Plasenta Previa : Pengertian, Penyebab dan Komplikasi

Plasenta Previa terjadi ketika perlengketan plasenta rendah di dalam rahim dan menutupi pembukaan internal leher rahim (serviks). Plasenta previa terjadi sekitar satu dari setiap 200 kehamilan. Wanita hamil dengan plasenta previa pada trimester ketiga mungkin memerlukan rawat inap dan diperlukan persalinan dengan bedah caesar untuk menghindari risiko pada ibu dan bayi.

Jenis Plasenta Previa
Tiga jenis plasenta previa dapat terjadi selama kehamilan. Ketika plasenta terhadap serviks tetapi tidak mencakup pembukaan, hal itu disebut plasenta previa marginal. Bila plasenta hanya mencakup sebagian dari pembukaan serviks, disebut plasenta previa parsial, tapi ketika pembukaan serviks meliputi keseluruhan, hal itu disebut plasenta previa lengkap/total.

Faktor Risiko Plasenta Previa
Meskipun tidak ada cara untuk memprediksi kapan plasenta previa akan terjadi, lebih sering terjadi pada beberapa wanita. Beberapa faktor seperti perempuan yang merokok, penggunaan kokain atau berusia lebih dari 35 mungkin berada pada risiko yang lebih tinggi mengalami plasenta previa. Mereka yang pernah melahirkan melalui operasi caesar, telah menjalani operasi rahim, memiliki anak kembar atau kembar tiga dan orang-orang dengan lebih dari satu anak juga mengalami plasenta previa lebih sering daripada wanita yang tidak, menurut American Pregnancy Association.

Penyebab Plasenta Previa
Beberapa faktor dapat menyebabkan plasenta previa yaitu pembentukan abnormal dari plasenta, rahim yang abnormal, suatu plasenta besar dan jaringan endometrium berbakat, kemungkinan menyebabkan plasenta previa, menurut National Institutes of Health.

Gejala Plasenta Previa
Rasa sakit pendarahan yang tiba-tiba dari vagina selama akhir kedua atau awal trimester ketiga kehamilan adalah gejala utama plasenta previa. Perdarahan ini biasanya berwarna merah terang dan dapat berkisar dari perdarahan ringan sampai yang sangat berat. Mungkin sporadis, berhenti sendiri sebelum memulai lagi. Kram atau kontraksi rahim juga dapat terjadi dengan pendarahan.

Peringatan Plasenta Previa
Plasenta previa dapat menyebabkan komplikasi berbahaya. Jika seorang wanita mengalami plasenta previa, ada resiko pendarahan yang begitu parah hingga menyebabkan shock atau bahkan kematian ibu. Pendarahan yang parah juga dapat memaksa terjadinya kegawatdaruratan obstetrik sebelum bayi siap untuk dilahirkan. Akhirnya, plasenta previa dapat menyebabkan kondisi yang langka disebut plasenta akreta, yang terjadi ketika plasenta tidak lepas dari rahim setelah melahirkan seperti yang seharusnya. Plasenta akreta dapat memerlukan histerektomi, yang merupakan operasi pengangkatan rahim. Karena ini sangat potensial menyebabkan komplikasi, dokter harus memantau semua wanita dengan plasenta previa sangat hati-hati selama kehamilan.

Artikel ilmu kedokteran lainnya juga membahas tentang Hemoroid, Obesitas serta Kanker payudara

3 Faktor Risiko Terbesar Kanker Payudara

Dalam artikel kedokteran ini terdapat 3 faktor risiko terbesar terjadinya kanker payudara yang perlu dipertimbangkan. Orang dengan usia lanjut, riwayat keluarga positif pernah mengidap kanker payudara, dan seorang wanita dengan riwayat medis adalah sangat penting dalam mengevaluasi risiko perkembangan kanker payudara invasif.

Pertimbangkan 3 faktor risiko terbesar ini ketika mengevaluasi seorang wanita dengan risiko terjadinya kanker payudara invasif:

  1. Usia lanjut
  2. Riwayat keluarga (generasi level pertama)
  3. Sejarah medis pribadi

Usia lanjut adalah faktor risiko yang sangat signifikan terjadinya kanker payudara invasif 2

  • Insiden kanker payudara invasif meningkat sejalan dengan peningkatan usia.
    Risiko terjadinya kanker payudara invasif berdasarkan umur2
    Usia (tahun) Prediksi Insiden
    30–39 1 dari 233
    40–49 1 dari 69
    50–59 1 dari 38
    60–69 1 dari 27

    Rata-rata menopause terjadi pada umur 51 tahun.3 Area abu-abu mengindikasikan populasi postmenopause

  • 70% perempuan didiagnosa menderita kanker payudara invasif di atas usia 55

Riwayat keluarga secara substansial meningkatkan risiko kanker payudara 1

Wanita dengan generasi level pertama (ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan) pada sisi ibu memiliki resiko lebih besar. Resiko meningkat seiring dengan jumlah kerabat tingkat pertama.

Perlu diketahui bahwa sekitar 80% dari wanita dengan kanker payudara invasif tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara.1

Data ini berdasarkan atas sekitar 148.000 wanita menopause yang berpartisipasi dalam penelitian Women’s Health Initiative di mana 2,2% (3.236) kanker payudara invasif berkembang setelah 5 tahun.

Riwayat medis pribadi

Seorang wanita dengan riwayat medis pribadi post menopause juga harus dipertimbangkan ketika mengevaluasi risiko untuk kanker payudara invasif.

  • Riwayat biopsi payudara apapun, normal ataupun abnormal
  • Riwayat Atypical Hyperplasia (AH) (sel yang tidak biasa baik ukuran dan bentuknya)
    • AH meningkatkan risiko kanker payudara> empat kali lipat1
  • Faktor risiko lain untuk kanker payudara invasif meliputi:
    • Melahirkan pertama kali pada usia lanjut (nullipara)
    • Menarche (menstruasi pertama kali) pada usia yang sangat dini
    • Kepadatan payudara yang lebih dari rata-rata
    • Saat ini tidak ada satu temuan klinis atau hasil tes yang dapat mengukur risiko kanker payudara dengan pasti.
    • National Cancer Institute (NCI) Breast Cancer Risk Assessment Tool sebagai alat yang dapat memberikan perkiraan data untuk 5-year absolute risk dan lifetime risk 4
    • Sebagai contoh hipotetis, menurut NCI Breast Cancer Risk Assessment Tool, seorang wanita,misalnya 58 tahun, tanpa faktor risiko kanker payudara invasif memiliki risiko terserang penyakit itu dalam 5 tahun, yang sama dengan seorang perempuan 15 tahun lebih muda, umur 43 tahun, dengan riwayat keluarga pernah mengidap penyakit tersebut. 5


