Retensi Urine Post Partum

PENDAHULUAN RETENSI URINE POST PARTUM
Traktus urinarius bagian bawah memiliki dua fungsi utama, yaitu: sebagai tempat untuk menampung produksi urine dan sebagai fungsi ekskresi. Selama kehamilan, saluran kemih mengalami perubahan morfologi dan fisiologi. Perubahan fisiologis pada kandung kemih yang terjadi saat kehamilan berlangsung merupakan predisposisi terjadinya retensi urine satu jam pertama sampai beberapa hari post partum. Perubahan ini juga dapat memberikan gejala dan kondisi patologis yang mungkin memberikan dampak pada perkembangan fetus dan ibu.

Residu urine setelah berkemih normalnya kurang atau sama dengan 50 ml, jika residu urine ini lebih dari 200 ml dikatakan abnormal dan dapat juga dikatakan retensi urine. Insiden terjadinya retensi urine post partum berkisar 1,7% sapai 17,9%. Secara umum penanganannya diawali dengan kateterisasi. Jika residu urine lebih dari 700 ml, antibiotik profilaksis dapat diberikan karena penggunaan kateter dalam jangka panjang dan berulang.

Retensi urine post partum dapat terjadi pada pasien yang mengalami kelahiran normal sebagai akibat dari peregangan atau trauma dari dasar kandung kemih dengan edema trigonum. Faktor-faktor predisposisi lainnya dari retensio urine meliputi epidural anestesia, pada gangguan sementara kontrol saraf kandung kemih , dan trauma traktus genitalis, khususnya pada hematoma yang besar, dan sectio cesaria.

PATOFISIOLOGI RETENSI URINE POST PARTUM
Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian secara normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin dikontrol oleh sistem saraf otonom dan somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra.

Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik.

Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion dorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi otot detrusor.

Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi saluran yang minimal.

Retensi postpartum paling sering terjadi. Setelah terjadi kelahiran pervaginam spontan, disfungsi kandung kemih terjadi 9-14 % pasien; setelah kelahiran menggunakan forcep, angka ini meningkat menjadi 38 %. Retensi ini biasanya terjadi akibat dari dissinergis antara otot detrusor-sphincter dengan relaksasi uretra yang tidak sempurna yang kemudian menyebabkan nyeri dan edema. Sebaliknya pasien yang tidak dapat mengosongkan kandung kemihnya setelah sectio cesaria biasanya akibat dari tidak berkontraksi dan kurang aktifnya otot detrusor.

ETIOLOGI RETENSI URINE POST PARTUM
Berkemih yang normal melibatkan relaksasi uretra yang diikuti dengan kontraksi otot-otot detroser. Pengosongan kandung kemih secara keseluruhan dikontrol didalam pusat miksi yaitu diotak dan sakral. Terjadinya gangguan pengosongan kandung kemih akibat dari adanya gangguan fungsi di susunan saraf pusat dan perifer atau didalam genital dan traktus urinarius bagian bawah.

Pada wanita, retensi urine merupakan penyebab terbanyak inkontinensia yang berlebihan. Dalam hal ini terdapat penyebab akut dan kronik dari retensi urine. Pada penyebab akut lebih banyak terjadi kerusakan yang permanen khususnya gangguan pada otot detrusor, atau ganglion parasimpatis pada dinding kandung kemih. Pada kasus yang retensi urine kronik, perhatian dikhususkan untuk peningkatan tekanan intravesical yang menyebabkan reflux ureter, penyakit traktus urinarius bagian atas dan penurunan fungsi ginjal.

Pasien post operasi dan post partum merupakan bagian yang terbanyak menyebabkan retensi urine akut. Fenomena ini terjadi akibat dari trauma kandung kemih dan edema sekunder akibat tindakan pembedahan atau obstetri, epidural anestesi, obat-obat narkotik, peregangan atau trauma saraf pelvik, hematoma pelvik, nyeri insisi episiotomi atau abdominal, khususnya pada pasien yang mengosongkan kandung kemihnya dengan manuver Valsalva. Retensi urine pos operasi biasanya membaik sejalan dengan waktu dan drainase kandung kemih yang adekuat.

