Apa efek Jokowi buat Anda?

Apakah ada efek Jokowi ? peringkat situs efekjokowi.com melejit dengan drastis dari pantauan situs Alexa.com. Apa efeknya buat Anda?

Apakah ada efek Jokowi? Pemilihan Umum itu LUBER (Langsung, Bebas, Rahasia), JEVUSKA tidak ada maksud memilih atau mendukung salah satu kandidat Presiden, atau biarlah itu tetap jadi rahasia. Pastinya tentukan pilihan Anda di PILPRES hari Rabu, tanggal 9 Juli 2014, dan tetap lakukan kampanye damai pemilu seperti sebelumnya.

Jika melihat situs EfekJokowi.Com, peringkat atau ranking situs tersebut di Alexa meningkat drastis dalam sekejap. Efek Jokowi buat EfekJokowi.Com.

Efek Jokowi

Dari situs tersebut ada pertanyaan “Kalau Jokowi jadi Presiden APA EFEKNYA BUAT SAYA?.” Nah, apa efek Jokowi buat Anda?


 Google

Daftar Pasal-pasal UUD 1945 yang sudah diamandemen

Berikut ini sebagai daftar terhadap pasal-pasal UUD 1945 yang sudah diamandemen sejak tahun 1999 sampai tahun 2002, 4 kali amandemen.

Amandemen terhadap pasal-pasal UUD 1945 pertama kali terjadi pada tahun 1999, tepatnya pada tanggal 19 Oktober 1999 berdasarkan Sidang Umum MPR RI pada tanggal 14-21 Oktober 1999. Pada saat itu terdapat 9 pasal yang diamandemen yaitu: Pasal 5, 7, 9, 13, 14, 15, 17, 20, dan pasal 21. Kemudian Amandemen UUD 1945 dilaksanakan lagi pada Sidang Tahunan MPR RI 2000, 2001, dan 2002. Sejak tahun 1945 “UUD 1945” dianggap dokumen yang “sakral” dan tidak pernah ada perubahan sama sekali sampai tahun 1999. Padahal dari awal pembuatan dokumen “yang tak tersentuh” ini, para pembuat konstitusi menyatakan bahwa ini hanya bersifat sementara, tetapi kenyataannya dokumen tersebut tetap tidak tersentuh.

Kekuatan dari rezim ke rezim pemerintahanlah yang dianggap sebagai kambing hitam bahwa dokumen ini tidak boleh diubah demi mempertahankan kekuasaan. Sampai akhirnya terjadi reformasi pada tahun 1998 dengan tuntutan yang paling utama menginginkan “Amandemen UUD 1945”. UUD 1945 (ASLI) yang dianggap tidak dapat mewujudkan pemerintahan yang demokratis dan cenderung otoriter dan sentralistik.

Berikut ini sebagai gambaran singkat atau daftar terhadap pasal-pasal UUD 1945 yang sudah diamandemen:

Amandemen Pertama

Ada 9 pasal yaitu:

  • Pasal 5, 7, 9, 13, 14, 15, 17, 20, dan pasal 21.

Amandemen Kedua

Ada 5 Bab dan 25 pasal yaitu:

  • Bab IXA, X, XA, XII, dan XV.
  • Pasal 18, 18A, 18B, 19, 20, 20A, 22A, 22B, 25E, 26, 27, 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, 28J, 30, 36A, 36B, dan pasal 36C.

Amandemen Ketiga

Ada 3 Bab dan 22 Pasal yaitu:

  • Bab VIIA, VIIB, dan VIIIA.
  • Pasal 1, 3, 6, 6A, 7A, 7B, 7C, 8, 11, 17, 22C, 22D, 22E, 23, 23A, 23C, 23E, 23F, 23G, 24, 24A, 24B, dan pasal 24C.

Amandemen Keempat

Ada 2 Bab dan 13 Pasal yaitu:

  • BAB XIII dan Bab XIV.
  • Pasal 2, 6A, 8, 11, 16, 23B, 23D, 24, 31, 32, 33, 34, dan pasal 37.

