Sperma Manusia – Definisi dan kriteria sperma yang baik & sehat

Pengertian Sperma

Apa itu Sperma?

Definisi kata sperma awal mulanya diambil dalam bahasa Yunani yang berarti “benih” yang berhubungan dengan sel-sel reproduksi pada jenis kelamin jantan baik itu pada manusia atau hewan. Sel sperma manusia sifatnya haploid, 23 kromosom laki-laki dapat bergabung dengan 23 kromosom dari sel telur perempuan untuk membentuk sel diploid.

Sel sperma yang bergerak disebut spermatozoa sedangkan yang tidak bergerak disebut spermatium. Sel sperma manusia dibawa oleh cairan yang dikenal sebagai semen (air mani). Secara umum, istilah sperma ini sering dipakai bergantian dengan kata ‘air mani’ oleh orang awam.

Berapa lama sperma hidup?

Jika ada yang bertanya berapa lama sperma bisa hidup? jawabannya tergantung pada sejumlah faktor, yang paling penting adalah di mana sperma berada. Pada permukaan yang kering, seperti pakaian atau selimut, sperma mati pada saat semen telah kering. Dalam air, seperti air hangat atau bak mandi air panas, sperma kemungkinan akan hidup lebih lama.

Baca juga artikel yang lebih lengkap mengenai waktu sperma bertahan hidup di luar tubuh.

Di dalam tubuh wanita, sperma bisa hidup hingga lima hari tergantung pada kondisi. Jika Anda berhubungan seks tanpa kondom bahkan beberapa hari sebelum pasangan Anda berovulasi, maka ada kemungkinan ia dapat hamil.

Apa warna semen (air mani)?

Semen biasanya berwarna putih atau abu-abu, tapi kadang-kadang dapat muncul kekuningan. Semen berwarna merah atau merah muda kemungkinan menunjukkan bahwa adanya darah dalam kandungan semen. Jika hal ini terjadi pada Anda, disarankan pergi ke dokter untuk konsultasi untuk mengetahui penyebab dan penanganannya.

Semen membeku segera setelah ejakulasi, lengket seperti jelly cair, dan akan mencair lagi dalam 5 sampai 40 menit. Hal ini sangat normal untuk semen yang membentuk seperti tetesan jelly dan ini tidak menunjukkan masalah kesehatan atau kesuburan.

Bagaimana sperma yang baik dan sperma sehat?

Berapa volume air mani/sperma normal & sehat

Volume rata-rata air mani manusia yang dihasilkan pada setiap ejakulasi adalah 2 sampai 5 ml. Volume konsisten kurang dari 1.5 ml (hipospermia) atau lebih dari 5.5 ml (hiperspermia) mungkin abnormal. Volume yang lebih rendah mungkin terjadi setelah sangat sering ejakulasi dan volume yang lebih tinggi terlihat setelah lama tidak ejakulasi.

Jumlah sperma normal menurut WHO

Menurut WHO kriteria jumlah sperma normal adalah:

  • Konsentrasi spermatozoa harus setidaknya 20 juta/ml
  • Total volume semen harus setidaknya 2 ml
  • Jumlah total spermatozoa ejakulasi harus setidaknya 40 juta
  • 75 persen dari spermatozoa harus hidup (yang mati kurang dari 25 persen)
  • 30 persen dari spermatozoa harus dalam bentuk normal
  • 25 persen dari spermatozoa harus berenang dengan gerakan maju yang cepat
  • 50 persen dari spermatozoa harus berenang ke depan, meskipun gerakannya lamban.

Bagaimana cara membuat sperma tetap sehat?

Banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kesehatan sperma Anda, seperti;

  • Menghindari adanya paparan bahan-bahan yang mengandung racun, contohnya cairan berbahan logam berat atau pestisida.
  • Menghindari kebiasaan merokok serta penggunaan obat-obatan terlarang, misalnya mengkonsumsi steroid anabolik.
  • Mengkonsumsi makanan yang kaya akan gizi serta menjaga berat badan ideal yang sehat.
  • Membatasi minum minuman yang mengandung alkohol.
  • Selalu menjaga skrotum dan sekiranya tetap dingin, karena suhu yang panas pada area tersebut dapat memperlambat proses produksi sperma. Contohnya dengan menghindari sesering mungkin mandi dengan air panas atau berendam di kolam air panas, atau dengan menghindari pemakaian celana terasa ketat.

Vitamin D Turunkan Risiko Multiple Sclerosis

Menurut para peneliti dari Harvard University, vitamin D yang biasa disebut dengan vitamin matahari dapat melindungi pasien dari efek yang melumpuhkan pada penyakit Multiple Sclerosis (MS). Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association ini, menganalisa data medis pada sekitar 7 juta personil militer AS, dan menemukan bahwa terjadinya penyakit MS adalah sangat kecil pada individu yang mempunyai kadar vitamin D yang tinggi dalam darahnya.

Hubungan tersebut terutama sangat kuat pada individu yang berusia kurang dari 20 tahun. Meskipun demikian, efek itu hanya terlihat pada orang kelompok kulit putih, sedangkan data pada orang kulit hitam dan hispanik belum konklusif.

Para individu yang berada pada 20% batas teratas dari kadar vitamin D dalam darahnya, mempunyai risiko 62% lebih rendah untuk menderita penyakit autoimun tersebut. Risko MS berkurang 41% setiap kenaikan vitamin D dalam darah sebesar 50 nanomol/L.

Meskipun data studi tersebut semakin memperkuat berbagai bukti bahwa vitamin D dapat mengurangi gejala penyakit yang tidak dapat diobati ini, tetapi masih belum cukup menganjurkan untuk menaikkan dosis vitamin D dalam asupan diet sehari-hari. Karena itu, perlu segera dilakukan uji klinik untuk membuktikan adanya hubungan sebab akibat yang pasti.


Referensi
JAMA (2006, 296: 2832-2838)

Abortus Inkomplit

PENDAHULUAN ABORTUS INKOMPLIT
Berjuta-juta wanita setiap tahunnya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa kehamilan berakhir dengan kelahiran tetapi beberapa diantaranya diakhiri dengan abortus. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sedangkan menurut WHO batasan usia kehamilan adalah sebelum 22 minggu.1

Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:

  • Menurut terjadinya dibedakan atas :2,3,4,5
    • Abortus spontan yairu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja. 2
    • Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat.3
        Abortus ini terbagi lagi menjadi:

      • Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.2,3
      • Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.3
  • Menurut gambaran klinis, dibedakan atas:1,2,3,6
    • Abortus membakat (imminens) yaitu abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
    • Abortus insipiens yaitu abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri.
    • Abortus inkomplit yaitu jika hanya sebagian hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
    • Abortus komplit artinya seluruh hasil konsepsi telah keluar (desidua atau fetus), sehingga rongga rahim kosong.
    • Missed abortion adalah abortus dimana fetus atau embrio telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih.
    • Abortus habitualis (keguguran berulang) adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.
    • Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi genital.
    • Abortus septik adalah abortus yang disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ataupun toksinnya kedalam peredaran darah atau peritonium.

Selanjutnya dalam laporan kasus kali ini akan membahas mengenai abortus inkomplit infeksiosa provokatus.

Pengertian Abortus Inkomplit
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, pengertian abortus inkomplit adalah keluarnya sebagian hasil konsepsi dari kavum uteri, tetapi masih ada yang tertinggal dan bila disertai dengan infeksi genitalia, abortus inkomplit disebut juga abortus inkomplit infeksiosa.1,2,3,6,7

Sedangkan abortus provokatus kriminalis adalah abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. Sedikitnya kasus abortus ilegal yang diproses secara hukum sebenarnya tidak lepas dari kolusi antara wanita hamil dan pelaku abortus, disamping sulitnya menemukan bukti-bukti oleh para penegak hukum mengenai terjadinya tindak abortus ilegal. Keadaan ini menunjukkan bahwa pihak-pihak yang bersangkutan dengan abortus telah mengetahui abortus melanggar hukum, sehingga mereka berusaha menyembunyikan dari mata penegak hukum.1

Alasan seorang wanita memilih terminasi kehamilan antara lain:1

  • Ia mungkin seorang yang menjadi hamil diluar pernikahan
  • Pernikahan tidak kokoh seperti yang diharapkan sebelumnya.
  • Ia telah cukup anak dan tidak mungkin dapat membesarkan seorang anak lagi.
  • Janin ternyata telah terekspos oleh substansi teratogenik.
  • Ayah anak yang dikandungnya bukan suaminya.
  • Ayah anak yang dikandung bukan pria/suami yang diidamkan untuk perkawinannya.
  • Kehamilan adalah akibat perkosaan.
  • Wanita yang hamil menderita penyakit jantung yang berat.
  • Ia ingin mencegah lahirnya bayi dengan cacat bawaan.
  • Gagal metode kontrasepsi.
  • Anak terakhir masih kecil.
  • Ingin menyelesaikan pendidikan.
  • Ingin konsentrasi pada pekerjaan untuk menunjang kehidupan dengan anaknya.
  • Ada masalah dengan suami.
  • Ia merasa trerlalu tua/muda untuk mempunyai anak.
  • Ia terinfeksi HIV.
  • Suami menginginkan aborsi.

