Obat-obat AntiKolinesterase

AsetilkolinObat Antikolinesterase adalah inhibitor aseltikolinesterase sebagai antagonis nondepolarisasi penghambat neuromuskuler yang digunakan mengembalikan efek dari pelumpuh otot nondepolarisasi.

Jenis–Jenis Antikolinesterase

  • Neostigmin bromida
  • Piridostigmin bromida
  • Edrofonium klorida
  • Fisostigmin salisilat
  • Ambenonium
  • Demecarium

Anti Kolinesterase bekerja dengan meningkatkan jumlah asetilkolin pada neuromuskuler junction dan juga akan meningkatlan tonus otot. Asetilkolin memiliki efek muskarinik dan nikotinik.

Efek muskarinik berupa bradikardi, menimgkatkan salivasi, Spasme bronchus, kontraksi pada saluran cerna dan kandung kemih. Efek nikotinik berupa stimulasi ganglia autonomik dan otot skelet.

Efek muskarinik dihambat oleh obat-obat parasimpatolitik sebelumnya seperti atropin atau glikopirrolat. Waktu pemberian atropin terhadap neostigmin adalah penting. Onset aktifitas vagolitik dari atropin cepat tetapi efek muskarinik dari neostigmin lebih lama sehingga dapat diberikan bersamaan. Atropin, onset yang lebih lama (5 menit) setelah pemberian .

Fisostigmin
Alkaloid, mengandung kacang calabar, bibit dari fisostigma venenosum yang digunakan untuk penatalaksanaan overdosis dengan alkaloid belladona, fenothiazin dan lainnya. Merupakan inhibator antikolinesterase reversible yang cepat. Fisostigmin menstimulasi serat kolinergik dan menyebabkan kontraksi pupil, bronkhus, usus dan vesika urinaria. Meningkatkan sekresi keringat, salivasi dan bronkhus, bradikardi, kontraksi otot, dan stimulasi SSP. Dosis dewasa adalah 2 mg dalam 10 ml pelarut IV, dapat diulang hingga 6 mg.

Fisostigmin tidak digunakan sebagai dekurarisasi karena bekerja secara luas, sebagian pada SSP. Merupakan golongan amin tersier. Obat ini melalui sistem barier sawar darah otak dan menghasilkan efek sentral. Antagonis efek samping psychotomimetik dari ketamin tanpa menghilangkan efek analgesia dan memperpendek waktu pemulihan. Dengn 1 mg IV, menghentikan efek somnolen morfin dan memulihkan kecepatan pernapasan tanpa menurunkan efek analgesia.

Piridostigmin
Piridostigmin adalah obat Antikolinesterase sintetik yang erat kaitannya dengan neostigmin. 4x lebih poten dengan onset lebih lama dan durasi panjang. Piridostigmin memberi efek pada neuromuskuler junction, lebih menonjol dari aktifitas muskarinik . Dosis dewasa 0,2-0,3 mg/kg dengngan efek maksimal 10-20 menit yang dapat dikombinasi dengan glycopirrolat,onset yang lama. Obat ini dimetabolisme oleh kolinesterase pada hepar.

Waktu paruh lebih lama dari neostigmin dan dapat digunakan untuk dekurarisasi dengan dosis 2-5 mg IV. Pemberian sebelumnya, atropin 1,2 mg/glikopirolat 0,6 mg yang efektif pada pengobatan miastenia gravis.

Mempunyai durasi panjang, menurunkan efek muskarinik, sekresi saliva dan bronkhus, dan meminimalkan takikardi. Pada beberapa kasus, atropin mungkin tidak dibutuhkan. Dosis oral 60-240 mg.

Edrofonium
Merupakan antikolinesterase sintetik yang kerjanya sangat singkat. Edrofonium mempunyai efek antikurare, karena efek depolarisasi dan stimulasi langsung motor end plate . Dosis kecil (IV) digunakan untuk fasikulasi otot skelet. Dosis yang lebih besar (IV) untuk blok neuromuskular, meningkatkan paralisis otot nafas, bahkan kematian. Mempengaruhi penurunan sistem kardiovaskuler dan aktifitas muskarinik sifatnya ringan. Atropin diberikan sebelumnya, onset Edrofonium relatif cepat, 1 – 2 menit.

Potensi 1/12 dan 1/35 dari neostigmin dengan efek maksimal 1 – 2 menit pada dosis 0,5-1 mg/kg IV. Durasi lebih pendek (± 5 menit). Cepat dihancurkan dalam tubuh. Dosis tunggal dengan rekurarisasi. Dosis berulang pada dekurarisasi komplit

Untuk dekurarisasi dan diagnosis miastenia gravis, dosisnya 10 – 20 mg IV. Dengan obat penghambat rangkap, edrofonium 10 mg IV, didahului atropin sulfat.

