Terapi gen dapat mengembalikkan indra penciuman pada tikus

Virus disuntikkan ke dalam hidung tikus, teknik terapi gen ini akhirnya mampu mengembalikkan silia dan indra penciuman pada tikus.

Tim peneliti internasional menyatakan bahwa terapi gen telah digunakan pada tikus yang lahir tanpa indra penciuman, tikus tersebut kini mampu untuk mengendus lingkungannya.

Tikus dengan penyakit genetik yang mempengaruhi rambut mikroskopis di tubuh mereka, disebut silia, akhirnya dapat mendeteksi bahan kimia di udara. Peneliti berharap temuan mereka akan mengarah pada pengobatan untuk penyakit silia, yang dapat menyebabkan kebutaan, tuli dan penyakit ginjal pada manusia.

Studi ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine yang berjudul “Gene therapy rescues cilia defects and restores olfactory function in a mammalian ciliopathy model“.

Silia yang bentuknya mikroskopis banyak ditemukan dalam tubuh. Berbagai kelainan genetik yang disebut ciliopathies, rusaknya silia dapat berakibat fatal atau dapat melemahkan. Salah satu tanda-tanda penyakit tanpa indra penciuman yang bisa dibawa seumur hidup disebut Anosmia bawaan.

Sebuah kelompok study yang dipimpin oleh University of Michigan, melihat tikus dengan mutasi pada gen Ift88. Mereka berusaha untuk menghasilkan silia pada tikus yang tidak dapat mencium bau-bauan.

Dalam studi ini, suatu virus dibuat agar mampu menginfeksi sel dan dapat bekerja pada gen Ift88. Virus ini kemudian disuntikkan ke dalam hidung tikus selama tiga hari berturut-turut. Hasilnya adalah teknik terapi gen ini akhirnya mampu mengembalikkan silia dan indra penciuman pada tikus.

Profesor Philip Beales dari University College London yang terlibat dalam studi ini mengatakan bahwa “Hal ini merupakan cara bahwa kita dapat mengembalikan gen ke dalam sel, memproduksi protein yang tepat, dan menghasilkan silia serta fungsinya seperti yang kita harapkan”.

Tikus dalam penelitian tersebut akhirnya dapat menggunakan mereka indra penciumannya untuk mencari makanan. Namun, diharapkan pendekatan yang serupa bisa juga digunakan untuk gejala gangguan lain.

Dr. James Battey, direktur dari US National Institute on Deafness and Other Communications Disorders, suatu institusi di Amerika yang menangani gangguan ketulian dan komunikasi, yang juga mendanai penelitian ini berkata “hasil ini merupakan salah satu opsi terapeutik pertama untuk menangani orang dengan penyakit anosmia bawaan. Mereka juga sedang mempersiapkan pendekatan terapi gen ini untuk mengobati penyakit yang melibatkan gangguan silia dalam sistem organ, dimana penyakit ini dapat berakibat fatal jika tidak ditangani.”

Terapi gen sekarang ini memang sedang giat-giatnya dilakukan oleh para peneliti untuk mengatasi suatu kelainan atau penyakit. Penyakit lainnya yang ditangani dengan terapi gen yaitu penyakit Parkinson.

Epistaksis (Perdarahan Hidung)

Epistaksis biasanya merupakan akibat dari trauma intranasal yang terlokalisir. Namun, mungkin bisa menjadi tanda awal penyakit sistemik yang lebih serius.

Epistaksis atau perdarahan hidung-mimisan adalah kondisi yang sangat umum terjadi. di Amerika Serikat insiden yang diperkirakan 10 per 10.000 orang per tahun. Epistaksis biasanya merupakan akibat dari trauma intranasal yang terlokalisir. Namun, mungkin bisa menjadi tanda awal penyakit sistemik yang lebih serius.

ANATOMI DAN FISIOLOGI
Suplai darah pada kavitas sinonasal berasal dari kedua sistem arteri karotid interna dan eksterna.
Bagaian bawah rongga hidung mendapat perdarahan dari cabang a.maksillaris interna, diantaranya adalah ujung a. palatina mayor dan a.sfenopalatina.

Anatomi-Fisiologi Vaskular Hidung

Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. fasialis.
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a. sfenopalatina, a. ethmoid anterior, a. labial superior dan a. apalatina mayor yang disebut pleksus kiesselbach (little area).