INSIDEN ABORTUS INKOMPLIT
Diperkirakan frekuensi insiden aborsi/keguguran spontan berkisar antara 10-15 %. Namun demikian, frekuensi seluruh keguguran yang pasti sukar ditentukan, karena abortus buatan banyak yang tidak dilaporkan, kecuali bila telah terjadi komplikasi. Juga karena sebagian keguguran spontan hanya disertai gejala dan tanda ringan, sehingga wanita tidak datang ke dokter atau rumah sakit.3

Profil pelaku aborsi di Indonesia tidak sama persis dengan di Amerika. Akan tetapi gambaran dibawah ini memberikan kita bahan untuk dipertimbangkan. Seperti tertulis dalam buku “Facts of Life” oleh Brian Clowes, Phd.

Para wanita pelaku aborsi adalah: 8
Wanita Muda
Lebih dari separuh atau 57% wanita pelaku aborsi, adalah mereka yang berusia dibawah 25 tahun. Bahkan 24% dari mereka adalah wanita remaja berusia dibawah 19 tahun.

Usia Jumlah %
Dibawah 15 tahun 14.200 0.9%
15-17 tahun 154.500 9.9%
18-19 tahun 224.000 14.4%
20-24 tahun 527.700 33.9%
25-29 tahun 334.900 21.5%
30-34 tahun 188.500 12.1%
35-39 tahun 90.400 5.8%
40 tahun keatas 23.800 1.5%

Belum Menikah
Jika terjadi kehamilan diluar nikah, 82% wanita di Amerika akan melakukan aborsi. Jadi, para wanita muda yang hamil diluar nikah, cenderung dengan mudah akan memilih membunuh anaknya sendiri

Untuk di Indonesia, jumlah ini tentunya lebih besar, karena didalam adat Timur, kehamilan diluar nikah adalah merupakan aib, dan merupakan suatu tragedi yang sangat tidak bisa diterima masyarakat maupun lingkungan keluarga.

ETIOLOGI ABORTUS INKOMPLIT
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya abortus yaitu :

  • Faktor genetik. 9,10
  • Sekitar 5 % abortus terjadi karena faktor genetik.
  • Paling sering ditemukannya kromosom trisomi dengan trisomi 16
  • Faktor anatomi : Faktor anatomi kogenital dan didapat pernah dilaporkan timbul pada 10-15 % wanita dengan abortus spontan yang rekuren.
  • Lesi anatomi kogenital yaitu kelainan duktus Mullerian (uterus bersepta). Duktus mullerian biasanya ditemukan pada keguguran trimester ke dua.
  • Kelainan kogenital arteri uterina yang membahayakan aliran darah endometrrium.
  • Kelainan yang didapat misalnya adhesi intrauterun (synechia), leimioma, dan endometriosis. 9,10
  • Faktor endokrin. 8,9
  • Faktor endokrin berpotensial menyebabkan aborsi pada sekitar 10-20 % kasus.
  • Insufisiensi fase luteal ( fungsi corpus luteum yang abnormal dengan tidak cukupnya produksi progesteron).
  • Hipotiroidisme, hipoprolaktinemia, diabetes dan sindrom polikistik ovarium merupakan faktor kontribusi pada keguguran.
  • Faktor infeksi
  • Infeksi termasuk infeksi yang diakibatkan oleh TORC (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus) dan malaria.11
  • Faktor imunologi
  • Terdapat antibodikardiolipid yang mengakibatkan pembekuan darah dibelakang ari-ari sehingga mengakibatkan kematian janin karena kurangnya aliran darah dari ari-ari tersebut.11

PATOGENESIS ABORTUS INKOMPLIT
Fetus dan plasenta keluar bersamaan pada saat aborsi yang terjadi sebelum minggu ke sepuluh, tetapi terpisah kemudian. Ketika plasenta, seluruh atau sebagian tertinggal didalam uterus, perdarahan terjadi dengan cepat atau kemudian.12 Pada permulaan terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas. Karena dianggap benda asing, maka uterus akan berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korialis belum menembus desidua terlalu dalam; sedangkan pada kemailan 8-14 minggu, telah masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal.3 Hilangnya kontraksi yang dihasilkan dari aktivitas kontraksi dan retraksi miometrium menyebabkan banyak terjadi perdarahan.12

Pada abrotus provokatus kriminalis, mikroorganisme dapat mencapai vulva, vagina dan uterus dengan salah satu cara di bawah ini:1

  • Droplet injection dari pelaku abortus
  • Tangan pelaku dan alat yang digunakan
  • Debu
  • Sprei tempat tidur, kasa penutup luka

Patogenesis terjadinya infeksi 1

Bakteri menyebabkan penyakit berdasarkan 3 mekanisme dasar yaitu:

  1. Invasi ke jaringan
    Kemampuan dari beberapa bakteri tergantung dari luasnya enzim yang bekerja ektraseluler. Contohnya banyak bakteri Gram positif memproduksi hyaluronidase dan kollagenase. Enzim ini meningkatkan difusi melalui jaringan penyambung dengan cara depolimerase asam hyaluronidase. Pada abortus provokatus kriminalis, invasi mikroba sangat dipermudah dengan adanya jejas pada mukoa uterus.
  2. Reaksi hipersensitivitas
    KEGAGALAN MENGELIMINASI MIKROORGANISME
    Ada banyak infeksi dimana mikroorganisme tidak dapat dieliminasi dari tubuh tetapi menetap pada hospes selama beberapa bulan, tahun atau seumur hidup. Hal ini dilihat sebagai kegagalan dari mekanisme pertahanan tubuh yang memang telah dibentuk untuk mengeliminasi mikroorganisme-mikroorganisme yang menyerang jaringan.

    INTERAKSI ANTIMIKROBA-MIKROBA

    Antimikroba ada yang bersifat menghalangi pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bekteriostatik dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebgai aktivitas bakterisid. Sebagai contoh Penisilin G aktif terhadap bakteri gram positif tetapi tidak pada gram negatif.

  3. Resistensi mikroba
    Resistensi pada suatu sel mikroba ialah suatu sifat dimana kehidupannya tidak diganggu oleh antimikroba. Sifat ini dapat merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup.

GAMBARAN KLINIS ABORTUS INKOMPLIT

Gejala abortus inkomplit berupa amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas. Perdarahan bisa sedikit atau banyak, dan biasanya berupa stolsel (darah beku), sudah ada keluar fetus atau jaringan. Pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering terjadi infeksi. Tanda-tanda infeksi alat genital berupa demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeri tekan, luekositosis. Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru saja terjadi didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus berukuran kecil dari seharusnya.3

Teknik tradisional yang biasa digunakan pada abortus provokatus kriminalis:1

  • Masase yang lama dan kuat pada uterus hamil
  • Insersi kateter, batu-batu, kawat-kawat tajam ke dalam vagina dan serviks
  • Minum jamu-jamuan, substansi yang kaustik
  • Daun-daun, akar-akar, kayu-kayuan dan pewarna
  • Makan-obat-obat kontrasepsi dalam jumlah yang banyak sekaligus
  • ada juga dilaporkan jatuh dari tempat yang tinggi, berdansa, melakukan hubungan seksual dengan keras dan dalam waktu yang lama.