Dari hasil 4 kali amandemen terdapat 20 bab, 73 pasal, 194 ayat, 3 pasal aturan peralihan dan 2 pasal aturan tambahan yang sudah diamandemen. Bagaimana dengan sekarang? telah 11 tahun berlalu apakah masih perlu Amandemen ke-5 UUD 1945?. Walaupun begitu diskusi-diskusi mengenai amandemen ke-5 UUD 1945 masih saja terus berjalan. Jalan ditempaaaaaat grakkk! …aaah..MANDEK..men.


 Bagikan

Gerakan Ahmadiyah Indonesia Dan Mui

Jemaat Ahmadiyah Indonesia berdiri sejak tahun 1925 dan diakui Pemerintah Republik Indonesia cq Menteri Kehakiman Republik Indonesia.

Hubungan Ahmadiyah dengan Pemerintah
Jema’at Ahmadiyah Indonesia berdiri sejak tahun 1925 dan diakui Pemerintah Republik Indonesia cq Menteri Kehakiman Republik Indonesia sebagai badan hukum pada 1953. Hal itu tercantum dalam ketetapan menteri tertanggal 13 Maret 1953, nomor JA.5/23/13 yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 22 tanggal 31 Maret 1953. Ketetapan ini kemudian diubah dengan akta perubahan yang telah diumumkan di dalam Berita Negara Nomor 3 tahun 1989; dan Tambahan Berita Negara Nomor 65 tanggal 15 Agustus 1989. Pengakuan itu diperkuat dengan pernyataan Departemen Agama RI ter-tangga111 Maret 1968 tentang hak hidup bagi seluruh organisasi keagamaan di Indonesia yang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya telah disahkan secara resmi oleh Menteri Kehakiman sebagai badan hukum. Sedangkan Ahmadiyah aliran Lahore, sebagaimana telah dikemukakan di depan, sejak 1929 telah berbadan hukum.

Meski demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional II yang berlangsung di Jakarta (26 Mei1 Juni 1980) telah mengeluarkan fatwa yang menegaskan bahwa Ahmadiyah adalah jema’at di luar Islam, sesat, dan menyesatkan. Sampai sekarang, Ahmadiyah aliran Qadian masih belum diakui eksistensinya oleh MUI. Sikap MUI tersebut, menurut pandangan Jema’at Ahmadiyah Indonesia, bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 beserta peraturan perundangan yang lain dan juga dengan pidato dan pengarahan dari Presiden RI, Menteri Agama RI, dan para pejabat pemerintahan.

Buku Gerakan Ahmadiyah di IndonesiaAlasan pelarangan itu dipandang bertentangan dengan Pan-casila, terutama sila pertama Pancasila, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Menurut Ahmadiyah, sila ini pada prinsipnya me-nekankan bahwa seseorang atau badan yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa terjamin kelangsungan hidupnya di negara Republik Indonesia. Pancasila tidak menentukan apakah Ketuhanan yang Maha Esa itu di dalam atau di luar Islam, di dalam atau di luar Kristen, di dalam atau di luar Budha. Semua itu tercakup dalam rangkuman sila pertama Pancasila.

Sementara itu, larangan tersebut dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, karena di dalam pasal 29 ayat 1 ditegaskan bahwa “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” dan dalam ayat 2 juga ditegaskan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk me-meluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu”. Ahmadiyah juga mendasarkan pendapatnya itu pada penjelasan pasal 29 ayat 2 bahwa kebebasan beragama merupakan hak yang paling asasi di antara hak-hak asasi manusia lainnya.

Pada saat Indonesia berada di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), situasi menjadi berubah. Suatu hal yang dinilai positif dalam pemerintahan Gus Dur adalah komitmennya terhadap hak seseorang untuk beragama. Ia memberi peluang secara terbuka kepada aliran-aliran keagamaan yamg sebelumnya dinyatakan terlarang. Djohan Efendi, Sekretaris Negara era pemerintahan Gus Dur dan man- tan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama RI, menyatakan bahwa Presiden Abdurrahman Wahid adalah seorang pluralis sehingga ia memberikan iklim yang lebih terbuka dan demokratis. Selain itu, Djohan juga berpendapat bahwa bentuk pemahaman seseorang terhadap agama ataupun yang lainnya tidak dapat dilarang pemerintah.8 Meski demikian, menurut KH. Irfan Zidny—Ketua Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta yang juga menjabat sebagai pengurus Lembaga Kajian dan Konsultasi Syari’ah Islam MUI — masih tetap mengharapkan agar umat Islam Indonesia mewaspadai aliran int Ia juga mengatakan, “Dalam soal-soal yang berhubungan dengan urusan duniawi, kita bisa saja bekerja sama dengan organisasi mereka. Toh itu sangat baik dilakukan, bahkan dengan siapa pun. Namun, dalam soal teologis kita tetap mengatakan Ahmadiyah Qadian itu menyalahi ajaran Islam”?