    DAFTAR PUSTAKA (REFERENSI)

    1. American Cancer Society. Breast cancer facts & figures 2007-2008. http://www.cancer.org/downloads/STT/BCFF-Final.pdf. Accessed March 24, 2009.
    2. National Cancer Institute. Fact sheet: probability of breast cancer in American women. http://www.cancer.gov/cancertopics/factsheet/Detection/probability-breast-cancer. Accessed March 24, 2009.
    3. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY: McGraw Hill Companies Inc; 2005:2209.
    4. Lancet. 2001;358:1389-1399.
    5. National Cancer Institute. Breast Cancer Risk Assessment Tool. http://www.cancer.gov/bcrisktool/. Accessed November 2008.
    6. J Natl Cancer Inst. 2007;99:1695-1705.

    Manfaat kontrasepsi hormonal disamping mencegah kehamilan

    Keuntungan kontrasepsi hormonal sangat luas disamping mencegah terjadinya kehamilan, menurut sebuah buletin yang dikeluarkan oleh American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan diterbitkan dalam Obstetrics & Gynecology edisi Januari 2010.

    “Kami sudah mengenal selama bertahun-tahun bahwa kontrasepsi hormonal memiliki keuntungan kesehatan diluar mencegah kehamilan,” kata penulis Robert L. Reid, MD, dari Kingston, Ontario, Kanada sebagai penulis utama, dalam suatu rilis berita.

    Selama tahun-tahun reproduksi, lebih dari 80% wanita di Amerika Serikat menggunakan beberapa bentuk kontrasepsi hormonal, seperti kontrasepsi oral atau pil, patch, single-rod progestin dan implan lainnya, suntikan, cincin vagina, dan intrauterine device (IUD). Selain untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, kontrasepsi hormonal digunakan untuk mengobati gangguan menstruasi termasuk dismenore dan menoragia dengan efektif.

    Laporan menunjukkan, sampai 90% wanita muda dismenore, yang merupakan penyebab utama absen sekolah dan bekerja. Jika tidak diobati, menoragia dapat menyebabkan anemia. Sekitar tiga perempat wanita dengan dismenore menanggapi dengan positif kombinasi pengibatan dengan kontrasepsi oral, dan cincin vagina mungkin sama efektifnya.

    Strategi pengobatan dengan biaya yang paling efektif untuk menoragia dapat menggunakan kombinasi kontrasepsi oral selama 1 tahun, diikuti dengan penggunaan alat kontrasepsi Levonorgestrel. Levonorgestrel sistem intrauterine hasilnya lebih baik dibandingkan dengan norethindrone untuk pengobatan perdarahan yang banyak. Siklus kontrasepsi oral kombinasi dapat mengurangi perdarahan menstruasi sebesar 40% sampai 50%, atau bahkan lebih, dalam masa siklus kombinasi kontrasepsi oral (84 hari). Namun, perpanjangan siklus kontrasepsi oral dapat menyebabkan bercak dalam tingkat yang lebih tinggi.

    Beberapa bukti menunjukkan bahwa kombinasi Estradiol ditambah Ethinyl drospirenone dapat mengurangi gejala gangguan premenstrual dysphoric.

    Penggunaan kontrasepsi kombinasi mengandung estrogen dan progesteron dikaitkan dengan rendahnya resiko terjadinya kanker endometrium (pengurangan risiko 50% dibandingkan yang tidak pernah menggunakan), kanker ovarium (pengurangan risiko 27), dan kanker kolorektal.

    Selain itu, kontrasepsi kombinasi dapat menghambat produksi androgen dan karenanya mengurangi hirsutisme dan jerawat. Kontrasepsi yang mengandung drospirenone atau cyproterone acetate mungkin paling efektif untuk pengobatan hirsutisme, tetapi semua kombinasi kontrasepsi tampak sama efektifnya terhadap pengobatan acne atau jerawat.

    Dari teori, kontrasepsi hormonal juga mungkin sebenarnya bermanfaat dalam mencegah migrain haid, mengobati nyeri panggul yang disebabkan oleh endometriosis, dan mengobati pendarahan dari uterine fibroids. Extended-cycle atau kontrasepsi hormonal secara berkesinambungan dapat mengurangi frekuensi menstruasi migrain, tapi gabungan kontrasepsi oral dikaitkan dengan kemungkinan peningkatan terjadinya risiko stroke pada wanita dengan migren yang berumur 35 tahun atau lebih, yang merokok, atau yang memiliki tanda-tanda focal neurologic. Gabungan kontrasepsi oral karenanya harus dihindari pada wanita dengan kondisi tersebut.

    “Kombinasi kontrasepsi oral efektif dalam menormalkan menstruasi yang tidak teratur, mengurangi gejala gangguan pramenstruasi dysphoric, memperbaiki jerawat” kata Dr Reid .

    Rekomendasi pengobatan berdasarkan kebaikan atau bukti ilmiah yang konsisten (level A), adalah sebagai berikut:

    • Gabungan kontrasepsi oral tidak boleh digunakan pada pasien dengan kista ovarium.
    • Gabungan menggunakan kontrasepsi hormon telah terbukti dapat menurunkan risiko kanker endometrium dan kanker ovarium.
    • Gabungan kontrasepsi oral telah terbukti dapat mengatur dan mengurangi pendarahan menstruasi, untuk mengobati dismenore, untuk mengurangi gejala gangguan pramenstruasi dysphoric, dan untuk mengobati jerawat.

    Rekomendasi pengobatan berdasarkan keterbatasan atau bukti ilmiah yang tidak begitu konsisten (level B), adalah sebagai berikut:

    • Gabungan kontrasepsi oral tidak berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya uterine leiomyoma, berdasarkan bukti-bukti terbatas.
    • Pada wanita yang masih ingin hamil, kontrasepsi hormonal harus dipertimbangkan untuk pengobatan menoragia.

    Referensi:
    Medscape Medical News, December 31, 2009.


     Google

    Retensi Urine Post Partum

    PENDAHULUAN RETENSI URINE POST PARTUM
    Traktus urinarius bagian bawah memiliki dua fungsi utama, yaitu: sebagai tempat untuk menampung produksi urine dan sebagai fungsi ekskresi. Selama kehamilan, saluran kemih mengalami perubahan morfologi dan fisiologi. Perubahan fisiologis pada kandung kemih yang terjadi saat kehamilan berlangsung merupakan predisposisi terjadinya retensi urine satu jam pertama sampai beberapa hari post partum. Perubahan ini juga dapat memberikan gejala dan kondisi patologis yang mungkin memberikan dampak pada perkembangan fetus dan ibu.