DIAGNOSIS ABORTUS INKOMPLIT
Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan :

  • Anamnesis 3
  • Adanya amenore pada masa reproduksi
  • Perdarahan pervaginam disertai jaringan hasil konsepsi
  • Rasa sakit atau keram perut di daerah atas simpisis
  • Pemeriksaan Fisis 9,10
  • Abdomen biasanya lembek dan tidak nyeri tekan
  • Pada pemeriksaan pelvis, sisa hasil konsepsi ditemukan di dalam uterus, dapat juga menonjol keluar, atau didapatkan di liang vagina.
  • Serviks terlihat dilatasi dan tidak menonjol.
  • Pada pemeriksaan bimanual didapatkan uterus membesar dan lunak.
  • Pemeriksaan Penunjang 2

1. Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin, leukosit, waktu bekuan, waktu perdarahan, trombosit., dan GDS.
2. Pemeriksaan USG ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada sisa hasil konsepsi.

DIAGNOSIS BANDING ABORTUS INKOMPLIT 9

  • Abortus komplit
  • Kehamilan ektopik

PENATALAKSANAAN ABORTUS INKOMPLIT 2,3

  1. Memperbaiki keadaan umum. Bila perdarahan banyak, berikan transfusi darah dan cairan yang cukup.
  2. Pemberian antibiotika yang cukup tepat

    – Suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam
    – Suntikan streptomisin 500 mg setiap 12 jam
    – atau antibiotika spektrum luas lainnya

  3. 24 sampai 48 jam setelah dilindungi dengan antibiotika atau lebih cepat bila terjadi perdarahan yang banyak, lakukan dilatasi dan kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi.
  4. Pemberian infus dan antibiotika diteruskan menurut kebutuhan dan kemajuan penderita.

Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0,5 cc IM. Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang ke rumah. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat atau infeksi.2 Pasien dianjurkan istirahat selama 1 sampai 2 hari.

Pasien dianjurkan kembali ke dokter bila pasien mengalami kram demam yang memburuk atau nyeri setelah perdarahan baru yang ringan atau gejala yang lebih berat.13 Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi. Sebelum dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menandatangani surat persetujuan tindakan.2

KOMPLIKASI ABORTUS INKOMPLIT 1,6

  1. Perdarahan
    Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
  2. Perforasi
    Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Terjadi robekan pada rahim, misalnya abortus provokatus kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain.
  3. Syok
    Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat.
  4. Infeksi
    Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu staphylococci, streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma, Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis, sedangkan pada vagina ada lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur.

    Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas padsa desidua. Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium, dan peritonium. Organisme-organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap infeksi paska abortus adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus, Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae, Pneumococcus dan Clostridium tetani. Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena dapat membentuk gas.

PROGNOSIS ABORTUS INKOMPLIT9,10

Prognosis keberhasilan kehamilan tergantung dari etiologi aborsi spontan sebelumnya.

  • Perbaikan endokrin yang abnormal pada wanita dengan abotus yang rekuren mempunyai prognosis yang baik sekitar >90 %
  • Pada wanita keguguran dengan etiologi yang tidak diketahui, kemungkinan keberhasilan kehamilan sekitar 40-80 %
  • Sekitar 77 % angka kelahiran hidup setelah pemeriksaan aktivitas jantung janin pada kehamilan 5 sampai 6 minggu pada wanita dengan 2 atau lebih aborsi spontan yang tidak jelas.

Daftar Pustaka Abortus Inkomplit

  1. Rieuwpassa C, Rauf S, Manoe IMS. M. Pola Bakteri Aerob Pada Penderita Abortus Inkomplit Infeksiosa Provokatus Kriminalis Pada Beberapa Rumah Sakit Di Makassar dalam Kumpulan Makalah Ilmiah POGI Cabang Makassar. Bagian/UP. Obstetri dan Ginekologi FKUH, Makassar, 2003.
  2. Manoe IMS. M., Rauf S., Usmany H. Abortus dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi, Bagian/SMF Obstetri Dan Ginekologi FKUH RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo, Ujung Pandang, 1999. Hal.97-103
  3. Mochtar R. Abortus dan Kelainan dalam Tua Kehamilan dalam Sinopsis Obstetri, Jilid 1, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1998. Hal: 209-214
  4. Gugur Kandungan. Available at: http://www.en.wikipedia.org. Accessed on January,21 2006
  5. Abortion. Available at: http://www.en.wikipedia.org. Accessed on January,21 2006
  6. Keguguran dan Penyebabnya. Gugur Kandungan. Available at: http://www.pikiranrakyat.com. Accessed on January,21 2006
  7. Abortion-Incomplete. Available at: http://www.medlineplus.com. Accessed on Accessed on January,21 2006
  8. Pelaku aborsi. Available at: http://www.aborsi.org. Accessed on Accessed on January,21 2006
  9. Valley VT. Abortion Incomplete. Available at: http://www.emedicine.com. Accessed on January,21 2006
  10. Incomplete Abortion. Gugur Kandungan. Available at: http://www.findarticles.com Accessed on January,21 2006
  11. Darmawan Y. Perdarahan Pada Kehamilan uda. Available at: http://www.infosehat.com. Accessed on Accessed on January,21 2006
  12. Pritchard JA, MacDonald PC, Gant NF. Abortion in William Obtetrics, 7th ed. Appleton-Century-Crofts, USA, 1985. p. 467-488
    Martin E. Incomplete Miscarriage. Available at: http://www.abn.it.org Accessed on Accessed on January,21 2006

Stroke Non Hemoragik – Gejala, Diagnosa & Terapi Stroke Iskemik

Definisi Stroke

Stroke adalah suatu defisit neurologis yang terjadi secara tiba-tiba yang diakibatkan oleh adanya gangguan perfusi aliran darah ke otak. Jenis stroke ada 2 yaitu:

  1. Stroke Hemoragik atau stroke perdarahan.
  2. Stroke Non-Hemoragik atau stroke iskemik.

Stroke ini biasa terjadi pada umur di atas 45 atau 55 tahun, tetapi tidak menutup kemungkinan orang dengan usia yang lebih muda juga dapat mengalaminya. Sampai sekitar 10% dari stroke dapat terjadi pada orang dewasa muda dan merupakan tantangan para ahli dalam hal diagnosis dan pengobatan. Pasien biasanya ditangani dengan melakukan beberapa tes seperti pemeriksaan scan otak, pembuluh darah, evaluasi jantung dan penilaian hematologi dengan menggunakan teknik diagnostik yang terbaik.

Bagaimana dengan stroke perdarahan atau hemoragik?. Baca di sini.

Stroke Non-Hemoragik

Pengertian Stroke Iskemik

Stroke Non-hemoragik disebut juga sebagai stroke iskemik, bisa disingkat NHS (non hemorrhagic stroke). Stroke Iskemik adalah stroke yang terjadi ketika terdapat sumbatan bekuan darah dalam pembuluh darah di otak atau arteri yang menuju ke otak. Stroke jenis ini adalah yang paling sering terjadi.

Sekitar 80-90% dari semua stroke adalah stroke iskemik. Stroke ini mengacu pada situasi di mana daerah otak kekurangan aliran darah, biasanya karena adanya bekuan darah atau penyumbatan arteri oleh aterosklerosis (menumpuknya kolesterol dalam arteri). Faktor risiko stroke iskemik meliputi bertambahnya usia, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, merokok, dan kolesterol tinggi. Pada setiap usia, stroke lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Pengobatan stroke dengan cara mengurangi faktor risiko dan mengidentifikasi sumber penyumbatan. Setelah penyebab spesifik dari stroke iskemik ditemukan, pengobatan yang terbaik dapat ditentukan.

Faktor Risiko & Sebab Stroke Non Hemoragik

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya ada banyak faktor penyebab stroke iskemik, faktor keturunan atau terkait dengan kondisi kesehatan yang menentukan apakah seseorang berada pada risiko stroke iskemik, namun risiko terjadinya NHS untuk pria dan wanita meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Pilihan gaya hidup juga dapat meningkatkan risiko stroke iskemik, seperti merokok, yang merupakan kebiasaan yang sangat berbahaya yang dapat melipatgandakan risiko seseorang.

