5 Penyebab umum dari PPOK

Kepanjangan dari PPOK adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau dalam istilah asingnya Chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Apabila Anda mengalami keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas dimana nafas Anda tidak sepenuhnya reversibel, dan berlangsung secara progresif, maka Anda kemungkinan terkena PPOK. PPOK biasanya disebabkan karena adanya proses inflamasi paru akibat terpapar oleh gas berbahaya sehingga timbulnya gangguan sistemik dalam tubuh Anda.

Ada 5 penyebab umum dari PPOK yaitu:

  1. Merokok. Tidak salah lagi bahwa merokok adalah adalah alasan paling sering orang terkena PPOK. Tentu saja asap yang dihirup mengandung zat-zat yang dapat menbahayakan bagi paru-paru. Ini dapat juga terdapat dalam produk-produk berkaitan dengan tembakau atau asap pipa.
  2. Asap rokok. Anda yang tidak merokok sekalipun dapat terkena PPOK jika Anda hidup atau dekat dengan orang yang sering merokok. Asap yang Anda hirup dari seseorang yang merokok menjadikan Anda sebagai perokok pasif.
  3. Polusi dan asap. PPOK juga bisa disebabkan dari polusi udara. Udara yang tercemar oleh uap kimia, debu, atau zat beracun di tempat kerja adalah sumber penyebab Anda terkena PPOK.
  4. Genetik. Sekitar 3 dari 100 orang dengan PPOK terdapat cacat dalam DNA mereka, suatu kode yang memberitahu tubuh Anda bagaimana untuk bekerja dengan baik. Cacat ini disebut juga dengan defisiensi alfa-1 antitrypsin atau kekurangan AAT. Paru-paru dalam tubuh Anda tidak cukup mengandung protein yang sangat dibutuhkan untuk melindungi mereka dari adanya kerusakan, tentu saja hal ini dapat menyebabkan PPOK berat. Jika Anda atau anggota keluarga Anda memiliki masalah paru-paru yang cukup serius - terutama pada usia muda - Anda kemungkinan kekurangan AAT.
  5. Asma. Meskipun jenis penyakit ini jarang menyebabkan PPOK, akan tetapi asma berpotensi dalam menimbulkan masalah lain terhadap paru Anda, seperti PPOK. Asma yang tidak pernah ditangani atau diobati dengan baik, dari waktu ke waktu Anda bisa mengakibatkan kerusakan dalam paru seumur hidup.

Diagnosis PPOK harus dipertimbangkan pada siapa saja yang memiliki gejala dyspnea, batuk kronis atau produksi sputum, dan / atau riwayat paparan faktor risiko seperti merokok. Tidak ada gejala atau tanda tunggal yang dapat menyingkirkan diagnosis PPOK, sekalipun PPOK jarang terkena pada orang di bawah usia 40 tahun.

Alergi (Atopi)

Alergi adalah gangguan sistem kekebalan tubuh yang juga disebut sebagai atopi. Reaksi alergi yang timbul dari sesuatu di lingkungan sekitar dikenal sebagai alergen. Reaksi alergi dapat berupa rwkasi didapat, dapat diprediksi dan berlangsung dengan cepat. Alergi merupakan salah satu dari empat bentuk hipersensitivitas dan disebut sebagai hipersensitivitas tipe I.

Reaksi alergi ditandai dengan aktivasi berlebihan dari sel darah putih tertentu yang disebut sel mast dan basofil dengan jenis antibodi, yang dikenal sebagai IgE, yang menghasilkan respon inflamasi yang ekstrim.

Tanda-tanda reaksi alergi yang sering terjadi seperti eksim, gatal-gatal, demam, asma, alergi makanan, dan reaksi terhadap racun serangga yang menyengat seperti tawon dan lebah. Alergi ringan seperti demam, sangat lazim pada manusia dan menyebabkan gejala seperti konjungtivitis dan flu. Demikian pula, kondisi seperti asma, di mana alergi memainkan peran utama.

