Mitos tentang retardasi mental / keterbelakangan mental

5 Mitos tentang retardasi mental yang sering membuat salah kaprah, serta penjelasan fakta dibalik mitos tentang orang dengan retardasi mental.

Untuk beberapa orang awam ada beberapa mitos tentang retardasi mental atau keterbelakangan mental, yang membuat hal-hal yang berkaitan dengan retardasi mental menjadi salah kaprah, baik itu dari segi pengertian sampai cara penanganan retardasi mental.

Penjelasan berikut ini merupakan 5 mitos tentang retardasi mental dan fakta sebenarnya dibalik mitos tentang retardasi mental.

Mitos Pertama
Retardasi mental atau keterbelakangan mental adalah sama dengan sakit mental.
Faktanya adalah retardasi mental berarti bahwa seseorang yang mengalami perkembangan mental di bawah rata-rata orang normal. Orang dengan retardasi mental mungkin memiliki kesulitan dalam belajar dan penyesuaian sosial. Tapi mereka bisa belajar, dengan intervensi dan pendidikan yang tepat, mereka dapat menjalani kehidupan yang memuaskan dan produktif di masyarakat.

Mitos Kedua
Retardasi mental adalah penyakit menular.
Faktanya adalah retardasi mental bukanlah suatu jenis penyakit dan keterbelakangan mental tentunya tidak menular. Retardasi mental adalah suatu kondisi yang mempengaruhi suatu individu karena beberapa perubahan atau kerusakan terhadap perkembangan otak dan sistem saraf.

Mitos Ketiga
Orang dengan retardasi mental yang berat harus dikurung di suatu tempat demi keselamatan masyarakat.
Faktanya adalah dengan upaya pelatihan secara sistematis telah membuktikan bahwa kebanyakan orang dengan retardasi mental yang berat dapat belajar untuk setidaknya belajar dalam hal perawatan kebutuhan dasar mereka. Banyak orang dengan retardasi mental dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat dengan dukungan dan sebaliknya dapat beradaptasi dengan pola hidup normal. Telah terbukti bahwa lingkungan yang paling efektif untuk orang dengan keterbelakangan mental adalah mereka ada di lingkungan masyarakat untuk bisa terus berkembang dan lingkungan yang menawarkan suasana kekeluargaan seperti dalam hal perawatan dan pengasuhan.

Mitos Keempat
Pelatihan pendidikan dan kejuruan tidak akan membantu orang yang mengalami retardasi mental.
Faktanya adalah kebanyakan orang dengan retardasi mental dapat belajar, meskipun pada tingkat yang lebih lambat, dan mampu hidup dalam masyarakat dengan dukungan orang di sekitarnya. Semakin cepat seseorang didiagnosis memiliki keterbelakangan mental maka program yang tepat untuk membantu orang dengan keterbelakangan mental dapat dimulai dengan segera, sehingga mereka akan menjadi lebih produktif dan mampu untuk menjalani kehidupan yang bermakna di masyarakat. Program kejuruan menawarkan berbagai layanan untuk mempersiapkan individu untuk bekerja. Mereka dapat belajar perdagangan atau menerima pekerjaan di berbagai lingkungan kerja yang kompetitif.

Mitos Kelima
Kita tidak tahu apa yang menyebabkan keterbelakangan mental dan tidak dapat dicegah.
Faktanya adalah retardasi mental dapat disebabkan oleh kondisi yang mengganggu perkembangan otak sebelum atau selama kelahiran atau pada anak usia dini. Lebih dari 250 penyebab telah ditemukan, tetapi hanya sekitar seperempat dari penyebab keterbelakangan mental yang paling sering ditemukan. Yang paling terkenal adalah Rubella atau campak Jerman pada wanita hamil, meningitis, toksoplasmosis, faktor Rh, dan kelainan kromosom seperti Syndrome Down. Keterbelakangan mental dapat dicegah dalam beberapa kasus. Beberapa strategi pencegahan meliputi:

  • Adanya akses untuk pelayanan perawatan prenatal dan postnatal yang baik untuk ibu dan anak.
  • Peningkatan gizi pada ibu hamil dan bayi.
  • Menghindari penggunaan obat-obatan dan alkohol selama kehamilan.
  • Skrining bayi yang baru lahir untuk mendeteksi gangguan seperti hipotiroidisme dan PKU (phenylketonuria).
  • Skrining rutin dan imunisasi ibu untuk mencegah faktor darah Rh.
  • Penggunaan kursi anak dan sabuk pengaman untuk mencegah cedera kepala.
  • Skrining untuk keracunan timbal untuk semua anak di bawah usia 5 tahun.

Anak retardasi mental korban radiasi
Anak ini berumur 5 tahun dan lahir tidak dengan retardasi mental. Ia adalah korban radiasi dan kini mengalami retardasi mental.

Jadi, lupakanlah mitos tentang retardasi mental, ketahuilah fakta sebenarnya. Orang dengan retardasi mental memang tidak seperti orang normal, tapi mereka mungkin adalah orang yang pertama. Mereka mempunyai keinginan dan hasrat yang sama dengan setiap orang. Perlakukanlan mereka sebagai seseorang, kenali mereka dengan kemampuannya, bukan keterbatasannya.

Author: Jevuska

Rachmanuddin Chair Yahya a.k.a Jevuska is the founder of Jevuska.Com, a qualified web about offering medical articles, blogging, tips, and tutorial of WordPress. Having written for Jevuska since 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Use tag [php] to add code, e.g. [php]<?php echo $var; ?>[/php]