Patofisiologi Demam Berdarah Dengue dan DSS

Patogenesis demam dengue berkaitan dengan adanya respon kekebalan pada host (inang), yang dipicu oleh infeksi virus dengue. Infeksi primer atau infeksi pertama biasanya tidak terlalu mengkhawatirkan, akan tetapi jika terjadi infeksi sekunder dengan beberapa serotipe yang berbeda maka dapat menyebabkan infeksi yang berat dan diklasifikasikan sebagai demam berdarah dengue (DBD) atau/dan dengue shock syndrome (DSS), tergantung pada tanda-tanda klinis yang muncul.

Imununitas (cross-reactive antibodies) yang didapatkan dari reaksi silang antara antibodi dan antigen yang tidak netral oleh infeksi primer sebelumnya menimbulkan fenomena yang dinamakan antibody-dependent enhancement (ADE). Hal inilah yang menyebabkan beban virus dalam tubuh semakin berat dan terjadi peningkatan infeksi dalam sel inang. Sel-sel keturunan monosit-makrofag adalah tempat utama terjadinya replikasi virus, akan tetapi virus dapat menginfeksi jaringan lain dalam tubuh seperti hati, otak, pankreas, dan jantung.

Patogenesis ini juga melibatkan antigen-presenting sel dendritik, respon imun humoral, dan respon imun sel-sel yang dimediasi. Proliferasi sel-sel T memori dan produksi sitokin pro-inflamasi menyebabkan terjadinya disfungsi sel endotel pembuluh darah, sehingga menyebabkan kebocoran plasma. Terdapat beberapa sitokin dengan konsentrasi yang lebih tinggi seperti interferon-gamma, tumor necrosis factor (TNF)-alpha, dan interleukin-10, dapat mengurangi tingkat oksida nitrat dan beberapa faktor komplemen. NS1 merupakan modulator dari jalur komplemen dan memainkan peran dalam tingkat rendah faktor komplemen. Setelah terjadinya infeksi, cross-reactive antibodies yang sepesifik, sel T CD4+ dan CD8+, menetap dalam tubuh selama bertahun-tahun.

Kebocoran pembuluh darah adalah ciri khas DBD dan DSS, dan menyebabkan peningkatan hematokrit, hipoalbuminemia, dan efusi pleura atau ascites. Kebocoran plasma ini disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah meningkat yang disebabkan oleh mediator antara lain C3A, C5a selama tahap demam akut dan menonjol selama tahap infeksi. Peningkatan hematokrit bisa saja tidak terjadi karena kemungkinan adanya perdarahan berat lainnya atau karena telah diberikan cairan pengganti secara intravena pada awalnya.

Terdapat data sebelumnya bahwa disfungsi transien dari lapisan glycocalyx endotel menyebabkan kebocoran pembuluh darah. Ada juga kecenderungan perdarahan berhubungan dengan trombositopenia berat dan gangguan koagulasi.

Pada infeksi berat, kehilangan cairan intravaskular menyebabkan hipoperfusi jaringan, asidosis laktat, hipoglikemia, hipokalsemia, dan, akhirnya, kegagalan organ multiple. Beberapa disfungsi organ termasuk miokarditis, ensefalopati, dan nekrosis sel hati juga bisa terjadi akibat virus secara langsung, dan menyusul terjadinya peradangan jaringan.

Pada janin, mereka dapat pula terkena infeksi dengue yang parah selama infeksi primer karena adanya aliran antibodi melalui plasenta dari kekebalan sang ibu, yang kemudian menguatkan respon kekebalan bayi terhadap infeksi primer.