Pada beberapa orang, alergi yang parah terhadap alergen lingkungan, makanan, atau obat-obatan, berpotensi kematian berupa reaksi anafilaksis. Kini tersedia berbagai tes alergi untuk mendiagnosa kondisi alergi, termasuk tes kulit untuk mengetahui respon terhadap suatu alergen atau menganalisis darah untuk melihat adanya dan tingkat alergen-IgE spesifik.

Perawatan untuk mengatasi alergi seperti menghindari alergen, penggunaan antihistamin, steroid atau obat-obatan oral lainnya, imunoterapi untuk menurunkan respon alergen, dan sebagai terapi target. Kebanyakan alergen berupa partikel udara, seperti debu atau serbuk sari.

Rhinitis alergi, juga dikenal sebagai hay fever, timbul karena respons terhadap serbuk sari di udara, dan menyebabkan iritasi, bersin, gatal di hidung, dan mata merah.

Alergen yang di hirup juga dapat menyebabkan gejala asma, yang disebabkan oleh penyempitan saluran udara (bronkokonstriksi) dan peningkatan produksi lendir di paru-paru, sesak napas (dyspnea), batuk dan mengi. Selain dari alergen di sekitar lingkungan, reaksi alergi dapat disebabkan oleh makanan, sengatan serangga, dan reaksi terhadap obat-obatan seperti aspirin, dan antibiotik, contohnya penisilin.

Gejala dari alergi makanan termasuk sakit perut, kembung, muntah, diare, kulit gatal, dan pembengkakan pada kulit selama gatal-gatal atau angioedema. Alergi makanan jarang menimbulkan asma, atau rhinitis. Sengatan serangga, antibiotik dan obat-obatan tertentu menghasilkan respon alergi sistemik yang juga disebut anafilaksis, beberapa sistem dapat dipengaruhi termasuk sistem pencernaan, sistem pernapasan, dan sistem peredaran darah.

Alergi yang parah dapat menyebabkan reaksi pada kulit, bronkokonstriksi, edema, hipotensi, koma dan bahkan kematian. Jenis reaksi dapat dipicu tiba-tiba atau onset yang tertunda. Tingkat keparahan dari jenis respon alergi sering membutuhkan suntikan epinefrin, kadang-kadang melalui perangkat yang dikenal sebagai Epi-Pen auto-injector.

Bahan-bahan yang bersentuhan dengan kulit, seperti lateks juga dapat menjadi penyebab reaksi alergi, yang dikenal sebagai dermatitis kontak atau eksim. Alergi kulit sering menyebabkan ruam, pembengkakan dan peradangan di dalam kulit, dengan gambaran khas berupa bilur-bilur, gatal dan angioedema.

Patofisiologi status asmatikus

Pengertian Status Asmatikus
Status Asmatikus adalah suatu perburukan gejala pernapasan yang sifatnya mendadak atau akut dengan adanya peningkatan keluhan/gejala asma yang tidak resposif terhadap obat-obat standar seperti inhalasi bronkodilator ataupun jenis obat steroid untuk asma. Status asmatikus juga merupakan salah satu komplikasi dari penyakit asma bronkial, selain komplikasi lainnya seperti gagal pernapasan. Macam-macam status asmatikus dapat bervariasi dari seorang penderita asma, mulai dari yang ringan sampai berat.

Status asmatikus bisa terjadi pada semua golongan usia, baik itu anak-anak sampai dewasa penderita asma bronkial, apabila tidak ditangani dapat berakibat fatal misalnya terjadi bronkospasme, radang saluran napas, mukus atau lendir pada saluran pernapasan, retensi karbon dioksida, hipoksemia, sampai kegagalan pernafasan. Kegagalan pernapasan merupakan indikasi adanya keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan segera dan agresif.

Inhaler - Obat Asma
Patofisiologi Status Amatikus
Beberapa makalah penelitian dan buku membahas bagaimana patofisiologi status asmatikus bisa terjadi pada penderita Asma. Meskipun terdapat banyak pemicu, pada dasarnya patofisiologi status asmatikus terjadi dari 3 mekanisme yaitu:

  • Edema mukosa saluran napas.
  • Spasme otot halus saluran napas.
  • Sumbatan mukus di saluran napas dari sekret yang berlebihan.

