Asma Bronkial Pada Kehamilan

Asma Bronkiale (AB) merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai sehari-hari dengan ditandai oleh adanya obstruksi bronkial yang difus namun reversible baik secara spontan ataupun melalui pengobatan. Di Amerika Serikat insiden asma bronkial pada kehamilan berkisar antara 0.5 sampai 1.0 % dari seluruh kehamilan. Angka abortus, partus dan prematurus maupun kematian pada ibu atau janin umumnya tidak mengalami peningkatan pada ibi-ibu yang mendapat control AB dengan baik, sementara ibu hamil dengan serangan AB yang berat merupakan suatu problema yang serius dengan angka abortus partus prematurus serta angka kematian ibu dan anak yang meningkat.

Pengaruh Kehamilan terhadap Asma Bronkiale

Pada seorang wanita hamil terdapat perubahan-perubahan fisiologis pada beberapa organ-organ tubuh wanita tersebut akibat kehamilannya. Perubahan-perubahan fisiologis yang diketahui berpengaruh terhadap perjalanan AB antara lain perubahan-perubahan berupa membesarnya uterus, elevasi diafragma, hormonal perubahan-perubahan pada mekanik paru-paru dan lain-lain.

Sejak implantasi blastokist pada endometrium uterus akan terus membesar sesuai umur kehamilan. Pada akhir bulan ke tiga uterus sudah cukup besar dan umumnya sudah sebagian tersembul ke luar rongga pelvis mengisi rongga perut untuk selanjutnya terus membesar perlahan-lahan mendesak usus ke atas dan kesamping sehingga pada trimester terakhir kehamilan uterus sudah mencapai daerah setinggi hati. Hal ini banyak berhubungan dengan meningkatnya tekanan intrabdominal.

Perubahan-perubahan hormonal yang terjadi saat kehamilan dan persalinan menyangkut banyak jenis hormon-hormon, tetapi yang diketahui ada kaitannya langsung atau tidak langsung terhadap perjalanan AB baru beberapa jenis.

Hormon Masa Kehamilan

Progesteron
Yang kadarnya meningkat pada masa kehamilan mempunyai efek langsung terhadap pusat pernapasan (respiratory center) mentebabkan peningkatan frekuensi pernapasan (respiratory rate), sehingga menyebabkan hiperventilasi. Progesteron juga bersifat smooth muscle relaxan terhadap otot-otot polos usus, genitourinarius, dan diduga pada otot-otot bronkus.

Estrogen
Kadarnya meningkat saat kehamilan, terutama trimester ketiga. Pecora dan kawan-kawan membuktikan estrogen mempunyai efek menurunkan diffusing capacity dari CO2 pada paru-paru dan diduga ini terjadi sebagai akibat meningkatnya asam mukopolisakarida perikapiler.

Kortisol
Kadarnya meningkat pada kehamilan, diduga sebagai akibat klirens kortisol yang menurun, bukan karena sekresinya yang meningkat. Sehngga waktu paruhnya akan memanjang. Dan pemberian preparat steroid pada masa kehamilan harus disesuaikan dengan keadaan ini.

Pengaruh Asma Bronkial Terhadap Kehamilan

Pada ibu-ibu hamil yang menderita AB, Bahna dan Bjerkedal mendapatkan bahwa insiden hiperemis, perdarahan, toksemia gravidarum, induksi persalinan dengan komplikasi dan kematian ibu secara bermakna lebih sering terjadi dibandingkan dengan ibu-ibu hamil tanpa penyakit AB. Hal ini dapat diduga erat hubungannya dengan obat-obat anti asma yang diberikan selama kehamilan ataupun akibat efek langsung daripada memberatnya asma.

Hal yang sangat penting diperhatikan didalam penatalaksanaan AB pada ibu-ibu hamil ialah disamping untuk keselamatan ibunya sendiri adalah juga untuk keselamatan janin. Oksigenasi pada janin hendaknya dipertahankan supaya adekuat, obat-obatan hendaknya dipilih yang bias menjamin keselamatan janin didalam kandungan.

Pengaruh Obat-obatan Anti Asma Terhadap Kehamilan

Bermacam-macam obat-obatan yang dipakai didalam penatalaksanaan AB. Sebagian diantaranya tidak mempunyai pengaruh yang merugikan terhadap kehamilan, namun sebagian lagi diantaranya dapat memberikan pengaruh yang sebaliknya sehingga pemakaiannya harus hati-hati dan hanya atas indikasi-indikasi tertentu saja.

Golongan Xanthin

Golongan yang luas dipakai adalah aminofilin dan teofilin. Cara kerja kedua jenis obat ini adalah sebagai bronkodilator yang langsung bekerja pada otot-otot bronkus dengan jalan menghambat kerja enzim fosfodisterase. Aminofilin dan teofilin merupakan obat yang cukup aman bagi ibu hamil dengan AB. Pada dosis terapeutik tidak terbukti bahwa obat-obat ini berbahaya pada ibu atau janin bahkan pada beberapa penelitian dapat ditunjukkan adanya penurunan yang bermakna daripada insidens respiratory distress syndrome pada bayi-bayi dari ibu yang mendapat aminoflin dibandingkan dengan yang tidak.