Skema Patofisiologi Demam Berdarah Dengue

Skema Patofisiologi Demam Berdarah Dengue

Referensi

  • Dimmock, N. J.; Easton, A. J. (Andrew J.); Leppard, Keith. (2007). Introduction to modern virology. Malden, MA: Blackwell Pub.. p. 65. ISBN 978-1-4051-3645-7.
  • Pathophysiology And Management Of Dengue Hemorrhagic Fever,A Chuansumrit,Web ,2006
  • Dengue Fever, British Medical Journal, Web, 2012

Faktor Yang Mempengaruhi Pembiakan Nyamuk Aedes

Nyamuk Aedes aegypti sangat mudah berkembang biak, nyamuk jenis ini adalah perantara dari mewabahnya penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang diakibatkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk ini. Pada umumnya A. aegypti memiliki habitat di daerah perumahan, sebagaimana kita ketahui, lingkungan perumahan banyak terdapat genangan air bersih, baik itu di bak mandi atau tempat penampungan air lainnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembiakan nyamuk Aedes, diantaranya:

  • Perubahan musim dari panas ke musim hujan atau sebaliknya, dimana banyak air bersih yang tergenang menjadi sumber nyamuk untuk berkembang biak.
  • Bak mandi rumah tangga yang jarang dikuras menjadi tempat telur dan larva nyamuk berkembang di dalam air.
  • Tempat-tempat penampungan air yang terbuka dapat menjadi akses dan sarang nyamuk Aedes untuk bertelur.
  • Sampah dan barang-barang yang dapat menampung air di kala hujan juga menjadi host bagi pembiakan nyamuk.
  • Saluran air atau selokan yang tergenang dan tidak mengalir di sekitar lingkungan rumah tangga akan memudahkan bagi nyamuk Aedes dalam melakukan pembiakan.
  • Kurangnya kesadaran dan perhatian masyarakat akan kebersihan lingkungan dan pemahaman akan penyebaran vektor nyamuk Aedes.
  • Telur Aedes aegypti sangat tahan terhadap kekeringan dan dapat bertahan sampai 1 bulan lamanya. Oleh karena itu, jika telur ini terendam air maka ia dapat menetas dan menjadi larva.
  • Nyamuk Aedes yang terinfeksi virus dengue dapat mengakibatkan nyamuk tersebut kurang handal dalam mengisap darah, nyamuk ini akan berulang kali menusukkan proboscis-nya dan tidak berhasil mengisap darah sehingga nyamuk akan berpindah dari satu orang ke orang lain dan terjadilah penularan virus yang semakin melebar.
  • Adanya kemampuan nyamuk Aedes dalam melakukan perjalanan jarak jauh (sampai dengan 75 mil/121 km) dari tempat mereka berkembang biak, merupakan salah satu faktor juga bagi nyamuk untuk terus melakukan pembiakan di mana-mana. Mereka akan terus-menerus menggigit mamalia (khususnya manusia), terutama saat pagi dan sore hari.
  • Anak-anak sekolah banyak terinfeksi virus ini, karena mereka selalu berada dalam kelas dari pagi hingga sore, di mana tempat gelap seperti laci meja, bawah meja dan bangku menjadi tempat kesukaan nyamuk Aedes. Kurangnya kesadaran dari para siswa atau guru untuk membersihkan kelas atau tidak melakukan penyemprotan DBD dapat membuat penyebaran nyamuk Aedes yang terinfeksi semakin meluas.
  • Ketiadaan atau keterbatasan dana dan alat penyemprot nyamuk DBD yang dipunyai pemerintah setempat dalam melakukan fogging, dapat pula membuat pembiakan nyamuk Aedes semakin berkembang.

Setelah Anda mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi pembiakan nyamuk Aedes, tentunya akan lebih mudah untuk mengatasi wabah penyakit DBD. Bagaimanapun juga, penyakit ini merupakan jenis penyakit menular yang cukup serius jika tidak ditangani dengan segera dan dapat mengakibatkan kematian pada orang yang terjangkit virus dengue.

Referensi

  • How Mosquitoes Work, Howstuffworks, Web
  • Aedes aegypti, Wikipedia, Web

Demam Berdarah Dengue (DBD) — gejala, penyebab & pengobatan

Pengertian DBD
Demam Berdarah Dengue (DBD) (Inggris: Dengue Hemorrhagic Fever - DHF) adalah suatu penyakit infeksi virus yang berat dan berpotensi mematikan yang disebarkan oleh spesies nyamuk tertentu dalam hal ini nyamuk Aedes aegypti. Pasien demam berdarah dengue yang mengalami syok hipovolemik akibat kebocoran plasma disebut dengue shock syndrome (DSS) yang dapat berakibat fatal.