Pada anak-anak, diameter saluran pernapasannya secara proporsional lebih kecil dibandingkan dengan orang dewasa sehingga lebih rentan terjadinya obstruksi atau sumbatan akibat dari 3 mekanisme di atas. Oleh karena itu mereka lebih rentan timbulnya gejala dari kegagalan pernapasan.

Pada status asmatikus terjadi gangguan pada pertukaran gas dan tingginya resistensi saluran napas seiring peningkatan pernapasan (sesak napas). Penderita kemudian akan mengalami hiperventilasi dengan menurunnya PaCO2 dan Ph darah, lalu terjadi alkalosis respiratorik dan hipoksemia. Kondisi inilah yang akhirnya membuat penderita menjadi hipoksia dan kelelahan sesak napas.

ASKEP - Asuhan Keperawatan pada Status Asmatikus
Sistem perawatan pada penderita status asmatikus meliputi beberapa hal, yaitu:
Penanganan jalan napas yang tidak efektif terkait dengan bronkospasme.

  • Membantu pasien ke posisi duduk dengan kepala sedikit menekuk, bahu rileks dan lutut tertekuk dan memungkinkan untuk ekspansi dada yang memadai.
  • Meningkatkan frekuensi dan dosis inhalasi bronkodilator.
  • Secara berkesinambungan memberikan nebulizer beta-adrenergik agonis sebagai terapi.
  • Jika pasien tidak berespon terhadap nebulizer beta-adrenergik agonis, berikan aminofilin IV.
  • Memberikan injeksi methylprednisolone IV setiap 4 sampai 6 jam dan kadang-kadang injeksi IV magnesium sulfat karena fungsinya bertindak sebagai bronkodilator.
  • Masukkan kateter arteri untuk memfasilitasi frekuensi pemantauan ABC.
  • Auskultasi suara paru.
  • Oksigenasi tambahan.
  • Menilai turgor kulit pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda dehidrasi dan memberikan cairan IV karena tingkat metabolisme pasien meningkat.
  • Memberikan bantuan dengan ventilasi mekanis jika diperlukan (jika tidak ada respon terhadap obat asma).
  • Memantau pasien selama 12 jam pertama atau sampai status asthmaticus dapat dikendalikan.

Kecemasan yang berhubungan dengan kesulitan bernafas, hilang kontrol dan ketakutan sesak napas.

  • Menyediakan lingkungan yang cukup tenang.
  • Menjaga pasien untuk memberikan jaminan keselamatan.
  • Menganjurkan pasien melakukan teknik relaksasi untuk meredakan ketegangan otot dan kemudahan bernapas.

Pengelolaan pengobatan yang tidak efektif yang berkaitan dengan kurangnya informasi

  • Mengajarkan pasien bagaimana menggunakan inhaler oral atau turbo.
  • Mengawasi rejimen obat pasien, memeriksa penggunaan yang tepat dari sebuah inhaler.
  • Memberikan penjelasan akan konsistensi obat untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, meskipun pasien merasa telah lebih baik.
  • Menyarankan pasien untuk selalu membawa bronkdilator dan menggunakannya setiap kali mendapat serangan sesak.
  • Memberitahu pasien untuk menghindari situasi stres emosional.

10 Pertanyaan Asma Yang Anda Harus Tanya Pada Dokter

Apakah Anda mengalami penyakit Asma Bronkial?. Pergi ke dokter asma sepertinya sangat menakutkan. Banyak pasien menceritakan tentang perasaan gugup mengenai penyakitnya, dan mereka lupa untuk mengajukan pertanyaan penting tentang asma.

Nah, ini ada beberapa ide yang bagus buat Anda. Anda harus memiliki beberapa pertanyaan yang harus disiapkan sebelum menemui dokter Anda. Jika Anda tidak yakin tentang apa yang harus Anda tanyakan pada dokter asma, pertimbangkan 10 pertanyaan berikut tentang asma.