    Residu urine setelah berkemih normalnya kurang atau sama dengan 50 ml, jika residu urine ini lebih dari 200 ml dikatakan abnormal dan dapat juga dikatakan retensi urine. Insiden terjadinya retensi urine post partum berkisar 1,7% sapai 17,9%. Secara umum penanganannya diawali dengan kateterisasi. Jika residu urine lebih dari 700 ml, antibiotik profilaksis dapat diberikan karena penggunaan kateter dalam jangka panjang dan berulang.

    Retensi urine post partum dapat terjadi pada pasien yang mengalami kelahiran normal sebagai akibat dari peregangan atau trauma dari dasar kandung kemih dengan edema trigonum. Faktor-faktor predisposisi lainnya dari retensio urine meliputi epidural anestesia, pada gangguan sementara kontrol saraf kandung kemih , dan trauma traktus genitalis, khususnya pada hematoma yang besar, dan sectio cesaria.

    PATOFISIOLOGI RETENSI URINE POST PARTUM
    Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian secara normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin dikontrol oleh sistem saraf otonom dan somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra.

    Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik.

    Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion dorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi otot detrusor.

    Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi saluran yang minimal.

    Retensi postpartum paling sering terjadi. Setelah terjadi kelahiran pervaginam spontan, disfungsi kandung kemih terjadi 9-14 % pasien; setelah kelahiran menggunakan forcep, angka ini meningkat menjadi 38 %. Retensi ini biasanya terjadi akibat dari dissinergis antara otot detrusor-sphincter dengan relaksasi uretra yang tidak sempurna yang kemudian menyebabkan nyeri dan edema. Sebaliknya pasien yang tidak dapat mengosongkan kandung kemihnya setelah sectio cesaria biasanya akibat dari tidak berkontraksi dan kurang aktifnya otot detrusor.

    ETIOLOGI RETENSI URINE POST PARTUM
    Berkemih yang normal melibatkan relaksasi uretra yang diikuti dengan kontraksi otot-otot detroser. Pengosongan kandung kemih secara keseluruhan dikontrol didalam pusat miksi yaitu diotak dan sakral. Terjadinya gangguan pengosongan kandung kemih akibat dari adanya gangguan fungsi di susunan saraf pusat dan perifer atau didalam genital dan traktus urinarius bagian bawah.

    Pada wanita, retensi urine merupakan penyebab terbanyak inkontinensia yang berlebihan. Dalam hal ini terdapat penyebab akut dan kronik dari retensi urine. Pada penyebab akut lebih banyak terjadi kerusakan yang permanen khususnya gangguan pada otot detrusor, atau ganglion parasimpatis pada dinding kandung kemih. Pada kasus yang retensi urine kronik, perhatian dikhususkan untuk peningkatan tekanan intravesical yang menyebabkan reflux ureter, penyakit traktus urinarius bagian atas dan penurunan fungsi ginjal.

    Pasien post operasi dan post partum merupakan bagian yang terbanyak menyebabkan retensi urine akut. Fenomena ini terjadi akibat dari trauma kandung kemih dan edema sekunder akibat tindakan pembedahan atau obstetri, epidural anestesi, obat-obat narkotik, peregangan atau trauma saraf pelvik, hematoma pelvik, nyeri insisi episiotomi atau abdominal, khususnya pada pasien yang mengosongkan kandung kemihnya dengan manuver Valsalva. Retensi urine pos operasi biasanya membaik sejalan dengan waktu dan drainase kandung kemih yang adekuat.

    GAMBARAN KLINIS RETENSI URINE POST PARTUM
    Retensi urine memberikan gejala gangguan berkemih, termasuk diantaranya kesulitan buang air kecil; pancaran kencing lemah, lambat, dan terputus-putus; ada rasa tidak puas, dan keinginan untuk mengedan atau memberikan tekanan pada suprapubik saat berkemih.

    Suatu penelitian melaporkan bahwa gejala yang paling bermakna dalam memprediksikan adanya gangguan berkemih adalah pancaran kencing yang lemah, pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna, mengedan saat berkemih, dan nokturia.

    DIAGNOSIS RETENSI URINE POST PARTUM
    Pada pasien dengan keluhan saluran kemih bagian bawah, maka anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap, pemeriksaan rongga pelvis, pemeriksaan neurologik, jumlah urine yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam, pemeriksaan urinalisis dan kultur urine, pengukuran volume residu urine, sangat dibutuhkan.

    Fungsi berkemih juga harus diperiksa, dalam hal ini dapat digunakan uroflowmetry, pemeriksaan tekanan saat berkemih, atau dengan voiding cystourethrography.

    Dikatakan normal jika volume residu urine adalah kurang atau sama dengan 50ml, sehingga jika volume residu urine lebih dari 200ml dapat dikatakan abnormal dan biasa disebut retensi urine. Namun volume residu urine antara 50-200ml menjadi pertanyaan, sehingga telah disepakati bahwa volume residu urine normal adalah 25% dari total volume vesika urinaria.

    PENATALAKSANAAN RETENSI URINE POST PARTUM
    Ketika kandung kemih menjadi sangat menggembung diperlukan kateterisasi, kateter Foley ditinggal dalam kandung kemih selama 24-48 jam untuk menjaga kandung kemih tetap kosong dan memungkinkan kandung kemih menemukan kembali tonus normal dan sensasi.

    Bila kateter dilepas, pasien harus dapat berkemih secara spontan dalam waktu 4 jam. Setelah berkemih secara spontan, kandung kemih harus dikateter kembali untuk memastikan bahwa residu urine minimal. Bila kandung kemih mengandung lebih dari 100 ml urine, drainase kandung kemih dilanjutkan lagi.

    KOMPLIKASI RETENSI URINE POST PARTUM
    Karena terjadinya retensi urine yang berkepanjangan, maka kemampuan elastisitas vesica urinaria menurun, dan terjadi peningkatan tekanan intra vesika yang menyebabkan terjadinya reflux, sehingga penting untuk dilakukan pemeriksaan USG pada ginjal dan ureter atau dapat juga dilakukan foto BNO-IVP.