Epidemiologi DBD
Menurut WHO, dengue adalah penyakit virus yang yang paling umum ditularkan oleh nyamuk ke manusia, yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi masalah kesehatan utama masyarakat internasional. Secara global, 2.5 miliar orang tinggal di daerah di mana virus dengue dapat ditransmisikan. Penyebaran geografis antara vektor nyamuk dan virus telah menyebabkan epidemi demam berdarah secara global dan kedaruratan demam berdarah dengue dalam 25 tahun terakhir dengan perkembangan hiperendemisitas di pusat-pusat perkotaan daerah tropis.

Patofisiologi DBD
Patofisiologi utama DBD atau DSS adalah kebocoran plasma yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga perpindahan plasma ke dalam ruang ekstravaskuler. Jika tidak ditangani dengan benar sering terjadi komplikasi lebih parah sampai kematian. Ada dua perubahan patofisiologis utama yang terjadi pada DBD. Pertama adalah peningkatan permeabilitas pembuluh darah yang meningkatkan hilangnya plasma dari kompartemen vaskular.

Situasi ini mengakibatkan hemokonsentrasi, tekanan nadi rendah, dan tanda-tanda lain dari syok. Perubahan kedua adalah gangguan yang mencakup perubahan dalam hemostasis vaskular, trombositopenia, dan koagulopati. Kerusakan trombosit terjadi dalam kualitatif dan kuantitatif, jumlah trombosit selama fase akut DBD dapat habis. Oleh karena itu, meskipun jumlah trombosit lebih dari 100.000/mm3, waktu perdarahan masih dapat memanjang.

Penyebab DBD
Virus dengue adalah penyebab demam berdarah dengue. Diketahui ada empat jenis virus yang mengakibatkan demam berdarah yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Kekebalan dari berbagai tipe virus dengue yang berbeda memainkan peran penting dalam keparahan penyakit. Keempat serotipe virus yang berbeda tersebut berkaitan erat. Pemulihan dari infeksi dari yang satu serotipe memberikan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe tertentu. Namun, kekebalan silang terhadap serotipe lain setelah pemulihan hanya parsial dan temporer. Infeksi berikutnya oleh serotipe lain meningkatkan risiko berkembangnya demam berdarah yang parah.

Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama penyebab demam berdarah. Virus ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi. Setelah masa inkubasi virus selama 4-10 hari, nyamuk yang terinfeksi mampu menularkan virus selama sisa hidupnya. Manusia yang terinfeksi adalah pembawa utama dan pengganda dari virus. DBD bisa dikatakan penyakit menular dimana pasien yang telah terinfeksi virus dengue dapat menularkan infeksi (selama 4-5 hari, maksimum 12 hari) melalui nyamuk Aedes setelah gejala pertama mereka muncul.

Aedes albopictus, vektor demam berdarah yang kedua di Asia, dan telah menyebar ke Amerika Utara dan Eropa. Penyebaran ini sebagian besar karena perdagangan internasional. Ae. albopictus sangat adaptif dan karena itu dapat bertahan hidup di daerah beriklim dingin di Eropa.

Gejala, tanda-tanda dan diagnosis DBD
Gejala awal dari demam berdarah dengue mirip dengan demam dengue biasa. Demam dengue seperti flu yang mempengaruhi bayi, anak-anak dan orang dewasa, tetapi jarang menyebabkan kematian. Pada demam berdarah dengue, setelah beberapa hari pasien akan menjadi mudah marah, gelisah, dan berkeringat.

Demam dengue harus dicurigai bila demam tinggi (40° C/104 ° F) disertai oleh dua gejala berikut: sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, otot dan nyeri sendi, mual/muntah, kelenjar bengkak atau adanya ruam. Biasanya berlangsung selama 2-7 hari, setelah masa inkubasi 4-10 hari akibat gigitan dari nyamuk yang terinfeksi.