  1. Apa itu asma ?
  2. Apa penyebab asma ?
  3. Apakah ada kebiasaan gaya hidup saya yang bisa diubah untuk membantu atasi asma dan mengurangi risiko serangan asma ?
  4. Apa jenis tes asma yang saya butuhkan ?
  5. Bagaimana cara menggunakan inhaler asma ?
  6. Apakah ada beberapa terapi asma alami yang dapat saya gunakan bersama dengan obat asma ?
  7. Apakah aman berolahraga dengan asma ?
  8. Bagaimana mengatasi gejala dan reaksi asma sehari-hari ?
  9. Apakah stres memicu asma ?
  10. Apakah ada kelompok atau grup diskusi asma ?

Semoga daftar pertanyaan tentang Asma di atas dapat membantu mengatasi kesulitan Anda jika pergi ke dokter asma.

Baca juga artikel kedokteran tentang Askep Malaria Berat menurut WHO dan cari tahu hubungan Triclosan dan kesehatan.

Asma Bronkial - Pengertian Penyakit Asma

Pengertian Asma Bronkial

Definisi asma bronkial adalah gangguan pada sistem pernapasan di mana bagian-bagian yang memungkinkan udara masuk ke dalam dan keluar mengalami penyempitan di paru yang terjadi secara periodik dan menyebabkan gejala batuk, mengi, dan sesak napas.

Informasi selanjutnya tentang asma bronkial

Selanjutnya, di bawah ini merupakan contoh dari makalah atau referat PDF mengenai asma bronkial:

Asma Bronkial Pada Kehamilan

Asma Bronkiale (AB) merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai sehari-hari dengan ditandai oleh adanya obstruksi bronkial yang difus namun reversible baik secara spontan ataupun melalui pengobatan. Di Amerika Serikat insiden asma bronkial pada kehamilan berkisar antara 0.5 sampai 1.0 % dari seluruh kehamilan. Angka abortus, partus dan prematurus maupun kematian pada ibu atau janin umumnya tidak mengalami peningkatan pada ibi-ibu yang mendapat control AB dengan baik, sementara ibu hamil dengan serangan AB yang berat merupakan suatu problema yang serius dengan angka abortus partus prematurus serta angka kematian ibu dan anak yang meningkat.

Pengaruh Kehamilan terhadap Asma Bronkiale

Pada seorang wanita hamil terdapat perubahan-perubahan fisiologis pada beberapa organ-organ tubuh wanita tersebut akibat kehamilannya. Perubahan-perubahan fisiologis yang diketahui berpengaruh terhadap perjalanan AB antara lain perubahan-perubahan berupa membesarnya uterus, elevasi diafragma, hormonal perubahan-perubahan pada mekanik paru-paru dan lain-lain.

Sejak implantasi blastokist pada endometrium uterus akan terus membesar sesuai umur kehamilan. Pada akhir bulan ke tiga uterus sudah cukup besar dan umumnya sudah sebagian tersembul ke luar rongga pelvis mengisi rongga perut untuk selanjutnya terus membesar perlahan-lahan mendesak usus ke atas dan kesamping sehingga pada trimester terakhir kehamilan uterus sudah mencapai daerah setinggi hati. Hal ini banyak berhubungan dengan meningkatnya tekanan intrabdominal.

Perubahan-perubahan hormonal yang terjadi saat kehamilan dan persalinan menyangkut banyak jenis hormon-hormon, tetapi yang diketahui ada kaitannya langsung atau tidak langsung terhadap perjalanan AB baru beberapa jenis.

Hormon Masa Kehamilan

Progesteron
Yang kadarnya meningkat pada masa kehamilan mempunyai efek langsung terhadap pusat pernapasan (respiratory center) mentebabkan peningkatan frekuensi pernapasan (respiratory rate), sehingga menyebabkan hiperventilasi. Progesteron juga bersifat smooth muscle relaxan terhadap otot-otot polos usus, genitourinarius, dan diduga pada otot-otot bronkus.

Estrogen
Kadarnya meningkat saat kehamilan, terutama trimester ketiga. Pecora dan kawan-kawan membuktikan estrogen mempunyai efek menurunkan diffusing capacity dari CO2 pada paru-paru dan diduga ini terjadi sebagai akibat meningkatnya asam mukopolisakarida perikapiler.