    KESIMPULAN RETENSI URINE POST PARTUM
    Wanita dengan inkontinensia dan gejala gangguan kandung kemih yang lain meningkatkan resiko terjadinya kesulitan berkemih dan dan retensi. Akibat dari retensi adalah timbulnya infeksi traktus urinarius yang rekuren dengan kemungkinan gangguan pada traktus urinarius bagian atas. Pendeteksian terhadap kondisi tersebut merupakan hal yang penting dalam penanganan farmakologi dan pembedahan pada wanita dengan inkontinensia urine yang cenderung menjadi eksaserbasi kesulitan berkemih dan retensi kronik.

    Makalah ini disusun oleh: Andi Visi Kartika

    DAFTAR PUSTAKA Retensi Urine Post Partum
    1. Germain MM. Urinary Retention and Overflow Incontinence In Bent.AE, Cundiff GW, Ostergard DR, Seift SE. Ostergard’s Urogynecology and Pelvic Floor Dysfunction,5th ed. Lipiincoltt Willian & Wilkins, USA,1992: 285-91
    2. Hellerstein S. Voiding Disfunction. Available at: www.emedicine.com. Accessed 25 February 2006
    3. Saultz JW, Toffler WL, Shackles JY. Postpartum urinary retention. Available at: www.pubmed.gov. Accessed 25 February 2006

    Abortus Inkomplit

    PENDAHULUAN ABORTUS INKOMPLIT
    Berjuta-juta wanita setiap tahunnya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa kehamilan berakhir dengan kelahiran tetapi beberapa diantaranya diakhiri dengan abortus. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sedangkan menurut WHO batasan usia kehamilan adalah sebelum 22 minggu.1

    Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:

    • Menurut terjadinya dibedakan atas :2,3,4,5

      • Abortus spontan yairu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja. 2
      • Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat.3
          Abortus ini terbagi lagi menjadi:

        • Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.2,3
        • Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.3
    • Menurut gambaran klinis, dibedakan atas:1,2,3,6
      • Abortus membakat (imminens) yaitu abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
      • Abortus insipiens yaitu abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri.
      • Abortus inkomplit yaitu jika hanya sebagian hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
      • Abortus komplit artinya seluruh hasil konsepsi telah keluar (desidua atau fetus), sehingga rongga rahim kosong.
      • Missed abortion adalah abortus dimana fetus atau embrio telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih.
      • Abortus habitualis (keguguran berulang) adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.
      • Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi genital.
      • Abortus septik adalah abortus yang disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ataupun toksinnya kedalam peredaran darah atau peritonium.

    Selanjutnya dalam laporan kasus kali ini akan membahas mengenai abortus inkomplit infeksiosa provokatus.

    Pengertian Abortus Inkomplit
    Seperti yang sudah dijelaskan diatas, pengertian abortus inkomplit adalah keluarnya sebagian hasil konsepsi dari kavum uteri, tetapi masih ada yang tertinggal dan bila disertai dengan infeksi genitalia, abortus inkomplit disebut juga abortus inkomplit infeksiosa.1,2,3,6,7

    Sedangkan abortus provokatus kriminalis adalah abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. Sedikitnya kasus abortus ilegal yang diproses secara hukum sebenarnya tidak lepas dari kolusi antara wanita hamil dan pelaku abortus, disamping sulitnya menemukan bukti-bukti oleh para penegak hukum mengenai terjadinya tindak abortus ilegal. Keadaan ini menunjukkan bahwa pihak-pihak yang bersangkutan dengan abortus telah mengetahui abortus melanggar hukum, sehingga mereka berusaha menyembunyikan dari mata penegak hukum.1

    Alasan seorang wanita memilih terminasi kehamilan antara lain:1

    • Ia mungkin seorang yang menjadi hamil diluar pernikahan
    • Pernikahan tidak kokoh seperti yang diharapkan sebelumnya.
    • Ia telah cukup anak dan tidak mungkin dapat membesarkan seorang anak lagi.
    • Janin ternyata telah terekspos oleh substansi teratogenik.
    • Ayah anak yang dikandungnya bukan suaminya.
    • Ayah anak yang dikandung bukan pria/suami yang diidamkan untuk perkawinannya.
    • Kehamilan adalah akibat perkosaan.
    • Wanita yang hamil menderita penyakit jantung yang berat.
    • Ia ingin mencegah lahirnya bayi dengan cacat bawaan.
    • Gagal metode kontrasepsi.
    • Anak terakhir masih kecil.
    • Ingin menyelesaikan pendidikan.
    • Ingin konsentrasi pada pekerjaan untuk menunjang kehidupan dengan anaknya.
    • Ada masalah dengan suami.
    • Ia merasa trerlalu tua/muda untuk mempunyai anak.
    • Ia terinfeksi HIV.
    • Suami menginginkan aborsi.

    INSIDEN ABORTUS INKOMPLIT
    Diperkirakan frekuensi insiden aborsi/keguguran spontan berkisar antara 10-15 %. Namun demikian, frekuensi seluruh keguguran yang pasti sukar ditentukan, karena abortus buatan banyak yang tidak dilaporkan, kecuali bila telah terjadi komplikasi. Juga karena sebagian keguguran spontan hanya disertai gejala dan tanda ringan, sehingga wanita tidak datang ke dokter atau rumah sakit.3

    Profil pelaku aborsi di Indonesia tidak sama persis dengan di Amerika. Akan tetapi gambaran dibawah ini memberikan kita bahan untuk dipertimbangkan. Seperti tertulis dalam buku “Facts of Life” oleh Brian Clowes, Phd.

    Para wanita pelaku aborsi adalah: 8
    Wanita Muda
    Lebih dari separuh atau 57% wanita pelaku aborsi, adalah mereka yang berusia dibawah 25 tahun. Bahkan 24% dari mereka adalah wanita remaja berusia dibawah 19 tahun.

    Usia Jumlah %
    Dibawah 15 tahun 14.200 0.9%
    15-17 tahun 154.500 9.9%
    18-19 tahun 224.000 14.4%
    20-24 tahun 527.700 33.9%
    25-29 tahun 334.900 21.5%
    30-34 tahun 188.500 12.1%
    35-39 tahun 90.400 5.8%
    40 tahun keatas 23.800 1.5%

    Belum Menikah
    Jika terjadi kehamilan diluar nikah, 82% wanita di Amerika akan melakukan aborsi. Jadi, para wanita muda yang hamil diluar nikah, cenderung dengan mudah akan memilih membunuh anaknya sendiri

    Untuk di Indonesia, jumlah ini tentunya lebih besar, karena didalam adat Timur, kehamilan diluar nikah adalah merupakan aib, dan merupakan suatu tragedi yang sangat tidak bisa diterima masyarakat maupun lingkungan keluarga.