Berikut ini beberapa faktor risiko stroke iskemik yang dijabarkan dengan singkat:

Faktor risiko karena kondisi dan gangguan kesehatan

  • Ras orang afro-amerika, Hispanic, atau orang Asia/Pasifik
  • Usia yang lebih dari 55 tahun.
  • Riwayat keluarga dengan stroke
  • Fibrilasi Atrial.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Penyakit Jantung.
  • Penyakit arteri karotis atau arteri lainnya.
  • Penyakit arteri perifer.
  • Penyakit anemia sel sabit (Sickle Cell Anemia).
  • Aterosklerosis.
  • Diabetes.
  • Obesitas.

Faktor risiko karena gaya hidup

  • Merokok.
  • Diet yang tidak sehat.
  • Minum minuman beralkohol, atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang seperti kokain, amfetamin atau heroin.

Dari faktor-faktor risiko stroke diatas, ada beberapa yang dapat diubah dan tidak untuk mencegah terjadi stroke. Ras, usia dan riwayat keluarga adalah faktor risiko yang tidak dapat diubah sama sekali untuk mencegah terjadinya stroke. Sedangkan faktor risiko lainnya seperti penggunaan obat terlarang, merokok, gaya serta pola hidup dan diet masih merupakan faktor risiko yang dapat diubah dengan menghentikannya, serta melakukan pengobatan dan memantau faktor risiko berupa penyakit yang dialami, yang kesemuanya untuk mencegah terjadinya stroke iskemik.

Tanda dan gejala stroke

Adapun tanda dan gejala stroke nonhemoragik ini dapat berbeda-beda pada seseorang yang mengalaminya, karena semuanya tergantung pada arteri di otak yang terpengaruh. Berikut ini adalah tanda-tanda secara umum dari stroke dan harus membutuhkan perhatian medis segera.

  • Tiba-tiba mengalami mati rasa atau kelemahan pada bagian wajah, tangan atau tungkai. Kejadiannya paling sering pada satu sisi. Istilah ini dikenal dengan hemiparesis, monoparesis, atau yang jarang terjadi adalah quadriparesis
  • Tiba-tiba mengalami kebingungan atau kesulitan dalam hal berbicara. Lidah terasa lemah dan kaku, afasia.
  • Tiba-tiba kehilangan penglihatan, menjadi kabur, gangguan lapangan pandang, diplopia.
  • Tiba-tiba merasa pusing atau hilang keseimbangan dan koordinasi, vertigo atau ataxia
  • Tiba-tiba mengalami sakit kepala yang parah.

Untuk lebih mudah mengenali gejala stroke, semua gejala-gejala ini dapat diringkas dengan sistem FAST (Face, Arm, Speech, dan Time), sesuai dengan waktu penanganannya yang harus dilakukan dengan cepat atau segera. Sistem ini digunakan oleh asosiasi stroke di Amerika.

Walaupun semua gejala tersebut dapat saja terjadi salah satunya saja, akan tetapi kombinasi dari beberapa gejala itu lebih mungkin terjadi bersamaan. Dalam hal penanganan stroke yang cepat, sangat penting mengetahui kapan waktu pertama kali gejala itu timbul, apalagi pasien itu sudah diketahui kembali normal dari stroke-nya, karena dengan begitu para medis dapat memberikan langkah awal dengan terapi fibrinolitik yang menjadi pilihan pertama.

Di Amerika, orang-orang yang terkena stroke biasanya pergi ke instalasi rawat darurat (IRD), rata-rata terlambat 4-24 jam sejak gejala onset stroke terjadi. Banyak faktor yang mendukung akan terlambatnya dalam mencari perawatan yang segera untuk gejala stroke. Contohnya gejala stroke yang terjadi ketika pasien baru bangun dari tidurnya, padahal perlangsungan gejala stroke telah terjadi selama waktu pasien tidur, fenomena ini sering dinamakan wake-up stroke. Ada juga keterlambatan penanganan stroke karena pasien tidak mampu untuk meminta pertolongan ketika gejalanya timbul tiba-tiba sehingga memerlukan waktu yang lebih lama dalam penanganan yang segera. Gejala stroke juga terkadang tidak diakui oleh pasien atau orang yang merawat mereka, dan ini menyulitkan untuk mengetahui kapan gejala stroke ini timbul.

Untuk fenomena wake-up stroke, kita dapat mengambil onset gejala stroke ketika pasien terakhir terlihat tidak menunjukkan gejala. Untuk hal ini diperlukan masukan dari orang terdekat seperti keluarga atau rekan kerjanya.

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala-gejala stroke tersebut, harap menghubungi layanan kesehatan darurat untuk mendapatkan penanganan dengan segera.

Diagnosis stroke

Dalam melakukan diagnosa stroke iskemik, pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk mencari kelemahan otot, masalah penglihatan dan berbicara, serta kesulitan dalam gerakan. Jika memungkinkan, pasien yang mengalami stroke dapat ditanya langsung tentang gejala dan riwayat medis sebelumnya.

Pemeriksaan Fisis Stroke

Pemeriksaan fisik lengkap akan memungkinkan dokter untuk melihat apakah tubuh pasien stroke bereaksi. Mereka akan memeriksa tanda-tanda vital, termasuk sistem ABC:

  • Airway (Jalan Napas)
    Dokter akan diperiksa untuk memastikan bahwa pasien dapat bernapas dengan mudah dan tidak ada yang menghalangi jalan napas.
  • Breathing (Pernapasan)
    Dokter akan memeriksa untuk memastikan pasien bernapas pada tingkat normal 12 sampai 24 kali per menit.
  • Circulation (Circulation)
    Dokter akan menghitung denyut nadi yang rata-rata 60 dan 120 kali per menit.

Sebagai bagian dari pemeriksaan fisik, dokter juga akan:

  • Melakukan pemeriksaan mata untuk melihat apakah ada pembengkakan saraf optik, yang dapat disebabkan oleh tekanan yang terbentuk di otak karena stroke, dan mencari gerakan abnormal atau refleks mata.
  • Memeriksa leher pasien untuk mendengarkan bruit arteri karotis, adanya suara potensial menunjukkan adanya sumbatan dalam arteri.
  • Memeriksa tekanan darah pasien untuk melihat apakah lebih tinggi dari normal (lebih dari 120 /80 mmHg).
  • Memeriksa suhu tubuh untuk melihat apakah itu antara 97,8 dan 99,1 derajat Fahrenheit (36.5 dan 37.3 derajat Celcius).
  • Memeriksa dengan mendengarkan dengan seksama suara di paru-paru untuk setiap kelainan

Tes lainnya selama pemeriksaan fisik yaitu memeriksa refleks pasien, kekuatan, koordinasi, dan rasa sentuhan. Semua hal ini biasanya dipengaruhi oleh kerusakan pada otak karena stroke, sehingga setiap kelainan pada reaksi pasien mungkin menunjukkan bahwa stroke telah terjadi. Pemeriksaan fisik juga akan mencakup serangkaian pertanyaan untuk memeriksa setiap gangguan bicara, ingatan, dan pemahaman.

Pemeriksaan Penunjang

Adapun pemeriksaan penunjang untuk diagnosis stroke yaitu dengan mengambil gambaran dari struktur tubuh pasien. Hal ini dapat dilakukan dengan:

  • CT scan.
  • CT angiogram (CTA).
  • Scan MRI.
  • MRA – Magnetic resonance angiography.
  • USG Doppler.

Tes darah juga dapat membantu menentukan apakah ada masalah dalam pendarahan.

Penanganan atau Pengobatan Stroke (Terapi Stroke)

Manajemen penanganan stroke akut secara umum, baik itu Stroke hemoragik atau non-hemoragik, difokuskan pada istilah 6B yaitu:

  1. Breath (Pernapasan)
  2. Blood (Darah)
  3. Brain (Otak)
  4. Bladder (Kandung Kemih)
  5. Bowel (GastroInstestinal)
  6. Bone and body skin (Tulang dan Kulit)

Breath (Pernapasan)

Ini adalah bentuk penanganan pertama yang harus diperhatikan yaitu dengan menjaga jalan nafas tetap bebas dan memastikan fungsi paru-paru cukup baik. Jika pasien mengalami gangguan kesadaran, maka diperlukan oksigenasi yang cukup memadai, karena ini adalah bagian penting dari manajemen stroke. Penanganan dengan oksigen harus dilakukan dengan:

  1. Oksigen intranasal 2 liter per menit dalam 24 jam pertama
  2. Masker oksigen atau intranasal untuk pasien dengan penyakit pernapasan atau edema paru, digunakan untuk memonitor gas darah arteri atau saturasi oksigen.

