap RM jika ia memiliki defisit pada IQ dan perilaku adaptif. Jika hanya salah satu yang ada maka anak tidak dianggap mengalami keterbelakangan mental.

Setelah tim ahli melakukan diagnosis, mereka akan menilai kekuatan dan kelemahan tertentu pada anak. Ini membantu untuk menentukan seberapa besar dan apa jenis dukungan anak yang dibutuhkan untuk bisa survive di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.

Apa penanganan & pencegahan yang tepat untuk disabilitas intelektual

Cara penanganan dan pencegahan yang mungkin adalah dengan terapi perilaku, terapi okupasi, konseling, dan dalam beberapa kasus adalah dengan pemberian obat-obatan. Pencegahan dilakukan agar keterbelakangan yang dialami tidak sampai parah dan mengganggu kualitas hidupnya nanti. Dalam rangka mengembangkan rencana penanganan yang tepat, penilaian perilaku adaptif yang sesuai dengan usia harus dibuat dengan menggunakan tes skrining perkembangan.

Adapun tujuannya untuk menentukan tahap perkembangan yang mana yang sudah terjawab. Tujuan utama dari penanganan adalah untuk mengembangkan potensi seseorang secara maksimal. Pendidikan dan pelatihan khusus dapat dimulai sedini mungkin di masa kanak-kanak. Perhatian diberikan kepada keterampilan sosial untuk membantu fungsi orang senormal mungkin.

Hal ini penting bagi seorang ahli dalam mengevaluasi seseorang untuk hidup dengan keadaan yang dialaminya, yang mungkin memerlukan penanganan lebih. Pendekatan secara perilaku penting dalam memahami dan bekerja dengan orang-orang yang mengalami disabilitas intelektual seperti ini.

Berikut ini adalah contoh makalah atau referat tentang Retardasi Mental:


 Bagikan