    ETIOLOGI ABORTUS INKOMPLIT
    Ada beberapa faktor penyebab terjadinya abortus yaitu :

    • Faktor genetik. 9,10
    • Sekitar 5 % abortus terjadi karena faktor genetik.
    • Paling sering ditemukannya kromosom trisomi dengan trisomi 16
    • Faktor anatomi : Faktor anatomi kogenital dan didapat pernah dilaporkan timbul pada 10-15 % wanita dengan abortus spontan yang rekuren.
    • Lesi anatomi kogenital yaitu kelainan duktus Mullerian (uterus bersepta). Duktus mullerian biasanya ditemukan pada keguguran trimester ke dua.
    • Kelainan kogenital arteri uterina yang membahayakan aliran darah endometrrium.
    • Kelainan yang didapat misalnya adhesi intrauterun (synechia), leimioma, dan endometriosis. 9,10
    • Faktor endokrin. 8,9
    • Faktor endokrin berpotensial menyebabkan aborsi pada sekitar 10-20 % kasus.
    • Insufisiensi fase luteal ( fungsi corpus luteum yang abnormal dengan tidak cukupnya produksi progesteron).
    • Hipotiroidisme, hipoprolaktinemia, diabetes dan sindrom polikistik ovarium merupakan faktor kontribusi pada keguguran.
    • Faktor infeksi
    • Infeksi termasuk infeksi yang diakibatkan oleh TORC (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus) dan malaria.11
    • Faktor imunologi
    • Terdapat antibodikardiolipid yang mengakibatkan pembekuan darah dibelakang ari-ari sehingga mengakibatkan kematian janin karena kurangnya aliran darah dari ari-ari tersebut.11

    PATOGENESIS ABORTUS INKOMPLIT
    Fetus dan plasenta keluar bersamaan pada saat aborsi yang terjadi sebelum minggu ke sepuluh, tetapi terpisah kemudian. Ketika plasenta, seluruh atau sebagian tertinggal didalam uterus, perdarahan terjadi dengan cepat atau kemudian.12 Pada permulaan terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas. Karena dianggap benda asing, maka uterus akan berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korialis belum menembus desidua terlalu dalam; sedangkan pada kemailan 8-14 minggu, telah masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal.3 Hilangnya kontraksi yang dihasilkan dari aktivitas kontraksi dan retraksi miometrium menyebabkan banyak terjadi perdarahan.12

    Pada abrotus provokatus kriminalis, mikroorganisme dapat mencapai vulva, vagina dan uterus dengan salah satu cara di bawah ini:1

    • Droplet injection dari pelaku abortus
    • Tangan pelaku dan alat yang digunakan
    • Debu
    • Sprei tempat tidur, kasa penutup luka

    Patogenesis terjadinya infeksi 1

    Bakteri menyebabkan penyakit berdasarkan 3 mekanisme dasar yaitu:

    1. Invasi ke jaringan
      Kemampuan dari beberapa bakteri tergantung dari luasnya enzim yang bekerja ektraseluler. Contohnya banyak bakteri Gram positif memproduksi hyaluronidase dan kollagenase. Enzim ini meningkatkan difusi melalui jaringan penyambung dengan cara depolimerase asam hyaluronidase. Pada abortus provokatus kriminalis, invasi mikroba sangat dipermudah dengan adanya jejas pada mukoa uterus.
    2. Reaksi hipersensitivitas
      KEGAGALAN MENGELIMINASI MIKROORGANISME
      Ada banyak infeksi dimana mikroorganisme tidak dapat dieliminasi dari tubuh tetapi menetap pada hospes selama beberapa bulan, tahun atau seumur hidup. Hal ini dilihat sebagai kegagalan dari mekanisme pertahanan tubuh yang memang telah dibentuk untuk mengeliminasi mikroorganisme-mikroorganisme yang menyerang jaringan.

      INTERAKSI ANTIMIKROBA-MIKROBA

      Antimikroba ada yang bersifat menghalangi pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bekteriostatik dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebgai aktivitas bakterisid. Sebagai contoh Penisilin G aktif terhadap bakteri gram positif tetapi tidak pada gram negatif.

    3. Resistensi mikroba
      Resistensi pada suatu sel mikroba ialah suatu sifat dimana kehidupannya tidak diganggu oleh antimikroba. Sifat ini dapat merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup.

    GAMBARAN KLINIS ABORTUS INKOMPLIT

    Gejala abortus inkomplit berupa amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas. Perdarahan bisa sedikit atau banyak, dan biasanya berupa stolsel (darah beku), sudah ada keluar fetus atau jaringan. Pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering terjadi infeksi. Tanda-tanda infeksi alat genital berupa demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeri tekan, luekositosis. Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru saja terjadi didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus berukuran kecil dari seharusnya.3

    Teknik tradisional yang biasa digunakan pada abortus provokatus kriminalis:1

    • Masase yang lama dan kuat pada uterus hamil
    • Insersi kateter, batu-batu, kawat-kawat tajam ke dalam vagina dan serviks
    • Minum jamu-jamuan, substansi yang kaustik
    • Daun-daun, akar-akar, kayu-kayuan dan pewarna
    • Makan-obat-obat kontrasepsi dalam jumlah yang banyak sekaligus
    • ada juga dilaporkan jatuh dari tempat yang tinggi, berdansa, melakukan hubungan seksual dengan keras dan dalam waktu yang lama.

    DIAGNOSIS ABORTUS INKOMPLIT
    Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan :

    • Anamnesis 3
    • Adanya amenore pada masa reproduksi
    • Perdarahan pervaginam disertai jaringan hasil konsepsi
    • Rasa sakit atau keram perut di daerah atas simpisis
    • Pemeriksaan Fisis 9,10
    • Abdomen biasanya lembek dan tidak nyeri tekan
    • Pada pemeriksaan pelvis, sisa hasil konsepsi ditemukan di dalam uterus, dapat juga menonjol keluar, atau didapatkan di liang vagina.
    • Serviks terlihat dilatasi dan tidak menonjol.
    • Pada pemeriksaan bimanual didapatkan uterus membesar dan lunak.
    • Pemeriksaan Penunjang 2

    1. Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin, leukosit, waktu bekuan, waktu perdarahan, trombosit., dan GDS.
    2. Pemeriksaan USG ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada sisa hasil konsepsi.

