Terapi gen dapat mengembalikkan indra penciuman pada tikus

Virus disuntikkan ke dalam hidung tikus, teknik terapi gen ini akhirnya mampu mengembalikkan silia dan indra penciuman pada tikus.

Indra Penciuman Tikus

Tim peneliti internasional menyatakan bahwa terapi gen telah digunakan pada tikus yang lahir tanpa indra penciuman, tikus tersebut kini mampu untuk mengendus lingkungannya.

Tikus dengan penyakit genetik yang mempengaruhi rambut mikroskopis di tubuh mereka, disebut silia, akhirnya dapat mendeteksi bahan kimia di udara. Peneliti berharap temuan mereka akan mengarah pada pengobatan untuk penyakit silia, yang dapat menyebabkan kebutaan, tuli dan penyakit ginjal pada manusia.

Studi ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine yang berjudul “Gene therapy rescues cilia defects and restores olfactory function in a mammalian ciliopathy model“.

Silia yang bentuknya mikroskopis banyak ditemukan dalam tubuh. Berbagai kelainan genetik yang disebut ciliopathies, rusaknya silia dapat berakibat fatal atau dapat melemahkan. Salah satu tanda-tanda penyakit tanpa indra penciuman yang bisa dibawa seumur hidup disebut Anosmia bawaan.

Sebuah kelompok study yang dipimpin oleh University of Michigan, melihat tikus dengan mutasi pada gen Ift88. Mereka berusaha untuk menghasilkan silia pada tikus yang tidak dapat mencium bau-bauan.

Dalam studi ini, suatu virus dibuat agar mampu menginfeksi sel dan dapat bekerja pada gen Ift88. Virus ini kemudian disuntikkan ke dalam hidung tikus selama tiga hari berturut-turut. Hasilnya adalah teknik terapi gen ini akhirnya mampu mengembalikkan silia dan indra penciuman pada tikus.

Profesor Philip Beales dari University College London yang terlibat dalam studi ini mengatakan bahwa “Hal ini merupakan cara bahwa kita dapat mengembalikan gen ke dalam sel, memproduksi protein yang tepat, dan menghasilkan silia serta fungsinya seperti yang kita harapkan”.

Tikus dalam penelitian tersebut akhirnya dapat menggunakan mereka indra penciumannya untuk mencari makanan. Namun, diharapkan pendekatan yang serupa bisa juga digunakan untuk gejala gangguan lain.

Dr. James Battey, direktur dari US National Institute on Deafness and Other Communications Disorders, suatu institusi di Amerika yang menangani gangguan ketulian dan komunikasi, yang juga mendanai penelitian ini berkata “hasil ini merupakan salah satu opsi terapeutik pertama untuk menangani orang dengan penyakit anosmia bawaan. Mereka juga sedang mempersiapkan pendekatan terapi gen ini untuk mengobati penyakit yang melibatkan gangguan silia dalam sistem organ, dimana penyakit ini dapat berakibat fatal jika tidak ditangani.”

Terapi gen sekarang ini memang sedang giat-giatnya dilakukan oleh para peneliti untuk mengatasi suatu kelainan atau penyakit. Penyakit lainnya yang ditangani dengan terapi gen yaitu penyakit Parkinson.

Author: Jevuska

Rachmanuddin Chair Yahya a.k.a Jevuska is the founder of Jevuska.Com, a qualified web about offering medical articles, blogging, tips, and tutorial of WordPress. Having written for Jevuska since 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Use tag [php] to add code, e.g. [php]<?php echo $var; ?>[/php]