GAMBARAN KLINIS RETENSI URINE POST PARTUM
Retensi urine memberikan gejala gangguan berkemih, termasuk diantaranya kesulitan buang air kecil; pancaran kencing lemah, lambat, dan terputus-putus; ada rasa tidak puas, dan keinginan untuk mengedan atau memberikan tekanan pada suprapubik saat berkemih.

Suatu penelitian melaporkan bahwa gejala yang paling bermakna dalam memprediksikan adanya gangguan berkemih adalah pancaran kencing yang lemah, pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna, mengedan saat berkemih, dan nokturia.

DIAGNOSIS RETENSI URINE POST PARTUM
Pada pasien dengan keluhan saluran kemih bagian bawah, maka anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap, pemeriksaan rongga pelvis, pemeriksaan neurologik, jumlah urine yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam, pemeriksaan urinalisis dan kultur urine, pengukuran volume residu urine, sangat dibutuhkan.

Fungsi berkemih juga harus diperiksa, dalam hal ini dapat digunakan uroflowmetry, pemeriksaan tekanan saat berkemih, atau dengan voiding cystourethrography.

Dikatakan normal jika volume residu urine adalah kurang atau sama dengan 50ml, sehingga jika volume residu urine lebih dari 200ml dapat dikatakan abnormal dan biasa disebut retensi urine. Namun volume residu urine antara 50-200ml menjadi pertanyaan, sehingga telah disepakati bahwa volume residu urine normal adalah 25% dari total volume vesika urinaria.

PENATALAKSANAAN RETENSI URINE POST PARTUM
Ketika kandung kemih menjadi sangat menggembung diperlukan kateterisasi, kateter Foley ditinggal dalam kandung kemih selama 24-48 jam untuk menjaga kandung kemih tetap kosong dan memungkinkan kandung kemih menemukan kembali tonus normal dan sensasi.

Bila kateter dilepas, pasien harus dapat berkemih secara spontan dalam waktu 4 jam. Setelah berkemih secara spontan, kandung kemih harus dikateter kembali untuk memastikan bahwa residu urine minimal. Bila kandung kemih mengandung lebih dari 100 ml urine, drainase kandung kemih dilanjutkan lagi.

KOMPLIKASI RETENSI URINE POST PARTUM
Karena terjadinya retensi urine yang berkepanjangan, maka kemampuan elastisitas vesica urinaria menurun, dan terjadi peningkatan tekanan intra vesika yang menyebabkan terjadinya reflux, sehingga penting untuk dilakukan pemeriksaan USG pada ginjal dan ureter atau dapat juga dilakukan foto BNO-IVP.

KESIMPULAN RETENSI URINE POST PARTUM
Wanita dengan inkontinensia dan gejala gangguan kandung kemih yang lain meningkatkan resiko terjadinya kesulitan berkemih dan dan retensi. Akibat dari retensi adalah timbulnya infeksi traktus urinarius yang rekuren dengan kemungkinan gangguan pada traktus urinarius bagian atas. Pendeteksian terhadap kondisi tersebut merupakan hal yang penting dalam penanganan farmakologi dan pembedahan pada wanita dengan inkontinensia urine yang cenderung menjadi eksaserbasi kesulitan berkemih dan retensi kronik.

Makalah ini disusun oleh: Andi Visi Kartika

DAFTAR PUSTAKA Retensi Urine Post Partum
1. Germain MM. Urinary Retention and Overflow Incontinence In Bent.AE, Cundiff GW, Ostergard DR, Seift SE. Ostergard’s Urogynecology and Pelvic Floor Dysfunction,5th ed. Lipiincoltt Willian & Wilkins, USA,1992: 285-91
2. Hellerstein S. Voiding Disfunction. Available at: www.emedicine.com. Accessed 25 February 2006
3. Saultz JW, Toffler WL, Shackles JY. Postpartum urinary retention. Available at: www.pubmed.gov. Accessed 25 February 2006

Cara Alami Mengatasi Luka - Beri Madu & Racun… Eh, Lada!

Jika anda pernah mendapat luka, katakanlah ketika sedang main bunuh-bunuhan dengan si Dia, kan seru tuh! (loh…?) maka cari lah madu yang lain (yach..). Maksudnya madu yang manis itu tuh, bukan madu yang lain, piktor aja neh… Yah..olesi luka Anda dengan madu sebelum menutupnya dengan perban. Bintik-bintik akibat cacar juga bisa Anda oleskan dengan madu tersebut dan ini dilakukan sesering mungkin, tentunya pada saat cacarnya sedang berlangsung, sehingga tidak meninggalkan bekas cacar sama sekali saat penyembuhannya.