Kortisol
Kadarnya meningkat pada kehamilan, diduga sebagai akibat klirens kortisol yang menurun, bukan karena sekresinya yang meningkat. Sehngga waktu paruhnya akan memanjang. Dan pemberian preparat steroid pada masa kehamilan harus disesuaikan dengan keadaan ini.

Pengaruh Asma Bronkial Terhadap Kehamilan

Pada ibu-ibu hamil yang menderita AB, Bahna dan Bjerkedal mendapatkan bahwa insiden hiperemis, perdarahan, toksemia gravidarum, induksi persalinan dengan komplikasi dan kematian ibu secara bermakna lebih sering terjadi dibandingkan dengan ibu-ibu hamil tanpa penyakit AB. Hal ini dapat diduga erat hubungannya dengan obat-obat anti asma yang diberikan selama kehamilan ataupun akibat efek langsung daripada memberatnya asma.

Hal yang sangat penting diperhatikan didalam penatalaksanaan AB pada ibu-ibu hamil ialah disamping untuk keselamatan ibunya sendiri adalah juga untuk keselamatan janin. Oksigenasi pada janin hendaknya dipertahankan supaya adekuat, obat-obatan hendaknya dipilih yang bias menjamin keselamatan janin didalam kandungan.

Pengaruh Obat-obatan Anti Asma Terhadap Kehamilan

Bermacam-macam obat-obatan yang dipakai didalam penatalaksanaan AB. Sebagian diantaranya tidak mempunyai pengaruh yang merugikan terhadap kehamilan, namun sebagian lagi diantaranya dapat memberikan pengaruh yang sebaliknya sehingga pemakaiannya harus hati-hati dan hanya atas indikasi-indikasi tertentu saja.

Golongan Xanthin

Golongan yang luas dipakai adalah aminofilin dan teofilin. Cara kerja kedua jenis obat ini adalah sebagai bronkodilator yang langsung bekerja pada otot-otot bronkus dengan jalan menghambat kerja enzim fosfodisterase. Aminofilin dan teofilin merupakan obat yang cukup aman bagi ibu hamil dengan AB. Pada dosis terapeutik tidak terbukti bahwa obat-obat ini berbahaya pada ibu atau janin bahkan pada beberapa penelitian dapat ditunjukkan adanya penurunan yang bermakna daripada insidens respiratory distress syndrome pada bayi-bayi dari ibu yang mendapat aminoflin dibandingkan dengan yang tidak.

Golongan simptomatik

Obat-obatan dari golongan ini adalah adrenalin, efedrin, isoprenalin, terbutalin, salbutamol, orsiprenalin dan sebagainya. Obat-obat ini bekerja sebagai anti asma melalui perangsangan terhadap reseptor simpatis. Respetor simpatis ada 2 A dan B. Reseptor ini tersebar di seluruh tubuh, ada organ yang hanya memiliki 1 jenis reseptor, misalnya jantung, respetor B1, otot-otot bronkus reseptor B2, pembuluh darah respetor A, arteriol kulit, mukosa, dan otak, respetor A, dan adapula organ-organ yang memiliki lebih dari 1 repseptor.

Adrenalin

Selain merangsang reseptor B1 dan B2 juga merangsang reseptor A, sehingga selain merangsang bronkus, obat ini pula merangsang jantung, pembuluh darah dan lain-lain. Untuk mencegah efek samping, maka dianjurkan untuk mempergunakan dosis terkecil yang masih memberikan dilatasi bronkus yang optimal. Selain itu obat ini juga memberikan efek kontriksi pembuluh darah mukosa bronkus, sehingga mengurangi edema dan kongesti saluran nafas. Adrenalin juga menyebabkan penurunan sementara perfusi uterus yang menyebabkan fetal distress. Pemakaian pada umur kehamilan dibawah 4 bulan harus dihindari karena ditemukan kasus-kasus malformasi janin, tetapi belum diketahui secara pasti.

Efedrin

Farmakodinamik efedrin mirip adrenalin, namun mulai kurang dipakai karena efek bronkodilatornya kurang kuat. Pada dosis terapi sering memberikan efek samping yang jelas. Pada kasus-kasus dengan kehamilan, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat ini mengganggu kehamilan sehingga digolongkan aman untuk dipakai.