Sifat otot dan pernapasan baik, jika aktifitas end plate kembali mendekati normal, tetapi tidak tampak perbaikan apabila kebanyakan dari tipe depolarisasi. Pada miastenia gravis,10 mg edrofonium IV, sangat lambat, ditandai peningkatan kekuatan otot (1 menit) dan kembali normal 5-15 menit.

Neostigmin
Antikolinesterase dengan molekul ammonium kuartener. Neostigmin Menghambat hidrolisis normal asetilkolin dan konsentrasi kolinergik pada ujung saraf. Lebih stabil dan efektif dari fisostigmin. Neostigmin dimetabolisme dan sebagian dieliminasi melalui urine. Waktu paruhnya sekitar 24-80 menit. Penyakit dengan gangguan ginjal memperpanjang durasi neostigmin.

Aktifitas muskarinik, selama stimulasi dari efektor pada postganglionik ujung saraf parasimpatetik dan postganglionik ujung saraf simpatetik dalam kelenjar keringat dan pada uterus. Efeknya bradikardi, hipotensi, dan lainnya.

Aktifitas nikotinik, selama stimulasi dari preganglionik serat-serat autonomik, medulla adrenal dan saraf motorik terhadap otot skelet. Memperpanjang dan depolarisasi lokal, dihasilkan end plate oleh asetilkolin. Mengembalikan aktifitas pelumpuh otot nondepolarisasi

Dapat berpotensiasi pelumpuh otot depolarisasi, menyebabkan fasikulasi, dan apabila diberikan secara IV tanpa penghambat nondepolarisasi, dapat mempengaruhi penghambat neuromuskuler depolarisasi.

Pemberian Neostigmin sebelumnya dapat memperpanjang durasi kerja suxamethonium. Selama dekurarisasi, efek muskarinik neostigmin, dihambat oleh penyuntikan atropin sebelumnya yang menghambat efek muskarinik dari asetilkolin.

Anti Kolinesterase jenis ini tidak dapat melalui barrier plasenta. Dosis antagonis penghambat neuromuskuler 0,04-0,07 mg/kg dan efek maksimal tampak 3-5 menit. Atropin dan neostigmin aman dalam bentuk kombinasi dengan dosis Atropin 0,06 mg/kg dan neostigmin 0,07 mg/kg.

Dosis Atropin tidak lebih besar dari 1 mg dan neostigmin 5 mg, dosis dewasa. Diberikan secara terpisah, atropin yang pertama, dapat terjadi takikardi, tunggu 5 menit untuk efek antisialagogue, neostigmin diberikan
Apabila glycopirrolate digunakan, dosis 0,2 mg IV setiap 1 mg neostigmin.

Onsetnya lama kira-kira 6 menit dan dapat dikombinasi dengan glycopyrrolat (kira-kira 2 menit). Efek neostigmin memperlambat dosis atropin dan takikardi awal dapat diikuti dengan bradikardi selama durasinya melebihi atropin.

Mempengaruhi penghambat neuromuskuler min. 3 menit setelah penyuntikan (IV) dan puncak efek ±7 menit
Durasi ± 1 jam. Kecepatan penghambat, tergantung relaksan, tingkat penghambat neuromuskuler, fisiologi pasien dan latar belakang anastesi.

Asidosis respirasi dan alkalosis metabolik dapat menurunkan kerja neostigmin. Enfluran memperlambat kerja neostigmin dalam pemulihan dari penghambat nondepolarisasi. Untuk bayi dan anak-anak diberikan dengan 50% dosis orang dewasa.

Pada miastenia gravis, neostigmin 15 mg/oral, 3x sehari dan dapat setiap 2 jam tergantung kebutuhan. Atropin atau glykopirrolate mungkin dibutuhkan mengatasi efek samping muskarinik. Neostigmin bromida secara oral tetapi methyl sulphate secara IV.

Dosis oral 15 mg ± equivalen dengan 1 mg dosis parenteral. Pada asidosis respiratori, neostigmin menyebabkan disritmia berat dan hipoventilasi yang harus dihindari. Hati-hati pada kasus asma dan penyakit jantung.

Dosis berlebih sebabkan relaksasi, kelemahan, pergerakan otot, kelenjar keringat, saliva, mual, muntah, dan lainnya, juga henti jantung. Pada miastenia gravis, dosis berlebih dapat meningkatkan kelemahan otot

Dosis maksimum, 5 mg / 70 mg menghambat asetilkolinesterase, dan dapat menyebabkan penghambatan pada obat ini sendiri. Apabila dosis ini gagal sebagai antagonis penghambat yang menyebabkan inadekuat antagonis seharusnya diusahakan.

Efek samping obat- obat anti kolinesterase

  • Stimulasi vagal
  • Peningkatan motalitas gastrointestinal
  • Spasme bronkhus
  • Miosis
  • Meningkatkan saliva dan sekresi trakheobronchial

Obat- obat anti kolinesterase digunakan sebagai penghambat neuromuskuler. Krisis kolinergik diberikan kombinasi atropin ditambah neostigmin, menurunkan tonus spingter gastroesofagus dan dapat meningkatkan risiko regurgitasi. Pada pemulihan menyebabkan muntah setelah operasi.