Adapun prosedur untuk pasien yang mengalami kesadaran menurun maka harus dilakukan:

  • Posisi dekubitus lateral untuk menghindari obstruksi jalan napas.
  • Pemasangan endotracheal tube (ET) dan sekresi harus sering dihisap, jika ventilator tidak adekuat atau sekret yang keluar tidak terkendali.
  • Pemasangan trakeostomi, jika intubasi diperlukan selama lebih dari 3 hari.
  • Pemasangan NGT (NasoGastric Tube) dan mengevakuasi isi lambung, tujuannya untuk meningkatkan ventilasi dan mencegah aspirasi.
  • Menganalisa gas darah.

Blood (Darah)

Penanganan ini dengan mengatasi dan memantau tekanan darah, hemoglobin (Hb), glukosa darah, dan keseimbangan elektrolit.

  • Tekanan Darah
    Menjaga tekanan darah tetap tinggi agar cukup dapat mengalirkan darah sampai ke otak. Mengukur tekanan darah dilakukan 2 sampai 4 jam pada awalnya, dan kemudian harus dimonitor dan dikelola dengan cukup hati-hati. Tekanan darah tinggi memang sering terjadi pada fase akut stroke. Pada kebanyakan kasus yang terjadi, tekanan darah tinggi akan cukup menurun dalam waktu 1 atau 2 minggu. Pada stroke akut, dengan menurunkan tekanan darah ke tingkat normal dapat menyebabkan penurunan aliran darah otak, yang justru akan menambah iskemik pada bagian otak lagi. Oleh sebab itu, pada sebagian besar pasien, tekanan darah tinggi tidak harus diturunkan kecuali pada hipertensi berat, dimana tekanan darah lebih besar dari 180/110 (pada pasien muda) atau 210/120 (pada pasien yang lebih tua).

    Mencari dan menganalisa penyebab terjadinya hipertensi, misalnya nyeri, distensi kandung kemih, sembelit, dll. Jika tekanan darah tinggi bersamaan dengan infark miokard, diseksi aorta toraks, gagal ginjal atau aneurisma aorta yang pecah, penggunaan awal obat antihipertensi dapat dibenarkan. Untuk pengobatan yang tiba-tiba, nifedipine sublingual atau labetalol intravena dapat digunakan. Yang jelas penanganan hipertensi pada stroke akut secara umum adalah dengan menghindari pengobatan hipertensi yang berlebihan.

    Jika terjadi hipotensi, lakukan koreksi tekanan darah ke ukuran normal dengan memperhatikan postur pasien, cairan intravena dan mencari sumber terjadinya hipovolemia atau penyebab hipotensi lainnya.

  • Hemoglobin (Hb)
    Kadar Hb darah harus tetap dijaga dengan baik untuk metabolisme otak.
  • Glukosa Darah
    Penting untuk dilakukan penanganan glukosa darah. Hipoglikemia dan hiperglikemia dapat menyebabkan efek negatif pada peningkatan tekanan intrakranial. Oleh karena itu, kadar glukosa darah harus dijaga antara 140 dan 180 mg/dl. Hindari pemberian infus glukosa, karena akan menyebabkan asidosis di bagian infark otak, yang nantinya akan mudah terjadi udem otak dan ukuran infark meningkat. Hiperglikemia sering terjadi pada pasien stroke akut, untuk kadar glukosa lebih dari 250-300 mg/dl maka harus ditangani dengan pemberian insulin. Bila terjadi udem otak, dapat dilihat dari keadaan penderita yang mengantuk atau bradikardi, atau dilihat dengan melakukan pemeriksaan funduskopi. Obat terapi menangani udem otak dapat diberikan manitol.
  • Menjaga keseimbangan elektrolit

Brain (Otak)

Penanganan pada otak memfokuskan pada tiga hal yaitu penurunan kesadaran, kejang dan peningkatan tekanan intrakranial.

  • Penurunan Kesadaran
    Penurunan kesadaran tampaknya menjadi prediktor yang paling penting dari suksesnya terapi stroke. Penilaian fungsi bahasa seperti pemahaman dan ekspresi, harus dilakukan dengan hati-hati untuk mengecualikan disfasia yang disalahartikan dengan kebingungan.

    Pemantauan tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital dilakukan setidaknya setiap 2 sampai 4 jam oleh staf medis dan keperawatan. Jika keadaan pasien memburuk, maka pertimbangkan untuk mencari penyebabnya seperti adanya peningkatan tekanan intrakranial, perluasan infark ke lobus frontal atau struktur yang lebih dalam, kelainan metabolik, dan efek obat. Pertimbangkan untuk melakukan CT scan lagi setelah dilakukan pemeriksaan neurologis seperti fundus okuli, gerakan mata, pupil, dan refleks. Tetap lakukan pengontrolan dan mewaspadai jangan sampai terjadi aspirasi selama periode penurunan kesadaran.

  • Kejang
    Strok yang melibatkan bagian kortikal otak akan lebih mungkin secara signifikan terkena kejang jika dibandingkan dengan lesi yang lebih dalam. Infark emboli lebih sering mengalami kejang daripada pasien dengan infark trombotik. Kejang harus dapat dicegah dan diatasi karena dapat memperburuk proses iskemik. Penanganannya dengan meningkatkan kebutuhan oksigen serebral.

    Kejang epilepsi harus dikontrol segera. Pemberian Diazepam intravena atau obat-obatan yang terkait seperti Diphenylhydantoin atau Carbamazepin adalah pengobatan pilihan pertama untuk kejang pada pasien stroke. Potensi terjadinya penekanan pernapasan harus selalu diwaspadai selama pemberian infus obat tersebut. Setelah kejang berhenti, pemberian fenitoin intravena dapat dimulai untuk mempertahankan dan mengontrol kejang. Untuk kejang yang tidak dapat dikontrol dengan pemberian berbagai antikonvulsan, maka diperlukan anestesi barbiturat. Tidak direkomendasikan penggunaan profilaksis antikonvulsan pada penderita stroke tanpa kejang.

  • Tekanan Intrakranial (TIK) meningkat
    Edema otak sitotoksik terjadi 24-96 jam setelah stroke iskemik akut. Pasien yang menderita stroke mayor hemisfer biasanya diposisikan dalam posisi tegak 30° dan tidak boleh berpaling ke kedua sisi selama 24 jam pertama. Jika diperlukan,tingkat sedasi harus dikontrol dan disesuaikan untuk menghindari rasa sakit dan kecemasan. Tekanan intrakranial dapat meningkat selama tracheal suction.

    Manajemen penanganan peningkatan tekanan intrakranial untuk stroke akut meliputi:

    1. Hiperventilasi dengan ventilator wajib dilakukan terus-menerus (PaCO2 antara 30 dan 35 mmHg). Sayangnya efek dari hiperventilasi tidak berlangsung lebih lama dari 12-36 jam.
    2. Osmoterapi dilakukan dengan pemberian:
      • Infus Gliserol 10 % sampai 4 kali 250 ml lebih dari 1 jam setiap hari
      • Gliserol 50 % larutan juga dapat diberikan secara enteral melalui tabung lambung 4 kali 50 ml
      • Manitol 20 %, 4 kali 100 ml diinfuskan dalam kasus sitotoksik edema yang parah, atau dalam situasi darurat seperti tekanan intrakranial dekompensasi dengan pupil melebar, karena tidak lebih dari 2 hari.

      Osmoterapi hanya efektif selama 48-72 jam. Selama osmoterapi, osmolalitas plasma tidak boleh melebihi 330 mosm / kg. Kedua fungsi ginjal dan tekanan vena sentral harus diawasi dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit jantung yang mendasarinya. Penggunaan obat osmoterapi dapat mengakibatkan rebound fenomena jika tiba-tiba dihentikan.

    3. Operasi bedah dekompresi dalam kasus selektif dapat menyelamatkan nyawa dan dapat meningkatkan hasil.

Bladder (Kandung Kemih)

Pengelolaan perkemihan dan keseimbangan cairan tubuh harus diperhatikan, tujuannya untuk menghindari terjadi retensio atau inkontinensia urine.