Sementara Dawam Rahardjo, direktur International Forum on Islamic Studies (IFIS) dan salah seorang ketua Muhammadiyah, justru berpendapat bahwa Ahmadiyah merupakan contoh organisasi keagamaan yang baik. Organisasi itu ditata secara baik dan mandiri. Mereka menjaga diri dan hiruk pikuk kehidupan politik, tetapi bukan tidak peka terhadap politik. Lebih lanjut ia menyatakan, “Kita mestinya bisa bekerja sama dengan organisasi ini dan memiliki apresiasi yang besar terhadapnya.

Itulah sedikit ringkasan buku yang berjudul Gerakan Ahmadiyah di Indonesia yang ditulis oleh Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain yang mengupas tuntas bagaimana perjalanan Ahmadiyah di Indonesia. Buku yang mengungkap secara objektif Ahmadiyah sebagai pemikiran dan gerakan dalam konteks perkembangan gerakan Islam secara keseluruhan di Indonesia. Buku ini tidak dimaksudkan untuk mendukung atau menolak pihak-pihak yang pro dan kontra, melainkan untuk mendudukkan secara proporsional pemikiran dan gerakan Ahmadiyah dalam peta pemikiran dan gerakan keislaman di Indonesia. Ahmadiyah menjadi pembicaraan yang cukup alot dan akhirnya menimbulkan peristiwa kerusuhan dengan penyerangan anggota Jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, 6 Februari 2011.

Juvenile Delinquency (Kenakalan Remaja)

Studi tentang kenakalan remaja adalah penting baik karena kerusakan yang diderita oleh korbannya maupun permasalahan yang dihadapi oleh pelakunya.

Masalah kaum muda dalam masyarakat modern keduanya menjadi perhatian besar dan menjadi subjek penting untuk studi akademis. Artikel ini berfokus pada satu bidang yang menjadi perhatian khusus yaitu kenakalan remaja alias juvenile delinquency, atau perilaku kriminal yang dilakukan oleh anak di bawah umur. Studi tentang kenakalan remaja adalah penting baik karena kerusakan yang diderita oleh korbannya maupun permasalahan yang dihadapi oleh pelakunya.

Lebih dari 2 juta anak muda sekarang ditangkap setiap tahun untuk kejahatan yang serius, mulai berkeliaran sampai membunuh. Meskipun sebagian besar pelanggaran hukum remaja kecil, beberapa pemuda ini sangat berbahaya berani melaukan kekerasan. Lebih dari 700.000 pemuda dari 20.000 geng di Amerika Serikat, kekerasan geng jalanan dan kelompok dapat menimbulkan ketakutan ke seluruh kota. Pemuda terlibat dalam beberapa tindak pidana yang serius kini diakui sebagai masalah sosial yang patut mendapat perhatian. Pihak berwenangpun harus berurusan dengan pelaku ini, dan menanggapi berbagai masalah sosial lainnya, termasuk kekerasan dan pengabaian anak, kejahatan dan vandalisme di sekolah, krisis keluarga, dan penyalahgunaan narkoba.

Mengingat keragaman masalah ini, ada kebutuhan mendesak untuk melakukan strategi memerangi fenomena sosial yang kompleks seperti kenakalan remaja. Tapi untuk merumuskan strategi yang efektif menuntut pemahaman yang lebih terhadap penyebab juvenile delinquency dan pencegahannya.

Masalah-Masalah Remaja
Remaja adalah masa ketika identitas dikembangkan lebih besar (Erikson, 1963). Suatu kelompok anak berumur 11 tahun adalah betul-betul homogen. Bagaimanapun juga, 6 tahun kemudian ada beberapa yang menjadi anak nakal, yang lain menjadi siswa teladan, beberapa menjadi ahli matematika, ada yang pemain drama, dan yang lain lagi ahli mesin. Pengalaman di rumah dan di sekolah sebelum remaja, berperan penting dalam menentukan remaja sebagai individu. Demikian juga pengalaman di SMP dan SMA berperan penting dalam membantu siswa-siswa melalui masa-masa sulit untuk sebagian besar mereka.