INDIKASI
Pasien dengan epistaksis harus dievaluasi secara bijaksana. Semua pasien epistaksis memerlukan pemeriksaan secara menyeluruh demikian pula dengan kontrol perdarahannya.

KONTRAINDIKASI
Tidak ada kontraindikasi pada penanganan epistaksis. Perlu penatalaksanaan tanda vital yang tidak stabil, pernapasan yang tidak stabil, cedera pada tungkai yang membutuhkan perawatan, atau komplikasi lain yang berhubungan dengan hilangnya darah

PERALATAN

  • Nose clip
  • Headlight or overhead light source
  • Yankauer suction caheter
  • Frazier suction caheter, #5 and #7
  • Nasal speculum, short and medium lenghts
  • Bayonet forceps
  • Kidney basin
  • Weeder metal tongue blade or wooden tongue depressors
  • Gown, gloves and face shield
  • Cotton balls
  • Topical anesthetics and vasoconstrictors
  • Silver nitrate applicator stick
  • Petroleum (Vaseline)-impregnated gauze ribbon 0,5 inchies wide
  • Synthetic nasal sponges/tampons, various lenghts
  • Nasal ballons (anterior, posterior, anterior and posterior)
  • 14 French Foley catheter with a 30 mL ballon
  • Gelfoam
  • 4×4 gauze squares
  • Surgicel
  • ENTaxis nasal packing
  • 3 inch long dental rolls or tonsil packs, or 3×36 inch Vaseline gauze
  • Umbilical tape or 0 silk suture
  • Red rubber catheters
  • Lubricant

PERSIAPAN PASIEN
Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan, risiko-risikonya, dan keuntungannya terhadap pasien dan atau pendapat-pendapat mereka tentang prosedur tersebut. Buat informed consent untuk melakukan prosedur itu. Serta pastikan pasien telah memahami semua instruksi post prosedur dan follow up yang diperlukan .

ANESTESI DAN VASOKONTRIKSI

Anestesi
Lidocaine (4%)Cocaine (4%)Pontocaine (2%)
Vasokonstriksi
Phenulephrine (0,5-1,9%)Cocaine (4%)Oxymetazoline (0,05%)Epinephrine (1:1000)Xylometazoline Ephedrine (3%)
Kombinasi Anestesi dan Vasokonstriksi
CocaineLidocaine and phenylephrine (50:50).Lidocaine and oxymetazoline (50:50). Epinephrine (0,25 mL of 1:1000) and lidocaine (20 mL)

Teknik untuk penanganan epistaksis. Terdiri dari

  • penggunaan pack absorbabel
  • kauterisasi elektik
  • kateter folley
  • rull gauze
  • kateter balon intranasal
  • petrolatum(vaselin)
  • gauze yang diisi dengan ribbon
  • tampon/sponge nasal
  • serta silver nitrat.

Teknik dan bahan yang dipilih tergantung dari lokasi perdarahan (anterior dan posterior) serta keinginan dokter.

TEKNIK PENAGANAN EPISTAKSIS ANTERIOR

PACK ABSORBABEL
Gelfoam adalah sponge gelatin absorbabel yang mudah didapat tidak mahal, tersedia dalam bentuk jaring-jaring untuk pembentukan bekuan darah.
Surgicel mengandung selluloid yang teroksidasi dan teregenerasi. Surgicel lebih meningkatkan koagulasi dari pada Gelfoam. Akan tetapi, surgical menyebabkan pemyembuhan menjadi terhambat; sehingga digunakan untuk perdarahan yang persisten atau jika Gelfoam tidak tersedia.

Thrombin topical terbuat dari bovine thrombin. Tempatkan sepotong Gelfoam jenuh dengan thrombin didaerah yang mengalami perdarahan. Thrombin akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin dan membantu proses koagulasi yang cepat untuk membentuk bekuan darah.
Kolagen cocok untuk berbagai bentuk multiple dari sumber perdarahan yang bervariasi. Bahan ini meningkatkan agregasi platelet dan pembentukan jaring-jaring untuk formasi dari bekuan darah.