  • Manajemen kandung kemih
    Tujuan dari penanganan ini demi mengurangi risiko tekanan berlebih dan infeksi kandung kemih, dan juga sekaligus memulihkan fungsi kandung kemih dan kontinensia.

    Kateterisasi dilakukan jika tingkat kesadaran pasien terganggu atau tidak dapat berkemih lebih dari 6 jam. Hindari terjadinya inkontinensia atau retensi urin karena akan dapat meningkatkan tekanan intrakranial.

  • Keseimbangan cairan dan elektrolit
    Mayoritas stroke terjadi pada orang tua, yang mana cairan dan gangguan elektrolit dalam tubuh lebih mungkin terjadi. Terjadinya dehidrasi akan meningkatkan kekentalan darah dan menurunkan tekanan darah, sehingga sering sekali memperburuk proses iskemik di otak. Dehidrasi juga merupakan faktor penting predisposisi kardioembolisme berulang.

    Masalah hidrasi cairan harus tetap dipantau dan dijaga keseimbangannya, karena hidrasi yang berlebihan atau overhydration akibat pemberian cairan hipo-osmolar dapat memperburuk edema otak dan selanjutnya meningkatkan tekanan intrakranial. Adanya gangguan yang mendasari seperti penyakit ginjal dan jantung sering membuat koreksi cairan dan elektrolit lebih sulit.

    Permasalahan lainnya adalah disfagia dan penurunan sensasi haus sekunder pada kerusakan otak, pemberian cairan maintenance parenteral dan penggunaan diuretik yang tidak sesuai, sering menyebabkan hiper atau hiponatremia, yang berefek memperparah iskemia otak. Perhatian terhadap ketidakseimbangan cairan dan elektrolit harus dilakukan pada pasien dengan gagal jantung kongestif, sindrom nefrotik, penyakit Addison, psirosis hati, syndrome of inappropriate secretion of antidiuretic hormone (SIADH), dan diabetes insipidus.

    Pemantauan elektrolit serum, volume dan berat jenis urine, serum dan osmolaritas urine, serta tekanan vena sentral secara berkala dianjurkan.

Bowel (GastroInstestinal)

Pengelolaan defekasi dan nutrisi pasien stroke harus diperhatikan, tujuannya untuk menghindari timbulnya gangguan pada sistem pencernaan, karena hal ini akan membuat pasien stroke menjadi gelisah, contohnya karena terjadi obstipasi.

  • Fungsi usus
    Pemantauan pembukaan usus penting karena sembelit dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Enema diperlukan jika tidak ada motilitas usus selama lebih dari 3 hari.

  • Nutrisi
    Pemberian nutrisi normal harus dilarang pada pasien stroke akut segera setelah onset untuk menghindari terjadinya aspirasi. Semua pasien yang dirawat dengan stroke harus mempertahankan tanpa intake oral setidaknya untuk 24-48 jam pertama, seperti halnya pada kasus TIA persisten atau defisit yang lebih moderat. Perhatian khusus harus diarahkan untuk pasien dengan infark kortikal yang besar (baik hemisfer dominan atau non-dominan). Semua pasien tanpa intake oral harus diberikan cairan infus, yaitu normal saline (kecuali pasien dengan gagal jantung kongestif yang signifikan atau hipertensi).
  • Perdarahan Gastrointestinal
    Untuk mencegah terjadinya perdarahan gastrointestinal, pemberian profilaksis antasida dan antagonis reseptor H2 dianjurkan pada pasien stroke akut, terutama mereka yang memiliki riwayat ulkus peptikum atau pengobatan sebelumnya dengan aspirin, agen fibrinolitik, antikoagulan, obat anti inflamasi non-steroid, atau kortikosteroid.

Bone and body skin (Tulang dan Kulit)

Tanpa pergerakan atau imobilitas dapat menyebabkan peningkatan katabolisme, stasis vena, penurunan kapasitas vital, depresi psikologis, stasis urin dan memperlambat saluran pencernaan. Komplikasi utama yang bisa terjadi seperti pneumonia, emboli paru, ulkus dekubitus, kolesistitis, trombosis vena dalam dan infeksi saluran kemih. Imobilitas juga dapat menyebabkan komplikasi ortopedi, kontraktur dan kelumpuhan tekanan.

Penanganan dengan melakukan terapi fisik harus dimulai dalam waktu 2 hari sejak onset stroke, bahkan pada pasien coma sekalipun. Cara merawat pasien stroke dengan merubah posisi tubuh secara reguler jika pasien lumpuh atau yang mengalami gangguan kesadaran, dan pemantauan terhadap kulit kemerahan atau yang mengalami erosi, sangat diperlukan pada pasien stroke akut.

Terapi Spesifik Stroke Non-Hemoragik

Manfaat terapi pengobatan farmakologis bisa saja terbatas karena beberapa faktor, sebagian spesifik untuk stroke oklusif. Salah satu masalah adalah time window untuk efek pengobatan. Kesulitan yang lainnya adalah kurangnya penetrasi obat ke bagian otak dengan gangguan sirkulasi darah, risiko terjadinya hipertensi sistemik yang berakibat berkurangnya perfusi pada zona iskemik yang melalui arteri kolateral, dan terjadinya agitasi atau halusinasi karena pemberian neuroprotectants.

Menurut pendekatan therapeutical dasar, pengobatan spesifik stroke iskemik dibagi menjadi 2 kelompok.

  1. Melindungi penumbra iskemik dari kerusakan lebih lanjut akibat metabolit toksik
    • Obat Saraf
      • Glutamate release inhibitors.
      • Antagonis reseptor NMDA.
      • Peningkat efek GABA.
      • Antagonis kalsium, misalnya nimodipin.
      • Modulasi nitrat – oksida terkait toksisitas.
      • Agen saraf lainnya, misalnya piracetam, citicholine.
    • Free-radical scavengers
      • Superoksida dismutase.
      • Enzim katalase.
      • Vitamin E.
      • Glutathione.
      • 21-aminosteroids (lazaroids), misalnya tirilazad.
      • Kelator besi.
      • phenyl-t-butyl nitrons.
    • leucocyte adhesion inhibitors
      Anti-intercellular adhesive molecule (anti-ICAM-1), antibodi yang mengurangi kerusakan sel iskemik yang timbul karena respon inflamasi pasca-iskemik.
  2. Meningkatkan suplai darah ke area penumbra iskemik
    • Obat Trombolitik
      • Streptokinase intravena.
      • Urokinase dan pro-urokinase intra-arteri.
      • Aktivator jaringan plasminogen intravena.
      • Ancrod

      Terapi trombolitik harus diberikan sesegera mungkin setelah onset stroke (dalam waktu 3-6 jam). Obat ini dapat menyebabkan perdarahan dan cedera reperfusi setelah rekanalisasi, dan bahan bekuan terfragmentasi dapat bermigrasi ke distal dan menciptakan zona iskemik baru. Meskipun masalah terdapat dengan efek samping, hasil uji coba terbaru menunjukkan bahwa pengobatan farmakologis khusus ini dapat meningkatkan hasil yang baik untuk stroke akut.

    • Antikoagulan
      Pemberian heparin intravena telah sering digunakan untuk stroke rekuren, ganas, atau TIA. Jenis antikoagulan ini dengan bobot molekul rendah (fraxiparin) yang disuntikkan secara subkutan mungkin lebih efektif, dengan rendahnya risiko komplikasi terjadinya stroke hemoragik, dibandingkan dengan pemberian unfractionated heparin standar.

Tim yang terlibat dalam penanganan stroke

Penanganan stroke yang efektif harus melibatkan dari para ahli dari berbagai bidang multidisiplin ilmu, seperti:

  • Dokter
  • Psikoterapi
  • Terapis Okupasi
  • Terapis berbicara dan berbahasa
  • Staf Keperawatan
  • Pekerja Sosial

Mereka ini kemungkinan juga akan merekomendasikan beberapa spesialis medis dan bedah, seperti:

  • Ahli Gizi
  • Psikiater
  • Chiropodist (Perawat kaki)
  • Dokter Gigi
  • Ahli tulang (Orthotist)

Waktu adalah Utama
Stroke dapat diobati, tetapi hanya jika pasien dapat dibawa ke rumah sakit tepat beberapa jam setelah mengalami gejala pertama. Semakin lama arteri pembuluh dara tersumbat, otak akan semakin rusak dan menderita. Semakin cepat bekuan atau sumbatan dapat dihilangkan dan aliran darah dipulihkan, semakin baik kesempatan untuk mengembalikan aliran darah ke jaringan otak dan menghentikan kerusakan lebih lanjut.