Kudu sabar emang.. Alasannya? Madu mengandung bahan antibakteri yang sangat kuat. Sebuah penelitian mengatakan, madu mampu menyembuhkan hampir semua luka akibat infeksi bakteri atau virus. Tapi jika tidak ada madu, bongkarlah dapur anda dan carilah lada. Setelah ketemu, lakukan ini: Bersihkan luka dengan air dingin, atau sabuni saja jika anda terluka saat memegang daging atau apalah.

Lalu taburkan lada dan tekanlah luka itu. Dalam sekejap, darah akan berhenti. Lada memiliki sifat analgesik (penahan rasa sakit), antibakteri, dan antiseptik (pencegah infeksi). Lada juga tidak menimbulkan rasa pedih. Lada ini tidak untuk luka akibat cacar lho. Saya sudah pernah coba dua-duanya. Ampuh juga ternyata. Pasti anda tidak percaya bukan? Coba saja sendiri….
(Tips P3K berikutnya menyusul)

Asma Bronkial - Pengertian Penyakit Asma

Pengertian Asma Bronkial

Definisi asma bronkial adalah gangguan pada sistem pernapasan di mana bagian-bagian yang memungkinkan udara masuk ke dalam dan keluar mengalami penyempitan di paru yang terjadi secara periodik dan menyebabkan gejala batuk, mengi, dan sesak napas.

Informasi selanjutnya tentang asma bronkial

Selanjutnya, di bawah ini merupakan contoh dari makalah atau referat PDF mengenai asma bronkial:

AWAS, JANGAN TERTULAR CACAR !

Menolong Tanpa Tertular
Tidak mungkin anda tega membiarkan keluarga dekat anda tergeletak tak berdaya saat terserang sakit cacar. Walaupun konsekuensinya besar, tapi hati kecil anda telah mengalahkan rasa takut anda. Penyakit cacar memang mudah menular, bahkan penyakit ini dapat mudah menular sejak satu hingga dua hari sebelum muncul bintik-bintik pada tubuh penderita.

Tapi sebenarnya anda bisa terhindar dari tertular virus ini bila mengikuti saran berikut ini:
Jangan menyentuh tanda cacar sebelum mengering, karena pada saat itulah virus akan terlepas. Hindari pula berciuman dengan si penderita.;) Sebab virus cacar dapat juga menular melalui system pernapasan. Jauhkan kepala anda jika si penderita batuk atau bersin. Jika anda harus berada di dekat penderita cacar, untuk keamanan, gunakanlah sarung tangan sekali pakai dan masker.
Pisahkan peralatan. Pastikan si penderita makan dan minum dengan peralatan yang terpisah.
Perhatikan kebersihan. Sering-seringlah mencuci bersih tangan anda, terutama setiap kali anda memegang benda yang berhubungan dengan penderita. Gunakanlah pembersih udara yang ada untuk membantu menyaring bakteri dan virus agar keluar dari udara sekitar. Beberapa produk elektronik seperti AC, kulkas, bahkan televisi dari produsen TV seperti Sharp sudah dilengkapi dengan pembasmi kuman dan beberapa virus tertentu. Bersihkan seprai kasur dan pakaian yang telah dipakai dengan air panas dan sabun.
Jaga kesehatan tubuh. Anda harus tidur cukup, makan makanan yang bergizi, dan konsumsi multivitamin yang tepat.

Sperma Manusia - Definisi dan kriteria sperma yang baik & sehat

Pengertian Sperma

Apa itu Sperma?

Definisi kata sperma awal mulanya diambil dalam bahasa Yunani yang berarti “benih” yang berhubungan dengan sel-sel reproduksi pada jenis kelamin jantan baik itu pada manusia atau hewan. Sel sperma manusia sifatnya haploid, 23 kromosom laki-laki dapat bergabung dengan 23 kromosom dari sel telur perempuan untuk membentuk sel diploid.

Sel sperma yang bergerak disebut spermatozoa sedangkan yang tidak bergerak disebut spermatium. Sel sperma manusia dibawa oleh cairan yang dikenal sebagai semen (air mani). Secara umum, istilah sperma ini sering dipakai bergantian dengan kata ‘air mani’ oleh orang awam.