Obat-obat Beta Agonis

Seperti halnya terbutalin, orsiprenalin, heksoprenalin, salbutamol dan lain-lain mempunyai efek stimulasi terhadap adrenoseptor B2. Obat-obat golongan ini bekerja dengan meningkatkan siklik AMP melalui perangsangan reseptor B2 yang terdapat pada membran otot polos bronkus.

Dengan perangsangan ini maka aktifitas enzim adenisiklase meningkat sehingga perubahan-perubahan ATP menjadi siklik AMP bertambah. Belum diketahui efeknya terhadap janin, tetapi obat ini cukup aman dipakai pada kehamilan.

Akibat perangsangan pada reseptor B2 oleh obat ini, dapat menyebabkan relaksasi otot-otot uterus, sehingga menyulitkan jalannya persalinan, ataupun atonia uteri, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai pada hamil tua, saat inpartu ataupun masa nifas.

Sodium Kromoglikat

Cara kerja obat ini dengan menghambat pelepasan mediator humoral daripada sel mast, sehingga baik mencegah serangan asma. Obat ini tidak menyebabkan kelainan pada janin ataupun ibu, sehingga nampaknya tidaklah berbahaya. Namun demikian pemakaian pada ibu-ibu hamil datanya belum cukup banyak.

Kortikosteroid

Kortikosteroid bukan merupakan bronkodilator. Obat-obat ini umumnya digunakan pada AB yang berat. Kortikosteroid memiliki efek anti alergi dan anti inflamasi juga dapat meningkatkan otot polos bronkus yang refrakter terhadap stimulan adrenoseptor B2.

Pada kehamilan kadar kortisol lama ibu meningkat, dan hanya sebagian kecil saja yang melewati plasenta ke dalam sirkulasi janin dan segera perubahan menjadi bentuk inaktif. Prednisone dan prednisolon menembus plasenta dalam kadar yang sangat kecil kira-kira 1/10 kadar plasma ibu, dan hal ini konsisten dengan penemuan-penemuan bahwa sangatlah jarang terjadi supresi pertumbuhan kelenjar adrenal janin pada ibu-ibu hamil yang mendapat obat ini.

Antihistamine, Ekspektoran dan Antibiotika

Walaupun secara langsung bukan sebagai obat asma, namun sering digunakan pada penderita-penderita AB. Dipenhidramin, tripilinamin, feniramin, klorfeniramin, fenilefrin merupakan obat-obat yang dapat dipergunakan secara aman pada ibu-ibu hamil.

Ekspektoran terkecuali yang mengandung yodium juga aman dipakai. Diantara antibiotik, penisilin merupakan obat obat yang paling aman pada kehamilan. Eritromisin belum banyak diteliti, namun beberapa hasil penelitian yang ada ternyata juga aman dipakai, sedangkan tetrasiklin hendaknya jangan dipakai karena terbukti dapat menyebabkan kerusakan pada gigi, hati dan tulang dari janin.

Pengaruh obat-obat pertolongan persalinan terhadap asma bronkial

Beberapa jenis obat-obatan yang sering dipergunakan di dalam pertolongan persalinan secara farmakologis mempunyai potensi untuk mempengaruhi perjalanan AB.

Prostaglandin

Merupakan obat yang dapat dipergunakan untuk mengadakan induksi abortus pada kasus-kasus abortus terapiutis, induksi persalinan, induksi haid dan lain-lain sehubungan dengan khasiatnya dapat menyebabkan kontraksi dari otot-otot polos dari uterus. Prostaglandin F2alfa dan E2 juga mempunyai efek sebagai bronkokonstriktor sehingga berakibat meningkatkan pulmonary resistance, sehingga memperberat Asma, oleh karena itu pemakaian obat ini pada penderita AB akan berbahaya sehingga patut dihindari.