Tujuan perawatan pasca penanganan stroke awal adalah untuk:

  • Mengurangi kemungkinan terjadinya stroke lanjutan
  • Meningkatkan fungsi tubuh yang terkena stroke
  • Mengatasi terjadinya kecacatan

Perhatian medis segera, cepat, dan efisien (sekitar 3 sampai 6 jam) sejak terjadi onset stroke dari semua tim penanganan stroke, sangat penting bagi korban stroke non-hemoragik/iskemik untuk mengurangi risiko cacat jangka panjang atau kematian.

Diagnosis Dan Pengobatan Topikal Akne Vulgaris – Jerawat

Pendahuluan

Pengertian Acne Vulgaris
Akne Vulgaris yang dikenal awam dengan jerawat adalah penyakit kulit yang terjadi akibat adanya peradangan menahun folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, pustul, nodus, papul dan kista pada tempat predileksinya (tempat terjadinya).

Akne Vulgaris adalah penyakit umum pada kulit yang menyerang 85-100 % orang. Umumnya insiden terjadi pada sekitar umur 14-17 tahun pada wanita, 16-19 tahun pada pria. Pada seorang gadis akne vulgaris dapat terjadi pada premenarke. Setelah masa remaja kelainan ini berangsur berkurang. Namun kadang-kadang, terutama pada wanita, akne vulgaris menetap sampai dekade umur 30-an atau bahkan lebih.

Penyebab timbulnya akne bisa disebabkan oleh bahan-bahan eksternal seperti beberapa bahan kosmetik atau minyak rambut, obat-obatan juga dapat mencetuskan timbulnya akne termasuk steroid, lithium, antiepileptik, dan iodida. Hiperplasia adrenal kogenital, polikistik ovarium sindrom, dan gangguan endokrin dengan kelebihan hormon androgen dapat memacu timbulnya akne vulgaris. Akne vulgaris bisa juga disebabkan faktor genetik. Lesi akne vulgaris timbul pada unit pilosebaseus yang terdiri dari kelenjar dan folikel rambut.

Unit ini terdapat di seluruh tubuh kecuali pada telapak tangan dan kaki. Densitas pilosebaseus terbanyak pada muka, leher atas, dada, konsentrasinya kira-kira 9 kali lebih tinggi dari daerah lain pada tubuh.1 penyebab utama munculnya akne vulgaris karena meningkatnya produksi sebum dan deskuamasi epitel folikel yang abnormal, akumulasi materi tersebut pada daerah folikel dapat menyebabkan mikro komedo. Pada keadaan tersebut bakteri dapat berproliferasi khususnya Propionibacterium acnes, sehingga terjadi inflamasi pada lesi acne.

Jadi ada 4 prinsip patogenesis terjadinya akne yaitu:

  1. Keratinisasi follikular yang abnormal sampai tersumbatnya folikel,
  2. Meningkatnya produksi sebum,
  3. Proliferasi Pionibacterium acnes dalam sebum dan
  4. Terjadinya inflamasi.

Berikut ini akan dibahas tentang diagnosis dan pengobatan topikal akne vulgaris

Diagnosis (Gambaran Klinis)

Diagnosis akne ditegakkan dengan gambaran klinik dan dapat ditegakkan tanpa biopsi. Lesi akne vulgaris ditandai dengan :

  1. Komedo terbuka (komedo hitam) dan tertutup (komedo putih), merupakan papul miliar yang ditengahnya mengandung sumbatan sebum.
  2. Papul (kecil, superfisial, inflamasi), peninggian sirkuler pada kulit berwarna merah berisi pus yang tak terlihat.
  3. Pustul (lesi yang berisi pus mengelilingi unit pilosebaseus), peradangan superfisial yang biasanya berisi pus yang berwarana putih atau kuning.
  4. Makula, bintik merah pada kulit tanpa peninggian, tanpa pus dan ditandai dengan lesi inflamasi.

Beberapa sistem gradasi tingkat keparahan akne dikemukakan untuk mengevaluasi pengobatan akne. Pillsbury membagi tingkat keparahan akne dalam 4 tingkatan yaitu :

  1. Komedo di muka
  2. Komedo, papul, pustul, dan peradangan lebih dalam dimuka
  3. Komedo papul, pustul ddan peradangan lebih dalam dimuka, dada, pungung
  4. Akne Konglobata

Sedangkan menurut Cyril H. Cook dkk, Sebuah sistem gradasi untuk melihat keadaan klinis akne telah ditemukan suatu cara dalam mengevaluasi seluruh keparahan dari akne dengan membuat skala dari 0 sampai 8.

Skala grading untuk derajat keparahan Jerawat

Derajat/Keterangan

  • 0 terdiri atas 3 komedo kecil dan atau papul-papul kecil jika agak tersebar
  • 2 sangat sedikit pustul, atau 3 papul yang inflamasi dan atau dengan komedo; tak ada lesi yang cukup besar; lesi tersebut dapat dilihat dari jarak 2,5 m
  • 4 antara derajat 2 dan 6, terdapat lesi eritem dan inflamasi; membutuhkan pengobatan
  • 6 bersama komedo; tanpa inflamasi; atau dengan inflamasi; terdapat banyak pustul dengan ukuran 1-2 cm, dapat dikenali dari jarak 2,5 m
  • 8 akne dengan tipe konglobata, sinus atau kistik; lesi inflamasi hampir seluruh wajah; pustul juga ada pada dagu dan leher

Pengobatan Jerawat

Prinsip umum

Sangat penting memberi tahu pasien bahwa siklus hidup jerawat sampai 8 minggu (bintik hitam dan jaringan skar dapat lebih lama). Oleh karena itu penanganan akne lebih baik mencegah timbulnya lesi baru. Sebagai tambahan pasien sebaiknya diperingatkan pengobatanan ini dapat berlangsung selama satu tahun dan perubahan regimen dapat disesuaikan dengan kebutuhan dari waktu ke waktu. ditekankan pada pasien bahwa tidak ada pengobatan yang memberi hasil yang sama dari pasien yang satu dengan lainnya.

Secara umum pengobatan sebaiknya dimulai dengan pengobatan topikal, kombinasi antara Benzoil Peroksida (BP) dengan antibiotik topikal seperti erithromisin atau klindamisin merupakan terapi topikal yang paling efektif dari kombinasi lainnya. Pilihan pengobatan antara topikal atau sistemik tergantung dari luas kulit yang terkena dan keparahan lesi.

Pengobatan utama pada acne jenis mild (ringan) sampai moderate (sedang)

Tujuan Pengobatan & Dosis
Mengurangi P. Acne

  • benzoyl peroxide (BP) 2,5 – 10%
  • azelaic acid 20%
  • Eritromycin 2%
  • Clindamycin 1%
  • BP + clindamycin 5% + 1%

Merangsang pengelupasan

  • Retinoid 0,025% – 0,1%
  • salycylic acid 2%
  • alpha hidroxy acid 15-20%
  • Tazarotene 0,1%

Mengurangi peradangan

  • Retinoid 0,025% – 0,1%
  • salycylic acid 2%
  • alpha hidroxy acid

Mengurangi produksi sebum kontrasipsi oral Paket

  • Retinoid 0,025% – 0,1%

Berikut ini beberapa strategi yang perlu dipertimbangkan dalam penanganan akne vulgaris. Langkah strategik dalam penggunaan antibiotik pada pasien akne yaitu:

  • Penggunaan antibiotik secara minimal
  • Penggunaan kombinasi antibiotik dengan retinoid topikal
  • Penghentian antibiotik jika si pasien telah sembuh
  • Terapi perawatan : retinoid topikal + benzoil perokside
  • isotretinoin

Bahan dasar obat topikal Jerawat

  • Krim diberikan pada pasien dengan kulit kering dan sensitif yang membutuhkan formula yang tidak membuat iritasi dan kulit menjadi kering.
  • Lotion dapat diberikan pada segala jenis kulit dan merata pada kulit yang berambut, tetapi lotion mengandung propilene glycol yang dapat menyebabkan kulit kering dan terasa terbakar.
  • Solution, utamanya digunakan bersama antibiotik topikal yang sering dicampur dengan alkohol. Seperti gel solution bekerja paling baik pada kulit yang berminyak.
  • Gel memiliki efek mengeringkan kulit, pasien dengan tipe kulit berminyak akan merasa nyaman dengan menggunakan bahan ini.