KAUTERISASI KIMIA
Kauterisasi kimia ini adalah dengan mengaplikasikan Silver Nitrat.
Oleskan silver nitrat selama 3-10 detik, jangan oleskan aplikator pada suatu daerah lebih dari 10 detik. Hal ini dapat menyebabkan nekrose pada mukosa dan kerusakan pada lapisan septum kartilaginous. Jangan mengoleskan silver nitrat secara luas atau pada daerah yang sama di kedua sisi dari septum, hal ini dapat menyebabkan perforasi dari septal. Oleskan salep antibiotic topical pada daerah tersebut. Tempatkan sepotong Gelfoam atau Surgicel diatas permukaan tersebut untuk membantu menstabilakan bekuan darah.

KATERISASI ELEKTRIK
Elektrokauter secara efektif dapat mengontrol pendarahan jika diketahui sumber pendarahannya. Teknik ini sebagai alternative untuk otolaryngologis yang berpengalaman. Teknik ini dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan pada kartilago, di tangan orang yang tidak berpengalaman.

PACKING RIBBON GAUZE
Packing Ribbon Gauze
Teknik tradisional, berupa packing nasal anterior menggunaan 0,5 inchi petrolatum wide (Vaseline) yang diisi dengan gauze ribbon. Teknik ini sangat efektif namum tidak sering digunakan karena kurang praktis, butuh banyak waktu, dan adanya metode lain yang lebih mudah (seperti : kauter silver nitrat, sponge/tampon).

Tampon NasalEXPANDABLE SPONGE/TAMPON NASAL
Salah satu teknik yang mudah, cepat, sangat efektif untuk mengontrol epistaksis anterior. Pack ini digunakan terutama ketika terjadi perdarahan yang difus, perdarahan yang tidak bisa ditentukan sumbernya atau perdarahan yang hebat. ada beberapa ukuran (4,5,6,8 dan 10 cm), bentuk dan modelnya. Ciri-cirinya sangat kaku, ringan dan mengembang dengan absorpsi salin atau darah.

INFLATABLE NASAL BALLON CAHTETERS

Kateter Balon Nasal Inflatable nasal baloon kateter

“plastic inflatable ballon catheters’ mempunyai penanganan yang sederhana terhadap epistaksis. Ballon nasal mudah digunakan dan cepat ditempatkan. Cocok dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Dapat berupa ballon anterior, ballon posterior atau balon rangkap.

PACK NASALIS ENTAKSIS
Pack/tampon nasalis anterior yang relatif baru adalah ENTaksis. Ini merupakan polimer alami yang berasal dari ganggang laut dan mengandung kalsium alginate. Pack ini menghasilkan hemostasis, memiliki sifat menyembuhkan, serta dapat diinsersi dan dikeluarkan tanpa menyebabkan trauma. Hidrasi dengan normal saline mengaktivasi kalsium alginate dan membuat pack ini lunak, pack mengembang 300% dan menyesuaikan dengan bentuk cavitas nasalis anterior. Pack ini mengaktivasi agregasi platelet untuk menghasilkan hemostasis, menjaga hemostasis tetap lembab, dan mengeluarkan gel ke permukaan halus yang memungkinkan pengeluaran pack dengan mudah.

TEKNIK PENANGANAN EPISTAKSIS POSTERIOR

PACK TRADISIONAL (GAUZE ROLL)
Pack Tradisional (Gauze Roll)
Teknik tradisional dari tampon hidung posterior melibatkan penggunaan helled gauze, dental roll, atau tonsil pack yang ditempatkan melalui orofaring. Teknik ini sulit, memerlukan banyak waktu, kotor, memerlukan banyak persediaan dan tidak dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien, terdapat teknik yang lebih mudah dan cepat, untuk alasan ini kadang tidak dilakukan.

TEHNIK FOLEY KATETER
Kateter Foley
Kateter foley dapat digunakan untuk menekan dinding posterior, penggunaan foley kateter sangat mudah, cepat dan gampang. Pilih kateter foley pompa balon dengan udara, pastikan keutuhan balon.
Pompa balon dengan 7 sampai 10 ml udara. Jangan pergunakan saline atau cairan lain sebagai pengganti udara sebab dapat terjadi aspirasi jika balon tersebut rupture.