Hampir sebagian besar anak remaja mengalami suatu konflik emosi (Blos, 1989). Untuk sebagian besar remaja, kekacauan emosi dapat ditangani dengan sukses, tetapi untuk beberapa remaja lari pada obat bius atau bunuh diri.

Kenakalan Remaja
Satu dari masalah yang paling serius dari remaja adalah remaja nakal atau delinquent, dan kebanyakan laki-laki. Remaja nakal biasanya berprestasi rendah. Biasanya mereka didukung oleh kelompoknya. Sebab-sebab terjadinya anak nakal atau juvenile delinquency pada umumnya adalah sebab yang kompleks, yang berarti suatu sebab dapat menimbulkan sebab yang lain. Para peneliti melihat banyak kemungkinan penyebab kenakalan remaja. Sedangkan para ahli sosiologi berpendapat bahwa kenakalan remaja adalah suatu penyesuaian diri, yaitu respons yang dipelajari terhadap situasi lingkungan yang tidak cocok atau lingkungan yang memusuhinya. Hasil penelitian Robbin (1986) berpendapat, kenakalan remaja akibat adanya masalah neurobiological, sehingga menimbulkan genetik yang tidak normal. Ahli lain berpendapat kenakalan remaja merupakan produk dari konstitusi defektif mental dan emosi-emosi mental. Mental dan emosi anak remaja belum matang, masih labil, dan rusak akibat proses condition sering lingkungan yang buruk.

Gangguan Emosi
Gangguan emosi yang serius sering timbul pada anak-anak remaja. Mereka mengalami depresi, kecemasan yang berlebihan tentang kesehatan sampai pikiran bunuh din i atau mencoba bunuh diri (Mosterson, 1987). Banyak anak remaja yang terlibat dalam kenakalan remaja, bertingkah laku aneh, minum minuman keras, kecanduan obat bius, alkohol, sehingga memerlukan bantuan yang serius. Pendidik-pendidik di sekolah menengah dan sekolah menengah atas harus sensitif terhadap fakta bahwa anak-anak remaja yang sedang mengalami masa-masa sulit dan gangguan emosional merupakan hal yang umum. Oleh karena itu, guru hendaknya mencoba mengetahui bahwa anak-anak remaja bisa mengalami depresi, putus harapan, tingkah laku yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan semua ini membutuhkan bantuan. Di sini peranan konselor dan psikolog amat penting.

Penyalahgunaan Obat Bius dan Alkohol
Penyalahgunaan obat bius dan alkohol bertambah secara dramatis akhir-akhir tahun ini. Beberapa dari siswa-siswa SMA, terutama di kota-kota besar, menggunakan mariyuana dan minum-minuman keras (bahkan sudah merambat ke desa-desa). Obat bius yang juga disebut sebagai drugs. Drugs terdiri dari hard drugs dan soft drugs. Obat keras (hard drugs) bisa mempengaruhi saraf dan jiwa si penderita secara cepat.

Waktu ketagihannya berlangsung relatif pendek. Jika si penderita tidak segera mendapat jatah obat tersebut, dia bisa meninggal. Sedangkan soft drugs bisa mempengaruhi saraf dan jiwa penderita, tetapi tidak terlalu keras. Waktu ketagihannya agak panjang dan tidak mematikan. Gejala siswa yang menggunakan narkoba antara lain: badan tidak terurus dan semakin lemah, tidak suka makan, matanya sayu dan merah, pembohong, malas, daya tangkap otaknya melemah, mudah tersinggung dan mudah marah.