Golongan simptomatik

Obat-obatan dari golongan ini adalah adrenalin, efedrin, isoprenalin, terbutalin, salbutamol, orsiprenalin dan sebagainya. Obat-obat ini bekerja sebagai anti asma melalui perangsangan terhadap reseptor simpatis. Respetor simpatis ada 2 A dan B. Reseptor ini tersebar di seluruh tubuh, ada organ yang hanya memiliki 1 jenis reseptor, misalnya jantung, respetor B1, otot-otot bronkus reseptor B2, pembuluh darah respetor A, arteriol kulit, mukosa, dan otak, respetor A, dan adapula organ-organ yang memiliki lebih dari 1 repseptor.

Adrenalin

Selain merangsang reseptor B1 dan B2 juga merangsang reseptor A, sehingga selain merangsang bronkus, obat ini pula merangsang jantung, pembuluh darah dan lain-lain. Untuk mencegah efek samping, maka dianjurkan untuk mempergunakan dosis terkecil yang masih memberikan dilatasi bronkus yang optimal. Selain itu obat ini juga memberikan efek kontriksi pembuluh darah mukosa bronkus, sehingga mengurangi edema dan kongesti saluran nafas. Adrenalin juga menyebabkan penurunan sementara perfusi uterus yang menyebabkan fetal distress. Pemakaian pada umur kehamilan dibawah 4 bulan harus dihindari karena ditemukan kasus-kasus malformasi janin, tetapi belum diketahui secara pasti.

Efedrin

Farmakodinamik efedrin mirip adrenalin, namun mulai kurang dipakai karena efek bronkodilatornya kurang kuat. Pada dosis terapi sering memberikan efek samping yang jelas. Pada kasus-kasus dengan kehamilan, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat ini mengganggu kehamilan sehingga digolongkan aman untuk dipakai.

Obat-obat Beta Agonis

Seperti halnya terbutalin, orsiprenalin, heksoprenalin, salbutamol dan lain-lain mempunyai efek stimulasi terhadap adrenoseptor B2. Obat-obat golongan ini bekerja dengan meningkatkan siklik AMP melalui perangsangan reseptor B2 yang terdapat pada membran otot polos bronkus.

Dengan perangsangan ini maka aktifitas enzim adenisiklase meningkat sehingga perubahan-perubahan ATP menjadi siklik AMP bertambah. Belum diketahui efeknya terhadap janin, tetapi obat ini cukup aman dipakai pada kehamilan.

Akibat perangsangan pada reseptor B2 oleh obat ini, dapat menyebabkan relaksasi otot-otot uterus, sehingga menyulitkan jalannya persalinan, ataupun atonia uteri, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai pada hamil tua, saat inpartu ataupun masa nifas.

Sodium Kromoglikat

Cara kerja obat ini dengan menghambat pelepasan mediator humoral daripada sel mast, sehingga baik mencegah serangan asma. Obat ini tidak menyebabkan kelainan pada janin ataupun ibu, sehingga nampaknya tidaklah berbahaya. Namun demikian pemakaian pada ibu-ibu hamil datanya belum cukup banyak.

Kortikosteroid

Kortikosteroid bukan merupakan bronkodilator. Obat-obat ini umumnya digunakan pada AB yang berat. Kortikosteroid memiliki efek anti alergi dan anti inflamasi juga dapat meningkatkan otot polos bronkus yang refrakter terhadap stimulan adrenoseptor B2.

Pada kehamilan kadar kortisol lama ibu meningkat, dan hanya sebagian kecil saja yang melewati plasenta ke dalam sirkulasi janin dan segera perubahan menjadi bentuk inaktif. Prednisone dan prednisolon menembus plasenta dalam kadar yang sangat kecil kira-kira 1/10 kadar plasma ibu, dan hal ini konsisten dengan penemuan-penemuan bahwa sangatlah jarang terjadi supresi pertumbuhan kelenjar adrenal janin pada ibu-ibu hamil yang mendapat obat ini.

Antihistamine, Ekspektoran dan Antibiotika

Walaupun secara langsung bukan sebagai obat asma, namun sering digunakan pada penderita-penderita AB. Dipenhidramin, tripilinamin, feniramin, klorfeniramin, fenilefrin merupakan obat-obat yang dapat dipergunakan secara aman pada ibu-ibu hamil.

Ekspektoran terkecuali yang mengandung yodium juga aman dipakai. Diantara antibiotik, penisilin merupakan obat obat yang paling aman pada kehamilan. Eritromisin belum banyak diteliti, namun beberapa hasil penelitian yang ada ternyata juga aman dipakai, sedangkan tetrasiklin hendaknya jangan dipakai karena terbukti dapat menyebabkan kerusakan pada gigi, hati dan tulang dari janin.

Pengaruh obat-obat pertolongan persalinan terhadap asma bronkial

Beberapa jenis obat-obatan yang sering dipergunakan di dalam pertolongan persalinan secara farmakologis mempunyai potensi untuk mempengaruhi perjalanan AB.

Prostaglandin

Merupakan obat yang dapat dipergunakan untuk mengadakan induksi abortus pada kasus-kasus abortus terapiutis, induksi persalinan, induksi haid dan lain-lain sehubungan dengan khasiatnya dapat menyebabkan kontraksi dari otot-otot polos dari uterus. Prostaglandin F2alfa dan E2 juga mempunyai efek sebagai bronkokonstriktor sehingga berakibat meningkatkan pulmonary resistance, sehingga memperberat Asma, oleh karena itu pemakaian obat ini pada penderita AB akan berbahaya sehingga patut dihindari.