Dikatakan demam berdarah karena mungkin akan muncul bintik-bintik darah berukuran kecil di kulit yang dinamakan petechiae dan berukuran lebih lebar bawah kulit dinamakan ekimosis. Jika terjadi syok dapat menyebabkan kematian. Jika pasien dapat bertahan, pemulihan dimulai setelah masa krisis satu hari.

Demam berdarah yang parah merupakan komplikasi yang berpotensi mematikan karena plasma bocor, terjadi akumulasi cairan, gangguan pernapasan, pendarahan parah, atau rusaknya fungsi organ. Tanda-tanda peringatan muncul 3-7 hari setelah gejala pertama dalam hubungannya dengan penurunan temperatur (di bawah 38°C/100°F) dan munculnya nyeri perut yang parah, muntah terus menerus, napas cepat, gusi berdarah, kelelahan, gelisah, muntah darah. 24-48 jam berikutnya dari tahap kritis dapat mematikan, perawatan medis yang tepat diperlukan untuk menghindari komplikasi dan risiko kematian.

Klasifikasi Derajat Demam Berdarah Dengue
DBD diklasifikasikan menjadi 4 derajat, di mana derajat III dan IV dianggap sebagai DSS. Adanya trombositopenia, disertai hemokonsentrasi membedakan derajat I dan II dari demam dengue biasa.

  • Derajat 1: Demam disertai dengan gejala non-spesifik, satu-satunya manifestasi perdarahan adalah tes tourniquet positif dan/atau mudah memar.
  • Derajat II: Perdarahan spontan selain manifestasi perdarahan di derajat I, biasanya dalam bentuk perdarahan kulit atau perdarahan lain.
  • Derajat III: Terjadi kegagalan sirkulasi dengan gejala klinis nadi cepat, lemah dan penyempitan tekanan nadi atau hipotensi, kulit dingin, lembab dan cemas.
  • Derajat IV: Syok berat dengan tekanan darah atau denyut nadi tidak terdeteksi.

Pemeriksaan Fisik DBD
Ada beberapa pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk demam berdarah dengue yaitu:

  • Adanya pembesaran hati (Hepatomegali)
  • Ruam-ruam kulit
  • Mata memerah
  • Tenggorokan memerah
  • Pembengkakan kelenjar
  • Nadi lemah

Tes yang dilakukan

  • Pemeriksaan gas darah arteri
  • Pemeriksaan kuagulasi darah
  • Elektrolisis
  • Hitung hematokrit
  • Enzim hati
  • Jumlah platelet
  • Pemeriksaan serologis
  • Tes Tourniquet
  • X-ray dada yang kemungkinan adanya efusi pleura

Pengobatan DBD
Sampai saat ini tidak ada obat atau vaksin yang spesifik untuk menangani virus demam berdarah dengue, satu-satunya pengobatan adalah dengan mengatasi gejala yang terjadi.

  • Pemberian transfusi darah segar atau trombosit dapat memperbaiki masalah pendarahan.
  • Cairan Intravena (IV) dan elektrolit juga digunakan untuk memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit.
  • Terapi oksigen mungkin diperlukan untuk mengatasi oksigen darah rendah yang abnormal.
  • Rehidrasi dengan cairan intravena (IV) seringkali diperlukan untuk mengobati dehidrasi.
  • Perawatan pendukung dalam Intensif Care Unit (ICU).

Prognosis DBD
Dengan perawatan yang cepat dan agresif, kebanyakan pasien sembuh dari demam berdarah dengue. Namun, setengah dari pasien yang tidak diobati dan telah mengalami syok tidak dapat bertahan hidup.

Komplikasi DBD

  • Encephalopathy
  • Kerusakan hati
  • Kerusakan otak residual
  • Kejang
  • Syok

Pencegahan Demam Berdarah Dengue
Tidak ada vaksin yang tersedia untuk mencegah demam berdarah. Menurut WHO vaksin demam berdarah masih dalam penelitian. Sementara ada vaksin dengue yang tidak berlisensi tersedia, beberapa kandidat vaksin saat ini sedang dievaluasi dalam studi klinis. Vaksin hidup yang dilemahkan berdasarkan virus demam kuning dan virus dengue, chimeric yellow fever-tetravalent dengue virus (CYD-TDV), telah berkembang sampai fase ke-3. Hasil penelitian mengenai efikasi vaksin telah dipublikasikan di Thailand pada bulan September 2012.