TAMPON NASAL/SPONGES EXPANDABLE

Banyak ahli lebih memilih menggunakan spons/tampon ukuran 8 atau10 cm dari pada tehnik pack posterior yang lain. Sebab tehnik ini mudah cepat sederhana dan murah. Tehnik untuk memasukkan dan mengeluarkan tentu saja sama dengan tehnik anterior yang digambarkan sebelumnya.
Balon Kateter RangkapBALON KATETER NASAL INFLATABLE
Balon kateter rangkap dapat digunakan dimana pack posterior tidak cocok. Kateter ini mempunyai berbagai tipe dan ukuran. Harganya cukup mahal tetapi mudah dan cepat digunakan. Balon distal yang kecil tersangkut pada lengkung choana dan sama pada pack posterior balon proximal yang lebih besar menutupi seluruh rongga hidung dan sama dengan pack anterior. Balon distal dengan ukuran tekanan 10 ml dan balon anterior sebesar 30 ml . ini adalah volume maksimum yang direkomendasikan oleh pabrik yang tertera pada pembungkus dan tempat masuk udara pada balon.

BLOK ARTERI SPHENOPALATINA
Tehnik ini digunakan dimana tidak adanya ahli, pendarahan yang tidak berhenti dan metode yang lain untuk mengontrol pendarahan gagal. Local anastesi diinjeksikan pada kanalis ptyregopalatina untuk memblok arteri sphenopalatina. Local anestesi ini dapat menyebabkan nekrosis yang berbatasan dengan saraf. Injeksikan 0,25 ml larutan anestesi yang mengandung epinefrin kedalam mukosa foramen palatina.

INTERVENSI BEDAH
Konsulkan pada ahli ketika epistaksis sulit dikontrol dengan beberapa metode, maka intervensi bedah adalah suatu indikasi. Terapi bedah yang termasuk adalah septoplasty, kateterisasi endoskopi, ligasi arteri, (arteri maksillaris interna, arteri sphenopaltina, arteri ethmoid anterior dan posterior dan arteri carotis eksterna), atau dengan embolisasi.

SETELAH PERAWATAN
Prosedur setelah perawatan pada pasien dengan epistaksis anterior adalah sangat penting yaitu untuk ;
mengontrol perdarahan.

Semua pasien dengan nasal pack hendak ditherapi dengan antibiotic oral prophylactis yang adekuat untuk membunuh kuman staphylococcus aerus, streptococcus pneumonia, haemophilus influenza, dan morasella katarhalis.

Follow up yang rutin dengan ahli otolaryngotologi selama 24 – 48 jam, keluarkan packingnya dalam 48-72 jam jika pasien mengalami perdarahan yang minimal dan hemodinamit yang stabil.

Pasien harus menghindari korekan hidung dan tiupan ke hidung.

Memberitahukan pasien bahwa pack anterior tidak nyaman dan dapat diberikan obat acetaminophen dan beberapa analgesia.

Hindari penggunaan obat yang mengandung aspirin dan obat anti inflamasi non steroid sebab golongan ini tidak dapat menghentikan perdarahan.

KOMPLIKASI
Epistaksis yang disertai dengan komplikasi adalah beragam, luas dan diperkirakan 2 dari 69 % kasus. Epistaksis dapat berkomplikasi perdarahan,hypoksemia, hypovolumea, kolapsnya pembuluh darah dan tersumbatnya jalan nafas. Hasil komplikasi dari pengobatan epistaksis termasuk perforasi dari septum nasi, sinusitis, otitis media, syndrome syok toksik, aspirasi mekrosis dan hypoksia intrapulmonar biasanya menstimulasi refleks nasopulmonar.

KESIMPULAN
Kunci sukses penanganan tergantung dari kecepatan dan ketepatan dalam mengevaluasi pasien, diagnosis yang tepat dan mengontrol perdarahan. Sembilan puluh persen kasus epistaksis yang berasal atau bersumber dari anterior dan dapat dikontrol dengan kauter kimia atau nasal packing. Kedua tampon anterior dan posterior dapat digunakan pada Perdarahan posterior. Semua pasien dengan nasal packing hendaknya diberikan antibiotic profilaksis untuk mencegah sinusitis dan syndrome syok. Untuk mengeluarkan nasal packing hendaknya di Follow up dalam 24-72 jam pertama oleh ahli otolaryngologis atau departemen emergency.

Referensi
Reichmen.E.F, Simon.R.R, Management Epistaksis, chapter 148, in book Emergency Medicine Procedure, hal 1307-1319

Trakeostomi: Indikasi, Prosedur, Jenis & Komplikasi

Trakeostomi adalah prosedur operatif dengan membuat lubang untuk bernapas pada dinding depan trakea.