    DIAGNOSIS BANDING ABORTUS INKOMPLIT 9

    • Abortus komplit
    • Kehamilan ektopik

    PENATALAKSANAAN ABORTUS INKOMPLIT 2,3

    1. Memperbaiki keadaan umum. Bila perdarahan banyak, berikan transfusi darah dan cairan yang cukup.
    2. Pemberian antibiotika yang cukup tepat

      - Suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam
      - Suntikan streptomisin 500 mg setiap 12 jam
      - atau antibiotika spektrum luas lainnya

    3. 24 sampai 48 jam setelah dilindungi dengan antibiotika atau lebih cepat bila terjadi perdarahan yang banyak, lakukan dilatasi dan kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi.
    4. Pemberian infus dan antibiotika diteruskan menurut kebutuhan dan kemajuan penderita.

    Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0,5 cc IM. Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang ke rumah. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat atau infeksi.2 Pasien dianjurkan istirahat selama 1 sampai 2 hari.

    Pasien dianjurkan kembali ke dokter bila pasien mengalami kram demam yang memburuk atau nyeri setelah perdarahan baru yang ringan atau gejala yang lebih berat.13 Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi. Sebelum dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menandatangani surat persetujuan tindakan.2

    KOMPLIKASI ABORTUS INKOMPLIT 1,6

    1. Perdarahan
      Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
    2. Perforasi
      Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Terjadi robekan pada rahim, misalnya abortus provokatus kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain.
    3. Syok
      Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat.
    4. Infeksi
      Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu staphylococci, streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma, Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis, sedangkan pada vagina ada lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur.

      Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas padsa desidua. Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium, dan peritonium. Organisme-organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap infeksi paska abortus adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus, Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae, Pneumococcus dan Clostridium tetani. Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena dapat membentuk gas.

    PROGNOSIS ABORTUS INKOMPLIT9,10

    Prognosis keberhasilan kehamilan tergantung dari etiologi aborsi spontan sebelumnya.

    • Perbaikan endokrin yang abnormal pada wanita dengan abotus yang rekuren mempunyai prognosis yang baik sekitar >90 %
    • Pada wanita keguguran dengan etiologi yang tidak diketahui, kemungkinan keberhasilan kehamilan sekitar 40-80 %
    • Sekitar 77 % angka kelahiran hidup setelah pemeriksaan aktivitas jantung janin pada kehamilan 5 sampai 6 minggu pada wanita dengan 2 atau lebih aborsi spontan yang tidak jelas.

    Daftar Pustaka Abortus Inkomplit

    1. Rieuwpassa C, Rauf S, Manoe IMS. M. Pola Bakteri Aerob Pada Penderita Abortus Inkomplit Infeksiosa Provokatus Kriminalis Pada Beberapa Rumah Sakit Di Makassar dalam Kumpulan Makalah Ilmiah POGI Cabang Makassar. Bagian/UP. Obstetri dan Ginekologi FKUH, Makassar, 2003.
    2. Manoe IMS. M., Rauf S., Usmany H. Abortus dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi, Bagian/SMF Obstetri Dan Ginekologi FKUH RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo, Ujung Pandang, 1999. Hal.97-103
    3. Mochtar R. Abortus dan Kelainan dalam Tua Kehamilan dalam Sinopsis Obstetri, Jilid 1, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1998. Hal: 209-214
    4. Gugur Kandungan. Available at: http://www.en.wikipedia.org. Accessed on January,21 2006
    5. Abortion. Available at: http://www.en.wikipedia.org. Accessed on January,21 2006
    6. Keguguran dan Penyebabnya. Gugur Kandungan. Available at: http://www.pikiranrakyat.com. Accessed on January,21 2006
    7. Abortion-Incomplete. Available at: http://www.medlineplus.com. Accessed on Accessed on January,21 2006
    8. Pelaku aborsi. Available at: http://www.aborsi.org. Accessed on Accessed on January,21 2006
    9. Valley VT. Abortion Incomplete. Available at: http://www.emedicine.com. Accessed on January,21 2006
    10. Incomplete Abortion. Gugur Kandungan. Available at: http://www.findarticles.com Accessed on January,21 2006
    11. Darmawan Y. Perdarahan Pada Kehamilan uda. Available at: http://www.infosehat.com. Accessed on Accessed on January,21 2006
    12. Pritchard JA, MacDonald PC, Gant NF. Abortion in William Obtetrics, 7th ed. Appleton-Century-Crofts, USA, 1985. p. 467-488
      Martin E. Incomplete Miscarriage. Available at: http://www.abn.it.org Accessed on Accessed on January,21 2006

    Asma Bronkial Pada Kehamilan

    Asma Bronkiale (AB) merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai sehari-hari dengan ditandai oleh adanya obstruksi bronkial yang difus namun reversible baik secara spontan ataupun melalui pengobatan. Di Amerika Serikat insiden asma bronkial pada kehamilan berkisar antara 0.5 sampai 1.0 % dari seluruh kehamilan. Angka abortus, partus dan prematurus maupun kematian pada ibu atau janin umumnya tidak mengalami peningkatan pada ibi-ibu yang mendapat control AB dengan baik, sementara ibu hamil dengan serangan AB yang berat merupakan suatu problema yang serius dengan angka abortus partus prematurus serta angka kematian ibu dan anak yang meningkat.

    Pengaruh Kehamilan terhadap Asma Bronkiale

    Pada seorang wanita hamil terdapat perubahan-perubahan fisiologis pada beberapa organ-organ tubuh wanita tersebut akibat kehamilannya. Perubahan-perubahan fisiologis yang diketahui berpengaruh terhadap perjalanan AB antara lain perubahan-perubahan berupa membesarnya uterus, elevasi diafragma, hormonal perubahan-perubahan pada mekanik paru-paru dan lain-lain.

    Sejak implantasi blastokist pada endometrium uterus akan terus membesar sesuai umur kehamilan. Pada akhir bulan ke tiga uterus sudah cukup besar dan umumnya sudah sebagian tersembul ke luar rongga pelvis mengisi rongga perut untuk selanjutnya terus membesar perlahan-lahan mendesak usus ke atas dan kesamping sehingga pada trimester terakhir kehamilan uterus sudah mencapai daerah setinggi hati. Hal ini banyak berhubungan dengan meningkatnya tekanan intrabdominal.

    Perubahan-perubahan hormonal yang terjadi saat kehamilan dan persalinan menyangkut banyak jenis hormon-hormon, tetapi yang diketahui ada kaitannya langsung atau tidak langsung terhadap perjalanan AB baru beberapa jenis.

