Penanggulangan Reaksi Transfusi

Pemberian tindakan transfusi tidak selalu berjalan dengan baik. Oleh karena itu diperlukan tindakan tertentu untuk penanggulangan reaksi transfusi. Berikut beberapa tindakan yang perlu Anda ketahui jika terjadi reaksi transfusi:

1. Stop transfusi
2. Naikkan tekanan darah dengan koloid, kristaloid, jika perlu tambahan vasokonstriktor, inotropik.
3. Berikan oksigen 100%
4. Diuretik manitol 50 mg atau furosemid 10-20 mg.
5. Antihistamin.
6. Steroid dosis tinggi.
7. Jika perlu exchange transfusion
8. Periksa analisa gas dan pH darah.

Komplikasi Transfusi Darah

Komplikasi Transfusi Darah
1. Reaksi Hemolitik
Kekerapan terjadinya 1:6000 akibat destruksi eritrosit donor oleh antibodi resipien atau sebaliknya. Jika transfusi < 5% volume darah, reaksi tak begitu gawat.

Pada pasien sadar ditandai oleh demam, menggigil,nyeri dada-panggul dan mual. Pada pasien dalam anestesi ditandai oleh demam, takikardi tak jelas asalnya, hipotensi, perdarahan merembes di daerah operasi, syok, spasme bronkus, dan selanjutnya Hb-uria, dan ikterus.

2. Infeksi
2.1. Virus (hepatitis, HIV, sitomegalovirus, HTLV)
2.2. Bakteri (stafilokokus, Yesteria, citrobacter)
2.3. Parasit (malaria)

3. Lain-lain
Demam, urtikaria, anafilaksis, edema paru non kardial, purpura, intoksikasi sitrat, hiperkalemia, dan asidosis.

Transfusi Sangat Darurat

Bagi pasien dengan perdarahan hebat, waktu yang diperlukan untuk uji silang lengkap terlalu lama atau tidak tersedia darah dengan golongan yang sama. Pilihan yang dapat diberikan adalah PRC golongan O tanpa uji silang (donor universal). Jika PRC O tidak ada, untuk resipien AB dapat diberikan golongan A atau B. Pasien bukan golongan O yang sudah mendapat transfusi O sebanyak > 4 unit, jika perlu transfusi lagi dalam jangka 2 minggu, masih harus tetap diberi golongan O, kecuali telah dibuktikan bahwa titer anti A dan anti-B nya telah turun <1/200. Berbeda dengan di Barat, hampir seluruh populasi Indonesia Rhesus (+) maka semua unit O dapat digunakan.(12)

Transfusi Darah Masif

Transfusi darah masif adalah pemberian darah yang dengan volume melebihi volume darah pasien dalam waktu 24 jam. Hal-hal yang mungkin terjadi adalah : (4,7,12)

1. Koagulopati
a. Trombositopenia
Terjadi setelah transfusi darah simpan lama lebih dari 80 ml/kgBB. Diatasi dengan pemberian trombosit bila jumlah trombosit <50.000/mm3 atau
memberi unit darah utuh segar setiap transfusi 4 unit darah simpan.
b. Turunnya faktor koagulasi labil (faktor V dan faktor VIII. Dapat diatasi dengan pemberian 1 unit FFP setiap transfusi 5 unit WB/PRC.

2. Keracunan Sitrat
Tubuh memiliki kemampuan yang besar untuk metabolisme sitrat, kecuali pada keadaan shock, penyakit hati, dan lanjut usia. Pada kasus ini dapat diberikan Calcium Glukonas 10% 1 gram IV pelan-pelan setiap telah masuk 4 unit darah.

3. Hiperkalemia
Kalium dalam darah simpan 21 hari dapat naik setinggi 32 mEq/L, sedangkan batas dosis infus kalium adalah 20 mEq/jam. Hiperkalemia menyebabkan aritmia sampai fibrilasi ventrikel/cardiac arrest. Untuk mencegah hal ini diberikan Calsium Glukonas 5 mg/kgBB I.V pelan-pelan. Maksud pemberian kalsium disini karena kalsium merupakan antagonis terhadap hiperkalemia.

Konsentrat Lekosit = Konsentrat Granulosit

Komponen ini dibuat dari seorang donor dengan metode pemutaran melalui hemonetic –30. Dengan alat ini darah dari donor dilakukan pemutaran terus-menerus, memisahkan dan mengumpulkan buffy coat yang banyak mengandung granulosit limfosit dan platelet kemudian dicampur dengan larutan sitrat sebagai antikoagulan yang akhirnya dilarutkan dalam plasma. (7,8)

Indikasi: (8,9)
1. Penderita neutropenia dengan febris yang tinggi yang gagal dengan antibiotik
2. Anemia aplastik dengan lekosit kurang dari 2000/ml
3. Penyakit-penyakit keganasan lainnya..

Kapan saat yang tepat untuk pemberian transfusi granulosit, masih belum pasti. Umumnya para klinisi menganjurkan pemberian transfusi granulosit pada penderita neutropenia dengan panas yang tinggi dan gagal diobati dengan antibiotik yang adekuat lebih dari 48 jam. Efek pemberian transfusi granulosit tampak dari penurunan suhu badan penderita terjadi pada 1-2 jam setelah transfusi.