Obat-obat anestesi

Anestesia sering-sering diperlukan pada berbagai macam kasus ginekologik maupun obstetrik, Dietil eter mempunyai efek bronkodilatasi namun sangat iritatif terhadap mukosa bronkus sehingga dapat menyebabkan bronkokorea yang berlebihan,sedangkan sikopropan dapat menyebabkan bronkospasmus. Nitrous oksid dan halotan mempunyai efek bronkolitik sehingga dalam hal ini obat tersebut merupakan obat-obat pilihan. Disamping itu anestesi epidural, saddle block, pudendal bock ataupun anestesi lokal dapat digolongkan sebagai cara anestesi yang aman untuk penderita-penderita AB.

Penatalaksanaan Asma Bronkial pada kehamilan

Pada dasarnya penatalaksanaan Ab pada kehamilan tidaklah berbeda dengan penatalaksanaan AB pada umumnya, namun di dalam beberapa hal peru perhatian-perhatian khusus yang menyangkut keselamatan ibu dan janin, utamanya di dalam pemilihan obat-obat yang akan dipergunakan dan mencegah penyakitnya berlarut-larut untuk mencegah kemungkinan terjadinya hipoksia pada anak.

Penderita Rawat Jalan

Penderita dengan serangan AB yang ringan dapat dirawat sebagai penderita rawat jalan. Hal yang paling penting pada penderita-penderita ini adalah mencegah supaya serangan AB jangan timbul dan jangan menjadi berat, sehingga di dalam hal ini sangat perlu mengidentifikasi serta mengeliminir faktor-faktor presipitasi seperti infeksi saluran nafas, inhalasi alergen, bahan-bahan iritatif, stress emosional dan sebagainya. Sodium kromoglikat dapat merupakan obat obat yang terpilih di dalam usaha pencegahan ini disamping eliminasi faktor-faktor presipitrasi.

Pada serangan AB yang ringan , teofilin peroral atau rektal dapat merupakan pilihan atau kalau perlu aminofilin intravenous 250 – 500 mg secara bolus pelan-pelan atau isopreterinol inhalasi atau nebulizer, atau adrenalin subkutan 0,2-0,5 ml yang dapat diulang dalam 15 sampai 30 menit kemudian.

Pada penderita steroid dependent asthma, prednisone, prednisolon merupakan obat yang terpilih. Beklometason dipropionat periinhalasi juga dapat diberikan untuk menggantikan prednisone atau untuk mengurangi kebutuhan terhadap prednisone.

Penderita Rawat Inap

Diperuntukkan penderita dengan Ab yang berat atau status asthmaticus. Diberikan aminofilin IV 250-500 mg secara bolus pelan-pelan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian aminoflin perinfus IV dengan dosis 0,9 mg/kg BB/hari. Hidrokortison sodium suksinat diberikan 100-200 mg IV/4-6 jam, oksigen melalui kateter hidung, cairan dan elektrolit yang cukup dan eliminasi faktor-faktor presipitasi.

Apabila perlu ditambahkan dengan obat-obat golongan beta agonis dalam hal ini yang telah banyak dipergunakan pada kasus dengan kehamilan adalah terbutalin peroral 2.5 - 5 mg/8 jam.

Pada penderita Ab yang inpartu perlu mendapat pengobatan dan pengawasan seksama, karena sangat sering AB yang semula ringan menjadi berat saat inpartu, atau pada saat kehamilan AB tidak pernah menyerang, saat inpartu AB menyerang.

Penatalaksanaan sesuai dengan berat ringannya AB, dengan pengawasan yang seksama terhadap perkembangan penyakit. Dalam keadaan ini perlu diingat bahwa obat-obat adrenalin dan beta agonis mempunyai efek yang tidak menguntungkan sehingga pemakaiannya harus dihindari.

Perhatian khusus perlu pula diberikan terhadap penderita-penderita dengan riwayat steroid dependent asthma yang inpartu. Diperlukan pemberian kortikosteroid eksogen yang adekuat, yang maksudnya memberikan konsentrasi yang cukup dari hormon ini untuk menghadapi stres pada saat partus, dan mencegah eksaserbasi AB inpartu. Untuk maksud ini, sejak dimulainya inpartu diberikan hidrokortison 100 mg intramuskuler setiap 8 jam selama 24 jam atau lebih sesuai keadaan.

Referensi+


 Bagikan