Adapun hal-hal yang Anda dapat lakukan untuk pencegahan terjangkitnya penyakit DBD yaitu menggunakan pakaian yang melindungi tubuh Anda terutama tangan dan kaki, dan jika mungkin, lakukan perjalanan selama periode aktivitas nyamuk minim. Program pengurangan nyamuk juga dapat mengurangi risiko infeksi seperti melakukan fogging di lingkungan sekitar dan jangan melupakan slogan 3M plus dari pemerintah.

Istilah 3M (Menutup, Menguras, dan Mengubur) telah lama di programkan oleh Kementerian Kesehatan/Departemen Kesehatan sejak tahun 80-an, dan kini slogan tersebut berubah menjadi 3M plus. Plus disini artinya memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, gunakan kelambu pada saat tidur, memasang kasa pada ventilasi rumah, melakukan penyemprotan nyamuk dengan insektisida, memasang obat nyamuk yang mengandung DEET (N,N-Diethyl-meta-toluamide) dan memeriksa jentik secara berkala.

Wabah Demam Berdarah Virus Ebola

Demam berdarah akibat virus Ebola kini telah mewabah di Republik Demokratik Kongo dengan memakan korban sekitar 31 orang. Demam berdarah Ebola (Ebola hemorrhagic fever) adalah penyakit berat dan sering fatal, yang terjadi pada manusia dan primata seperti monyet, gorila, dan simpanse, yang muncul secara sporadis sejak awal tahun 1976.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Ebola. Ebola adalah nama sebuah sungai di Republik Demokratik Kongo (dulu Zaire) di Afrika, tempat di mana virus Ebola ini pertama kali dikenali. Virus ini adalah salah satu dari dua family virus RNA disebut Filoviridae. Ada lima subtipe dari virus Ebola. Empat dari kelima subtipe virus tersebut telah menyebabkan penyakit pada manusia. Subtipe virus ebola yaitu Ebola Zaire, Ebola-Sudan, Ebola-Ivory Coast, dan Ebola-Bundibugyo. Subtipe yang kelima adalah Ebola-Reston, yang telah menyebabkan penyakit pada primata, tidak pada manusia.

Dimana virus Ebola dapat ditemukan?
Lokasi dan habitat alami dari virus Ebola tetap tidak diketahui. Namun, dari berbagai bukti yang tersedia dan sifat virus yang sama, para peneliti percaya bahwa virus ini asalnya dari hewan, dengan 4 dari 5 subtipe terjadi pada hewan asli Afrika.

Di mana kasus demam berdarah Ebola terjadi?
Kasus demam berdarah Ebola telah dilaporkan terjadi di Republik Demokratik Kongo, Gabon, Sudan, Pantai Gading, Uganda, dan Republik Kongo. Tidak ada kasus penyakit ini yang pernah dilaporkan terjadi pada manusia di Amerika Serikat, hanya pada hewan. Virus Ebola-Reston telah menyebabkan penyakit yang parah dan kematian pada monyet yang diimpor dari Filipina ke fasilitas penelitian di Amerika Serikat dan Italia. Selama wabah ini terjadi, para pekerja penelitian akhirnya terinfeksi dengan virus, tetapi tidak menjadi sakit.

Bagaimana penyebaran virus Ebola?
Infeksi virus Ebola sifatnya akut. Karena reservoir alami dari virus tidak diketahui, cara bagaimana virus pertama muncul pada manusia belum ditentukan. Namun, hipoptesi para peneliti menyimpulkan bahwa pasien pertama menjadi terinfeksi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi.