    Hormon Masa Kehamilan

    Progesteron
    Yang kadarnya meningkat pada masa kehamilan mempunyai efek langsung terhadap pusat pernapasan (respiratory center) mentebabkan peningkatan frekuensi pernapasan (respiratory rate), sehingga menyebabkan hiperventilasi. Progesteron juga bersifat smooth muscle relaxan terhadap otot-otot polos usus, genitourinarius, dan diduga pada otot-otot bronkus.

    Estrogen
    Kadarnya meningkat saat kehamilan, terutama trimester ketiga. Pecora dan kawan-kawan membuktikan estrogen mempunyai efek menurunkan diffusing capacity dari CO2 pada paru-paru dan diduga ini terjadi sebagai akibat meningkatnya asam mukopolisakarida perikapiler.

    Kortisol
    Kadarnya meningkat pada kehamilan, diduga sebagai akibat klirens kortisol yang menurun, bukan karena sekresinya yang meningkat. Sehngga waktu paruhnya akan memanjang. Dan pemberian preparat steroid pada masa kehamilan harus disesuaikan dengan keadaan ini.

    Pengaruh Asma Bronkial Terhadap Kehamilan

    Pada ibu-ibu hamil yang menderita AB, Bahna dan Bjerkedal mendapatkan bahwa insiden hiperemis, perdarahan, toksemia gravidarum, induksi persalinan dengan komplikasi dan kematian ibu secara bermakna lebih sering terjadi dibandingkan dengan ibu-ibu hamil tanpa penyakit AB. Hal ini dapat diduga erat hubungannya dengan obat-obat anti asma yang diberikan selama kehamilan ataupun akibat efek langsung daripada memberatnya asma.

    Hal yang sangat penting diperhatikan didalam penatalaksanaan AB pada ibu-ibu hamil ialah disamping untuk keselamatan ibunya sendiri adalah juga untuk keselamatan janin. Oksigenasi pada janin hendaknya dipertahankan supaya adekuat, obat-obatan hendaknya dipilih yang bias menjamin keselamatan janin didalam kandungan.

    Pengaruh Obat-obatan Anti Asma Terhadap Kehamilan

    Bermacam-macam obat-obatan yang dipakai didalam penatalaksanaan AB. Sebagian diantaranya tidak mempunyai pengaruh yang merugikan terhadap kehamilan, namun sebagian lagi diantaranya dapat memberikan pengaruh yang sebaliknya sehingga pemakaiannya harus hati-hati dan hanya atas indikasi-indikasi tertentu saja.

    Golongan Xanthin

    Golongan yang luas dipakai adalah aminofilin dan teofilin. Cara kerja kedua jenis obat ini adalah sebagai bronkodilator yang langsung bekerja pada otot-otot bronkus dengan jalan menghambat kerja enzim fosfodisterase. Aminofilin dan teofilin merupakan obat yang cukup aman bagi ibu hamil dengan AB. Pada dosis terapeutik tidak terbukti bahwa obat-obat ini berbahaya pada ibu atau janin bahkan pada beberapa penelitian dapat ditunjukkan adanya penurunan yang bermakna daripada insidens respiratory distress syndrome pada bayi-bayi dari ibu yang mendapat aminoflin dibandingkan dengan yang tidak.

    Golongan simptomatik

    Obat-obatan dari golongan ini adalah adrenalin, efedrin, isoprenalin, terbutalin, salbutamol, orsiprenalin dan sebagainya. Obat-obat ini bekerja sebagai anti asma melalui perangsangan terhadap reseptor simpatis. Respetor simpatis ada 2 A dan B. Reseptor ini tersebar di seluruh tubuh, ada organ yang hanya memiliki 1 jenis reseptor, misalnya jantung, respetor B1, otot-otot bronkus reseptor B2, pembuluh darah respetor A, arteriol kulit, mukosa, dan otak, respetor A, dan adapula organ-organ yang memiliki lebih dari 1 repseptor.

    Adrenalin

    Selain merangsang reseptor B1 dan B2 juga merangsang reseptor A, sehingga selain merangsang bronkus, obat ini pula merangsang jantung, pembuluh darah dan lain-lain. Untuk mencegah efek samping, maka dianjurkan untuk mempergunakan dosis terkecil yang masih memberikan dilatasi bronkus yang optimal. Selain itu obat ini juga memberikan efek kontriksi pembuluh darah mukosa bronkus, sehingga mengurangi edema dan kongesti saluran nafas. Adrenalin juga menyebabkan penurunan sementara perfusi uterus yang menyebabkan fetal distress. Pemakaian pada umur kehamilan dibawah 4 bulan harus dihindari karena ditemukan kasus-kasus malformasi janin, tetapi belum diketahui secara pasti.

    Efedrin

    Farmakodinamik efedrin mirip adrenalin, namun mulai kurang dipakai karena efek bronkodilatornya kurang kuat. Pada dosis terapi sering memberikan efek samping yang jelas. Pada kasus-kasus dengan kehamilan, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat ini mengganggu kehamilan sehingga digolongkan aman untuk dipakai.

    Obat-obat Beta Agonis

    Seperti halnya terbutalin, orsiprenalin, heksoprenalin, salbutamol dan lain-lain mempunyai efek stimulasi terhadap adrenoseptor B2. Obat-obat golongan ini bekerja dengan meningkatkan siklik AMP melalui perangsangan reseptor B2 yang terdapat pada membran otot polos bronkus.

    Dengan perangsangan ini maka aktifitas enzim adenisiklase meningkat sehingga perubahan-perubahan ATP menjadi siklik AMP bertambah. Belum diketahui efeknya terhadap janin, tetapi obat ini cukup aman dipakai pada kehamilan.

    Akibat perangsangan pada reseptor B2 oleh obat ini, dapat menyebabkan relaksasi otot-otot uterus, sehingga menyulitkan jalannya persalinan, ataupun atonia uteri, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai pada hamil tua, saat inpartu ataupun masa nifas.

    Sodium Kromoglikat

    Cara kerja obat ini dengan menghambat pelepasan mediator humoral daripada sel mast, sehingga baik mencegah serangan asma. Obat ini tidak menyebabkan kelainan pada janin ataupun ibu, sehingga nampaknya tidaklah berbahaya. Namun demikian pemakaian pada ibu-ibu hamil datanya belum cukup banyak.

    Kortikosteroid

    Kortikosteroid bukan merupakan bronkodilator. Obat-obat ini umumnya digunakan pada AB yang berat. Kortikosteroid memiliki efek anti alergi dan anti inflamasi juga dapat meningkatkan otot polos bronkus yang refrakter terhadap stimulan adrenoseptor B2.