Obat-obat anestesi

Anestesia sering-sering diperlukan pada berbagai macam kasus ginekologik maupun obstetrik, Dietil eter mempunyai efek bronkodilatasi namun sangat iritatif terhadap mukosa bronkus sehingga dapat menyebabkan bronkokorea yang berlebihan,sedangkan sikopropan dapat menyebabkan bronkospasmus. Nitrous oksid dan halotan mempunyai efek bronkolitik sehingga dalam hal ini obat tersebut merupakan obat-obat pilihan. Disamping itu anestesi epidural, saddle block, pudendal bock ataupun anestesi lokal dapat digolongkan sebagai cara anestesi yang aman untuk penderita-penderita AB.

Penatalaksanaan Asma Bronkial pada kehamilan

Pada dasarnya penatalaksanaan Ab pada kehamilan tidaklah berbeda dengan penatalaksanaan AB pada umumnya, namun di dalam beberapa hal peru perhatian-perhatian khusus yang menyangkut keselamatan ibu dan janin, utamanya di dalam pemilihan obat-obat yang akan dipergunakan dan mencegah penyakitnya berlarut-larut untuk mencegah kemungkinan terjadinya hipoksia pada anak.

Penderita Rawat Jalan

Penderita dengan serangan AB yang ringan dapat dirawat sebagai penderita rawat jalan. Hal yang paling penting pada penderita-penderita ini adalah mencegah supaya serangan AB jangan timbul dan jangan menjadi berat, sehingga di dalam hal ini sangat perlu mengidentifikasi serta mengeliminir faktor-faktor presipitasi seperti infeksi saluran nafas, inhalasi alergen, bahan-bahan iritatif, stress emosional dan sebagainya. Sodium kromoglikat dapat merupakan obat obat yang terpilih di dalam usaha pencegahan ini disamping eliminasi faktor-faktor presipitrasi.

Pada serangan AB yang ringan , teofilin peroral atau rektal dapat merupakan pilihan atau kalau perlu aminofilin intravenous 250 – 500 mg secara bolus pelan-pelan atau isopreterinol inhalasi atau nebulizer, atau adrenalin subkutan 0,2-0,5 ml yang dapat diulang dalam 15 sampai 30 menit kemudian.

Pada penderita steroid dependent asthma, prednisone, prednisolon merupakan obat yang terpilih. Beklometason dipropionat periinhalasi juga dapat diberikan untuk menggantikan prednisone atau untuk mengurangi kebutuhan terhadap prednisone.

Penderita Rawat Inap

Diperuntukkan penderita dengan Ab yang berat atau status asthmaticus. Diberikan aminofilin IV 250-500 mg secara bolus pelan-pelan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian aminoflin perinfus IV dengan dosis 0,9 mg/kg BB/hari. Hidrokortison sodium suksinat diberikan 100-200 mg IV/4-6 jam, oksigen melalui kateter hidung, cairan dan elektrolit yang cukup dan eliminasi faktor-faktor presipitasi.

Apabila perlu ditambahkan dengan obat-obat golongan beta agonis dalam hal ini yang telah banyak dipergunakan pada kasus dengan kehamilan adalah terbutalin peroral 2.5 – 5 mg/8 jam.

Pada penderita Ab yang inpartu perlu mendapat pengobatan dan pengawasan seksama, karena sangat sering AB yang semula ringan menjadi berat saat inpartu, atau pada saat kehamilan AB tidak pernah menyerang, saat inpartu AB menyerang.

Penatalaksanaan sesuai dengan berat ringannya AB, dengan pengawasan yang seksama terhadap perkembangan penyakit. Dalam keadaan ini perlu diingat bahwa obat-obat adrenalin dan beta agonis mempunyai efek yang tidak menguntungkan sehingga pemakaiannya harus dihindari.

Perhatian khusus perlu pula diberikan terhadap penderita-penderita dengan riwayat steroid dependent asthma yang inpartu. Diperlukan pemberian kortikosteroid eksogen yang adekuat, yang maksudnya memberikan konsentrasi yang cukup dari hormon ini untuk menghadapi stres pada saat partus, dan mencegah eksaserbasi AB inpartu. Untuk maksud ini, sejak dimulainya inpartu diberikan hidrokortison 100 mg intramuskuler setiap 8 jam selama 24 jam atau lebih sesuai keadaan.

Referensi+

Hidrosefalus : Pengertian, Patogenesis, Penyebab & Asuhan Keperawatan

Pengertian Hidrosefalus

Bayi HidrosefalusHidrosefalus adalah peningkatan akumulasi cairan serebrospinal (CSS) dalam ventrikel otak.

Patofisiologi/Patogenesis Hidrosefalus

Hidrosefalus terjadi dari aliran CSS yang terhalang atau ketidakseimbangan antara produksi dan reabsorpsi CSS. Ada peningkatan tekanan intrakranial, dan ukuran kepala normal meningkat jika sutura dan fontanel belum tertutup.

Etiologi/Penyebab Hidrosefalus

Aliran CSS yang mengalami obstruksi merupakan jenis yang paling sering terjadi pada hidrosefalus. Penyebabnya dapat dihasilkan dari anomali pertumbuhan, tumor, abses, atau trauma, dan terjadi pada sekitar 80% dari bayi dengan myelomeningocele. Sedangkan hidrosefalus dengan produksi dan reabsorpsi CSS yang terganggu, dapat disebabkan dari tumor atau infeksi seperti meningitis.

