Posts Tagged ‘Tekhnik Tusuk Jarum’

AKUPUNTUR

Friday, September 5th, 2008

Istilah ‘akupuntur’ berasal dari dua kata Latin : ‘acus’ (jarum) dan ‘pungere’ (menusuk). Akupuntur adalah teknik terapi Cina kuno, yang melibatkan penempatan jarum-jarum padat pada lokasi-lokasi yang tepat pada tubuh :

• Memperbaiki gejala-gejala
• ‘Mengobati’ penyakit
• Menciptakan kesehatan

Stimulasi sensoris yang kuat dengan melibatkan teknik-teknik jarum dan skarifikasi telah digunakan untuk mengurangi nyeri sepanjang sejarah. Tanggal tepatnya asal-usul penggunaan pertama akupuntur entah mengapa tidak jelas, dimana jarum-jarum batu, atau ‘bian shi’, mulanya digunakan di zaman batu. Jarum-jarum tulang telah ditemukan pada mulai dari abad ke 21 hingga abad ke 16 BC di Dinasti Xia.

Selama lebih dari 30 tahun, dijumpai terjadinya peningkatan minat terhadap akupuntur di daerah Barat, dimana digunakan jarum-jarum sekali pakai yang halus untuk membantu berbagai kondisi nyeri dan non-nyeri. Hal tersebut sebagiannya adalah karena meningkatnya kekecewaan terhadap terapi obat-obatan dan berbagai efek sampingnya (termasuk mortalitas) dan sebagiannya lagi adalah karena meningkatnya neurofisiologis secara dan bukti klinis dasar secara mendalam mengenai cara-cara kerjanya.

Meskipun terjadi peningkatan penerimaan akupuntur di antara kalangan publik dan profesi medis, kebanyakan dokter masih mempertimbangkan kurangnya informasi yang obyektif tentang akupuntur. Kesalahan dalam hal kepercayaan tersebut yang tidak didukung oleh bukti yang berdasar pada keilmuan masih tersebar luas dengan baik.

Terdapat berbagai macam metode pada manusia dan hewan, termasuk berbagai pendekatan tradisional Cina dan Barat, menggunakan akupuntur manual (manual acupuncture = MA) ataupun elektro-akupuntur (electro-acupuncture = EA). Pada manusia, kini akupuntur kebanyakan digunakan untuk pemulihan nyeri, namun perannya meningkat dalam bentuk penanganan berbagai kondisi non-nyeri.

Gambar 37.1

Mekanisme-mekanisme kerja
Efek-efek segmental
Akupuntur jarum menstimulasi saraf-saraf perifer. Tentu saja, jika dilakukan pemberian anestesi lokal sebelum stimulasi akupuntur, maka efek akupuntur akan ditiadakan. Stimulasi serabut-A?, yang diinduksi oleh jarum, menyebabkan terjadinya modulasi sensoris di ujung dorsal (dorsal horn = DH) di tingkat segmental yang saling berhubungan melalui pelepasan met-enkefalin. Gambar 37.1 menggambarkan beberapa jalur neurofisiologis yang merupakan jalur kerja akupuntur.

Efek-efek heterosegmental

Kontrol inhibitoris nyeri yang difus (diffuse noxious inhibitory control = DNIC) diinduksi oleh stimulus nyeri (seperti, jarum) dan menyebabkan efek-efek analgetik heterosegmental akupuntur. Jalur spinotalamus dan spinoretikular juga distimulasi pada bagian DH. Relai tersebut, melalui otak bagian tengah, bersinaps di dalam periaquaduktal abu-abu (periaqueductal grey = PAG). Selanjutnya, menstimulasi serabut-serabut inhibitoris desenden, yang mempengaruhi proses aferen. Oleh karena itu, efek analgetik heterosegmental (yaitu, pada masing-masing tingkatan di seluruh tubuh) dapat dicapai. Noradrenalin dan serotonin (5-hidroksitriptamin (5-HT)) (melalui inhibisi desenden) merupakan neurotransmiter-neurotransmiter kunci yang bertanggung jawab terhadap modulasi nyeri.

Download artikel ini di sini untuk mengetahui mengenai Akunpunktur selanjutnya.

CREDIT: BAG. ANESTESI FKUH