Banyak remaja yang memakai narkoba karena mula-mula iseng, rasa ingin tahu, atau sekadar ikut-ikutan teman. Ada juga remaja yang menggunakan narkoba karena didorong oleh nafsu mendapatkan status sosial yang tinggi, ingin pengakuan atas egonya, serta untuk menjaga gengsi. Beberapa kelompok anak remaja lain menggunakan narkoba karena ingin lari dan kesulitan hidup dan konflik-konflik batin. Anak remaja merasa menjadi “orang super” jika bisa merokok dan diberi ganja dan diselingi minuman keras atau minum Wie Seng, semacam arak keras yang berkadar alkohol yang sangat tinggi. Segala kesulitan hidup, kesulitan di sekolah, di rumah bisa hilang lenyap diganti dengan rasa nikmat (teler) walaupun sesaat.

Usaha sekolah atau guru untuk menolong remaja yang terlibat dalam narkoba ini adalah mula-mula mencari sumber penyebab remaja menggunakan narkoba, sehingga guru dapat menanggulangi dan sumber tersebut. Usaha lain adalah melakukan tindakan preventif yang lebih praktis dan segera dapat dilakukan. Langkah-langkah yang dapat diambil misalnya melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Kehamilan
Kehamilan dan melahirkan anak bertambah di antara beberapa kelompok gadis remaja, terutama pada masyarakat yang kurang mampu. Jika laki-laki remaja sering bertingkah laku sebagai anak nakal untuk mencoba membuktikan kemandirian mereka dan kontrol orang dewasa, demikian juga bagi gadis remaja. Mereka membuktikannya dalam bentuk seks dan di banyak kasus dengan mempunyai anak, sehingga memaksa dunia melihat mereka sebagai orang dewasa. Sejak melahirkan anak, gadis remaja menjadi sulit untuk melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan. Oleh karena itu, peranan sekolah dalam membantu gadis yang mengalami “kecelakaan” sangat dibutuhkan. Sebaiknya, sekolah tidak mengeluarkan remaja yang hamil di luar nikah. Biarlah mereka tetap diperbolehkan meneruskan sekolah mereka sampai lulus sehingga memudahkan dia mencari pekerjaan.

Kenakalan remaja ditinjau dari hubungan sosiologis
Kenakalan remaja terjadi di antaranya karena kekosongan jiwa para remaja yang masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang orang tua. Kurangnya bimbingan dari kasih sayang orang tua dapat menyebabkan terjadinya kekosongan jiwa. Kekosongan jiwa dapat dialami siapa saja. Pada keluarga mampu, banyak disebabkan kesibukan orang tua, sedangkan pada keluarga kurang mampu biasanya lebih disebabkan masalah ekonomi sehingga keinginannya tidak kesampaian. Penyebab lain kenakalan remaja disebabkan demonstration effect, yaitu pola hidup yang memperlihatkan penampilan yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya demi prestise dan gengsi.

Secara sosiologis, terjadinya kenakalan remaja banyak disebabkan oleh faktor-faktor berikut:
a. Persoalan nilai dan kebenaran yang kurang ditanamkan.
b. Timbulnya organisasi-organisasi non formal yang berperilaku menyimpang.
c. Timbulnya usaha-usaha untuk mengubah keadaan sesuai dengan trend.
d. Penghayatan dan pengamalan agama yang kurang.

Dengan mengetahui berbagai faktor yang menimbulkan juvenile delinquency tersebut, pihak-pihak yang terkait seperti orang tua, guru, teman, sahabat, para ahli sampai pemerintah tentu bisa bekerja sama menanggulangi kenakalan remaja saat ini.

Daftar Pustaka
– Psikologi Pendidikan (Rev-2), Sri Esti. W Djiwandon, Grasindo
– Juvenile Delinquency: Theory, Practice, and Law, Larry J. Siegel, Brandon C. Welsh, Cengage Learning, 2008
– GEOGRAFI dan SOSIOLOGI, Yudhistira Ghalia Indonesia
– Foto: Flickr people – hitasura

Masalah Pergaulan Bebas Pria dan Wanita

Makalah mengenai masalah pergaulan bebas pria-wanita dengan ulasan arti dan contoh pergaulan bebas yang jadi permasalahan, serta cara mengatasi hal itu.

Arti pergaulan bebas
Pengertian pergaulan bebas berarti pergaulan yang luas diantara para pria dan wanita, dimana tidak hanya berpatokan hanya pada dua orang saja akan tetapi antara banyak orang baik itu pria maupun wanita. Jika pergaulan hanya terbatas pada dua orang, pria dan wanita, artinya terdapat hubungan khusus antara keduanya, yang biasa kita sebut pacaran.