Manifestasi Klinis/Gejala Hidrosefalus

Tanda dan gejalanya hidrosefalus dilihat dari peningkatan TIK dan berbeda-beda sesuai usia anak dan kemampuan tengkorak untuk mengembang. Pada bayi terjadi peningkatan abnormal pada lingkar kepala, ubun-ubun menonjol, pembesaran dahi, sunset eyes awamnya diistilahkan mata turun (sklera terlihat di atas iris mata), pupil lamban, suara tangis tinggi, lekas marah, dan opistotonus (kepala dan tubuh melengkung). Pada anak dan dewasa mengalami sakit kepala dan mual ketika bangun (nyeri berkurang setelah muntah), papilledema, strabismus, ataksia, dan kebingungan.

Gejala Hidrosefalus

Adapun gejala yang dialami oleh penderita hidrosefalus sangat berbeda untuk setiap orang, baik itu pada bayi, anak-anak dan orang yang lebih dewasa.

Lebih lanjut tentang bagaimana gejala hidrosefalus? baca selengkapnya di sini » Gejala Hidrosefalus.

Proses Operasi Bedah Hidrosefalus

Mengenai penatalaksanaan operasi bedah pasien hidrosefalus dilakukan shunt yaitu dengan pemasangan pirau PV (peritoneal ventrikular).

Untuk operasi bedah lebih lengkapnya, baca halaman berikut ini » Operasi Bedah Hidrosefalus.

Makalah Asuhan Keperawatan Hidrosefalus

Ini adalah salah satu contoh artikel atau makalah mengenai asuhan keperawatan hidrosefalus (ASKEP) dalam bentuk file DOC.

Orgasme Wanita : 3 kategori, Jenis & Cara Mencapai Titik Puncak (The Big O)

Ketahui dan pahami bagaimana cara pasangan wanita Anda mencapai orgasme, maka dia akan menjadi sex slave Anda selamanya.
Kebanyakan kaum adam sering ngomong besar mengenai kehebatan kegiatan tempat tidur mereka, dan para wanita tahu bahwa jika tiba saatnya harus menanggalkan baju bersama pasangannya, adalah juga impian pria untuk memberikan pasangannya orgasme maha dahsyat, sampai didengar tetangga kalo perlu. Dengan kata lain, para pria harus juga memikirkan pasangannya. Para wanita lebih sulit untuk ’menuju puncak’ dibandingkan pria, ada satu hal yang perlu diperhatikan: tidak ada satu trik jitu yang bisa diterapkan ke semua wanita.

Untuk mempelajari formula jitu yang dapat mengirim wanita anda menuju puncak kenikmatan, pertama anda harus mengetahui tipe mana pasangan wanita Anda. Setelah Anda mengerti segi fisiologi dan psikologi dari pasangan wanita Anda, dijamin Anda akan dapat memberikan kepuasan yang tidak ada tandingannya dan menjadi pahlawan baginya.

Ada tiga kategori wanita dalam hal orgasme, sebut saja Easy O, Magic O dan Difficult O. Tipe mana wanita Anda? Mari kita lihat.

The Easy O

Bagi sebagian wanita beruntung ini, mereka bisa mencapai orgasme segampang Anda, dengan sedikit atau malah tanpa bantuan jari-jemari Anda. Kedengarannya memang bagus, akan tetapi… pertanyaannya adalah bagaimana memberikan pasangan Anda orgasme yang dahsyat jika orgasme itu sendiri sudah tidak asing lagi baginya? Tentu Anda tidak ingin mereka hanya menganggap bahwa itu adalah sesi seks biasa, yang terpenting adalah bagaimana orgasme yang mereka dapatkan tidak akan pernah mereka lupakan.

Jika Anda dapat membuat dia melayang dalam waktu kurang dari lima menit, cobalah untuk menundanya dengan variasi ritme stimulasi yang Anda berikan. Misalnya kalian selalu menggunakan posisi missionary ketika pasangan hampir ‘keluar’ balikkan dia untuk posisi doggy style, walapun posisi ini biasanya tidak terlalu terasa bagi wanita, maka balikkan lagi menjadi posisi berhadapan. Maka doi akan orgasme besar. Dan dia akan berbisik di telinga Anda “Kamu hebat sekali!”. Tetapi hati-hati, pastikan dia adalah type Easy O sebelum Anda memakai tekhnik penundaan ini, kalau dia ternyata tipe yang susah untuk orgasme, ketika dia sedang menikmatinya, lalu anda mengubah-ubah posisi, maka sia-sialah usaha anda untuk memuaskan dia dan Anda harus memulai dari awal lagi.

Magic O

Wanita tipe ini kadang-kadang malu untuk mengungkapkan bahwa dia memerlukan suatu perhatian khusus dibagian yang khusus pula karena takut dicap sebagai wanita aneh karena hanya bisa mendapatkan orgasme jika mendapat stimulasi ditempat itu. Untuk membuat dia merasa aman, jangan Anda berpandangan aneh mengenai hal ini. Perasaan nyaman dan rileks yang tepat sangatlah penting saat seorang wanita ingin berbagi perasaan dengan Anda. Tanyakan langsung kepadanya “Bagaimana saya bisa memberikan orgasme paling enak ?” Dan “Bagaimana saya bisa membuat kamu ‘keluar’ dengan cepat ?”. Tentu dia akan memberikan dengan detail apa yang harus anda lakukan misalnya dilakukan dengan lidah atau dengan jari-jari anda. Pasangan anda pasti akan merasakan orgasme yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Jika Anda berhasil menemukan cara baru untuk membuat dia mancapai klimaks, dia pasti tiba-tiba melakukan apasaja yang anda minta.