Ketika manusia terinfeksi, virus dapat ditularkan melalui beberapa cara. Orang bisa terkena virus Ebola dari kontak langsung dengan darah dan/atau sekresi dari orang yang terinfeksi. Dengan demikian, virus sering menyebar melalui keluarga dan teman-teman. Orang juga dapat terkena virus Ebola melalui kontak dengan benda-benda, seperti jarum, yang telah terkontaminasi virus ebola, yang akhirnya dapat pula menyebabkan infeksi nosokomial.

Apa saja gejala demam berdarah Ebola?
Masa inkubasi untuk demam berdarah Ebola berkisar antara 2 sampai 21 hari. Penyakit yang tiba-tiba dan ditandai dengan demam, sakit kepala, dan nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, dan kelemahan, diikuti dengan diare, muntah, dan nyeri perut. Ruam mata merah, cegukan dan pendarahan internal dan eksternal dapat dilihat pada beberapa pasien.

Para peneliti tidak mengerti mengapa beberapa orang dapat pulih dari demam berdarah Ebola dan yang lain tidak. Namun, diketahui bahwa pasien yang meninggal biasanya belum timbulnya imunitas yang signifikan terhadap virus.

Bagaimana Ebola demam berdarah didiagnosis secara klinis?
Sulit untuk mendiagnosis demam berdarah Ebola pada individu yang telah terinfeksi beberapa hari karena gejala awal, seperti mata merah dan ruam kulit. Namun, jika seseorang memiliki konstelasi gejala yang dijelaskan di atas, maka bisa diduga telah terinfeksi virus Ebola. Pasien harus diisolasi dan kemudian beritahukan departemen kesehatan lokal dan pemerintah.

Tes laboratorium apa yang digunakan untuk mendiagnosis demam berdarah Ebola?
Tes enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), IgM ELISA, polymerase chain reaction (PCR), dan isolasi virus dapat digunakan untuk mendiagnosa kasus demam berdarah Ebola dalam beberapa hari sejak timbulnya gejala.

Bagaimana demam berdarah Ebola dirawat?
Tidak ada pengobatan standar untuk demam berdarah EbolaF. Pasien menerima terapi suportif, yaitu keseimbangan cairan dan elektrolit, mempertahankan status oksigen dan tekanan darah, dan penanganan komplikasi infeksi.

Bagaimana demam berdarah Ebola dapat dicegah?
Pencegahan demam berdarah Ebola di Afrika menyajikan banyak tantangan. Karena identitas dan lokasi reservoir alami dari virus Ebola tidak diketahui, ada beberapa tindakan pencegahan primer yang dilakukan.

Jika kasus penyakit ini muncul, kondisi sosial dan ekonomi sering mendukung penyebaran epidemi dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, penyedia layanan kesehatan harus mampu mengenali kasus demam berdarah Ebola pada saat timbul. Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk melakukan tes diagnostik dan siap untuk melakukan pencegahan praktis untuk virus.

Pencegahan praktis ini termasuk mengenakan pakaian pelindung, seperti masker, sarung tangan, baju, dan kacamata, termasuk sterilisasi peralatan lengkap, dan isolasi pasien demam berdarah Ebola dari kontak dengan orang-orang yang tidak dilindungi. Tujuan dari semua teknik ini adalah untuk menghindari kontak setiap orang dengan darah atau cairan dari setiap pasien. Jika seorang pasien dengan demam berdarah Ebola meninggal, itu sama pentingnya bahwa kontak langsung dengan tubuh pasien meninggal harus dicegah.

Para ilmuwan dan peneliti dihadapkan dengan tantangan untuk mengembangkan alat diagnostik tambahan untuk membantu dalam diagnosis awal demam berdarah Ebola dan mungkin melakukan penyelidikan ekologi virus Ebola dan reservoir. Selain itu, salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk memantau daerah-daerah yang dicurigai untuk menentukan kejadian penyakit. Pengetahuan yang lebih luas dari reservoir alami virus Ebola dan bagaimana virus menyebar harus diketahui untuk kefektifan pencegahan terjadinya wabah.

Referensi

  • Centers for Disease Control and Prevention
  • Foto Transmission Electron Micrograph (TEM) dari RNA filovirus yang menyebabkan demam berdarah Ebola. ~ Photo courtesy CDC/Cynthia Goldsmith.