Berapa lama sperma hidup?

Jika ada yang bertanya berapa lama sperma bisa hidup? jawabannya tergantung pada sejumlah faktor, yang paling penting adalah di mana sperma berada. Pada permukaan yang kering, seperti pakaian atau selimut, sperma mati pada saat semen telah kering. Dalam air, seperti air hangat atau bak mandi air panas, sperma kemungkinan akan hidup lebih lama.

Baca juga artikel yang lebih lengkap mengenai waktu sperma bertahan hidup di luar tubuh.

Di dalam tubuh wanita, sperma bisa hidup hingga lima hari tergantung pada kondisi. Jika Anda berhubungan seks tanpa kondom bahkan beberapa hari sebelum pasangan Anda berovulasi, maka ada kemungkinan ia dapat hamil.

Apa warna semen (air mani)?

Semen biasanya berwarna putih atau abu-abu, tapi kadang-kadang dapat muncul kekuningan. Semen berwarna merah atau merah muda kemungkinan menunjukkan bahwa adanya darah dalam kandungan semen. Jika hal ini terjadi pada Anda, disarankan pergi ke dokter untuk konsultasi untuk mengetahui penyebab dan penanganannya.

Semen membeku segera setelah ejakulasi, lengket seperti jelly cair, dan akan mencair lagi dalam 5 sampai 40 menit. Hal ini sangat normal untuk semen yang membentuk seperti tetesan jelly dan ini tidak menunjukkan masalah kesehatan atau kesuburan.

Bagaimana sperma yang baik dan sperma sehat?

Berapa volume air mani/sperma normal & sehat

Volume rata-rata air mani manusia yang dihasilkan pada setiap ejakulasi adalah 2 sampai 5 ml. Volume konsisten kurang dari 1.5 ml (hipospermia) atau lebih dari 5.5 ml (hiperspermia) mungkin abnormal. Volume yang lebih rendah mungkin terjadi setelah sangat sering ejakulasi dan volume yang lebih tinggi terlihat setelah lama tidak ejakulasi.

Jumlah sperma normal menurut WHO

Menurut WHO kriteria jumlah sperma normal adalah:

  • Konsentrasi spermatozoa harus setidaknya 20 juta/ml
  • Total volume semen harus setidaknya 2 ml
  • Jumlah total spermatozoa ejakulasi harus setidaknya 40 juta
  • 75 persen dari spermatozoa harus hidup (yang mati kurang dari 25 persen)
  • 30 persen dari spermatozoa harus dalam bentuk normal
  • 25 persen dari spermatozoa harus berenang dengan gerakan maju yang cepat
  • 50 persen dari spermatozoa harus berenang ke depan, meskipun gerakannya lamban.

Bagaimana cara membuat sperma tetap sehat?

Banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kesehatan sperma Anda, seperti;

  • Menghindari adanya paparan bahan-bahan yang mengandung racun, contohnya cairan berbahan logam berat atau pestisida.
  • Menghindari kebiasaan merokok serta penggunaan obat-obatan terlarang, misalnya mengkonsumsi steroid anabolik.
  • Mengkonsumsi makanan yang kaya akan gizi serta menjaga berat badan ideal yang sehat.
  • Membatasi minum minuman yang mengandung alkohol.
  • Selalu menjaga skrotum dan sekiranya tetap dingin, karena suhu yang panas pada area tersebut dapat memperlambat proses produksi sperma. Contohnya dengan menghindari sesering mungkin mandi dengan air panas atau berendam di kolam air panas, atau dengan menghindari pemakaian celana terasa ketat.

Vitamin D Turunkan Risiko Multiple Sclerosis

Menurut para peneliti dari Harvard University, vitamin D yang biasa disebut dengan vitamin matahari dapat melindungi pasien dari efek yang melumpuhkan pada penyakit Multiple Sclerosis (MS). Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association ini, menganalisa data medis pada sekitar 7 juta personil militer AS, dan menemukan bahwa terjadinya penyakit MS adalah sangat kecil pada individu yang mempunyai kadar vitamin D yang tinggi dalam darahnya.