“100% dari bintang film porno dapat mencapai orgasme tanpa stimulasi langsung terhadap klitoris mereka”
~ Sumber: Majalah Dewasa

Difficult O

Wah wanita ini mungkin hanya bisa merasakan orgasme jika semua planet di tatasurya berada dalam satu garis. Tetapi dia sangat mengetahui keterbatasannya, jika dia tidak merasakan orgasme bukan berarti dia tidak having fun. Yang penting bagi Anda, dia tidak menyalahkan Anda atau berpikir ada yang salah dari Anda. So jangan terlalu mengganggu mengenai hal ini yang akan membuat dia lebih stress dan orgasme menjadi sesuatu yang akan semakin tidak mungkin baginya.

Tekad Anda untuk menjadi pahlawan atas ketertutupannya dan mengirim dia ke bintang-bintang sangat dibutuhkan. Membuat dia jadi rileks jadi hal yang utama. Artinya Anda harus memberitahu dia bahwa anda benar-benar care untuk memuaskan dia. Tidak ada jurus khusus, jelajahi setiap lekuk tubuhnya dan jangan berhenti mengatakan bagaimana Anda sangat sayang kepadanya. Semakin dia merasa nyaman dengan Anda, semakin mudah baginya merasakan orgasme sampai akhirnya dia benar-benar orgasme. Keuntungan dari kesabaran anda untuk membuat dia mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan, pasangan anda akan menyembah-nyembah Anda. Anda telah berhasil menunjukkan kepadanya rahasia kenikmatan the big O.

Puisi Putus Cinta : Suck Misery

Puisi berjudul Suck Misery buat para orang-orang yang lagi sakit hati.. Siapa yang tidak pernah sakit hati? apalagi sakit hati karena selingkuh atau ditinggalkan cinta orang kesayangan.

Suck Misery

from here i always sending code
cover up the real situation
just follow a little adventure
lookin for a pieces
under f**kin’ misery life!

hope seeing in the crowded place
seein’ thing that I know can’t be

just to got a better glimpse

black…white…
i want more than a distinguishtic only
ignore a tear from my sight
black…white…begging u, i want it!

as a pieces that in the past i need
a pieces that i miss
a pieces that miss me

a pieces who possibly now dump me!

Penyakit Gagal Ginjal Akut : Pengertian, penyebab, gejala, dan pengobatan

Dalam artikel kedokteran kali ini mengenai pembahasan definisi gagal ginjal akut, epidemiologi, penyebab gagal ginjal akut, tanda dan gejala gagal ginjal akut, serta pemeriksaan dan pengobatan gagal ginjal akut (GGA).

PENGERTIAN GAGAL GINJAL AKUT
Pengertian dari gagal ginjal akut adalah peningkatan kecil dalam konsentrasi kreatinin serum (misalnya dari 44,2 mikromol / L). Dengan tidak adanya definisi universal, gagal ginjal akut sering didefinisikan sebagai penurunan signifikan dalam fungsi ginjal yang terjadi selama jam atau hari. Mungkin tidak ada gejala atau tanda, tetapi oliguria (volume urine kurang dari 400 ml/24 jam) adalah yang paling umum. Ada akumulasi produk limbah cair dan nitrogen ditunjukkan oleh kenaikan ureum dan kreatinin darah.

ETIOLOGI GAGAL GINJAL AKUT
Mekanisme gagal ginjal akut terjadi dari:

  • Buruknya perfusi ginjal (prerenal)
  • penyakit ginjal intrinsik
  • Obstruksi saluran kemih (postrenal)

Penyebab gagal ginjal akut
Prerenal

  • Volume deplesi (muntah yang parah misalnya atau diare, luka bakar, diuretik tidak pantas)
  • Hipotensi (misalnya trauma, perdarahan gastrointestinal)
  • Kardiovaskular (misalnya gagal jantung yang berat, aritmia)
  • Obat yang mempengaruhi perfusi ginjal (NSAIDs misalnya, media kontras, ciclosporin, ACE inhibitor)
  • Hepatorenal syndrome.

Intrinsik

  • nekrosis tubular akut setelah iskemia berkepanjangan
  • nephrotoxins (aminoglikosida misalnya, mioglobin, cisplatin, logam berat, rantai ringan di ginjal myeloma)
  • nefritis interstisial akut karena obat, infeksi atau penyakit autoimun
  • Kerusakan glomerulus (glomerulonefritis bulan sabit misalnya, vaskulitis, sindrom hemolitik uremik)
  • Kerusakan vaskular (misalnya oklusi arteri ginjal, trombosis vena ginjal, emboli kolesterol, skleroderma ginjal, hipertensi maligna).

Postrenal

  • ureter obstruksi (misalnya kalkuli ginjal, tumor, bekuan darah, fibrosis retroperitoneal)
  • obstruksi kandung kemih (misalnya hipertrofi prostat, karsinoma kandung kemih)

EPIDEMIOLOGI GAGAL GINJAL AKUT
Gagal ginjal akut adalah umum, tetapi kejadian tergantung pada definisi yang digunakan dan populasi yang diteliti. Dalam sebuah studi berbasis masyarakat di Inggris, ada 172 kasus per juta orang dewasa per tahun gagal ginjal akut berat (konsentrasi kreatinin serum lebih besar dari 500 mikromol / L), dengan 22 per juta dialysis akut yang menerima. Gagal ginjal akut adalah jauh lebih umum pada orang tua. GGA prerenal dan nekrosis tubular akut iskemik terjadi 75% dari kasus gagal ginjal akut.