    Pada kehamilan kadar kortisol lama ibu meningkat, dan hanya sebagian kecil saja yang melewati plasenta ke dalam sirkulasi janin dan segera perubahan menjadi bentuk inaktif. Prednisone dan prednisolon menembus plasenta dalam kadar yang sangat kecil kira-kira 1/10 kadar plasma ibu, dan hal ini konsisten dengan penemuan-penemuan bahwa sangatlah jarang terjadi supresi pertumbuhan kelenjar adrenal janin pada ibu-ibu hamil yang mendapat obat ini.

    Antihistamine, Ekspektoran dan Antibiotika

    Walaupun secara langsung bukan sebagai obat asma, namun sering digunakan pada penderita-penderita AB. Dipenhidramin, tripilinamin, feniramin, klorfeniramin, fenilefrin merupakan obat-obat yang dapat dipergunakan secara aman pada ibu-ibu hamil.

    Ekspektoran terkecuali yang mengandung yodium juga aman dipakai. Diantara antibiotik, penisilin merupakan obat obat yang paling aman pada kehamilan. Eritromisin belum banyak diteliti, namun beberapa hasil penelitian yang ada ternyata juga aman dipakai, sedangkan tetrasiklin hendaknya jangan dipakai karena terbukti dapat menyebabkan kerusakan pada gigi, hati dan tulang dari janin.

    Pengaruh obat-obat pertolongan persalinan terhadap asma bronkial

    Beberapa jenis obat-obatan yang sering dipergunakan di dalam pertolongan persalinan secara farmakologis mempunyai potensi untuk mempengaruhi perjalanan AB.

    Prostaglandin

    Merupakan obat yang dapat dipergunakan untuk mengadakan induksi abortus pada kasus-kasus abortus terapiutis, induksi persalinan, induksi haid dan lain-lain sehubungan dengan khasiatnya dapat menyebabkan kontraksi dari otot-otot polos dari uterus. Prostaglandin F2alfa dan E2 juga mempunyai efek sebagai bronkokonstriktor sehingga berakibat meningkatkan pulmonary resistance, sehingga memperberat Asma, oleh karena itu pemakaian obat ini pada penderita AB akan berbahaya sehingga patut dihindari.

    Obat-obat anestesi

    Anestesia sering-sering diperlukan pada berbagai macam kasus ginekologik maupun obstetrik, Dietil eter mempunyai efek bronkodilatasi namun sangat iritatif terhadap mukosa bronkus sehingga dapat menyebabkan bronkokorea yang berlebihan,sedangkan sikopropan dapat menyebabkan bronkospasmus. Nitrous oksid dan halotan mempunyai efek bronkolitik sehingga dalam hal ini obat tersebut merupakan obat-obat pilihan. Disamping itu anestesi epidural, saddle block, pudendal bock ataupun anestesi lokal dapat digolongkan sebagai cara anestesi yang aman untuk penderita-penderita AB.

    Penatalaksanaan Asma Bronkial pada kehamilan

    Pada dasarnya penatalaksanaan Ab pada kehamilan tidaklah berbeda dengan penatalaksanaan AB pada umumnya, namun di dalam beberapa hal peru perhatian-perhatian khusus yang menyangkut keselamatan ibu dan janin, utamanya di dalam pemilihan obat-obat yang akan dipergunakan dan mencegah penyakitnya berlarut-larut untuk mencegah kemungkinan terjadinya hipoksia pada anak.

    Penderita Rawat Jalan

    Penderita dengan serangan AB yang ringan dapat dirawat sebagai penderita rawat jalan. Hal yang paling penting pada penderita-penderita ini adalah mencegah supaya serangan AB jangan timbul dan jangan menjadi berat, sehingga di dalam hal ini sangat perlu mengidentifikasi serta mengeliminir faktor-faktor presipitasi seperti infeksi saluran nafas, inhalasi alergen, bahan-bahan iritatif, stress emosional dan sebagainya. Sodium kromoglikat dapat merupakan obat obat yang terpilih di dalam usaha pencegahan ini disamping eliminasi faktor-faktor presipitrasi.

    Pada serangan AB yang ringan , teofilin peroral atau rektal dapat merupakan pilihan atau kalau perlu aminofilin intravenous 250 – 500 mg secara bolus pelan-pelan atau isopreterinol inhalasi atau nebulizer, atau adrenalin subkutan 0,2-0,5 ml yang dapat diulang dalam 15 sampai 30 menit kemudian.

    Pada penderita steroid dependent asthma, prednisone, prednisolon merupakan obat yang terpilih. Beklometason dipropionat periinhalasi juga dapat diberikan untuk menggantikan prednisone atau untuk mengurangi kebutuhan terhadap prednisone.

    Penderita Rawat Inap

    Diperuntukkan penderita dengan Ab yang berat atau status asthmaticus. Diberikan aminofilin IV 250-500 mg secara bolus pelan-pelan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian aminoflin perinfus IV dengan dosis 0,9 mg/kg BB/hari. Hidrokortison sodium suksinat diberikan 100-200 mg IV/4-6 jam, oksigen melalui kateter hidung, cairan dan elektrolit yang cukup dan eliminasi faktor-faktor presipitasi.

    Apabila perlu ditambahkan dengan obat-obat golongan beta agonis dalam hal ini yang telah banyak dipergunakan pada kasus dengan kehamilan adalah terbutalin peroral 2.5 - 5 mg/8 jam.

    Pada penderita Ab yang inpartu perlu mendapat pengobatan dan pengawasan seksama, karena sangat sering AB yang semula ringan menjadi berat saat inpartu, atau pada saat kehamilan AB tidak pernah menyerang, saat inpartu AB menyerang.

    Penatalaksanaan sesuai dengan berat ringannya AB, dengan pengawasan yang seksama terhadap perkembangan penyakit. Dalam keadaan ini perlu diingat bahwa obat-obat adrenalin dan beta agonis mempunyai efek yang tidak menguntungkan sehingga pemakaiannya harus dihindari.

    Perhatian khusus perlu pula diberikan terhadap penderita-penderita dengan riwayat steroid dependent asthma yang inpartu. Diperlukan pemberian kortikosteroid eksogen yang adekuat, yang maksudnya memberikan konsentrasi yang cukup dari hormon ini untuk menghadapi stres pada saat partus, dan mencegah eksaserbasi AB inpartu. Untuk maksud ini, sejak dimulainya inpartu diberikan hidrokortison 100 mg intramuskuler setiap 8 jam selama 24 jam atau lebih sesuai keadaan.

    Referensi+


     Bagikan