Aedes Aegypti — Nyamuk demam berdarah yang cerdas & mematikan

Aedes aegypti adalah vektor nyamuk yang utama untuk virus dengue, dimana jenis serangga ini sangat erat hubungannya dengan manusia dan tempat tinggal mereka. Manusia tidak hanya menyediakan nyamuk dengan darah sebagai makanan mereka tetapi juga wadah yang berisi air di dalamnya dan di sekitar rumah yang dibutuhkan oleh nyamuk ini untuk berkembang biak. Nyamuk Aedes aegypti bertelur di sisi penampungan air dan menetas menjadi larva setelah hujan atau banjir. Sebuah larva berubah menjadi pupa membutuhkan waktu sekitar seminggu dan menjadi nyamuk dalam dua hari. Manusia juga juga memberikan tempat berlindung bagi Ae. aegypti yang sangat istimewa yaitu terletak di daerah dingin dan gelap.

Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi, yang spesies invasif domestik dengan distribusi di seluruh dunia tropis dan subtropis yang berasal dari Ethiopia, Afrika.

Ciri-ciri morphologynyamuk Aedes Aegypti
Nyamuk Aedes aegypti tipe dewasa berukuran sedang dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan kakinya ditutupi sisik bergari-garis putih keperakan. Nyamuk jantan ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan nyamuk betina dan terdapat rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Morfologi nyamuk Aedes aegypti di bagian dorsal atau punggung nyamuk terdapat dua garis melengkung vertikal, baik itu di kiri atau di kanan. Penularan infeksi virus dengue dilakukan oleh nyamuk betina karena yang betina bertugas sebagai pengisap darah untuk memperoleh asupan protein dan memproduksi telur. Sedangkan nyamuk jantan tidak menghisap darah, energinya diperoleh dari nektar bunga atau tumbuhan.

Selain menyebabkan penyakit demam berdarah dan dapat mematikan, nyamuk ini dapat juga mengakibatkan penyakit demam kuning (Yellow fever), dog heartworm, Murray Valley encephalitis dan virus Ross River.

Banyak orang percaya bahwa nyamuk hanya hidup dua atau tiga hari, tetapi dalam kenyataannya, siklus hidup nyamuk aedes aegypti dapat selama berbulan-bulan. Telur nyamuk Aedes terletak secara terpisah sehingga memungkinkan mereka untuk tersebar di permukaan air yang luas jika kondisi memungkinkan, karena dengan cara seperti ini akan memberikan kesempatan yang lebih baik bagi nyamuk untuk bertahan hidup.

Aedes aegypti tidak seperti spesies nyamuk lain, ia sangat cerdas. Awalnya nyamuk ini tiba di Brazil dari Ethiopia dengan kapal-kapal perdagangan budak. Mereka tinggal di dekat manusia sudah sangat lama dan ia telah menjadi sangat tergantung pada manusia dan telah belajar banyak darinya. Misalnya, ia dapat mengurangi suara nyamuk ‘berdengung’ dengan sayapnya sehingga manusia tidak dapat mendengarnya, tidak seperti nyamuk lain yang berdengung sangat menjengkelkan dan membangunkan tidur nyenyak Anda.

Aedes aegypti tidak pernah tinggal lebih dari 90 meter dari tempat tinggal untuk menjamin makanannya, meskipun ia mampu terbang hingga jarak 121 km. Dia menyerang dari bawah atau belakang, biasanya dari bawah meja atau kursi dan sasarannya pada tubuh manusia adalah di kaki dan pergelangan kaki. Serangga ini sangat cepat saat terbang kecuali mereka dalam keadaan kenyang akan darah. Nyamuk jenis lain yang terbang di depan wajah Anda sangat mudah untuk di tangkap atau dibunuh, tapi tidak nyamuk Aedes, dia terlalu cerdas.

Referensi

  • Aedes aegypti and Dengue fever, Mic-UK, Web.
  • Aedes aegypti, Wikipedia, Web
  • Aedes aegypti, University of Sydney and Westmead Hospital, Australia, Web
  • Entomology Dengue, CDC, Web