Faktor Risiko Orang dengan kondisi komorbiditas berikut berada pada risiko tinggi:

  • Hipertensi
  • gagal jantung kongestif
  • Diabetes
  • Myeloma
  • Infeksi Kronis
  • Myeloproliferative gangguan.

GEJALA & TANDA GAGAL GINJAL AKUT
Presentasi Gagal Ginjal Akut
Presentasi akan tergantung pada penyebab yang mendasari dan tingkat keparahan gagal ginjal akut. Indikasi pertama mungkin ureum dan kreatinin pada tes darah pasien dengan gejala non-spesifik dan tanda-tanda.

Gejala Gagal Ginjal Akut
Output urine:
anuria

  • Tiba-tiba menunjukkan suatu obstruksi akut, glomerulonefritis akut dan berat, atau oklusi arteri ginjal akut.
  • penurunan bertahap output urin dapat menunjukkan striktur uretra atau obstruksi kandung kemih, misalnya hiperplasia prostat jinak .
    Mual, muntah
    Dehidrasi
    Kebingungan.

Tanda Gagal Ginjal Akut

  • Hipertensi
  • Abdomen: dapat mengungkapkan kandung kemih, retensi urin kronis
  • Dehidrasi dengan hipotensi postural dan tidak ada edema
  • Cairan yang berlebihan, edema paru dan edema perifer
  • Pucat, ruam, memar, petechiae, purpura, dan pendarahan hidung mungkin penyakit inflamasi atau pembuluh darah, emboli atau koagulasi intravaskular diseminata.
  • perikardial menggosok.

PENGOBATAN & DIFFERENTIAL DIAGNOSIS GAGAL GINJAL AKUT
Gagal ginjal kronis:

  • Anemia, penurunan kalsium dan fosfat mengangkat dapat berkembang dalam beberapa hari sehingga kehadiran mereka tidak selalu membantu membedakan GGA dari GGK, tapi ketidakhadiran mereka menunjukkan GGA.
  • Membuat perbedaan antara gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis bisa sangat sulit. Sebuah riwayat gejala kelelahan kronis, penurunan berat badan, anoreksia, nokturia, dan pruritus, semua menunjukkan gagal ginjal kronis. Tes darah yang sebelumnya abnormal juga dapat memberikan bukti untuk gagal ginjal kronis.
  • Renal ultrasound: secara akut pada gagal ginjal kronis, kelainan ginjal, seperti ginjal kecil di glomerulonefritis kronis atau kistik ginjal yang besar pada penyakit ginjal polikistik dewasa, akan hampir selalu hadir.

Akut pada gagal ginjal kronis
Pemeriksaan
Penilaian fungsi ginjal

  • urea Serum adalah penanda fungsi ginjal, karena itu bervariasi secara signifikan dengan diet hidrasi, tidak diproduksi terus-menerus dan itu diserap oleh ginjal.
  • Serum kreatinin juga memiliki keterbatasan yang signifikan. Tingkat dapat tetap dalam batas normal meskipun kehilangan lebih dari 50% dari fungsi ginjal.
  • Sebuah pengukuran standar terbaik adalah GFR isotop, tapi ini mahal dan tidak tersedia secara luas.
  • GFR dapat diperkirakan dengan menggunakan Modifikasi 4-variabel Diet dalam Penyakit Ginjal (MDRD) equation.
  • GFR (mL/min/1.73 m2) = 186 x [(Serum Kreatinin micromol/l/88.4) -1,154] x [umur (tahun) -0,203] x 0,742 jika perempuan, dan x 1,21 jika Amerika Afrika.
  • tabel Prediksi – dapat digunakan untuk memperkirakan GFR dari serum kreatinin, umur, jenis kelamin dan etnis atau dengan menggunakan kalkulator GFR online berdasarkan persamaan ini

Urinanalisis dan mikroskop:

  • Tubular sel atau gips menunjukkan nekrosis tubular akut.
  • Glomerulonefritis: urin coklat dengan hemoglobin atau mioglobin. Biasanya menyebabkan gambar nephritic, dengan sel darah merah yang mungkin dismorfik, sel darah putih dan sel darah merah gips.
  • Proteinuria – mungkin nefritis interstitial akut, nekrosis tubular dan penyakit pembuluh darah.

Osmolalitas Urine :
Osmolaritas – urin lebih dari 500 mOsm / kg jika penyebabnya adalah pra-renal dan 300 mOsm / kg atau kurang jika dari ginjalnya sendiri.
Pasien – dengan nekrosis tubular akut kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi dan mencairkan urine.

Elektrolit:

  • Dapat memberikan indikasi aktivitas tubulus ginjal. Dalam pra-gagal ginjal, natrium urin cenderung di bawah 20 mmol / L (cenderung di atas 40 mmol / L dalam nekrosis tubular akut), osmolalitas urin cenderung di atas 500 mosm / L (cenderung di bawah 350 di ATN ), urine / plasma urea cenderung berada di atas 8 (di bawah 3 di ATN) dan urin / kreatinin plasma cenderung berada di atas 40 (di bawah 20 di ATN).
  • pecahan ekskresi natrium – Fractional excretion of sodium (FEnA)
  • Rumusnya adalah: (Urine Na / Na plasma) / (urin kreatinin / kreatinin plasma) x 100.
  • Hal ini dapat menyesatkan jika digunakan diuretik atau jika tidak ada oliguria.
  • Angka ini biasanya di bawah 1% jika penyebabnya adalah pra-renal dan lebih dari 2% jika renal.
  • Namun dalam nefropati disebabkan oleh media kontras radiologi dan luka bakar yang parah, ekskresi fraksional natrium biasanya akan berada di bawah 1%.