Dunia Gemerlap (Dugem)

Bergaul dengan bebas sih wajar-wajar saja, akan tetapi ada batasan yang perlu Anda ingat yaitu:

  1. Anda harus mempunyai bertanggung jawab untuk menjaga kesejahteraan antar sesama.
  2. Anda harus saling menghormati baik itu hak dan juga harga diri pada wanita maupun pria.
  3. Anda harus tetap berpegang teguh akan norma, aturan sosial, nilai moral, tata susila, serta norma hukum.

Gejolak Remaja
Tidak mudah untuk memberikan nasehat pada remaja, karena mereka bukan anak-anak lagi. Mereka sudah banyak mengalami perubahan baik itu perubahan organ tubuh ataupun perubahan psikologis. Memang mereka awalnya adalah anak-anak, akan tetapi seiring dengan waktu dimana ketika mereka masuk pada masa puber, hormon sangat berpengaruh terhadap gejolak remaja, dan mereka cenderung menjadi temperamen.

Anda harus pandai-pandai membaca situasi dan mengatur strategi ketika Anda ingin memberikan nasehat pada mereka, andaikan saja Anda seperti berada dalam medan perang. Jika tidak, akan mudah sekali untuk timbul kesalahpahaman dan selanjutnya pertengkaran yang akan Anda dapatkan. Yang Anda harus mengerti dalam menasehati para remaja adalah remaja bukan lagi anak-anak, dan remaja bukanlah orang dewasa.

Adapun ciri-ciri anak yang baru tumbuh menjadi remaja adalah:
Remaja akan cemas terhadap perkembangan fisiknya
Terjadinya perubahan fisik yang mencolok pada remaja pria seperti tumbuh jakun, rambut-rambut di tubuh, kumis, dan mengalami mimpi basah. Untuk wanita, mereka akan mengalami menstruasi yang teratur dan kadang nyeri pada saat menstruasi, buah dada yang membesar. Dengan adanya perubahan itu, tentunya mereka akan risih dan cemas terhadap teman-teman mereka yang mungkin belum mengalami hal yang sama.

Rangsangan nafsu remaja yang kuat
Hormon memegang peranan penting terhadap nafsu seks remaja yang meningkat. Respon yang mereka berikan dapat berupa menjadi sangat reaktif, atau menjadi sangat malu dan menyembunyikannya. Setiap anak remaja tentu berbeda-beda dalam memberikan respon. Dalam hal ini, orang tua sangat perlu memberikan bimbingan baik itu dasar moral, etika dan agama.

Masalah penampilan
Dengan adanya perubahan fisik yang terjadi pada remaja, tentunya mereka akan mulai menunjukkan penampilan yang berbeda. Mereka cenderung menunjukkan penampilannya yang baru kepada teman-temannya, sering pergi ke salon, berbelanja baju-baju modis, melihat dirinya di depan cermin dalam waktu yang lama, atau mengunci diri dalam kamar.

Contoh pergaulan bebas remaja yang cenderung mengarah ke tindakan negatif seperti:

  • Kenakalan Remaja
  • Seks bebas
  • Terlibat dalam Narkoba atau Napza (Narkotika, alkohol, obat-obatan psikotropika terlarang dan zat aditif)

Cara mengatasi masalah pergaulan bebas pada remaja
Peran serta orang tau dalam membimbing dan mengawasi para remaja sangat diperlukan. Mengetahui situasi dan kondisi sang anak dan membicarakan permasalahan yang terjadi pada anak sangat membantu mereka terjerumus dalam masalah pergaulan bebas. Menghindari sebisa mungkin pertengkaran yang akan terjadi dengan memberikan nasehat-nasehat yang tidak membuat para remaja ini merasa seperti anak-anak atau orang dewasa. Memberikan pemahaman akan pendidikan agama yang lebih mendalam, serta menjelaskan dampak negatif yang akan terjadi apabila mereka terlibat dalam pergaulan bebas.

Peran serta pemerintah, tokoh agama, guru dan masyarakat dalam memberikan wawasan yang lebih luas mengenai efek negatif dari masalah pergaulan bebas juga dibutuhkan untuk menghindari para remaja terlibat didalamnya.