Perawatan kulit

Pasien sebaiknya memulai perawatan kulit dengan menggunakan bahan yang dapat menyababkan deskuamasi folikular( untuk menghilangkan sumbatan keratun dan komedo), bakteriostatik, mengurangi inflamasi, mencegah kekeringan, dan dapat melindungi dari sengatan sinar matahari. Untuk wanita bisa ditambahkan pembersih (cleansing) dengan antimikroba, eksfoliasi, pelembab dengan zat nonkomedogenik, dengan bahan dasar air, dan melindungi kulit dari sinar UV, terutama jika menggunakan retinoid.

Agen Topical

Antimikroba
Agen topikal yang terdiri atas antibiotik dan retinoid merupakan terapi utama untuk akne ringan sampai menengah biasa di sajikan dalam sediaan sendiri maupun kombinasi. Antibiotik benzoil perokside efektif menangani P. Acne tersedia dalam konsentrasi (2,5%, 5%, 10%) dan sediaan (krim, gel, lotion, sabun batangan). Eritromisin (1,5%-2%), dan klindamisin (1%) merupakan antibiotik topikal spektrum luas, efektif mengobati akne derajat menengah tapi tak terlalu berefek pada komedo. Antibiotik topikal tersebut dipakai dua kali sehari, klindamisin topikal kira-kira memiliki efek yang sama dengan dengan obat oral tetrasiklin 500 mg.

Bagaimanapun munculnya resistensi merupakan masalah yang sering dihadapi dan direkomendasikan antibiotik topikal tidak digunakan sebagai terapi utama, kecuali jika dikombinasikan dengan Benzoil Perokside atau retinoid topikal. Tersedia kombinasi topikal BP dengan eritromisin atau klindamisin, kombinasi ini memperlihatkan efek yang lebih baik dibanding sediaan tunggal tanpa meningkatkan efek samping.

Retinoid topikal
Retinoid lebih efektif untuk akne komedo, bukan saja membersihkan mikrokomedo tapi juga berguna untuk pengobatan akne yang meradang. Retinoid memodulasi diferensiasi sel dan keratinisasi dan memiliki efek antiinflamasi langsung atapun tak langsung. Retinoid tersedia dalam sediaan gel atau krim dengan kekuatan obat yang berbeda-beda.

Klindamisin Topikal

Gambaran Klindamisin
Rumus bangun klindamisin mirip dengan linkomisin. Perbedaannya hanya pada 1 gugus hidroksil pada linkomisin yang diganti dengan atom Cl. Klindamisin adalah derivat dari linkomisin, terikat pada ikatan 50’s ribosom.7 Klindamisin merupakan kelompok obat antibiotik. Penggunaan topikal membantu dalam mengontrol akne. Klindamisin dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan obat lain baik oral maupun topikal untuk akne. Klindamsiin hanya tersedia hanya dengan resep dokter dengan bentuk gel, larutan maupun suspensi.

Sifat Antimikroba Klindamisin yaitu aktif terhadap beberapa bakteri anaerob, kokkus gram positif dan beberapa protozoa. Enterokkkus pada umumnya lebih resisten. Beberapa organisme gram negatif aerob adalah resisten. Bakteri anaerob yang termasuk adalah P.acne.

Hal-hal yang diperhatikan sebelum penggunaan obat

  • Alergi
  • Kehamilan, Klindamisin belum pernah diteliti pada wanita hamil tetapi obat ini tidak memperlihatkan kelainan bawaan atau masalah lain pada binatang percobaan.
  • Menyusui, Klindamsin dalam jumlah sedikit diserap melalui kulit. Hal ini memungkinkan klindamisin berada dalam air susu ibu, tetapi belum ada laporan bahwa klindamisin menyebabkan masalah pada bayi yang menyusu.
  • Anak-anak, penelitian klindamisin hanya pernah dilakukan pada pasien dewasa dan tidak ada informasi yang membandingkan penggunaan obat ini pada anak dibawah 12 tahun.
  • Paruh baya, tidak ada penelitian yang pernah dilakukan pada usia ini tetapi obat ini diharapkan tidak memberikan efek samping yang berbeda pada pemberian untuk usia orang dewasa muda.
  • Obat-obatan lain.

Penggunaan Klindamisin

Sebelum menggunakan obat ini bersihkan daerah yang terkena dengan air hangat dan sabun, bilas dengan baik dan keringkan. Sebaiknya olesi obat ini pada daerah yang biasa terkena akne untukl mencegah munculnya lesi baru. Hindari membasuh muka terlalu sering karena dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan lesi bertambah parah. Basuh muka cukup 2 atau 3 kali sehari keculi untuk kulit berminyak bisa lebih sering.

Efek Samping Klindamisin

  • Jarang : Kram abdomen atau perut, nyeri, kembung (parah), diare sampai diare berdarah, demam, haus, mual, muntah, lemas, penurunan berat badan. Efek ini bisa hilang sampai beberapa minggu setelah penghentian obat – Bila timbul efek samping ini hubungi dokter secepat mungkin.
  • Kadang-kadang : ruam kulit, gatal, kemerahan, membengkak. Bila timbul efek samping ini hubungi dokter sebisa mungkin.
    Efek samping ringan (tanpa perlu tindakan medis kecuali jika sangat mengganggu)
  • Biasa terjadi : Kulit kering, bersisik, terkelupas.
  • Kadang-kadang : Nyeri perut, diare ringan, iritasi, kulit berminyak, rasa perih dan terbakar.

Dosis Klindamisin
Sediaan biasanya disajikan dalam dosis 10 mg/ml gel, 10 mg/ml lotion, 10 mg/ml topical solution. Penggunaan 1-2 kali sehari.

Efektivitas Klindamisin
Pengobatan topikal dipakai dalam pengobatan akne vulgaris dan terbukti sukses, seperti eritromisin, klindamisin, metronidazole, asam azeloik, benzoil perokside, dan kombinasi benzoil perokside dengan klindamisin atau eritromisin. Kombinasi benzoil perokside dengan klindamisin atau eritromisin telah terbukti efektif terutama mereduksi jumlah P.acne.

Pengobatan topikal yang lain

Benzoil Peroxide (BP)
Bersifat bakterisidal dan komedolitik. BP Sebagai agen topikal aktif terhadap P.Acnes. Iritasi pada kulit adalah efek samping yang paling umum. Diberikan dalam berbagai konsentrasi mulai dari 2,5% sampai 10 % .

Asam salisilat
Agen ini menghambat terjadinya komedogenesis yang disebabkan oleh deskuamasi epitel folikular. Diberikan dalam konsentrasi 0,5 sampai 2 % dalam sekali atau dua kali sehari.

Sulfur
Agen ini efektif dalam mengobati lesi inflamasi akne dan bersifat keratolisis meskipun efeknya dapat menyebabkan iritasi.

Azelaic Acid
Azelaic acid efektif terhadap pengobatan akne. Bersifat antibakteri dan anti keratin. Tersedia dalam 20% krim yang diberikan 2 kali sehari untuk membersihkan dan mengeringkan daerah yang terkena.

Tetrasiklin
Tetrasiklin adalah antibiotik dengan spektrum luas yang aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif seperti Chlamydia, mycoplasma, riketsia, spirochetes dan beberapa jenis parasit.Efek samping yang ditimbulkan seperti rasa terbakar pada epigastrium, mual, muntah dan kembung.

Retinoid
Retinoid adalah derivat dari vitamin A yang berfungsi memperlambat proses deskuamasi dengan demikian0 menurunkan jumlah komedo dan mikrokomedo. Retinoid efektif sebagai agen komedolitik yang digunakan untuk pengobatan akne sejak 25 tahuin yang lalu.