Kriopresipitat

Komponen ini didapat dari pemisahan Fresh Frozen plasma yang dicairkan pada suhu 4oC melalui metode pemutaran dengan waktu dan kecepatan pemutaran tertentu kemudian diperoleh supernatan yang volumenya hanya 30-40 ml. Setiap unit kriopresipitat mengandung faktor VIII kira-kira 100-150 UI, fibrinogen 80 mg, plasma protein, dan faktor XIII. Jika disimpan pada suhu –30oC dapat bertahan selama 12 bulan. Bila akan dipakai, dicairkan pada suhu 4oC dan segera diberikan sebelum 6 jam.(7,8)

Kadar fibrinogen yang rendah ditemukan umumnya pada packed red cells .

ASA memberlakukan rekomendasi yang perlu dipertimbangkan pada pemakaian kriopresipitat : (2)
1. Profilaksis pada pasien perioperatif tanpa perdarahan atau pasien peripartum dengan defisiensi fibrinogen kongenital atau penyakit Von Willebrands.
2. Pasien-pasien perdarahan dengan penyakit Von Willebrand
3. Koreksi pasien-pasien perdarahan mikrovaskuler yang ditransfusi masif dengan konsentrasi fibrinogen kurang dari 80-100 mg/dl atau konsentrasi tidak dapat diukur pada saat itu.

Indikasi Transfusi Kriopresipitat : (2,5,6)
1. Hemofilia A (defisiensi faktor VIII)
2. Penyakit Von Willebrands
3. Hipofibrinogenemia
4. Defisiensi faktor VIII yang didapat (DIC dan tranfusi masif dilusi)
5. Defisiensi faktor XIII.

Plasma

Dari 250 ml darah utuh diperoleh 125 ml plasma. Plasma banyak digunakan untuk mengatasi gangguan koagulasi yang tidak disebabkan oleh trombositopenia, mengganti plasma yang hilang, defisiensi imunoglobulin dan overdosis obat antikoagulans (warfarin,dsb).(6,12)

Tersedia sebagai :
1. Plasma segar (Fresh Plasma)
Dari darah utuh segar (<6 jam). Berisi semua faktor pembekuan (juga faktor labil) dan trombosit. Harus diberikan dalam 6 jam.
2. Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma)
Didapat dari pemisahan darah segar (darah donor kurang dari 6 jam) dengan metode pemutaran, kemudian dibekukan dan disimpan pada temperatur –30oC. Karena dibuat dari darah segar, maka hampir semua faktor-faktor pembekuan masih utuh selama penyimpanan –30oC kecuali trombosit. Tapi bila disimpan pada temperatur 4oC, maka semua faktor pembekuan yang labil itu akan rusak menjadi plasma biasa. (6, 8,12)
Kriteria pemberian Fresh Frozen Plasma : (2)
a. Perdarahan menyeluruh yang tidak dapat dikendalikan dengan jahitan bedah atau
kauter.
b. Peningkatan PT atau PTT minimal 1,5 kali dari normal.
c. Hitung trombosit lebih besar dari 70.000/mm3 (untuk menjamin bahwa trombositopenia bukan merupakan penyebab perdarahan).

ASA merekomendasikan pemberian FFP dengan mengikuti petunjuk berikut : (2)
a. Segera setelah terapi warfarin
b. Untuk koreksi defisiensi faktor koagulasi yang mana untuk faktor yang spesifik tidak tersedia.
c. Untuk koreksi perdarahan mikrovaskuler sewaktu terjadi peningkatan >1,5 kali nilai normal PT atau PTT
d. Untuk koreksi perdarahan sekunder mikrovaskuler yang meningkat akibat
defisiensi faktor koagulasi pada pasien yang ditransfusi lebih dari satu unit
volume darah dan jika PT dan PTT tidak dapat diperoleh saat dibutuhkan.
e. FFP sebaiknya diberikan dalam dosis yang diperhitungkan mencapai suatu konsentrasi plasma minimum 30% (biasanya tercapai dengan pemberian 10-15 ml/kg), kecuali setelah pemberian warfarin yang mana biasanya cukup antara 5-8 ml/kg.
f. FFP dikontraindikasikan untuk peningkatan volume plasma atau konsentrasi albumin.

2. Plasma biasa (Plasma Simpan)
Mengandung faktor stabil fibrinogen, albumin, dan globulin. Didapat dari dari darah lengkap yang telah mengalami penyimpanan. Dari 250 cc darah lengkap diperoleh 125 cc plasma. Dapat bertahan selama 2 bulan pada suhu 4oC.
Indikasi : (3,8,9)
a. Untuk mengatasi keadaan shok (sebelum darah datang).
b. Memperbaiki volume sirkulasi darah.
c. Mengganti protein plasma yang hilang pada luka bakar yang luas.
d. Mengganti dan menambah jumlah faktor-faktor tertentu yang hilang misalnya fibrinogen, albumin, dan globulin.

Plasma diberikan pada kehilangan plasma misalnya dengue hemoragik fever,, atau luka bakar yang luas. Dosis pemberian tergantung keadaan klinis. Umumnya diberikan 10-15 ml/kgBB/hari. Hati-hati pada orang tua, karena kemungkinan terjadinya payah jantung atau overload sirkulasi. Indikasi ini sekarang tidk dianjurkan lagi karena lebih aman menggunakan terapi larutan koloid atau albumin yang bebas resiko transmisi penyakit.(7,8,12)