Patofisiologi status asmatikus

Patofisiologi status asmatikus terjadi dari 3 mekanisme dasar dari beberapa makalah penelitian dan buku yang membahas patogenesa penyakit asma bronkial.

Pengertian Status Asmatikus
Status Asmatikus adalah suatu perburukan gejala pernapasan yang sifatnya mendadak atau akut dengan adanya peningkatan keluhan/gejala asma yang tidak resposif terhadap obat-obat standar seperti inhalasi bronkodilator ataupun jenis obat steroid untuk asma. Status asmatikus juga merupakan salah satu komplikasi dari penyakit asma bronkial, selain komplikasi lainnya seperti gagal pernapasan. Macam-macam status asmatikus dapat bervariasi dari seorang penderita asma, mulai dari yang ringan sampai berat.

Status asmatikus bisa terjadi pada semua golongan usia, baik itu anak-anak sampai dewasa penderita asma bronkial, apabila tidak ditangani dapat berakibat fatal misalnya terjadi bronkospasme, radang saluran napas, mukus atau lendir pada saluran pernapasan, retensi karbon dioksida, hipoksemia, sampai kegagalan pernafasan. Kegagalan pernapasan merupakan indikasi adanya keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan segera dan agresif.

Inhaler - Obat Asma
Inhaler – Obat Asma
Patofisiologi Status Amatikus
Beberapa makalah penelitian dan buku membahas bagaimana patofisiologi status asmatikus bisa terjadi pada penderita Asma. Meskipun terdapat banyak pemicu, pada dasarnya patofisiologi status asmatikus terjadi dari 3 mekanisme yaitu:

  • Edema mukosa saluran napas.
  • Spasme otot halus saluran napas.
  • Sumbatan mukus di saluran napas dari sekret yang berlebihan.

Pada anak-anak, diameter saluran pernapasannya secara proporsional lebih kecil dibandingkan dengan orang dewasa sehingga lebih rentan terjadinya obstruksi atau sumbatan akibat dari 3 mekanisme di atas. Oleh karena itu mereka lebih rentan timbulnya gejala dari kegagalan pernapasan.

Pada status asmatikus terjadi gangguan pada pertukaran gas dan tingginya resistensi saluran napas seiring peningkatan pernapasan (sesak napas). Penderita kemudian akan mengalami hiperventilasi dengan menurunnya PaCO2 dan Ph darah, lalu terjadi alkalosis respiratorik dan hipoksemia. Kondisi inilah yang akhirnya membuat penderita menjadi hipoksia dan kelelahan sesak napas.

ASKEP – Asuhan Keperawatan pada Status Asmatikus
Sistem perawatan pada penderita status asmatikus meliputi beberapa hal, yaitu:
Penanganan jalan napas yang tidak efektif terkait dengan bronkospasme.

  • Membantu pasien ke posisi duduk dengan kepala sedikit menekuk, bahu rileks dan lutut tertekuk dan memungkinkan untuk ekspansi dada yang memadai.
  • Meningkatkan frekuensi dan dosis inhalasi bronkodilator.
  • Secara berkesinambungan memberikan nebulizer beta-adrenergik agonis sebagai terapi.
  • Jika pasien tidak berespon terhadap nebulizer beta-adrenergik agonis, berikan aminofilin IV.
  • Memberikan injeksi methylprednisolone IV setiap 4 sampai 6 jam dan kadang-kadang injeksi IV magnesium sulfat karena fungsinya bertindak sebagai bronkodilator.
  • Masukkan kateter arteri untuk memfasilitasi frekuensi pemantauan ABC.
  • Auskultasi suara paru.
  • Oksigenasi tambahan.
  • Menilai turgor kulit pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda dehidrasi dan memberikan cairan IV karena tingkat metabolisme pasien meningkat.
  • Memberikan bantuan dengan ventilasi mekanis jika diperlukan (jika tidak ada respon terhadap obat asma).
  • Memantau pasien selama 12 jam pertama atau sampai status asthmaticus dapat dikendalikan.

Kecemasan yang berhubungan dengan kesulitan bernafas, hilang kontrol dan ketakutan sesak napas.

  • Menyediakan lingkungan yang cukup tenang.
  • Menjaga pasien untuk memberikan jaminan keselamatan.
  • Menganjurkan pasien melakukan teknik relaksasi untuk meredakan ketegangan otot dan kemudahan bernapas.

Pengelolaan pengobatan yang tidak efektif yang berkaitan dengan kurangnya informasi

  • Mengajarkan pasien bagaimana menggunakan inhaler oral atau turbo.
  • Mengawasi rejimen obat pasien, memeriksa penggunaan yang tepat dari sebuah inhaler.
  • Memberikan penjelasan akan konsistensi obat untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, meskipun pasien merasa telah lebih baik.
  • Menyarankan pasien untuk selalu membawa bronkdilator dan menggunakannya setiap kali mendapat serangan sesak.
  • Memberitahu pasien untuk menghindari situasi stres emosional.

Author: Jevuska

Rachmanuddin Chair Yahya a.k.a Jevuska is the founder of Jevuska.Com, a qualified web about offering medical articles, blogging, tips, and tutorial of WordPress. Having written for Jevuska since 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Use tag [php] to add code, e.g. [php]<?php echo $var; ?>[/php]