Pasang TrakeostomiTrakeostomi adalah prosedur operatif dengan membuat lubang untuk bernapas pada dinding depan trakea. Trakeostomi menurut letak yaitu letak yang tinggi dan letak yang rendah dan batasnya adalah cincin trakea ketiga. Trakeostomi menurut waktu yaitu trakeostomi darurat dan trakeostomi berencana.

Indikasi Trakeostomi
Alasan utama trakeostomi dilakukan, yaitu :

  • Obstruksi saluran napas atas
  • Insufisiensi mekanis respirasi
  • Kesulitan pernapasan akibat sekresi
  • Elektif: trakesotomi dilakukan untuk mempertahankan aliran udara saat saluran napas atas tidak dapat dilakukan.
  • Untuk membantu pemasangan alat bantu pernapasan
  • Mengurangi ruang rugi /dead air space

Prosedur Trakeostomi
Alat-alat yang diperlukan, yaitu :

  • Spoit (semprit) dengan anestesi local (lidokain 2%)
  • Pisau (bisturi no. 11 & 15 dan penanganannya)
  • Pinset anatomi
  • Gunting panjang dengan tepi/ujung yang tumpul
  • Haak tumpul yang kecil, klem arteri (hemostat) lurus & bengkok
  • Retraktor untuk membuka lumen trakea
  • Suction dan kauterisasi
  • Kanul trakea
  • Forceps.

Kanul Trakheostomi
Terdiri dari 3 bagian yaitu kanul luar, kanul dalam dan abturator. Kanul dalam dapat ditarik untuk dapat dibersihkan dalam waktu yang singkat. Obturator hanya digunakan sebagai penuntun untuk kanul luar dan dicabut kembali setelah kanul luar masuk pada tempatnya. Bentuk-bentuk kanul dapat pula bervariasi sesuai dengan jenis dan kegunaannya masing-masing.

Jenis-jenis Kanula
Jenis Kanula

Kanul Metal
Kanul dewasa-anak
Dewasa dan Anak-anak

Kanul Plastik
Tube Portex dan sheiley
Tube Portex dan Tube Sheiley

Trakheostomi Elektif Pada Orang Dewasa
Penderita tidur terlentang dengan posisi kepala lebig tingga daripada kaki untuk mengurangi tekanan aliran balik vena. Kulit daerah leher dibersihkan secara asepsis dan antisepsis dan ditutup dengan kain kasa steril.

Insisi horisontal direkomendasikan pada trakheostomi elektif. Insisi kulit dilakukan pada daerah landmark sepanjang ± 5 cm,yaitu cincin ke-2 dan ke-4. Ikatan-ikatan otot dipisahkan selapis demi selapis dan dijauhkan satu sama lain dengan dua penarik kecil samapi cincin trachea tampak Isthmus ini bisa diretraksi maka dapat ditarik ke atas dan ke bawah menjauhi lapangan trakheostomi.

Irisan trakhea dilakukan pada jajaran setinggi cincin kedua dan ketiga. Kanul trakheostomi disesuaikan dengan diameter dari lumen trakhea dan panjangnya disesuaikan dengan panjang trakhea. Setelah kanul terpasang, dilakukan fiksasi berupa pengikatan dari kanul dan diikatkan disisi leher.

Trakheostomi Darurat
Indikasi: kondisi pasien sangat berat berupa hipoksia yang semakin menghebat dimana tidak ada waktu untuk trakheostomi terencana dan fasilitas untuk intubasi endoktrakhea dan pemasukkan bronkhoskopi tidak memungkinkan.

Teknik dari trakheostomi darurat berbeda dari trakheostomi terencana, yaitu insisi dilakukan secara vertikal.

Trakheostomi Pada Anak
Teknik trakheostomi pada anak prinsipnya sama dengan pada orang dewasa. Anak harus lebih hati-hati karena anatomi leher anak sedikit berbeda. Diperlukan pula suatu ventilasi control dengan masker.

Perawatan Pasca Trakheostomi

  • Awasi tanda vital
  • Foto dada segera dilakukan dan 48 jam kemudian untuk melihat komplikasi lambat yang mungkin ada.
  • Udara hangat yang lembab harus disediakan selama 48 sampai 72 jam
  • Aspirasi teratur harus dilakukan dalam beberapa hari segera setelah operasi

Komplikasi

Immediate

  • Apneu, akibat lambatnya penanganan hipoksia
  • Perdarahan
  • Pneumothoraks dan pneumomediastinum
  • Trauma pada kartilago krikoid
  • Trauma pada struktur dekat trachea, seperti esophagus, n.laringeal rekurens dan pleura.