Tes darah

  • Gambaran darah dan darah lengkap: mungkin menunjukkan anemia hemolitik atau trombositopenia.
  • Darah urea, elektrolit dan kreatinin
  • Tes fungsi hati: abnormal pada sindrom hepatorenal
  • Serum amilase
  • Kultur darah
  • Imunologi: tes autoantibody untuk SLE termasuk antinuclear antibodi, antibodi sitoplasma antineutrophil, anti-glomerular basement membran, antistreptolycin O titer (ASOT).
  • Serum dan elektroforesis urin.

EKG:

ginjal ultrasound: penelitian yang cepat dan non-invasif yang dapat membantu mendeteksi obstruction. X-ray: rontgen dada (paru edema), perut x-ray jika batu ginjal diduga. Kontras studi seperti IVU dan angiografi ginjal harus dihindari karena risiko nefropati kontras.

Doppler USG dari arteri dan vena ginjal: untuk penilaian oklusi kemungkinan arteri dan vena ginjal.

Magnetic resonance angiography: untuk penilaian lebih akurat oklusi pembuluh darah ginjal.

Biopsi ginjal.
Manajemen daftar NSF sejumlah penanda praktik yang baik. Berkaitan dengan gagal ginjal akut ini adalah identifikasi sebagian besar dengan rujukan yang cepat untuk pengobatan yang tepat.

Kontrol keseimbangan cairan yang akurat (hindari volume overload atau penipisan)
Pengukuran – Akurat output urin sangat penting untuk mencegah overload volume atau deplesi.

  • Kebanyakan pasien oliguri dan umumnya harus disediakan dengan volume cairan yang sama dengan output pada hari sebelumnya, ditambah setidaknya tambahan 500 mL jika demam ada.
  • Situasi dapat berubah dengan cepat dan penilaian klinis harian, pengukuran berat badan dan pemantauan CVP diperlukan.
  • Diuretik – tidak mengubah arah atau hasil dari GGA namun diuretik dosis tinggi dapat mengkonversi oliguri GGA untuk non-oliguri GGA, yang bermanfaat jika dialysis tidak tersedia. Dosis frusemid mungkin harus di ratusan miligram per hari. Ada angka kematian meningkat pada mereka yang menerima diuretik tetapi hal ini mungkin mencerminkan tingkat keparahan penyakit dibandingkan efek yang merugikan. Peran diuretik membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
  • Edema paru: dibutuhkan oksigen konsentrasi tinggi, morfin IV, dosis IV tinggi (250 mg) frusemid diberikan lebih dari 1 jam. Juga mungkin memerlukan hemodialisis mendesak atau hemofiltrasi, saluran napas tekanan ventilasi poisitif dan venaseksi (100-200 mL) jika pasien berada dalam extremis.
  • Jika ada hipotensi baik noradrenalin dan vasopresin mungkin menguntungkan.
  • Tidak ada bukti untuk penggunaan dosis rendah infus dopamin.

Pengukuran serum elektrolit harian, pembatasan kalium dan natrium, serta dukungan nutrisi
Pembatasan Kalium – hampir selalu diperlukan dan biasanya terbatas kurang dari 50 mmol / hari.

  • Hiperkalemia akut dapat ditangani dengan dextrose / insulin infus dan kalsium glukonat.
  • Kalium-mengikat resin digunakan jika dialysis tidak segera tersedia.
  • Asupan Natrium harus dibatasi sekitar 80 mmol / hari, tergantung pada kerugian.
  • Asidosis dapat dibatasi oleh pembatasan protein, meskipun asupan harian setidaknya sekitar 1 g protein kualitas tinggi per kilogram berat badan diperlukan untuk mempertahankan nutrisi yang cukup.
  • Hal ini penting untuk mempertahankan gizi yang memadai, sebaiknya melalui rute enteral, tetapi menggunakan nutrisi parenteral jika perlu.
  • Ekskresi fosfat terganggu pada gagal ginjal dan pembatasan diet sangat diperlukan. Gagal ginjal dengan suplementasi poliuria intravena cairan, kalium dan fosfat.
    Keseimbangan Nitrogen – dapat menjadi kompleks, terutama dengan keadaan hiperkatabolik dan perdarahan gastrointestinal, dan diare.
  • Natrium bikarbonat dapat digunakan untuk mengobati asidosis, tetapi dapat memperburuk kelebihan natrium.

Pencegahan infeksi

  • Pasien – pada gagal ginjal rentan terhadap infeksi.
  • Sepsis – menyebabkan 30% sampai 70% dari kematian pada pasien dengan nekrosis tubular akut. Oleh karena itu kontrol ketat sepsis sangat penting, menghindari infus, kateter kandung kemih, dan respirator dianjurkan.

Gangguan hemostasis: perdarahan aktif membutuhkan:

  • plasma beku segar dan trombosit
  • Transfusi darah
  • desmopressin intravena : meningkatkan aktivitas faktor VIII koagulan. Untuk mempersingkat waktu perdarahan berkepanjangan. Dosis berulang memiliki efek yang lebih rendah.