Hubungan tersebut terutama sangat kuat pada individu yang berusia kurang dari 20 tahun. Meskipun demikian, efek itu hanya terlihat pada orang kelompok kulit putih, sedangkan data pada orang kulit hitam dan hispanik belum konklusif.

Para individu yang berada pada 20% batas teratas dari kadar vitamin D dalam darahnya, mempunyai risiko 62% lebih rendah untuk menderita penyakit autoimun tersebut. Risko MS berkurang 41% setiap kenaikan vitamin D dalam darah sebesar 50 nanomol/L.

Meskipun data studi tersebut semakin memperkuat berbagai bukti bahwa vitamin D dapat mengurangi gejala penyakit yang tidak dapat diobati ini, tetapi masih belum cukup menganjurkan untuk menaikkan dosis vitamin D dalam asupan diet sehari-hari. Karena itu, perlu segera dilakukan uji klinik untuk membuktikan adanya hubungan sebab akibat yang pasti.


Referensi
JAMA (2006, 296: 2832-2838)

Abortus Inkomplit

PENDAHULUAN ABORTUS INKOMPLIT
Berjuta-juta wanita setiap tahunnya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa kehamilan berakhir dengan kelahiran tetapi beberapa diantaranya diakhiri dengan abortus. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sedangkan menurut WHO batasan usia kehamilan adalah sebelum 22 minggu.1

Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:

  • Menurut terjadinya dibedakan atas :2,3,4,5

    • Abortus spontan yairu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja. 2
    • Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat.3
        Abortus ini terbagi lagi menjadi:

      • Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.2,3
      • Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.3
  • Menurut gambaran klinis, dibedakan atas:1,2,3,6
    • Abortus membakat (imminens) yaitu abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
    • Abortus insipiens yaitu abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri.
    • Abortus inkomplit yaitu jika hanya sebagian hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
    • Abortus komplit artinya seluruh hasil konsepsi telah keluar (desidua atau fetus), sehingga rongga rahim kosong.
    • Missed abortion adalah abortus dimana fetus atau embrio telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih.
    • Abortus habitualis (keguguran berulang) adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.
    • Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi genital.
    • Abortus septik adalah abortus yang disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ataupun toksinnya kedalam peredaran darah atau peritonium.

Selanjutnya dalam laporan kasus kali ini akan membahas mengenai abortus inkomplit infeksiosa provokatus.

Pengertian Abortus Inkomplit
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, pengertian abortus inkomplit adalah keluarnya sebagian hasil konsepsi dari kavum uteri, tetapi masih ada yang tertinggal dan bila disertai dengan infeksi genitalia, abortus inkomplit disebut juga abortus inkomplit infeksiosa.1,2,3,6,7

Sedangkan abortus provokatus kriminalis adalah abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. Sedikitnya kasus abortus ilegal yang diproses secara hukum sebenarnya tidak lepas dari kolusi antara wanita hamil dan pelaku abortus, disamping sulitnya menemukan bukti-bukti oleh para penegak hukum mengenai terjadinya tindak abortus ilegal. Keadaan ini menunjukkan bahwa pihak-pihak yang bersangkutan dengan abortus telah mengetahui abortus melanggar hukum, sehingga mereka berusaha menyembunyikan dari mata penegak hukum.1

Alasan seorang wanita memilih terminasi kehamilan antara lain:1

  • Ia mungkin seorang yang menjadi hamil diluar pernikahan
  • Pernikahan tidak kokoh seperti yang diharapkan sebelumnya.
  • Ia telah cukup anak dan tidak mungkin dapat membesarkan seorang anak lagi.
  • Janin ternyata telah terekspos oleh substansi teratogenik.
  • Ayah anak yang dikandungnya bukan suaminya.
  • Ayah anak yang dikandung bukan pria/suami yang diidamkan untuk perkawinannya.
  • Kehamilan adalah akibat perkosaan.
  • Wanita yang hamil menderita penyakit jantung yang berat.
  • Ia ingin mencegah lahirnya bayi dengan cacat bawaan.
  • Gagal metode kontrasepsi.
  • Anak terakhir masih kecil.
  • Ingin menyelesaikan pendidikan.
  • Ingin konsentrasi pada pekerjaan untuk menunjang kehidupan dengan anaknya.
  • Ada masalah dengan suami.
  • Ia merasa trerlalu tua/muda untuk mempunyai anak.
  • Ia terinfeksi HIV.
  • Suami menginginkan aborsi.