Krisis Kolinergik
Terjadi selama bertambahnya asetilkolin pada reseptor nikotinik dan muskarinik sebagai efek dari dosis tinggi obat antikolinesterase. Penampakan klinis yaitu terjadi kelemahan, peningkatan sekresi, fasikulasi, mual, muntah, lakrimasi, dan lainnya.

Melemahnya otot pernapasan dapat menjadi obstruksi pernapasan dan aspirasi pneumonitis. Hati-hati mendiagnosis, bedakan dengan krisis miastenia. Krisis miastenia dihubungkan dengan kelemahan otot, selama asetilkolin relatif . Pada krisis miastenia terjadi dilatasi pupil, jika konstriksi berarti krisis kolinergik.

Dosis 2 – 10 mg edrofonium menunjukkan keregangan otot pada krisis miastenia dan tanpa perubahan pada peregangan otot atau gejala eksaserbasi pada krisis kolinergik.

Penanganan

  • Mengeluarkan antikolinesterase
  • Bantuan pernapasan
  • Pembersihan trakheobronchial
  • Efek muskarinik, dengan atropine /glycopirrolat
  • Reaktifator seperti pralidoxim

Komponen Organofosfat

  • Antikolinesterase sebagai insektisida
  • Kelarutan terhadap lemak
  • Penetrasi cepat:kulit & sistem barier otak
  • Inhibisi enzim,irreversibel
  • Efek nikotinik berupa kelemahan otot
  • Efek muskarinik berupa spasme bronkhus, dll

Pada keracunan, diobati dengan atropin dan pralidoxim. Atropin merupakan inhibitor efek muskarinik perifer dan berpenetrasi terhadap SSP. Bukan antagonis efek neuromuskuler perifer dan paralisis, jadi obat kolinesterase seperti pralidoxim atau obidoxim seharusnya diberikan.

Echothiopat merupakan satu – satunya komponen organofosfat digunakan pada glaukoma. Pemberian topikal echothiopat dapat berpotensiasi dengan kerja suxamethonium, menghambat pseudokolinesterase.

Gas saraf seperti tabun dan sarin merupakan komponen organofosfor dan sangat berpotensiasi menjadi racun. Menyebabkan hambatan kolinesterase dan menghasilkan efek secara langsung melalui stimulasi nikotinik dan muskarinik

Mempunyai kelarutan terhadap lemak yang tinggi dan dapat melalui SSP. Gejala keracunan dalam hitungan menit dengan gejala miosis, spasme siliar, keringat, rinore, bradikardi, hipotensi, muntah, ketegangan intestinal, diarroea, fasikulasi otot, dan lainnya.

Antagonis Relaksan Otot
Menyimpan kemampuan untuk bernapas, batuk, menelan dan proteksi jalan napas. Kombinasi neostigmin dengan atropin /glycopirrolat digunakan untuk mengembalikan penghambat neuromuskuler nondepolarisasi.

Kriteria secara klinis pemulihan penghambat neuromuskuler

  • Mengangkat kepala selama 5 detik
  • Menyokong tangan dengan pegangan
  • Lidah menonjol
  • Mengangkat tangan
  • Mengangkat kedua lengan
  • Membuka lebar mata
  • Tidak terdapat nistagmus atau diplopia
  • Suara normal
  • Poses menelan yang terkoordinasi
  • Inspiratori bertekanan negatif melebihi 53 cmH2O.
  • PaO2 >80 mmHg ketika bernapas suatu FiO2 <40%
  • Terdapat gag refleks
  • Menghilangkan selama 5 detik pada 50 Hz stimulasi tetanik
  • Pemulihan adekuat dari penghambat neuromuskuler ditentukan dengan memonitor transmisi neuromuskuler
    Pernapasan spontan memastikan pemulihan adekuat pada diafragma yang resisten terhadap efek dari pelumpuh otot

Referensi
Paul A.K: Anti cholinesterase Drugs. In: Drugs and Eqiupment in Anaesthetic Practice, 2005, 5th Ed, Elsevier, India: 83-88
Foto: Wikipedia

2 Replies to “Obat-obat AntiKolinesterase”

  1. artikel nya bagus banget, tpi sayang terlalu privasi jdi gag…

    artikel nya bagus banget, tpi sayang terlalu privasi jdi gag bisa di copas, padahal membantu bgt dlm pembuatan tugas kampus

  2. terima kasih atas infonya… saya tertarik sekali dengan artikel-artikel yang…

    terima kasih atas infonya…
    saya tertarik sekali dengan artikel-artikel yang berhubungan dengan kedokteran khususnya mengenai reaksi yang terjadi dalam tubuh ketika seseorang mengidap suatu penyakit tertentu.
    mohon ditambahkan lagi artikel-artikel lain yang tidak kalah menarik dari ini..
    makasih…

Leave a Reply

*

*