Pencegahan perdarahan gastrointestinal
– Perdarahan gastrointestinal adalah penyebab potensial morbiditas pada GGA, penanganan profilaksis untuk mengurangi sekresi asam yang pada umumnya diindikasikan.

Hati-hati dosis obat dan menghindari obat nefrotoksik
Dosis – harus disesuaikan dan dipantau sesuai tingkat obat .
– obat nefrotoksik seperti NSAIDs dan aminoglikosida, harus dihindari.

Pengobatan spesifik dari penyakit ginjal yang mendasari intrinsik bila sesuai

  • trombosis akut arteri ginjal (dari ginjal berfungsi tunggal) dapat diobati dengan pembedahan, atau dengan angioplasty dan stenting.
  • Dalam rhabdomyolysis dengan myoglobulinuria, diuresis alkalin dapat mencegah perkembangan gagal ginjal yang parah, tetapi harus dilakukan dengan hati-hati pada pasien oliguri.
  • Nefritis – tubulointerstitial akut dapat direspon dengan kortikosteroid dosis tinggi, meskipun tidak ada uji coba terkontrol telah dilakukan untuk mendukung pendekatan ini.
  • GGA akibat glomerulonefritis bulan sabit dapat direspon pdengan prednisolone dan cyclophosphamide, bersama dengan penambahan pertukaran plasma.
    sindrom hemolitik uremik – dapat direspon dengan pertukaran plasma dengan plasma beku segar.

Dialisis atau hemofiltrasi

  • Pada pasien oliguri atau anuria, asupan cairan yang dibutuhkan uumumnya berarti dialisis yang akan diperlukan.
  • Peritoneal dialisis biasanya hanya dilakukan saat hemodialisis tidak tersedia.
  • Pada pasien yang hemodinamik stabil, teknik dialisis terus menerus (misalnya haemodiafiltration) ditoleransi lebih baik daripada hemodialisis intermiten dan memungkinkan kontrol yang lebih efektif untuk keseimbangan cairan.
  • Indikasi untuk dialisis pada gagal ginjal akut
  • Kehadiran tanda klinis uremia (misalnya perikarditis gastritis, hipotermia, ensefalopati)
  • Retensi cairan menyebabkan edema paru: ketidakmampuan untuk mengurangi volume berlebih dengan diuretik dengan volume urine dibawah 200 ml dalam 12 jam
  • hiperkalemia parah (kalium diatas 6.5mmol / L) tidak responsif terhadap manajemen medis
  • Serum natrium diatas 155mmol / L atau di bawah 120 mmol / L
  • gangguan asam-basa yang parah (pH di bawah 7,0) yang tidak dapat dikontrol oleh natrium bikarbonat
  • Parah gagal ginjal (urea lebih dari 30 mmol / L, kreatinin lebih dari 500 mikromol / L.
  • Toksisitas dengan obat yang dapat didialisis.

PROGNOSIS GAGAL GINJAL AKUT

  • Prognosis erat kaitannya dengan penyebab yang mendasari. Pada gagal prerenal, koreksi penurunan volume, menggunakan pemantauan tekanan vena sentral bila perlu, harus menghasilkan pemulihan yang cepat dari fungsi ginjal. Namun, setelah ATN telah berkembang, dan penyebab lain dari GGA, pasien akan sering oliguri selama beberapa hari atau minggu.
  • Jika tidak ada hasil yang signifikan dari fungsi ginjal dalam waktu 6 sampai 8 minggu ini biasanya berarti bahwa ada tahap akhir gagal ginjal tetapi pemulihan jarang terlambat dapat terjadi.
  • Survival pada GGA tergantung pada penyebabnya, dan kematian tetap tinggi (40-80%) pada pasien dengan gagal organ multiple. Kematian adalah kemungkinan jika GGA dikaitkan dengan kegagalan lebih dari tiga systems organ lainnya.
  • Pada pasien GGA di masyarakat, angka kematian jauh lebih rendah (10-30%).
  • Prognosis ditingkatkan dengan penanganan yang cepat dan agresif. Ini termasuk mengoreksi penyebab prerenal seperti hipovolemia atau memasukkan stent pada obstruksi post renal.
  • Pasien yang membutuhkan dialisis memiliki angka kematian lebih tinggi tapi ini adalah refleksi dari kondisi daripada hasil pengobatan.
  • Pemulihan dari glomerulonefritis adalah variabel. Pasien biasanya pulih jika diobati dini, namun kemungkinan akan tetap tergantung pada dialisis jika dirawat terlambat atau tidak cukup.
  • Dalam pengaturan perawatan intensif, angka kematian bervariasi dari 7,5% menjadi 40% dan di luar perawatan intensif dari nol sampai 17%.
  • The Acute Physiology and Chronic Health Evaluation II (APACHE II) suati sistem penilaian untuk mengindikasikan prognosis. Pada mereka yang memiliki skor antara 10 dan 19 angka kematian adalah 60%, tetapi dengan skor di atas 40 mendekati 100%.
  • istem lain untuk membantu mengindikasikan prognosis dan membantu klasifikasi untuk tujuan penelitian disebut RIFLE dan dikembangkan oleh Acute Dialysis Quality Initiative Workgroup. Yang 3 item pertama adalah resiko, cedera dan kegagalan. Dua yang terakhir adalah outcomes atau Loss and End-stage renal failure..
  • Indikator prognosis buruk termasuk usia yang lebih tua, gagal organ multiple, oliguria, hipotensi, jumlah transfusi dan gagal ginjal kronis yang akut.