INSIDEN ABORTUS INKOMPLIT
Diperkirakan frekuensi insiden aborsi/keguguran spontan berkisar antara 10-15 %. Namun demikian, frekuensi seluruh keguguran yang pasti sukar ditentukan, karena abortus buatan banyak yang tidak dilaporkan, kecuali bila telah terjadi komplikasi. Juga karena sebagian keguguran spontan hanya disertai gejala dan tanda ringan, sehingga wanita tidak datang ke dokter atau rumah sakit.3

Profil pelaku aborsi di Indonesia tidak sama persis dengan di Amerika. Akan tetapi gambaran dibawah ini memberikan kita bahan untuk dipertimbangkan. Seperti tertulis dalam buku “Facts of Life” oleh Brian Clowes, Phd.

Para wanita pelaku aborsi adalah: 8
Wanita Muda
Lebih dari separuh atau 57% wanita pelaku aborsi, adalah mereka yang berusia dibawah 25 tahun. Bahkan 24% dari mereka adalah wanita remaja berusia dibawah 19 tahun.

Usia Jumlah %
Dibawah 15 tahun 14.200 0.9%
15-17 tahun 154.500 9.9%
18-19 tahun 224.000 14.4%
20-24 tahun 527.700 33.9%
25-29 tahun 334.900 21.5%
30-34 tahun 188.500 12.1%
35-39 tahun 90.400 5.8%
40 tahun keatas 23.800 1.5%

Belum Menikah
Jika terjadi kehamilan diluar nikah, 82% wanita di Amerika akan melakukan aborsi. Jadi, para wanita muda yang hamil diluar nikah, cenderung dengan mudah akan memilih membunuh anaknya sendiri

Untuk di Indonesia, jumlah ini tentunya lebih besar, karena didalam adat Timur, kehamilan diluar nikah adalah merupakan aib, dan merupakan suatu tragedi yang sangat tidak bisa diterima masyarakat maupun lingkungan keluarga.

ETIOLOGI ABORTUS INKOMPLIT
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya abortus yaitu :

  • Faktor genetik. 9,10
  • Sekitar 5 % abortus terjadi karena faktor genetik.
  • Paling sering ditemukannya kromosom trisomi dengan trisomi 16
  • Faktor anatomi : Faktor anatomi kogenital dan didapat pernah dilaporkan timbul pada 10-15 % wanita dengan abortus spontan yang rekuren.
  • Lesi anatomi kogenital yaitu kelainan duktus Mullerian (uterus bersepta). Duktus mullerian biasanya ditemukan pada keguguran trimester ke dua.
  • Kelainan kogenital arteri uterina yang membahayakan aliran darah endometrrium.
  • Kelainan yang didapat misalnya adhesi intrauterun (synechia), leimioma, dan endometriosis. 9,10
  • Faktor endokrin. 8,9
  • Faktor endokrin berpotensial menyebabkan aborsi pada sekitar 10-20 % kasus.
  • Insufisiensi fase luteal ( fungsi corpus luteum yang abnormal dengan tidak cukupnya produksi progesteron).
  • Hipotiroidisme, hipoprolaktinemia, diabetes dan sindrom polikistik ovarium merupakan faktor kontribusi pada keguguran.
  • Faktor infeksi
  • Infeksi termasuk infeksi yang diakibatkan oleh TORC (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus) dan malaria.11
  • Faktor imunologi
  • Terdapat antibodikardiolipid yang mengakibatkan pembekuan darah dibelakang ari-ari sehingga mengakibatkan kematian janin karena kurangnya aliran darah dari ari-ari tersebut.11

PATOGENESIS ABORTUS INKOMPLIT
Fetus dan plasenta keluar bersamaan pada saat aborsi yang terjadi sebelum minggu ke sepuluh, tetapi terpisah kemudian. Ketika plasenta, seluruh atau sebagian tertinggal didalam uterus, perdarahan terjadi dengan cepat atau kemudian.12 Pada permulaan terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas. Karena dianggap benda asing, maka uterus akan berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korialis belum menembus desidua terlalu dalam; sedangkan pada kemailan 8-14 minggu, telah masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal.3 Hilangnya kontraksi yang dihasilkan dari aktivitas kontraksi dan retraksi miometrium menyebabkan banyak terjadi perdarahan.12