Intermediate.

  • Erosi trachea dan perdarahan
  • Disposisi dari kanul trakheostomi
  • Emfisema subkutan
  • Aspirasi dan abses paru

Late

  • Fistel trakheokutanes yang menetap
  • Stenosis dari laring dan trachea
  • Pembentukan jaringan ikat pada trachea
  • Fistel trakheaosofagus

Dekanulasi
Pastikan bahwa penyakit yang mendasari tindakan trakeostomi telah teratasi. Penutupan kanul trakeostomi dilakukan secara bertahap. Mulai dari ½ bagian stoma/lubang, ¾ bagian dan terakhir ditutup penuh, atau dengan mengganti kanul dengan diameter yang lebih kecil.

Syarat-syarat dilakukan dekanulasi
Hambatan atau kelainan neurologik sudah teratasi sehingga airway melalui hidung sudah adekuat. Jika pasien dapat batuk dengan adekuat dan disertai fungsi menelan yang sudah baik. Sekret tidak ada tanda-tanda infeksi seperti mukopurulen. Stoma terawat baik dan tidak ada komplikasi misalnya fistel (faringokutan).


 Bagikan

Gangguan Pendengaran – Tinitus

Tinitus adalah suatu gangguan pendengaran berupa keluhan perasaan pada saat mendengarkan bunyi tanpa ada rangsangan bunyi atau suara dari luar.

Pengertian Tinitus
Tinitus adalah suatu gangguan pendengaran berupa keluhan perasaan pada saat mendengarkan bunyi tanpa ada rangsangan bunyi atau suara dari luar. Adapun keluhan yang dialami ini seperti bunyi mendengung, mendesis, menderu, atau berbagai variasi bunyi yang lain.

Tinitus ada 2 macam yang terbagi atas tinitus obyektif dan tinitus subjektif. Tinitus obyektif terjadi apabila bunyi tersebut dapat juga didengar oleh pemeriksa atau dapat juga dengan auskultasi di sekitar telinga. Sifatnya adalah vibritorik yang berasal dari vibrasi atau getaran sistem muskuler (otot) atau kardiovaskuler di sekitar telinga. Sedangkan tinitus subjektif terjadi apabila suara hanya terdengar oleh pasien sendiri, dan jenis tinitus ini yang paling sering terjadi. Sifat dari tinitus subjektif adalah nonvibratorik karena adanya proses iritatif ataupun perubahan degenaratif pada traktus auditorius yang dimulai dari sel-sel rambut getar koklea sampai pada pusat saraf dari pendengar.

Patofisiologi Tinitus
Mekanisme terjadinya tinitus karena aktifitas elektrik di sekitar auditorius yang menimbulkan perasaan adanya bunyi, tetapi impuls yang terjadi bukan berasal dari bunyi eksternal atau dari luar yang ditransformasikan, melainkan berasal dari sumber impuls yang abnormal di dalam tubuh penderita sendiri.

Impuls abnormal itu dapat ditimbulkan oleh berbagai kelainan telinga. Tinitus dapat terjadi dalam berbagai intensitas. Tinitus dengan nada rendah, seperti bergemuruh atau nada tinggi, seperti berdengung. Tinitus dapat terus menerus atau hilang timbul terdengar.
Tinitus biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga terjadi karena gangguan konduksi. Tinitus yang disebabkan oleh gangguan konduksi, biasanya berupa bunyi dengan nada rendah. Jika disertai dengan inflamasi, bunyi dengung ini terasa berdenyut (tinitus pulsasi).

Tinitus dengan nada rendah dan terdapat gangguan konduksi, biasanya terjadi pada sumbatan liang telinga karena serumen atau tumor, tuba katar, otitis media, otosklerosis, dan lain-lain.

Tinitus dengan nada rendah yang berpulsasi tanpa gangguan pendengaran merupakan gejala dini yang penting pada tumor glomus jugulare.
Tinitus objektif sering ditimbulkan oleh gangguan vaskuler. Bunyinya seirama dengan denyut nadi, misalnya pada aneurisma dan aterosklerosis. Gangguan mekanis dapat juga mengakibatkan tinitus objektif, seperti tuba Eustachius terbuka, sehingga ketika bernapas membran timpani bergerak dan terjadi tinitus.

Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius, serta otot-otot palatum dapat menimbulkan tinitus objektif.

Bila ada gangguan vaskuler di telinga tengah, seperti tumor karotis (carotid-body tumour), maka suara aliran darah akan mengakibatkan tinitus juga.
Pada tuli sensorineural, biasanya timbul tinitus subjektif nada tinggi (sekitar 4000Hz)
Pada intoksikasi obat seperti salisilat, kina, streptomysin, dehidro-streptomysin, garamysin, digitalis, kanamysin, dapat terjadi tinitus nada tinggi, terus menerus atau hilang timbul.

Pada hipertensi endolimfatik seperti penyakit Meniere dapat terjadi tinitus pada nada rendah dan tinggi, sehingga terdengar bergemuruh atau berdengung. Gangguan ini disertai dengan tuli sensorineural dan vertigo.Gangguan vaskuler koklea terminalis yang terjadi pada pasien yang stres akibat gangguan keseimbangan endokrin, seperti menjelang menstruasi, hipometabolisme atau saat hamil dapat juga timbul tinitus atau gangguan tersebut akan hilang bila keadaannya sudah kembali normal.

Diagnosis Tinitus
Tinitus merupakan suatu gejala klinik penyakit telinga, sehingga untuk pengobatannya perlu ditegakkatn diagnosis untuk mencari penyebabnya yang biasanya sulit untuk diketahui. Anamnesis merupakan hal yang utama dan sangat penting dalam penegakkan diagnosis tinitus. Perlu ditanyakan kualitas dan kuantitas tinitus, adanya gejala lain yang menyertai, misalnya adanya vertigo dan atau gangguan pendengaran serta gejala neurologik lain, riwayat terjadinya tinitus unilateral atau bilateral, apakh sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan fisik THT dan otoskopi harus secara rutin dilakukan, pemeriksaan penala, audiometri tutur, bila perlu dilakukan pemeriksaan BERA dan atau ENG serta pemeriksaan laboratorium.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam anamnesis adalah : lama serangan tinitus, bila berlangsung dalam waktu 1 menit biasanya akan hilang sendiri, hal ini bukan keadaan patologik. Bila berlangsung dalam 5 menit merupakan keadaan patologik. Tinitus subjektif unilateral disertai gangguan pendengaran perlu dicurigai kemungkinan tumor neuroma akustik atau trauma kepala. Bila tinitus bilateral kemungkinan terjadi pada intoksikasi obat, presbiakusis, trauma bising, dan penyakit sistemik lain. Apabila pasien sulit mengidentifikasi kanan atau kiri kemungkinannya disaraf pusat. Kualitas tinitus, bila tinitus bernada tinggi biasanya kelainannya pada daerah basal koklea, saraf pendengar perifer dan sentral. Tinitus bernada rendah seperti gemuruh ombak khas untuk kelainan koklea seperti hidrops endolimfa.

Pengobatan Tinitus
Pengobatan tinitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena psikoakustik murni, sehingga tidak dapat diukur.

Perlu diketahinya penyebab tinitus agar dapat diobati sesuai dengan penyebabnya. Kadang-kadang penyebabnya itu sukar diketahui.
Pada umumnya pengobatan gejala tinitus dapat dibagi dalam 4 cara yaitu :
1. Elektrofisiologik yaitu dengan membuat stimulus elektro akustik dengan intensitas suara yang lebih keras dari tinitusnya, dapat dengan alat bantu dengar atau tinitus masker.
2. Psikologik, dengan memberikan konsultasi psikologik untuk meyakinkan pasien bahwa penyakitnya tidak membahayakan dan dengan mengajarkan relaksasi setiap hari.
3. Terapi medikamentosa, sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas diantaranya untuk meningkatkan aliran darah koklea, tranquilizer, antidepresan, sedatif, neurotonik, vitamin, dan mineral.
4. Tindakan bedah dilakukan pada tinitus yang telah terbukti disebabkan oleh akustik neuroma.Pasien yang menderita gangguan ini perlu diberikan penjelasan yang baik, sehingga rasa takut tidak memperberat keluhan tersebut.

Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan saat menjelang tidur pada pasien yang tidurnya sangat terganggu oleh tinitus itu. Kepada pasien harus dijelaskan bahwa gangguan itu sukar diobati dan dianjurkan agar beradaptasi dengan gangguan tersebut.

Full Credit: Pustaka Medika Indo