Pada abrotus provokatus kriminalis, mikroorganisme dapat mencapai vulva, vagina dan uterus dengan salah satu cara di bawah ini:1

  • Droplet injection dari pelaku abortus
  • Tangan pelaku dan alat yang digunakan
  • Debu
  • Sprei tempat tidur, kasa penutup luka

Patogenesis terjadinya infeksi 1

Bakteri menyebabkan penyakit berdasarkan 3 mekanisme dasar yaitu:

  1. Invasi ke jaringan
    Kemampuan dari beberapa bakteri tergantung dari luasnya enzim yang bekerja ektraseluler. Contohnya banyak bakteri Gram positif memproduksi hyaluronidase dan kollagenase. Enzim ini meningkatkan difusi melalui jaringan penyambung dengan cara depolimerase asam hyaluronidase. Pada abortus provokatus kriminalis, invasi mikroba sangat dipermudah dengan adanya jejas pada mukoa uterus.
  2. Reaksi hipersensitivitas
    KEGAGALAN MENGELIMINASI MIKROORGANISME
    Ada banyak infeksi dimana mikroorganisme tidak dapat dieliminasi dari tubuh tetapi menetap pada hospes selama beberapa bulan, tahun atau seumur hidup. Hal ini dilihat sebagai kegagalan dari mekanisme pertahanan tubuh yang memang telah dibentuk untuk mengeliminasi mikroorganisme-mikroorganisme yang menyerang jaringan.

    INTERAKSI ANTIMIKROBA-MIKROBA

    Antimikroba ada yang bersifat menghalangi pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bekteriostatik dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebgai aktivitas bakterisid. Sebagai contoh Penisilin G aktif terhadap bakteri gram positif tetapi tidak pada gram negatif.

  3. Resistensi mikroba
    Resistensi pada suatu sel mikroba ialah suatu sifat dimana kehidupannya tidak diganggu oleh antimikroba. Sifat ini dapat merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup.

GAMBARAN KLINIS ABORTUS INKOMPLIT

Gejala abortus inkomplit berupa amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas. Perdarahan bisa sedikit atau banyak, dan biasanya berupa stolsel (darah beku), sudah ada keluar fetus atau jaringan. Pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering terjadi infeksi. Tanda-tanda infeksi alat genital berupa demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeri tekan, luekositosis. Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru saja terjadi didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus berukuran kecil dari seharusnya.3

Teknik tradisional yang biasa digunakan pada abortus provokatus kriminalis:1

  • Masase yang lama dan kuat pada uterus hamil
  • Insersi kateter, batu-batu, kawat-kawat tajam ke dalam vagina dan serviks
  • Minum jamu-jamuan, substansi yang kaustik
  • Daun-daun, akar-akar, kayu-kayuan dan pewarna
  • Makan-obat-obat kontrasepsi dalam jumlah yang banyak sekaligus
  • ada juga dilaporkan jatuh dari tempat yang tinggi, berdansa, melakukan hubungan seksual dengan keras dan dalam waktu yang lama.

DIAGNOSIS ABORTUS INKOMPLIT
Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan :

  • Anamnesis 3
  • Adanya amenore pada masa reproduksi
  • Perdarahan pervaginam disertai jaringan hasil konsepsi
  • Rasa sakit atau keram perut di daerah atas simpisis
  • Pemeriksaan Fisis 9,10
  • Abdomen biasanya lembek dan tidak nyeri tekan
  • Pada pemeriksaan pelvis, sisa hasil konsepsi ditemukan di dalam uterus, dapat juga menonjol keluar, atau didapatkan di liang vagina.
  • Serviks terlihat dilatasi dan tidak menonjol.
  • Pada pemeriksaan bimanual didapatkan uterus membesar dan lunak.
  • Pemeriksaan Penunjang 2

1. Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin, leukosit, waktu bekuan, waktu perdarahan, trombosit., dan GDS.
2. Pemeriksaan USG ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada sisa hasil konsepsi.

DIAGNOSIS BANDING ABORTUS INKOMPLIT 9

  • Abortus komplit
  • Kehamilan ektopik

PENATALAKSANAAN ABORTUS INKOMPLIT 2,3

  1. Memperbaiki keadaan umum. Bila perdarahan banyak, berikan transfusi darah dan cairan yang cukup.
  2. Pemberian antibiotika yang cukup tepat

    - Suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam
    - Suntikan streptomisin 500 mg setiap 12 jam
    - atau antibiotika spektrum luas lainnya

  3. 24 sampai 48 jam setelah dilindungi dengan antibiotika atau lebih cepat bila terjadi perdarahan yang banyak, lakukan dilatasi dan kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi.
  4. Pemberian infus dan antibiotika diteruskan menurut kebutuhan dan kemajuan penderita.

Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0,5 cc IM. Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang ke rumah. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat atau infeksi.2 Pasien dianjurkan istirahat selama 1 sampai 2 hari.

Pasien dianjurkan kembali ke dokter bila pasien mengalami kram demam yang memburuk atau nyeri setelah perdarahan baru yang ringan atau gejala yang lebih berat.13 Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi. Sebelum dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menandatangani surat persetujuan tindakan.2

KOMPLIKASI ABORTUS INKOMPLIT 1,6

  1. Perdarahan
    Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
  2. Perforasi
    Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Terjadi robekan pada rahim, misalnya abortus provokatus kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain.
  3. Syok
    Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat.
  4. Infeksi
    Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu staphylococci, streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma, Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis, sedangkan pada vagina ada lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur.

    Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas padsa desidua. Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium, dan peritonium. Organisme-organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap infeksi paska abortus adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus, Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae, Pneumococcus dan Clostridium tetani. Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena dapat membentuk gas.

PROGNOSIS ABORTUS INKOMPLIT9,10

Prognosis keberhasilan kehamilan tergantung dari etiologi aborsi spontan sebelumnya.

  • Perbaikan endokrin yang abnormal pada wanita dengan abotus yang rekuren mempunyai prognosis yang baik sekitar >90 %
  • Pada wanita keguguran dengan etiologi yang tidak diketahui, kemungkinan keberhasilan kehamilan sekitar 40-80 %
  • Sekitar 77 % angka kelahiran hidup setelah pemeriksaan aktivitas jantung janin pada kehamilan 5 sampai 6 minggu pada wanita dengan 2 atau lebih aborsi spontan yang tidak jelas.

Daftar Pustaka Abortus Inkomplit

  1. Rieuwpassa C, Rauf S, Manoe IMS. M. Pola Bakteri Aerob Pada Penderita Abortus Inkomplit Infeksiosa Provokatus Kriminalis Pada Beberapa Rumah Sakit Di Makassar dalam Kumpulan Makalah Ilmiah POGI Cabang Makassar. Bagian/UP. Obstetri dan Ginekologi FKUH, Makassar, 2003.
  2. Manoe IMS. M., Rauf S., Usmany H. Abortus dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi, Bagian/SMF Obstetri Dan Ginekologi FKUH RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo, Ujung Pandang, 1999. Hal.97-103
  3. Mochtar R. Abortus dan Kelainan dalam Tua Kehamilan dalam Sinopsis Obstetri, Jilid 1, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1998. Hal: 209-214
  4. Gugur Kandungan. Available at: http://www.en.wikipedia.org. Accessed on January,21 2006
  5. Abortion. Available at: http://www.en.wikipedia.org. Accessed on January,21 2006
  6. Keguguran dan Penyebabnya. Gugur Kandungan. Available at: http://www.pikiranrakyat.com. Accessed on January,21 2006
  7. Abortion-Incomplete. Available at: http://www.medlineplus.com. Accessed on Accessed on January,21 2006
  8. Pelaku aborsi. Available at: http://www.aborsi.org. Accessed on Accessed on January,21 2006
  9. Valley VT. Abortion Incomplete. Available at: http://www.emedicine.com. Accessed on January,21 2006
  10. Incomplete Abortion. Gugur Kandungan. Available at: http://www.findarticles.com Accessed on January,21 2006
  11. Darmawan Y. Perdarahan Pada Kehamilan uda. Available at: http://www.infosehat.com. Accessed on Accessed on January,21 2006
  12. Pritchard JA, MacDonald PC, Gant NF. Abortion in William Obtetrics, 7th ed. Appleton-Century-Crofts, USA, 1985. p. 467-488
    Martin E. Incomplete Miscarriage. Available at: http://www.abn.it.org Accessed on Accessed on January,21 2006